When you are all alone, it's easier to say goodbye. Maybe you don't need to say goodbye at all. Great.

JBB: An Artblog!
Stranger Things
Three Goblin Art

izzy's playlists!
cherry valley forever
Show & Tell

Origami Around

Kiana Khansmith
Sweet Seals For You, Always
Monterey Bay Aquarium
Jules of Nature
AnasAbdin

No title available
tumblr dot com
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Misplaced Lens Cap
Xuebing Du
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
todays bird
Cosimo Galluzzi
seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Germany
seen from Ireland

seen from Indonesia
seen from Singapore
seen from Argentina
seen from United States

seen from United States
seen from Portugal

seen from Argentina
seen from United States

seen from United States

seen from Germany
seen from Philippines

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@nblsophia
When you are all alone, it's easier to say goodbye. Maybe you don't need to say goodbye at all. Great.
Satu tahun yang lalu.
Pukul dua dini hari aku duduk di ujung kasurku. Orang rumah masih asyik dengan mimpinya. Kucingku juga sedang terlelap di meja belajarku.
Seharusnya aku menyelesaikan tulisan-tulisan yang mengendap di folder draft. Tapi, kali itu aku hanya terdiam. Lama kelamaan entah kenapa aku mulai menangis. Tangisannya sama seperti yang terjadi di bulan Agustus tahun sebelumnya saat aku mengetahui kabar pernikahannya. Bedanya, kali ini kuredam semua suara yang berlomba keluar dari mulutku. Sakit? Jelas. Dadaku benar-benar sesak tidak karuan dibuatnya.
Tiba-tiba ada tangan kecil yang memegang pahaku. Siapakah?
Kucingku.
Ia yang sedang tidur harus terbangun karena tangisanku. Meski tidak mengeluarkan suara apapun, mungkin ia peka dengan yang sedang kurasakan.
Tangisanku makin menjadi saat melihat kucingku seperti itu. Sama seperti anak kecil yang menangis setelah dijahili temannya lalu teman yang lain menanyakan siapa pelakunya dan saat nama pelaku disebut tangisnya makin menjadi. Persis seperti itu.
Kalau kuingat lagi, mungkin itu tangis terlama yang terjadi di hidupku. Karena tangisanku mulai berhenti saat azan Subuh dikumandangkan.
Kucingku akhirnya tidur di kasurku sementara aku bergegas menuju kamar mandi untuk berwudu. Sebelum pergi kuusap kucingku dan membisikkan, "Terima kasih sudah jadi seseorang yang ada di sampingku saat aku butuh. Panjang umur, Uti."
Dulu aku termasuk orang yang tidak takut dengan apapun. Pulang tengah malam selepas mengikuti rapat? Oh, bukan masalah. Menghadiri kegiatan yang jauh dari rumah? Urusan kecil.
Tapi, sekarang aku seolah aku takut dengan segalanya.
Takut pada dunia.
Takut akan esok hari.
Takut dengan diriku sendiri yang semakin asing.
Seolah aku sedang membangun tembok pertahanan yang kokoh untukku sendiri. Tapi aku kebingungan sendiri dengan ancaman apa yang akan kuhadapi. Bodoh, ya?
Seringkali aku bertanya, "Masihkah awan hitam menghalangiku dari sinar matahari? Sebab di sini rasanya terlalu gelap dan pengap."
Namun, lama-lama aku berpikir bukan awan hitam atau apapun yang menghalangiku.
Aku,
yang menghalangi diriku sendiri dari apapun.
ya, aku bodoh.
aku masih saja terjebak dalam ruang yang sama sejak dua tahun lalu.
detikku berhenti sejak saat itu hingga sekarang.
entah apa yang mampu menggerakkan waktuku kembali seperti dulu.
aku tidak merindukanmu, aku merindukan aku.
dan itu lebih sakit dibanding rindu tak berbalas selama menahun.
ya, aku bodoh.
September
I met you in the city of the fall
One September night
We sat down on the table near the wall
Where conversation flows
I wonder if I could stay for a while
You see, its been a while since I felt this way
But, we both now time is closing in
Till I'll be gone, you'll be too
On the night I saw you walked away
Well I left you in the city of the lights
That breeze September night
We walked down the road to the end
I wish the time stood still
Still I wonder if I could stay for a while
You see, its been a while since I felt this way
But, we both now time is closing in
Till I'll be gone, and you'll be too
On the night I saw you walked away
So, I should stay, for a while
You see, it's been a while since I felt this way
But, we both now time is closing in
Till I'll be gone, you'll be too
On the night I let you walked away
I met you in the city of the fall
One September night
Is it okay to keep this distance?
Aku pernah menceritakan kepadamu tentang anjing hitam yang kumiliki. Tapi kamu hanya menganggap ia sama seperti anjing lainnya. Padahal, sudah kukatakan berkali-kali bahwa anjing ini tidak sama dengan anjing lainnya atau hal lainnya. Tapi kamu hanya menganggap aku sedang membual. "Omong kosong. Kamu sedang bermimpi. Bangun!" begitu katamu setiap kali aku selesai menceritakan tentang si anjing hitam. Si anjing hitam badannya semakin besar. Dia tumbuh berkat segala ucapanmu kepadaku. Haruskah aku berterima kasih kepadamu atau bagaimana?
Akun tumblr ini dulu ditujukan untuk mengabadikan tulisan saya tentang sang kekasih, sekarang sih sudah jadi mantan. Heu. Saya dan dia sama-sama suka menulis. Mungkin dia jadi salah satu faktor kenapa akhirnya saya memilih jurusan Sastra Indonesia. Enam tahun saya menjadikan tumblr sebagai 'tong sampah' atas kejadian-kejadian yang saya alami -- atau cuma terjadi di kepala saya saja. Rata-rata isinya tentang percintaan. Beberapa postingan terakhir saya isinya bukan percintaan. Ada tentang hidup dan dua ulasan ngasal saya tentang film yang ditonton. Ke depannya saya ingin menulis hal-hal yang jadi kesukaan saya. Bisa tentang musik atau film. Atau berbagi tentang pengalaman di berbagai komunitas yang saya ikuti. Ah iya. Kenapa saya berhenti menulis soal cinta? Karena tahun kemarin saya 'dipaksa' untuk berhenti mencintai seseorang. Heuheu.
Ada yang terkikis, entah apa sebabnya.
Ada yang menipis, tapi tidak tahu pasti letaknya di mana.
Ini ujung. Ini akhir. Kamu usai.
Good night,
I’ve failed a lot, but I’ve also learned a lot from my mistakes. I’m proud of myself for overcoming them; and I’m not sorry for being myself. I’m never letting anybody ruin it. Ever.
Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak
Marlina film yang bagus.
Begitu respons kebanyakan orang setelah menyaksikan film arahan Mouly Surya ini. Memenangkan penghargaan dari berbagai festival di kancah internasional memang membuat kita sepakat bahwa Marlina adalah film yang bagus. Tapi, kembali lagi ke selera masing-masing. Masih banyak yang beranggapan film ini biasa dan cenderung overrated, tidak sebagus yang dikatakan orang-orang.
Kalau saya termasuk ke golongan yang suka dengan film Marlina. Aktor, latar, musik, dialog, semuanya melebur dalam satu kesatuan yang apik. Menonton Marlina akan membuka pikiran kita bahwa film Indonesia selalu mengangkat tema yang itu-itu saja alias super-duper cliché bin cheesy.
Selain Marsha Timothy yang mencerminkan sosok perempuan tangguh pada diri Marlina, kredit khusus rasanya tidak berlebihan diberikan pada Dea Panendra yang berperan sebagai Novi. Novi adalah perempuan yang hamil selama sepuluh bulan. Kondisinya yang sedang hamil tua tidak membuat ia menjadi perempuan lemah. Apalagi berkali-kali suaminya dan Franz mendorongnya sampai jatuh tapi ia tetap berusaha untuk bangun kembali meski tertatih-tatih.
Ketimpangan sosial terhadap perempuan sangat disorot dalam film ini. Perlakuan orang-orang terhadap Marlina yang menjanda, perlakuan Markus yang 'rakus' saat bersama Marlina, atau perlakuan polisi saat mendengar aduan dari Marlina sangat mencerminkan bahwa perempuan dipandang dengan rendah. Pertanyaan paling membekas adalah saat polisi menanyakan, "kalau dia kurus kerempeng, kenapa mau diperkosa?". Eh, pertanyaan ini betul-betul ada di dunia nyata lho ☺ Padahal ya namanya diperkosa berarti bukan seks yang berdasarkan consent dari dua pihak. Padahal ya namanya diperkosa tidak melihat pelakunya bertubuh kurus atau gemuk. Padahal ya padahal. Haft.
Baiklah, kembali lagi ke Marlina.
Ada adegan yang mengingatkan saya pada film Gone Girl (2014) yaitu saat Amy Dunne membunuh Desi Collings. Kalau sudah menonton Gone Girl ya tidak perlu penasaran lagi bagaimana situasi saat Marlina membunuh Markus. Tapi, penasaran lah dengan suguhan alam Sumba melalui wide shot yang diambil dan komedi gelap yang dituturkan dalam film ini.
Satu lagi film Indonesia yang bagus di tahun ini. Cool!
Waktu dan jarak telah mengubah kita menjadi sekumpulan manusia yang merasa terlalu kaku untuk sekadar menanyakan kabar.
Saat aku sedang dalam keadaan baik, aku berharap kaupun begitu.
Saat aku sedang dalam keadaan paling buruk, aku berharap kau tetap baik-baik saja.
Jadi, kamu apa kabar?
Banyak yang berlomba-lomba agar bisa berpijak di titik ini. Katanya agar mereka bisa memandang ke manapun dan bisa melakukan segalanya. Namun ada juga yang justru menghindari titik ini. Terlalu tinggi, katanya. Mereka takut jatuh. Takut makhluk-makhluk yang ada di bawah sana akan menerkamnya. Karena mereka menyadari bukan keleluasaan saja yang bisa mereka peroleh melainkan keterbatasan juga.
Mereka sadar nantinya mereka akan berjalan sendiri.
Mereka sadar nantinya mereka harus selalu terlihat tangguh meski dirinya tersiksa berkali-kali.
Dan, di sinilah aku.
Berdiri.
Sendiri.
Bukan untuk menggapai sejuta keleluasaan, melainkan kebersamaan juga kebahagiaan. Mungkin.
Akhirnya saya berada di titik ini, lagi. Ketika semua pertanyaan dimulai oleh mengapa dan pengandaian kalau.
Katanya, saya terlalu mengindahkan kebebasan yang saya inginkan tanpa memedulikan segala aturan yang harus saya patuhi.
Begitu katanya.
Mereka paham apa?
Bagaimana bisa mereka lebih paham sesuatu yang sama sekali tidak saya pahami?
Mengapa begitu?
Kalau saja begini...
Posesif.
Beberapa waktu belakangan lagu Dan milik Sheila on 7 sering terdengar dari layar televisi. Lagu tersebut menjadi soundtrack film Posesif juga mengisi bagian trailer filmnya. Posesif mengangkat tentang hubungan orangtua dengan anak, cinta pertama yang menggebu-gebu, serta perjuangan dalam mengejar impian. Melalui Posesif, penonton Indonesia dapat melihat sisi gelap dari kisah cinta para remaja. Tidak semua permasalahan yang dihadapi muda-mudi ini dikarenakan adanya orang ketiga atau masalah lainnya.
Bagi saya, menonton Posesif sama seperti melihat fragmen pengalaman hidup saya dalam bentuk film. Saya pernah berada di hubungan yang sangat tidak sehat -- atau istilahnya toxic relationship pada saat merasakan cinta pertama di masa SMA. Beberapa adegan sempat membuat saya beku di bangku penonton dan seolah kembali ke masa lalu.
Berada di hubungan yang tidak sehat berakibat ke akademik saya yang semakin memburuk, hubungan dengan orang tua agak merenggang, dan menjadi sangat berjarak dengan teman-teman terutama pada lawan jenis. Dulu saya sempat sadar kalau hubungan yang sedang dijalani tidak baik. Tapi, kata putus atau pisah rasanya sulit diucapkan.
Hal ini juga terlihat pada film yang diarahkan oleh Edwin, bahwa Lala sulit untuk pisah dengan Yudhis meskipun Yudhis mulai menunjukkan sikap kasar dan posesifnya. Lala merasa hanya dirinya yang mampu mengubah sikap kasarnya Yudhis, terutama ketika Lala tahu sikap tersebut lahir dari pola asuh ibunya Yudhis. Dalam film tersebut kita diajak untuk melihat latar belakang seseorang yang cenderung bertindak kasar terhadap pasangannya. Namun, tidak jadi pembenaran juga atas tindakan kekerasan dalam pacaran karena kita memaklumi latar belakang orang tersebut.
Secara keseluruhan saya sangat senang menonton Posesif. Apalagi soundtrack yang mengisi benar-benar menyatu dengan filmnya. Posesif berhasil bikin saya menarik napas dalam-dalam setiap saat lagu Dan diputarkan. Film ini menjadi salah satu dari beberapa film terbaik Indonesia di tahun ini.
Well done, Edwin!