(Mungkin) Saya akan Menulis Lagi
Tahun 2007, saat saya memiliki kesempatan untuk menyatukan tulisan-tulisan saya (sebagian besarnya adalah surat pendek dan puisi) dalam bentuk buku, saya pernah berjanji—setidaknya pada diri saya sendiri dan beberapa kali mungkin terlontar kepada sahabat dekat—bahwa saya: akan terus menulis sepanjang hidup saya.
Dari janji sederhana itu, ada dua hal yang sebenarnya perlu saya garis bawahi. Satu: menulis. Dua: sepanjang hidup saya.
Ini aktivitas yang sangat penting bagi saya. Tulisan dan menulis sangat mempengaruhi hidup saya. Sejak kecil, saya sudah suka membaca segala macam bentuk tulisan. Tapi jangan terburu mengira bahwa tulisan yang saya baca adalah tulisan-tulisan berkualitas. Tidak. Sama sekali tidak. Kondisi kampung serta keluarga saya yang sama sekali tidak bersentuhan dengan dunia buku menjadikan saya mulai belajar membaca dari tulisan-tulisan yang tertera pada produk makanan kecil, snack, bungkus rokok, potongan-potongan koran atau majalah yang dibawa Ibu saya saat pulang dari membeli cabe atau bawang dari pasar. Tentu saja, buku-buku pelajaran yang saya warisi dari generasi-generasi di atas saya selama sekolah SD menjadi satu-satunya bacaan berkualitas yang saya dapatkan. Di masa akhir-akhir SD, baru saya mengenal majalah-majalah macam Bobo. Itupun berkat usaha minjem dari seorang teman yang berlangganan.
Membaca dan mengarang adalah aktivitas yang paling saya sukai di kelas. Jika guru bertanya: siapa yang mau membaca dari halaman ini sampai halaman ini? Saya yang pertama angkat tangan. Jika guru memerintahkan mengarang, saya tidak pernah merasa kesulitan apapun tema yang ditentukan. Namun saya benar-benar memulai aktivitas menulis saya (menulis yang di luar mata pelajaran) saat masuk MTs.
Menulis itu dipengaruhi oleh surat-surat yang di kirim salah satu kakak kandung saya dari kampung. Karena saya menghabiskan masa MTs saya pada sebuah Pesantren di Propinsi yang berbeda dari tempat tinggal, maka setiap kali keluarga saya mengirimkan uang di dalam amplop selalu dibarengi dengan sepucuk surat. Amplop itu dititipkan kepada sopir truk yang membawa hasil kebun dari kampung saya untuk di bawa ke sebuah pabrik dan melewati Pesantren tempat saya tinggal. Saat itu, baik saya maupun keluarga saya belum mengenal rekening dan dunia perbankan.
Surat yang dikirimkan kakak saya itu unik. Bukan surat biasa yang menjelaskan: uang yang dikirim sejumlah ini, harus digunakan untuk ini, dll. Bahkan, bahasa surat itu sendiri sangat tidak jelas karena kakak saya lebih suka menggunakan majas, kiasan, perumpaan dan kalimat-kalimat yang puitis. Hal ini yang kemudian mempengaruhi gaya menulis saya sampai saat ini yang cenderung abstrak.
Begitulah. Proses menulis saya terus berlanjut. Menulis menjadi semacam tempat bagi saya untuk tetap menjadi diri sendiri ketika dunia nyata tidak lagi menerima diri saya. Untuk itu, saya punya slogan untuk terus menulis sepanjang hidup saya.
Ternyata, tidak mudah untuk terus menulis. Hal ini mulai terasa saat saya telah masuk dunia kerja. Kebetulan, dunia kerja yang saat ini saya tekuni sama sekali tidak berhubungan dengan dunia menulis. Proses menulis saya menjadi mandek. Tolak ukur paling mudah adalah dengan melihat kondisi Blog saya. Lihatlah jarak antara postingan satu dengan yang lain. Sangat tidak produktif.
Menulis yang jarang juga mempengaruhi rutinitas membaca saya yang menjadi jarang pula. Akhirnya itu berpengaruh pada hidup saya yang terasa tidak berimbang. Satu sisi, dunia kerja memberikan pada saya penghasilan dan menghadirkan semacam ‘dunia baru’. Sisi lain, saya seperti kehilangan dunia lama saya: membaca dan menulis. Padahal, saya percaya, dunia baru dan dunia lama akan menjadi semakin indah jika saya tidak harus kehilangan salah satunya. Maka, (mungkin) saya akan menulis lagi!!