Yang patah tumbuh yang hilang berganti. Nyambung dari kisah 2 hari yang lalu saat pertama kali menyentuh Jogja. Sekeluarnya kami dari bandara, beberapa driver setempat menawari kami tumpangan. Setengah memaksa. Bahkan bisa dikategorikan memaksa, karena mereka mepeeeet terus bahkan hingga jauh kami melangkah. Kopor besar dan tas besar dua yang kutenteng sudah cukup memberatkan. Kami berlalu. Salah seorang bapak taxi mendatangi kami, padahal kami sudah berhasil lolos dari jeratan penawaran. Kami masih duduk-duduk dekat halte Trans Jogja. Masih saja beliau gigih menawarkan tumpangan. Kami masih coba sopan. Tersenyum. “Jogja baik, termasuk orang-orangnya.” Kami percaya itu. Sesekali bapak tadi berkomentar saat saya menelpon dan memandangi gawai. Nampaknya beliaunya tahu saya sedang menghubungi ojol. “Ojol gak boleh masuk mas, taxi saja!” Eh, kok bapak masih saja pantang menyerah ya menawari kami? *Sudah mulai kesal. Singkat cerita, saya berhasil membujuk driver ojol masuk bandara, lalu menjemput istri dan barang-barang kami. Alangkah kagetnya saat kami memasukkan seabrek bawaan, sekelompok orang datang, seolah menggrebek kami. Oh, bapak taxi mengadu. Kali ini membawa petugas keamanan berpakaian preman. Kami “tertangkap”, driver kami diperiksa. Bapak taxi tadi seolah tersenyum puas. Sempat hilang respect dan kepercayaan kami tentang stereotip “orang Jogja itu baik”. Iya, gegara yang terhormat bapak taxi bandara setempat. Kezelnya lagi, saat kami memurunkan barang bawaan, dan mematuhi utk ikut diantar taxi bandara, bapak pengadu tadi malah menolak tegas. “Wegah aku, wis kadung serik!” (Gak mau saya, sudah terlanjur kesel). Seketika bener-bener hilang berkeping-keping rasa itu... Namun, beberapa langkah meninggalkan bandara. Perlahan perasaan mulai bangkit. Iya, yang patah bertumbuh, yang hilang pun berganti. Kehilangan itu memggantikan sejuta keindahan yang lain tentang Jogja. Berlanjut ke cerita berikutnya nanti ya… Mau tau banget kan?? #ybc1903 #yogyakartabercerita2019 @yogyakartabercerita











