"Nous les blondes on les passe à tabac"
#I

#dc comics#batman#bruce wayne#dc#tim drake#dick grayson#batfamily#batfam#dc fanart




seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Netherlands
seen from United States
seen from Singapore
seen from United States

seen from United States
seen from Yemen
seen from United States
seen from Germany
seen from Finland

seen from Germany
seen from Brazil

seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from China
seen from China
seen from Netherlands
"Nous les blondes on les passe à tabac"
#I
"Tu doutes, tu te questionnes, t'hésitesTu te demandes si l'amour ce n'serait pas qu'un mythe Si c'est pas qu'un sentiment éphémère Un truc qu'existe que dans les contes de grand mère Faut il se plier a cette triste illusion Ou bien arrêter d'y croire, comme un con ?Jte conseil d'écouter ton cœur pas ta raisonY a que lui qui nous prend pas pour des couillons"
#T
"Danser pour oublier, j'dirais pour s'oublier
Rentrer dans un monde gouverner par le respect
Surprise ! J'balance des freezes sans pouvoir m'arrêter
Hip hop, break, c'est surtout un moyen d's'évader"
#I
"En avance sur le temps, j'cours sur la voie lactée
J'devrais pas créer ni balancer des punchlines
Parce que j'suis jeune et qu'j'connais ni la vie ni l'bagne
Mais la bass tabasse ça m'a beaucoup trop chauffer
J'ai envie d'me lancer, créer mes propres rimes
Pas pour la frime ou la forme même si j'crache pas d'ssus
Mais pour sortir la fête qui se passe dans ma tête
C'est l'bordel frère, j'rejoint l'gang des enfants d'la rue"
#I
"Casser des pipes pour briser des crayons
Incendier la liberté d'expression
Maintenant que vous avez tout massacré
L'encre sur l'papier fait briller liberté"
#I
"Arrêtez d'kicker, on arrive dans l'gameToujours au top c'est pour ça qu'on nous aime Young Crew, enchanté ! On est là pour vous blufferAnonyme ambitieux on a tout à vous prouver."
#T
"Le Young Crew débarque sur la toile
Avec des rimes qui mont'ront jusqu'aux étoiles
La jeunesse ne cesse de s'exprimer
On arrêtera pas d'parler et encore moins d'raper !"
#I
Bandung, Desember 2014
"Atulah, bapak... tolong dibantu. Saya takut, ini saya sendirian di rumah," meskipun pada kenyataannya perempuan itu tidak sendiri berada di dalam rumahnya. Ada satu, dua, tiga, bahkan empat orang yang menemani malam itu. Ia masih sibuk memelas pada pegawai PLN yang berada di seberang telepon. Sementara aku, masih melawan kantuk dan berharap baterai telepon yang ia gunakan tidak keburu habis. Mungkin usaha kita malam itu sia-sia, tapi paling tidak sudah berusaha, bukan?
Senin siang cuaca di kota Jogja terasa begitu labil. Sebentar cerah, sebentar awan mendung yang hadir. Masih terlalu dini menunggu keberangkatan kereta menuju kota kembang. Tapi aku tetap wajib berterima kasih pada Dhani yang sudah mau mengantarkan tepat di Stasiun Lempuyangan. Sahabat yang satu ini memang selalu bisa diandalkan.
Dua setengah jam aku rasa waktu yang cukup lama untuk menunggu. Sedangkan aku sendiri, notabene paling tidak suka menunggu. Bermodalkan GPS dan ke-sok-tauan seadanya, akhirnya aku memutuskan untuk jalan kaki menuju Malioboro. Jika dikira-kira mungkin ada sekitar satu kilo meter lebih sedikit jarak tempuh dari Lempuyangan ke Malioboro. Sesampainya di Malioboro, kaki-kaki ini melangkah menuju Benteng Vredeburg. Cukup sial hari itu, tak ada yang memberi tahuku sebelumnya kalau setiap hari Senin tempat wisata sejarah yang satu ini tutup. Lalu aku memutuskan untuk menentukan destinasi lain yang tidak lebih baik,... kembali ke Lempuyangan. Mungkin karena sedikit takut ketinggalan kereta.
Sekali lagi, aku dibuat menunggu. Kereta yang seharusnya sudah berangkat jam 2, bahkan setelah lima belas menit dari jam keberangkatan belum juga tampak. Aku tidak suka menunggu. Sekali lagi, aku tidak suka menunggu. Karena aku tahu menunggu lama itu tidak enak, jadi aku juga tidak suka membuat orang menunggu lama. Oke, skip. Sedikit curhat. Dan akhirnya yang ditunggu ratusan orang-orang bertas gede di Stasiun pun datang. Pasundan menuju ke Kiaracondong.
Perjalanan cukup panjang dan memaksa pantat bekerja lebih lama untuk duduk di kursi yang lumayan keras. Iya, semua ini sudah aku perkirakan sebelumnya. Salah satu sensasi bepergian ala-ala Backpacker. Hampir sekitar sembilan jam perjalanan ditemani bapak-ibu pasutri paruh baya akhirnya gerbong-gerbong kereta berhenti di Stasiun akhir, Kiaracondong. Akhirnya sampai juga pikirku. Refleks pandangan mata mengarah ke jam di pergelangan tangan sebelah kiri. Jam 11 malam.
Ada sedikit ragu saat keluar dari gerbong kereta. Sempat khawatir tidak dikenali oleh Rahmaniyar dan seorang temannya yang menunggu di luar Stasiun. Dari seberang pintu keluar terlihat seorang perempuan berkacamata melambaikan tangannya. Tukang ojek pikirku. Tapi tak mungkin ada tukang ojek yang cantik. Aku menghampirinya, sudah sangat lama kita tidak bertatap muka. Ternyata sama saja dengan tiga tahun lalu, tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan selain pipinya yang agak membesar. Sebuah jabat tangan aku rasa cukup mewakili ucapan "selamat datang" di Bandung. Aku juga berjabat tangan dengan temannya. Saling berkenalan, meski sebenarnya sudah lama kenal. Ia adalah Rizki Annisha, biasa dipanggil Qinoy (jangan tanyakan kenapa, karena aku juga tidak tahu). Perempuan berjilbab dengan perawakan kecil. Ia terlihat malu-malu bertemu denganku. Padahal, bukankah seharusnya aku yang malu karena bertamu ke kota orang dan belum mandi?
"Yaudah, aku mandi dulu ya. Habis itu kita langsung berangkat," aku membuka ransel bagian depan, meraih plastik pembungkus perlengkapan mandi dan segera menuju ke kamar mandi. Bandung hari itu tidak bisa dikatakan pagi lagi, karena hampir pukul sebelas siang. Fixed, kita memang orang Indonesia yang suka mengulur-ulur waktu. Setelah berkemas dan memastikan tidak ada yang ketinggalan, kita bergegas meninggalkan rumah dan menjemput Lin.
Saat sampai di hotel yang sudah dipesan Rahmaniyar sebelumnya, ada sedikit keraguan atau semacam pertanyaan yang menggantung. Hotel seharga 80 ribu permalam, di Kota Bandung, kota Megapolitan, seperti apa bentuknya? Ternyata benar, jujur saja ini bukan tempat yang aku harapkan. Tapi setiap bantuan berhak mendapatkan penghargaan. Aku menghargai usahanya mencarikan penginapan. Paling tidak aku bisa merebahkan tubuhku untuk malam ini.
Selasa pagi, setelah mengantarkan Rahmaniyar ke kampusnya, aku dan Qinoy memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum menjemput beberapa teman yang lain. Tepat di pinggir jalan mobil yang kita pakai dari tadi malam itu aku parkir. Aku membuka pintu dan keluar untuk mengambil uang di mesin ATM. Dari luar sekat mesin ATM pandanganku tertuju pada seorang perempuan berambut panjang yang menuju ke arah mobil yang aku parkir. Aku sudah menduga itu pasti salah satu teman Rahmaniyar yang akan kita jemput. Setelah masuk kembali ke dalam mobil, aku menoleh dan memutar badan ke arah jok mobil di tengah. Namanya Yuslina, ini juga pertama kalinya aku bertemu dengannya. Bahkan pertama kalinya kita berkenalan, tanpa melalui media sosial seperti yang lainnya.
Setelah lumayan lama menunggu di dalam mobil, akhirnya anggota selanjutnya sampai. Ia terlihat diantarkan oleh seorang laki-laki. Iya menggenggam tanggan lelakinya, lalu menciumnya sebagai tanda berpamitan. Sudah pasti laki-laki muda itu kekasihnya. Setelah masuk ke dalam mobil ia sempat kaget melihat keberadaanku. Seperti yang sudah-sudah, kemudian kita saling berkenalan. Namanya Ani, sering dipanggil Suketi sama teman-teman satu gengnya. Aku berkesimpulan sendiri mungkin dia seorang Suzana lovers.
Anyway, seperti yang telah di rencanakan, kita pergi berempat menyusuri kota Bandung. Menuju ke Dago, ke Taman Hutan Raya, dan Goa-goa yang sedikit mistis. Ada beberapa kisah menarik di Goa-goa tersebut saat kita datangi. Meskipun kita sedang dan tujuannya memang bertamasya di tempat wisata itu, ada hal-hal yang tidak boleh kita lupakan. Beribadah pada Sang Maha Pencipta dan beberapa foto-foto selfie dengan tongsis. That's it, setelah puas di Tahura akhirnya kita menyempatkan diri untuk mengisi perut-perut liar yang sudah mulai memberontak karena kosong. Pilihan kita jatuh pada Warung Sitinggil, tempat yang tepat untuk menentramkan hati-hati yang dipenuhi polusi rutinitas yang mencekik. Udaranya sejuk, pemandangannya mendamaikan. Sesaat aku terpikir untuk tidur sejenak di sana.
Beranjak dari daerah Dago Giri, kita turun kembali ke kota. Di luar skenario, masjid Salman ITB jadi tempat singgah kita selanjutnya. Setelah menjalankan kewajiban, kita beranjak dari sana dan bertemu dengan Si Ijo Lumut. Sebuah minuman aneh beraroma teh. Biarpun sebenarnya minuman itu memang menyegarkan, tapi aku enggan berkata seperti itu. Sekalinya aneh, minuman atau makanan yang memiliki rasa greentea tetap saja aneh. Lupakan greentea, kita lanjut ke Madtari.
Sebuah cafe tempat anak-anak gaul Bandung nyemil yang selalu rame ini menyajikan hidangan-hidangan ringan yang berat. Roti bakar dan pisang bakar dengan porsi jumbo, Indomie, dan lainnya. Kita masuk dengan menyebar pandangan, mencari keberadaan Rahmaniyar. Ternyata ia sudah duduk di dekat pintu bersama seorang temannya, Dara. Mereka mengenakan jilbab yang melingkari wajah-wajah yang terlihat lelah itu. Mungkin seharian banyak aktivitas yang mereka kerjakan. Kita berempat bergabung dan mengambil tempat duduk di antara mereka. Obrolan-obrolan ringan pun dimulai. Sambil menunggu salah seorang lagi untuk datang. Aku masih tak menyangka bisa bergabung dalam canda-tawa mereka. Terlalu dini untuk mengenal mereka, namun terlalu dekat pula untuk hanya sekedar tahu.
Waktu terus berjalan, dan sesaat kemudian anggota girl band yang ditunggu datang. Ita, seorang guru SD yang memang terlihat tomboy ini dengan mantap menjabat tanganku. Seperti sudah lama saja kita saling mengenal. Dengan percaya diri yang tinggi ia membuka pembicaraan dengan teman-teman yang lainnya, sebelum tersadar ia kehilangan sesuatu. Kunci motor. Sekejap ia menjadi sosok yang bingung bukan kepalang. Sebelum pada akhirnya ia harus mengucapkan terima kasih pada tukang parkir Madtari. Dengan kedatangan Ita, lengkap sudah anggota Youngcrew. Grup-grup cewek atau entah apa itu namanya, yang jelas persahabatan mereka menciptakan iri pada siapa saja yang melihatnya. Dan aku? Aku hari itu berada di antara mereka.