#yasinNY (2): Blend to the City (part 1)
Being far-far away from home. It must be appeared some feelings, like insecure, or worry about how much money left on my debit card so that I can make withdraw with it. Well, that happened in New York, last year. Saya berangkat untuk mengikuti short course selama dua bulan di sebuah kota baru yang super glamour dan susah ditemukan nasi bungkus. I have to admit, that was quite hard. But, with some help and the touch of creativity, akhirnya I made it.
New York, bukan suatu kota yang mudah dan murah untuk dikunjungi. Dari harga bikin VISA yang mencapai $160 aja sudah kebayang that this city will absorb your money. Apalagi buat yang hobi belanja, sebaiknya ya disiapkan budgetnya daripada harus kehabisan uang makan ditengah perjalanan. Post saya kali ini, ingin bahas how to survive in NY and how to travel in effective way. Saya ingin berbagi nih tentang sedikit-banyak pengalaman saya berkunjung ke Syracuse dan New York city, tentang berapa harga sekali makan, rute subway yang lebih njelimet dari benang mbulet, dan footages apa aja yang layak untuk dikunjungi jika hanya punya waktu less than a week, plus how to manage your financial while in New York. Plus, a lil bit Quick Tips, hopes will help you who wants to travel to NY as well.
Di depan American Museum of Natural History (Tempat Shooting Film Night at The Museum)
Brooklyn Bridge
Mandatory selfie in NY-Liberty statue-not in NYC, tho, It’s in Ellis Island
Well, here is some of my not-too-interesting experiences to share with.
Looking for Financial Support.
Perjalanan saya ke NY tahun lalu bisa dibilang super immediate. Saya mengetahui bahwa saya lolos sebagai perwakilan ITB untuk ikut Student Sandbox di Syracuse University, New York, baru sekitar 4 bulan sebelum keberangkatan. Padahal menurut berbagai sumber, saya harus cari flight arrangement minimal 6 bulan sebelum keberangkatan supaya dapat harga yang kalem dan wajar. Belum lagi urus visa US yang konon katanya super ribet dan super lama. Dan yang paling memusingkan adalah harus cari sponsor untuk support financial saya selama di NY karena pihak ITB dan Syracuse cuma kasih saya uang pendidikan short course aja, sedangkan untuk transport dan living cost belum di support. Kliyengan lah saya harus cari sponsor untuk bisa berangkat ke NY. Sempet ragu, karena tinggal 4 bulan lagi dan harus gercep-gerak cepat.
Looking for financial support is really crucial. If I fail, means that I can’t go anywhere. Hehehe. The first thing you have to do is to calculate how much money you need. Kasaran aja. Bisa dikira-kira sesuai kebutuhan. At that time, I made a simple calculation untuk rent cost while staying at NY for 8 weeks, flight cost CGK-JFK-CGK, local transport, daily need, and of course shopping and entertainment cost.
Rent cost for 8 weeks = $800
Flight = $1300
Local transport = $200 (subway, bus, etc)
Daily need = $1,250 (eat, snacks, college properties, etc)
Shopping and entertainment = $500 (less or more) :p
TOTAL = $4,050
Yup, you will find a really high price to live in NY for 8 weeks or two months. Maka dari itu, thinking about financial support is really important. Terlebih kalau berangkat ke NY untuk kuliah namun hanya mendapat beasiswa parsial. Ya, mau tidak mau, saya harus berjuang untuk dapat financial support agar dapat membantu meringankan keuangan pribadi yang akan keluar. Setelah dapat kalkulasi singkat, the next thing to do is making a proposal. A quick tips, here. I believe that no one nor a company wants to give you that freaking full accommodation. So, my suggestion is to making your proposal into some parts. You can design your custom proposal for each target. For example, kalau ada beberapa kandidat donatur yang ingin disasar, jangan semuanya ditodong angka $4,050. Yang ada, perusahaan itu akan stres dan bete sama permintaan proposal kita. Coba tinjau dari segi perkiraan kemampuan masing-masing donatur. Ada proposal yang hanya meminta flight cost, ada yang hanya meminta biaya hidup, dan ada proposal yang hanya meminta daily need cost. Jangan sampai meminta budgeting untuk shopping dan entertainment ke donatur ya. It’s not wise and also not important. Saya pribadi, menyiapkan biaya shopping dan entertainment menggunakan uang tabungan saya sendiri. Bisa juga, preparing credit card untuk shopping selama di NY. Simple, and you can pay it later (hati-hati dengan biaya tambahan dan bunganya yaaa, dan yang pasti tetap sesuaikan dengan limit dan kemampuan membayar). For me, penting juga untuk menjelaskan benefit apa yang bisa kita beri jika mendapatkan dana sponsor. Biasanya, ini untuk donatur yang mengatasnamakan perusahaan. Kalau perorangan sih, biasanya nggak perlu memberikan benefit lain selain terimakasih sebesar-besarnyaaaa :)
Preparing the Details.
Akhirnya melalui berbagai proses yang super njelimet dan memusingkan, saya dapat beberapa sponsor yang bisa membantu perjalanan saya ke New York. Terimakasih untuk semua donatur dan sponsor yang membantu. Super exciteddddd dan super nggak sabar untuk bertemu The Times Square. But the next thing to do is preparing the details. Saya orang yang cukup detail terhadap beberapa hal, kecuali kalau sedang dikejar deadline. :p but untuk urusan travelling dan planning, saya nggak mau mbleset. Oleh karena itu, detail-detail kecil bakal dicatet supaya nggak luput dari penglihatan. Salah satunya adalah untuk bikin visa US, atau disebut visa B1-B2. Visa ini sebenernya cukup muda untuk diajukan, karena semua proses awalnya hanya by online. Tapi, trik dan printilannya cukup banyak. Quick tips, ketika interview di embassy, jangan lupa untuk membawa kebutuhan travelling seperti: bukti booking flight arrangement, rekaman buku tabungan, alamat tinggal selama di NY, dan surat undangan/invitation letter dari institusi yang mengadakan acara. Berbekal itu semua, InsyaAllah, staff embassy akan dengan mudah memberi visa.
Visa B1-B2 yang normal biasanya berlaku 5 tahun. Visa tersebut berlaku untuk yang ingin berkunjung ke Amerika dengan waktu yang tidak relatif lama (maksimal 6 bulan). But in my case, I got only 6 months usa visa that I can use. Nggak tahu kenapa, tapi kayaknya staff embassy ngepasin sama jangka waktu belajar saya di NY. But, it’s okay, dia (staff embassy) bilangnya sih gampang banget untuk next time application. Okay deh.. the next thing that I did is making notes for my luggages. Well, this is the hardest paaaart. Quick tips, bikin list tentang barang apa aja yang mau dibawa. Bisa dibagi part-part, seperti: apparel, food and beverage, electronic and devices, dan lain-lain seperti gambar berikut.
My super long list to go..
Kalau sudah punya list, it will be easier, trust me. Untuk kros cek nya, tinggal centang aja barang yang sudah disiapkan. Beres deh. Dengan membuat list, barang-barang jadi lebih terorganisir dan bisa lebih hemat juga karena nggak terlalu sering beli barang baru disana. Sesimpel kayak kaos kaki, charger, colokan listrik universal, dan mie instan.
Stay Open Mind
My activities in NY is separated into 2 things, short study in Syracuse University and short trip in NYC (before back home). Untuk kegiatan di Syracuse sih, saya nggak terlalu repot mikir karena hamper setiap hari kita ada kegiatan (kuliah, mentoring, kunjungan, dll). Program Student Sandbox pada dasarnya adalah program business incubation. Mereka membantu bisnis-bisnis/starts up untuk berkembang dan menetas lebih kuat di pasaran. Berbagai metode dalam short course ini adalah workshop dan pitching. Seru banget deh. The most happiest thing for me is making new connection. How amazed to see people at my age who create most sophisticated smartphone app or website. Yah, ala-ala Sillicon Valey gitu deh. Ujungnya, program kita akan berlanjut pada pitching dihadapan audiences dan investor.
my cubicle to work in Student Sandbox
stay positive and emptying the glass, people said
my booth for klastik. Yess, i can’t bring my real shoes because of overload :’(
Ketika di NY, saya sama sekali nggak menyangka bahwa akan dapat berbagai experience baru yang belum pernah saya temui sebelumnya. Pengalaman-pengalaman ini sukses bikin saya merubah habit buruk saya. Seperti ketika makan di kantin kampus, semua piring dan gelas dikembalikan ke tempat cuci dan dipisah-pisah sesuai materialnya. Misal yang plastik dengan yang plastik, yang terbuat dari logam juga diletakkan di tempat yang logam. Bahkan, makan di McDonald pun, semua orang langsung membuang sampahnya dan mengembalikan tray makannya ditempatnya. It’s kinda different yaa.. kalau di Indonesia, selalu ada OB yang siap membuang sampah-sampah bekas. Well, sekarang kebiasaan ini kebawa banget di saya. Setiap ke resto fast food di Indo, saya langsung buang sampah dan mengembalikan tray. Sampai-sampai OB nya bilang, “Nggak usah mba, saya aja…”. Well, I just send him a smile.
Kalau dipikir-pikir, I have learned a lot in New York. Termasuk learn how to respect other privacy. Di tempat yang super multi kultural seperti NY, akan sangat banyak hal-hal yang mencolok dan tentunya memiliki perbedaan pandangan dengan negara asal. US dikenal sebagai negara yang sangat demokratis, oleh karena itu kebebasan hak asasi manusia sangat dijunjung tinggi. But, trust me, NY people is really helpful and care. Meskipun saya berjilbab, beberapa kali mereka menyapa saya dan menawarkan bantuan. Oiya, bantuan disini, memang agak perlu hati-hati sih. Tetap lihat-lihat bagaimana orang yang menawarkan. But in my case, people in there were always answered my question if I ask to them. They’re really nice, actually. Quick tips, download dictionary apps in your smartphone will be really helpful. Plus, it’s better to always read or understand about how cultural works in our new place. Bagi saya yang masih suka ngaret ketika melakukan berbagai hal, ternyata menyulitkan saya ketika harus tinggal di NY yang penuh dengan orang-orang on time dan stick to the schedule. Mereka bisa lho makan spaghetti sambil jalan atau sambil nunggu subway hanya untuk save the time. Well, I learned some new things, tho.
(to be continued….)









