[Pekan 2] Kegagalan Terbesarku dan Hikmahnya
Kegagalan bagiku adalah target yg sudah kuusahakan untuk mencapainya, tapi ternyata jawabannya adalah "Tidak di sini" atau "Bukan yg ini".
Tidak sedikit kegagalan yg pernah aku alami. Alhamdulillah Allah masih berikan hidayah-Nya kepadaku untuk tidak melakukan hal-hal di luar kewajaran.
Kegagalan terbesarku? Tidak lolos SNMPTN, SBMPTN, dan UM UGM.
Ketika aku tidak lolos ketiganya, yg kecewa bukan hanya aku. Ah pasti ayah dan ibuku merasakan kecewa yg lebih besar saat itu. Walaupun awalnya mereka menyalahkanku karena aku yg terlihat kurang belajar, tapi mereka tetap menyemangatiku untuk mengikuti tes yg lainnya.
Ayah dan ibuku ikutan repot mempersiapkan tes masuk PTN ini. Dan tentunya banyak sekali biaya yg dikeluarkan. Biaya les, beli buku-buku yg menunjang, pendaftaran ujiannya yg tidak murah, terlebih lagi ketika ikut tes UM di UGM.
Cerita yg masyaAllah banget. Ke Jogja modal nekat aja sama ibu. Gak punya saudara, gak punya teman, gak punya kenalan siapa-siapa yg ada di sana. Pertolongan Allah datang begitu mudahnya. Waktu di travel lagi beli tiket bus, kami dipertemukan dengan seorang ibu yg tujuannya juga ke Jogja. Singkat cerita, beliau menawari kami untuk tinggal di rumah mantan suaminya. Ibu itu akan mengunjungi anaknya yg tinggalnya tidak jauh dari sana. Rumahnya lumayan luas. Ada banyak kamar di dalam dan luar rumah. Aku dan ibu menempati di kamar luar. Kami sangat bersyukur karena sudah ada yg percaya dengan kami sampai mau menampung kami di rumahnya untuk beberapa hari. Tapi kalau malam tiba, ibu itu tidur bersama kami dengan anak-anaknya di ruang tamu. Alhamdulillah kami tidak harus tidur di kamar yg gelap. Kamar yg kami isi tidak lampunya. Jadi kamar itu hanya untuk menaruh barang-barang kami.
Malam sebelum hari H, kami diajak main ke Malioboro. Whooooaa dulu waktu ke Bali, rombonganku memang mampir ke Jogja tapi tidak turun di Malioboro. Dan malam itu aku bisa merasakan belanja di sana berdua ibu. Dan pulangnya kami ingin naik delman karena aku senang banget naik delman. Tapi harganya WEW banget hahaha-_- alhasil naik becak aja.
Ohya siangnya kami ke UGM untuk survey lokasi. Cari tau angkutan, jalan, dan ruangannya. Dan besoknya kami dibuat panik. Satu-satunya angkutan yg bisa membawa kami ke kampus belum ada yg lewat sama sekali. Kami sudah standby di pinggir jalan sejak ba'da subuh. Tapi sampai matahari terbit belum ada bus yg lewat. Tidak ada taksi, ojeg, ataupun becak di dekat kami. Karena ibuku sama cengengnya denganku, ibu hampir menangis saat itu. Alhamdulillah, Allah tidak sampai tega melihat ibu menangis. Akhirnya datang juga! Kami berdoa semoga tidak telat sampai kampus.
H+1 setelah tes waktunya balik ke Cileungsi. Allah Maha Baik, seorang om yg sedang berkunjung ke rumah saat itu menawari untuk mengantar kami sampai ke tempat travel. Om itu sempat berpesan, "kalo mau cari gelar, ya ambil S1. Kalo mau cari kerja, ambil D3 aja."
Pengalaman yg luar biasa. Lebih banyak bermodalkan nekat, aku bisa mengikuti tes itu. Dan saat itu aku lengah. Aku lupa memperbanyak doa. Memang kita harus berpasrah dengan skenario-Nya, tapi tidak ada yg menganjurkan untuk berhenti berdoa. Astaghfirullahal'adziim. Aku terlalu sombong dan jadi sangat percaya diri karena Allah selalu menolongku ketika di Jogja. Aku lupa meningkatkan ibadahku. Aku bersyukur hanya dengan mengucapkannya, tanpa mengamalkannya. Astaghfirullahal'adziim.
Mungkin itulah kegagalan terbesarku. Perjuangan mencapainya tidak main-main. Biaya, waktu, tenaga, pikiran, semuanyanya dikerahkan tidak sedikit. Bahkan aku menarik ibuku ke dalamnya, bersusah payah bersamaku. Tapi setelah pertolongan itu datang berkali-kali, justru aku lalai. Aku menjadi manusia yg sombong. Astaghfirullahal'adziim. Dan alhamdulillah, Allah memang Maha Baik. Dia masih memberikan hidayah-Nya kepadaku.
Semoga Allah ampuni aku dan tidak pernah mencabut hidayah-Nya dariku. Semoga sifat sombong itu tidak menjalar lagi dalam diriku. Semoga Allah jauhkan aku dari penyakit-penyakit hati yg bisa menggerogoti iman ini. Aamiin.