"I must do what is right, not what is easy"
seen from Türkiye
seen from Yemen
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Norway

seen from United States
seen from Canada

seen from Norway

seen from United States
seen from Romania
seen from Netherlands

seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States

seen from Singapore
seen from Austria
"I must do what is right, not what is easy"
Tawakkul is such a beautiful concept. Everything around you could literally collapse but if you trust that Allah will protect you, no harm can come to you. You trust in His planning, better than your own. You trust that He will guide you towards what is best, again and again.
#copied
“Be rest assured, (that) He will surely respond”
This dunya is not worth planting your roots in. So forgive easily, love deeply, and remain unbothered by its pains
“Verily,” the wise say, “it’s only a number of days”
RELIGIOUS MINORITIES UNDER MUSLIM RULE - TESNEEM ALKIEK
Ujian Kesabaran: Mekkah Madinah #part 3
Selama di Mekkah Madinah, ada pengalaman seru apa?
Selama di Madinah dan Mekkah, saya alhamdulillah mendapatkan banyak pengalaman komunikasi dengan muslim muslimah dari penjuru dunia. Di sana, pertama kalinya berjumpa dan berbicara dengan orang muslim Amerika Latin. Mengingatkan pada teman saya seorang non muslim dari Panama yang ingin pergi Mekkah. Pertama kalinya saya bertemu dengan muslimah daerah utara, seperti Rusia, Kazakhtan, Usbekistan, dan tan-tan lainnya. Yang selama ini cuma saya lihat dari belajar bahasa channelnya Fiki Naki. Peace :)
Boleh dicoba ya. Kalau sudah sampai di sana, silahkan berkomunikasi dengan banyak orang dari berbagai negara. Walaupun sekedar bertanya dari mana, tanya jalan, dan pertanyaan sederhana lainnya. Meskipun dengan bahasa isyarat dan bahasa kalbu, mereka akan paham kok. Lebih tepatnya, berusaha memahami. Karena kesempatan reuni dengan umat Islam sedunia, cuma ada di sana. InsyaAllah menjadi pengalaman yang menyenangkan dan berkesan.
Selama di Mekkah Madinah, dapat ujian kesabaran apa?
Kemarin saya bercerita bahwa semua prosesnya lancar jaya. Banyak kemudahan yang tak berkesudahan yang perlu disyukuri. Alhamdulillah. Di lain sisi, ada hal yang tak terduga. Sebuah ujian kesabaran. Qadarullah koper bagasi saya dan teman sekamar hilang. Tepat saat saya baru tiba di Madinah. Terus bagaimana? Sejak awal, saya sudah menanamkan bahwa namanya ibadah, ya harus sabar. Alhamdulillah, entahlah saat saya di sana kayak tenang aja gitu. Padahal biasanya gupuhan luar biasa kalau ada hal yang di luar rencana. Dulu saya maunya serba mengatur, ingin serba ideal. Tipikial sutradara di belakang layar. Hikmah saat di sana, saya diberi ketenangan, rasanya nyaman kalau mengikuti alurnya Allah. Yakin bahwa Allah sebaik-baik pembuat rencana. :)
Alhamdulillah, masih rezeki karena di dalam koper kabin masih ada pakaian untuk kegiatan sehari-hari, seperti mukenah, obat-obatan, dan perlengkapan pribadi. Di koper besar juga ada, tapi syukurlah tidak terlalu urgent. Selama di Madinah, ternyata membawa perbekalan satu koper kecil itu cukup. Sedikit usaha cuci-kering-pakai, bergantian dengan teman sekamar. Bersyukurnya, dengan suasana sejuk 38 derajat Celcius, dengan segala aktivitas ibadah di Madinah, tidak menjadikan diri berkeringat. Tubuh serasa wangi sepanjang hari. Cucian juga cepat kering. Percayalah ! Jadi, saya tidak terlalu ambil pusing, meskipun sebenarnya kehilangan koper menjadi hal yang disayangkan. Kok bisa? Ya bisa saja kalau Allah sudah berkehendak. Beruntungnya, justru dengan kejadian ini, saya menemukan orang-orang baik. Yang saling membantu, saling memudahkan urusan satu sama lain.
Oh ya, saya sepakat bahwa rasa sabar itu tidak cukup dengan menunggu keajaiban. Selama koper hilang, saya dan teman juga sekamar ikhtiar ke sana-ke mari. Dibantuin juga sama Sahabat Madinah yang sedang studi di sana untuk cari informasi, tapi belum rezeki. Menunggu kabar terbaru dari Jakarta dan Surabaya, tapi belum ada hasilnya. Juga mencoba konfirmasi ke bandara Madinah 2x, mengecek ke gudang barang hilang, tapi ya masih belum rezeki juga. Dari kejadian ini, saya tidak pernah menyangka bahwa dapat hikmah sebanyak ini. Misalnya, bisa berkomunikasi dengan Manager Bandara Jeddah hanya untuk konfirmasi koper hilang. Bisa keliling kota Madinah naik taksi menjelang buka puasa, menggunakan mesin ATM berbahasa Arab-Inggris, bisa semakin kenal para jamaah di sana, dsb. Tentunya membuat saya semakin memaknai kata ikhlas. Kalau rejeki, ya akan kembali lagi. Semustahil apapun, kalau Allah sudah berkata kun, fayakun.
Kabar kehilangan ini baru saya ceritakan pada Ibu, tepatnya setelah hari ke-3 di Madinah. Setelah bercerita, malah membuat ibu bingung, tapi saya berusaha menenangkannya. Bismillah rezeki tak akan ke mana. Alhamdulillah, pihak travel juga terus membantu mencari informasi. Mereka juga beritikad baik untuk memberikan uang saku untuk beli baju persiapan umroh di Mekkah nanti. Meskipun nilainya pasti berbeda dengan apa yang ada dalam koper tersebut, alhamdulillah cukup.
Sehari sebelum keberangkatan ke Mekkah, aku meminta doa pada Ibu.
“Alhamdulillah Bu, ini sudah siap semuanya. Doakan lancar. Mohon doanya. Kalau masih rejeki, kopernya nanti insyaAllah ketemu di Mekkah.”
Ibu terlihat pasrah. Speechless katanya, tapi sudah lebih tenang. “Sudah, fokus saja sama umroh besok.” Ya bagaimana lagi, manusia bisa berencana, Allah yang mengatur segalanya.
---
Singkat cerita, sehari setelah sampai di Mekkah, setelah menunaikan umroh ke-2, alhamdullillah koper kami ketemu. Allahu Akbar! Jadilah, maka jadi. Janji Allah itu pasti. Rencana Allah itu so sweet sekali. MasyaAllah tabarakallah...
ربي انّي مغلوبٌ ، فانتصر
My Lord, indeed I am overpowered, so please help me