“Debar itu masih saya rasakan meski saya sudah berkeluarga.”
Saya tercengang. Bertahun-tahun Bunda hidup bersama orang lain ternyata tidak juga menghapus debar itu.
“Saya kira dengan menikahi orang lain akan menghapus debar itu. Ternyata saya salah. Salah besar. Debarnya semakin disembunyikan justru semakin menjadi.“
Saya ingat dulu Bunda pernah bercerita bahwa laki-laki yang ia cintai memilih untuk menyerah pada jarak dan menikahi perempuan lain. Saat itu Bunda tinggal di Priangan, laki-laki itu tinggal di Kalimantan.
"Beberapa bulan yang lalu dia menelepon. Dia minta maaf karena sudah meninggalkan begitu saja tanpa memberi kabar sedikit pun.”
“Lalu, Bunda jawab dengan apa?”
"Saya cuma tertawa. Bertahun-tahun penderitaan itu berlalu dan dia baru minta maaf kemarin sore. Beribu-ribu maaf dia ucapkan pun rasanya takkan menutupi luka yang sudah dia buat. Tapi, setidaknya ada satu maaf yang akhirnya ia lontarkan.”
Bunda terlihat mengusap matanya yang agak basah. Lalu Bunda menggigit bibirnya. Biasanya Bunda menggigit bibirnya ketika dia sadar ada kesalahan yang sudah diperbuat.
“Kenapa, Bun? Ada yang salah?”
“Kamu tahu kenapa akhirnya saya tinggal di Bandung dan mendirikan yayasan ini?”
Saya menggeleng. Bunda belum pernah menceritakan hal ini pada saya atau teman-teman saya yang lain.
"Dulu, saya dapat tawaran kerja di Kalimantan. Tapi saya menolak dengan alasan orang tua saya sedang sakit keras dan ada adik-adik saya yang harus diberi makan serta mendapatkan pendidikan. Tahu siapa yang menawarkan kerjaan itu?”
Saya bisa menebak siapa orang itu. Tapi saya tetap menggeleng.
"Laki-laki itu. Saiful yang menawarkan pekerjaan kepada saya. Akhirnya salah satu adik saya yang ikut bekerja di Kalimantan bersamanya. Katanya agar beban saya bisa lebih ringan sedikit. Tapi, ya, namanya juga laki-laki,” Bunda memandangi foto kusam yang ada di mejanya. Foto keluarga Bunda ketika orang tuanya masih dalam keadaan sehat.
"Adik saya yang ikut dengan dia itu termasuk yang paling cantik di antara saudara kandung saya lainnya. Barangkali kecantikannya bikin dia lupa dengan janjinya dengan saya. Ungkapan witing tresno jalaran soko kulino memang tepat untuk mereka. Akhirnya Saiful memilih menikah dengan Ambar, adik saya yang paling cantik.
“Setiap melihat foto saya dan Saiful di masa sekolah dulu, ada getaran yang menyelinap masuk. Getaran yang baru akan diam apabila bertemu dengan tuan yang menciptakan getar ini. Tapi, Saiful sudah menikah dengan adik saya. Saya juga sudah menikah dengan Mas Pras. Ah, barangkali apa yang saya rasakan saat ini memang setimpal dengan apa yang sudah saya perbuat dulu.”
“Memang dulu Bunda berbuat apa?”
“Saiful itu ketika berpacaran dengan saya dia sudah punya kekasih. Saya tahu itu. Tapi saya memilih untuk terus bersama dia. Sampai akhirnya dia meninggalkan kekasihnya itu tanpa alasan dan memilih untuk bersama saya. Persis dengan yang saya rasakan saat dia memilih untuk menikahi Ambar, kan?”
Saya mengangguk. Saya sama sekali tidak menyangka kisah cinta Bunda serumit ini. Bunda yang biasa ceria saat mendongeng untuk saya dan teman-teman yayasan, ternyata menyimpan cerita yang barangkali tak tersentuh oleh banyak orang.
“Bunda bahagia hidup dengan Ayah?”
Ayah adalah sebutan dari kami untuk suami Bunda. Padahal usia saya dengan Bunda dan Ayah tidak terpaut jauh. Hanya saja karena pembawaan dari keduanya, rasanya panggilan tersebut terasa tepat.
Bunda hanya memandangi saya sambil tersenyum. Matanya tidak lagi basah seperti tadi.
“Retna, saya cerita begini bukan karena tidak bahagia dengan suami saya. Biar kamu tahu memilih pasangan itu agar bisa menciptakan kebahagiaan bersama. Biar kamu tahu juga, menikahi seseorang dengan alasan mengobati luka akibat orang lain itu tidak dapat dibenarkan. Itu solusi yang akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Ya, luka semacam itu bisa sembuh oleh waktu dan orang baru. Tapi bukan berarti membiarkan orang baru itu menikmati luka yang kita derita.
"Kalau boleh memutar waktu, saya akan memilih untuk hidup sendiri dan tidak memilih Mas Pras sebagai pendamping hidup saya. Mas Pras ingin bahagia dengan dikelilingi anak-anak, tapi saya merasa belum siap untuk punya anak sendiri. Saya belum bisa menciptakan kebahagiaan bersama Mas Pras. Mungkin bukan saya yang bisa bikin Mas Pras bahagia.”
“Memangnya Ayah tidak bahagia?”
***************************************************************************************************************************************
Saya terbangun. Mimpi semalam terasa panjang. Sudah lama saya tidak bertemu dengan Bunda. Memimpikan Bunda seolah jadi pertanda untuk segera menemuinya. Tapi saya seakan tidak mempunyai alasan untuk menemui Bunda.
Jam menunjukkan pukul 03.15. Masih ada beberapa jam untuk menikmati istirahat yang jarang saya nikmati. Biasanya di waktu seperti ini saya masih sibuk dengan setumpuk pekerjaan di kantor.
Laki-laki yang terlelap di samping saya ikut terbangun.
“Tidak ada apa-apa, Mas Pras. Tadi saya mimpi aneh. Tidur lagi saja, Mas.” saya menjawab sambil memeluknya.