Day #2 Nyanyian Akar Rumput
Buku pertama yang saya baca di tahun 2022 adalah sebuah buku puisi karya Wiji Thukul. Mungkin di era sekarang sedikit orang yang tau siapa beliau. Beliau adalah seorang aktivis di tahun 90-an yang hilang di tahun 1998. Sampai sekarang kita tidak tau kemana Wiji Thukul hilang apakah diculik atau entahlah banyak sekali aktivis2 yang hilang pada tahun 1998.
Puisi yang ada pada buku ini menjelaskan tentang ketimpangan sosial terutama kaum buruh yang sering mendapatkan ketidakadilan mulai dari upah murah, jaminan keselamatan kerja, kemiskinan dan berbagai macam masalah lain. Lalu ada juga represi aparat yang membredel kebebasan berpendapat dan berserikat apalahi latar dari puisi yang ditulis Wiji Thukul disini berada di zama Orde Baru yang kelam dimana masyarakat tidak bisa dengan bebas berpendapat terutama mengkritik pemerintah karena mengkritik saja bisa dianggap mengganggu kestabilan nasional.
Lalu bagaimana sekarang, apakah kita sudah bisa berpendapat dengan bebas ? Berita baiknya sudah dan bahkan dilindungi oleh undang-undang yang dibuat setelah tahun 1998 dan kalau aku riset lebih dalam lagi sebenarnya di UUD ada pasal yang mengatakan setiap orang bebas berpendapat adn berserikat tapi entah kenapa di Orde Baru malah sebaliknya maka aku tidak terlalu berharap dengan undang undang tersebut. Bahkan, kalau kamu berpendapat di Internet atau di media sosial dan jika pendapatmu itu bertentangan dengan pendapat orang yang berkuasa, siap-siap kamu diserang bahkan di doxing oleh buzzer bayaran yang kita sendiri gak tau siapa yang ada dibelakangnya.
Lantas apa benar kita sudah bebas berpendapat ?
Entahlah.
Yang jelas perjuangan Wiji Thukul melawan ketimpangan sosial dan ketidak adilan masih terus berlanjut.
A Luta Continua.













