#MonthlyProject - Episode Terakhir
Dia datang ketika pesanan kedua ku datang dan satu puisi telah selesai aku tulis. Dia menghampiriku setelah melihat ke sekeliling cafe dan menemukanku di salah satu sudut dekat jendela. Aku tersenyum sambil melambai ke arahnya, dia pun tersenyum lebar sambil berjalan dengan langkah lebar. Tangan satunya sengaja disimpan dibalik punggung. Baby’s Breath. Aku menebak dalam hati.
“Will you marry me?” lamarnya ketika sudah sampai di mejaku sambil berlutut dan menyodorkan bunganya ke wajahku. Aku tertawa pelan, mengambil bunganya lalu memukul pelan kepalanya dengan pensil yang sedang ku pegang. Syukurlah hari ini cafe tidak terlalu ramai, aku tidak perlu merasakan pandangan-pandangan iri dari pengunjung lain.
“Namanya juga usaha, Ka. Selama belum ada ijab kabul masih boleh dong” seloroh Ian sambil duduk di kursi berhadapan denganku yang sekarang masih mengagumi bunga yang ia bawa. Bisa kurasakan tatapannya hangat dan melihat segala gerak-gerikku dari tempatnya sekarang. Tatapannya masih sama, hanya sedikit sendu.
Mataku berputar mendengar ucapannya yang telah diulang sekian kali. Aku sodorkan sebuah amplop padanya. Memang itu alasan kami bertemu saat ini. Sudah tidak akan ada lain kali lagi. Tidak pernah ada lain kali.
Ian hendak membuka amplopnya langsung saat itu juga sebelum akhirnya aku mencegahnya.
“Bacanya pas aku udah pergi aja. Biar lebih dramatis gitu ceritanya. Kalau sekarang ngga asik” Ucapku sambil mengedipkan sebelah mata. Ian tertawa renyah, tapi hanya sebentar. Ia kini menatapku tajam dengan bola mata hitamnya. Meminta kejelasan, untuk sesuatu yang menurutnya tidak pernah aku jelaskan secara jelas.
“Don’t. I told you many times. We cannot work.” Tegasku sambil menyentil dahinya. Ian merengut. Tidak lama setelah itu kopi hitam pesanannya datang. Aku hendak menyodorkan gula ke cangkirnya. Tapi dia malah buru-buru meminum kopinya meskipun panas, akhirnya lidahnya terbakar sedikit. Aku mengernyitkan dahi melihat apa yang dilakukannya. Ia tidak pernah bisa minum yang pahit-pahit.
“Aku lagi ngga mau yang manis-manis. Hari ini bakal jadi hari terpahit yang aku alami. Jadi jangan jadi Kakak-Sok-Baik yang selalu kamu lakuin” ucapnya setelah menyimpan cangkirnya kembali. Wajahnya kini menghadap ke jendela. Aku memandangnya dengan senyum hangat. Aku tidak pernah bisa marah kepada laki-laki yang selalu aku anggap adik di depanku ini.
“Duh lucu banget sih Adek gue satu iniiiii” aku mencubit salah satu pipinya yang sekarang tirus. Ian protes kesakitan dan melihatku sebal. Tubuhnya kini lurus menghadapku sambil tangan terlipat di atas meja. Matanya tajam menatap bola mataku. Ketika itu aku sadar, dia sedang serius.
Aku balas perlakuannya dengan melakukan hal yang sama. Tubuhku lurus menghadapnya dan balas menatapa bola mata coklatnya. Bedanya, wajahku dipangku oleh tangan kananku dan tersenyum melihat kelakuannya. Setelah beberapa detik, seperti itu aku pun menyandarkan tubuh di kursi. Masih terus tersenyum melihat kelakuan Ian.
“Kenapa kamu suka sama aku, yan? Bukannya kamu tahu aku ngga akan pernah menganggap kamu sebagai laki-laki dalam artian lain” tanyaku yang dibalas Ian dengan mata berputar khasnya ketika tidak suka akan sesuatu.
“Setelah ribuan kali aku nyatain perasaan sama kamu, ribuan kali juga kamu tolak. Baru sekarang kamu tanya kenapa? Aku baru tahu kamu selambat ini” Ian bicara dengan nada sarkastik. Senjatanya ketika ingin keluar dari sebuah situasi yang menurutnya buang-buang waktu. Aku masih tersenyum melihat tingkahnya yang menurut aku kekanak-kanakan. Sudah lebih dari 20 tahun aku mengenalnya. Melihat reaksiku yang tidak bergeming, Ian melanjutkan perkataannya.
“Aku juga ngga tahu sejak kapan aku mulai suka, tapi yang pasti aku selalu merhatiin kamu bahkan ketika aku masih bocah ingusan dan cengeng. Aku bingung harus jelasinnya darimana.....” Ian melanjutkan ceritanya yang hanya aku dengar setengah. Aku memperhatikannya bercerita, sambil bertanya-tanya kenapa aku masih tidak bisa jatuh hati kepada bocah yang kini sudah menjelma menjadi sosok dewasa dan digilai banyak wanita.
Sadar karena aku tidak terlalu memperhatikan perkataannya, Ian berhenti. Memandangku dengan wajah lelah tersirat. Kami sudah terlalu sering melakukan ini, di tempat yang sama, dengan cerita yang selalu berakhir sama. Aku memilih untuk menyelsaikan cerita tanpa perlu penjelasan tambahan, sedangkan Ian selalu berusaha untuk mengungkit kembali cerita yang sebentar lagi akan usai. Dan berakhir sama.
“Pada intinya kamu juga ngga punya alasan yang jelas kenapa suka sama aku kan? Kalau gitu aku juga sama, bukan kamu, Yan. Sesimple itu. Udah berapa kali kita bahas ini dan berakhir dengan hal sama lagi?” Aku mengatakannya sambil tetap tersenyum. Ian sadar, pertanyaan retorisku bukan untuk mendapatkan jawaban yang sejelas air. Ian tahu, ia sudah kalah bahkan sebelum mulai pernyataan perang.
“Aku bohong kalau aku bilang ngga tersentuh sama perhatian kamu. Bohong banget bilang kalau aku ngga pernah ngerasain hal yang sama kaya kamu. Tapi, semua perasaan itu tidak berkembang menjadi seperti yang kamu rasakan juga. Aku berhenti ketika rasa itu baru mulai tumbuh, karena memang perasaan itu tidak ditakdirkan untuk tumbuh.” Tatapan ku menajam seiring dengan mulai berubahnya nada bicaraku.
Setelah terdiam cukup lama hanya saling bertatapan, Ian melepaskan senyum khasnya yang bisa membuat siapa saja luluh dalam hitungan detik. Aku juga tersenyum lebar. Kami lalu tertawa setelah memulai pembicaraan menyenangkan tentang masa lalu. Episode kami telah selesai.
........
Bel pintu cafe berdenting cukup keras hingga membuat percakapan kami berhenti dan berpaling melihat ke arah pintu depan. Disana berdiri seorang lelaki berbadan tegap memakai sweater abu-abu yang melambaikan tangannya ke arah kami berdua. Lelaki itu menghampiri kami berdua sambil membawa tas ransel yang cukup besar.
Lelaki itu mengecup keningku sambil mendaratkan tangannya di pundakku. Dia dan Ian berbincang sebentar sebelum akhirnya dia berkata kalau kami berdua sudah harus pergi lagi ke rumah orang tuaku. Aku mengangguk pelan, dia pun mohon izin ke toilet sebentar membiarkan Aku dan Ian sendirian lagi. Kami berdua saling bertatapan, lagi. Sama-sama melepas senyum tulus. Pertemuan ini sudah harus segera berakhir.
.....
Aku masih duduk di sudut cafe itu setelah Ia pergi bersama dengan lelaki pilihannya. Undangan yang tadi ia larang untuk dibuka di depannya aku buka perlahan, karena tidak ingin merusak amplopnya. Terselip secarik kertas yang dilipat berbentuk segiempat. Aku pun membuka kertas tersebut dan membaca tulisan yang Ia buat untukku.
‘Terkadang, bukan usaha yang membuat pasangan berakhir bersama. Pada akhirnya itu perihal takdir yang akan selalu bermain. Tugas kita memang hanya berusaha melakukan yang terbaik. Jika pada akhirnya tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan, paling tidak kita diberi kesempatan untuk ikhlas.’
Terimakasih, karena sudah menjadi adik-tidak-resmi-tetangga sebelah yang selalu siap sedia. Jangan terlalu pemilih dan jangan membanding-bandingkan orang lain.
20.48
Kepikiran bikin ini ketika sudah hampir 2 minggu lebih ber-Transjakarta ria untuk pergi magang. Ah ku suka dengan ke hectican ini:”””