Tahun ini absen.
Selamat Idul Fitri 1438H. Taqabbalallahu minna wa minkum. Wa barakallahu fiikum. Mohon maaf atas segala khilaf dan kesalahan yang barangkali melukai hati dan menyinggung perasaan.
Tiap keluarga punya “ritual” lebarannya masing-masing. Ada yang mudik ke kampung halaman H-2, ada yang menikmati sepinya Jakarta, ada yang baru mudik pas hari H lebaran. Macem-macem.
Saya sendiri yang keluarga intinya di Jakarta semua, jadi salah satu penikmat lengangnya Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, karena saya tinggal di rumah si mbah dari Bapak, jadi lah Ibu mesti masak buat besoknya. Setelah beres semua, saya, ibu, bapak, dan dua adik lantas ke rumah si mbah dari Ibu buat sholat Ied disana.
Hari Raya tiba, saya sholat, sungkem, bagi-bagi THR, dan masih dapet THR dari Bapak *wink lalu balik lagi siangnya ke rumah si mbahnya Bapak. Satu hari itu dihabiskan untuk keliling rumah saudara yang di Jakarta.
Saya pernah cerita sedikit ditulisan sebelumnya kalau saya dan keluarga dari Bapak punya tradisi “mudik” versi kami. Mudik versi kami adalah jalan-jalan ke daerah tertentu sambil silaturahmi ke saudara-saudara jauh. Iya yang jadi agenda utamanya si jalan-jalan itu. Yang ikut cuma tiga keluarga sih, Bapak, Bude, sama Bude. Belakangan Bule yang lain ikutan jg, jadi empat.
Ternyata tradisi itu udah dimulai dari saya umur lima tahun. Saya ingat? Ya ngga lah. Ibu kasih liat di album foto. Kami menyusuri jalur pantai utara Pulau Jawa pakai mobil. Dulu cukup hanya ditampung satu mobil, kemudian sekarang jadi dua sampai tiga mobil. Jarak paling jauh yang pernah kami tempuh itu sampai Bali. Iya, nyebrang naik kapal. Butuh sekitar 45 menitan buat nyebrang dari Pelabuhan Banyuwangi ke Gilimanuk. Selain Bali, kami juga pernah ke Bromo, dua kali. Sisanya cuma main diseputaran Yogyakarta.
Sambil jalan pulang ke Jakarta, biasanya mampir ke Teluk Penyu di Cilacap. Itu tempatnya adeknya si mbah dari Ibu. Ada dua belas mbah dan rumahnya berjejer dari ujung ke ujung. Rame. Heboh. Literally. Di Cilacap, saya suka main ke Pantai Teluk Penyu. Saya suka pantai. Bunyi debur ombaknya; gesekan pasir pantai ketika bertemu dengan kaki; buih-buih ombak yang menyentuh kaki ketika sampai di pantai; semuanya punya rasa menenangkan sendiri buat saya. Ditambah matahari sore yang hangat dan desiran angin.
Belakangan, kalau kami kesana, si om akan nyewa perahu ukuran sedang punya tetangga buat membawa kami nyebrang ke Pulau Nusa Kambangan. Disana ada Pantai Pasir Putih. Masya Allah bangus bangeeet. Buat dapetin sesuatu yang bagus, perjuangan dapetinnya ga mudah. Jalan menuju si pantai lumayan berat bikin baju basah karena banjir keringat. Tapi capeknya sepadan sama apa yang akan dilihat setelahnya. Hamparan pantai dengan pasir putih dan gundukan-gundukan karang. Kalau sedang surut, kamu bisa melewati karang-karang itu buat sampai di karang paling ujung. Terus kamu duduk, dengan angin pantai yang sepoi-sepoi, ditambah suara deburan ombak. Kamu cukup duduk aja diem disitu. Melamun lima menit, pikiran rasanya langsung jernih. “Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?” (55:55).
Tahun ini, saya ga bisa ikut ritual “mudik” kami. Saya masih belum dapat cuti, dan di kantor yang sekarang tidak berlaku cuti bersama pemerintah. Jadi, tanggal 27 Juni 2017 kemarin saya sudah rajin masuk ke kantor.
Jakarta, 30 Juni 2017 | 6 Syawal 1438H | 15.15 WIB












