I wanna fake my death and see how you guys react

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from Yemen

seen from United States
seen from T1
seen from United States
seen from China

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from Ukraine

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Vietnam
seen from China
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from United States
I wanna fake my death and see how you guys react
Near Kumamoto, 1980 Clifton Karhu
#pokemongo #pikachu #wape #waper #yellow #sweet https://www.instagram.com/p/Bv87D_IAaoW/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1rkn2bnl1ixr
Waper kapan kita kesini bareng-bareng? @theselianhb @iindah94 @rispira_lubis @fendehr @nurullfatimah09 @siti_darojah @dheelviee *missed mba vella, gak tau ig nya #bromo #friendship #team #family #waper
Warnanya menggoda. #indomie #waper #noodle #miegoreng (at Wa_per)
Ini semua orang yang berubah jadi kamu atau kamu yang ada dimana-mana?
Ceritanya setiap noleh kanan, lihat kamu. Noleh kiri, lihat kamu. Jalan ke depan, lihat kamu. Dan kamu mulai terlihat berbeda. Eaaa, baper. Eh waper~~
Baper? Waper aja kali ya..
Pada akhirnya saya garuk juga nih gatel ngebahas baper (read: bawa perasaan). Terlalu banyak opini berseliweran, jadi pengen ngikut ng-opini.
Menurut kamus sotoy yang berkembang, baper adalah situasi dimana seseorang merasakan gejala yang berbeda dalam hatinya karena satu dan lain hal. Misalnya, karena perkataan lawan bicara, perkenalan, hubungan baik/tidak baik atau perlakuan orang yang ‘nyenggol’ sekalipun. Kompleks kan kalo nyentuh ranah kejiwaan tuh, tak kasat mata, men! Inilah mengapa baper jadi perbincangan empuk macam roti hangat di celup keju cair swiss.
Tipe opini berbeda-beda, tiap orang bisa memiliki asumsinya masing-masing. Semua orang berhak mengklaim perasaannya sendiri. Hingga akhirnya tak jarang jadi pembenaran kemudian berkembang jadi fatwa, loh? Hakekatnya karena setiap orang punya kemampuan tersebut, yang berawal dari kumpulan informasi lalu diproses menjadi simpulan yang ia sebut sebagai “aku mah gitu orangnya”. Beberapa mengutub pada kebebasan dirinya untuk mengekspresikan apa yang “dia banget”, sebagian lainya berpendapat bahwa tidak semua orang bisa disamaratakan apalagi dituntut untuk menerima pemikiran orang lain.
Oke, kita klasifikasikan kedua kubu itu menjadi molekul berbeda yang sulit bersatu. Sample yang pertama akan menganggap bahwa sah-sah saja untuk baper, bahkan sebaliknya, dirinya akan menganggap bahwa apa yang ia lakukan tidak pernah bertujuan untuk mem-baper-kan orang lain. Maka dari itu silahkan, win-win solution lah, you boleh baper sama i, but i berhak juga dong untuk tidak menganggap itu bukan baper-able condition. Tuntas.
Berbeda dengan asumsi lawan debatnya, si penyelaras akhir. “Ya kamu ga bisa gitu dong, tiap orang kan beda-beda. Ada yang “digituin” doang ga bikin dia baper, tapi kan ada juga yang dikit-dikit jadi baper-an”. See, buat tipe kelompok ini baper itu harus seminimal mungkin tidak dipancing baikpun diekspresikan. Karena tipe-tipe seperti ini menjunjung tinggi keseragaman umat perbaperan sedunia biar sama-sama hepi. Dari definisi kebebasan saja mereka sudah berbeda dengan yang pertama, apalagi soal baper ini.
Rumitnya perseteruan ini bikin saya gatel cari solusinya gimana. Karena memang sulit mempersatukan 2 tipe ideologi yang bersebrangan. Bagaimana kalo kembali ke ushulnya? Ke source dimana mulanya permasalahan ini. Perasaan, kan ya. Saya mau menawarkan pemodelan baru yang disebut: “WAPER” (read: wajar perasaan).
Menurut hemat saya waper ini bisa dibikin jadi kata ganti baper, jadi semua sama-sama berpikir bahwa hal ini wajar terjadi, dan gesekan diantara orang yang baper dan mem-baper-kan akan cenderung lebih smooth. Sama-sama menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Wajar dong bawa-bawa perasaan, karena ada orang yang sensitif. Tapi wajarkan juga lah dia yang merasa tidak terbebani kalo orang jadi baper karena nya, toh nyatanya dia sudah jauh lebih lihai dalam mengendalikan perasaanya. Wajar kan? Wajar susah ngatur perasaan, wajar juga sudah biasa ngatur perasaan.
Jadi, jika baper diganti dengan kata waper, mungkin kita ga semudah sekarang memilah teman, mengkotak-kotakan orang lain. “Ah, jangan ngajak dia. baperan orangnya~” nahloh. Alangkah baiknya jika semua orang berhati-hati dalam tutur. Karena penyakit yang paling sulit disembuhkan adalah penyakit hati, akan lebih indah jika kita semua bisa saling mengerti, pun menerima segala bentuk keunikan orang lain.
Singkat kata, Waper aja deh ya biar semua senang :)
(diangkat dari obrolan tengah malam antara kami berdua)
Waper eLiquidos - revision
Waper eLiquidos – revision Mas revisiones en http://www.elmonovapeador.com Si te ha gustado el video ¡Suscribete a mi canal!
View Post