Zaid bin Tsabit: Cendikia Muda, Penghimpun Al-Qur'an!!
Jika berbicara tentang bagaimana para sahabat pada awal masuk islam banyak pertentangan dari pihak keluarga. Berbeda dengan sahabat yang satu ini. Ia justru memeluk islam bersama keluarganya. Masih belia usianya, 11 tahun kira-kira. Seorang Anshor dari suku Bani Najar yang masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Rasulullah Shalallahu'alaihi wasalam.
Seorang bocah kecil yang begitu besar keinginannya dalam membela agama Allah. Hal ini terlihat saat hendak perang badr. Kedatangannya menghadirkan perhatian pada diri Rasulullah, karena melihat seorang bocah dengan membawa pedang yang hampir seukuran tinggi badannya tersebut bersemangat menghampiri Rasulullah.
Saat itu usia Zaid sekitar 12 tahun. Seorang yang masih di bawah batas umur diperbolehkan berperang (min.15th). Benar saja, wajah semangat itu berganti menghadirkan raut murung dan kesedihan mendalam karena izin dari Rasulullah tak ia dapat.
Ia berbalik, menunduk, kembali pulang sambil menyeret pedang yang dibawanya. Sesampainya di rumah, dipeluknya sang bunda, ia menangis, mengadu, perihal apa yang baru saja terjadi. Tentu sang bunda sedih, keinginan sang anak untuk ikut berperang harus gugur, setidaknya untuk saat itu.
"Nak, jika engkau tidak bisa bergabung dengan pasukan ini. Engkau bisa tetap membela islam dengan cara lain".
Beginilah keadaan hati seorang bunda saat melihat anak tercinta gagal mewujudkan impiannya. Ia membesarkan hati Zaid, menghiburnya dengan tidak melupakan tujuan utama yaitu dakwah.
Setelah Badr, sang bunda membawa Zaid menghadap kepada Rasulullah. Menceritakan perihal yang terjadi pada anaknya.
"Ya Rasulullah, ia seorang yang cerdas, lagi bisa baca tulis. Ia juga sudah menghapal belasan surat Al-quran. Tolong uji dia, dan berikan pekerjaan yang bisa membantumu".
Ia, menyerahkan putra tercintanya untuk diuji langsung oleh Rasulullah. Kemudian Rasulullah menghendaki, dan diberilah Zaid tugas untuk menjadi sekretaris Rasulullah.
Sebuah tugas penting yang bukan hanya kemampuan baca tulis saja yang diperlukan. Namun juga kemampuan menjaga rahasia. Karena setiap surat yang diterima dan dikirim Rasulullah bukan perihal surat sederhana tak bermakna, namun merupakan dokumen penting lagi rahasia. Beginilah keadaan Zaid, menjadi seorang yang amanah sedari usia muda.
Islam menjadi semakin luas, semakin jauh pula surat-surat yang dikirim dan diterima dari berbagai negeri. Hal ini tentu membuat Rasulullah membutuhkan seorang yang bisa menjadi penerjemah. Maka dalam tekad dan kesungguhan yang kuat, Zaid belajar menguasai berbagai macam bahasa. Seperti Habasyi, Koptik, Parsi, Romawi, Ibrani, juga Aramik. Hal ini mampu dikuasai dalam waktu singkat. Zaid ingin, urusan umat islam harus diselesaikan pula oleh umat islam.
--------------------------------------
Ketika itu tahun ke-10 hijriah. Setelah bersama Jibril mengulang hafalan sampai 2 kali dalam satu bulan Ramadhan, tahun terakhir kenabian. Rasulullah mempercayakan Zaid bin Tsabit untuk mendengarkan setoran hafalan Al-Quran setelahnya. Betapa istimewa Zaid, dan bukankah berarti saat itu Zaid juga telah menghapal seluruh isi Al-Quran?! MasyaAllah..
Ketika masa kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, terjadilah peperangan di Yamamah. Kala itu, ribuan muslim menemui syahidnya, lalu ratusan diantaranya adalah para penghapal Al-Qur'an. Hal ini menimbulkan kekhawatirkan di hati Umar untuk kemudian disampaikan kepada Abu Bakar, bahwa pengumpulan Al-Quran menjadi satu mushaf harus dilakukan.
Setelah sebelumnya menyampaikan keberatan atas ide Umar, Abu Bakar menyetujui dan mencari seorang yang pantas dan kompeten untuk melakukan tugas tersebut. 21 tahun usianya kala itu, Zaid bin Tsabit dipercaya khalifah untuk mengerjakan pengumpulan Al-Qur'an. Penolakan yang sama seperti Abu Bakar pada awalnya. Tentang ketakukan melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah.
"Demi Allah, jika Abu Bakar menyuruhku memindahkan gunung dari satu tempat ke tempat lain, itu lebih ringan dibanding aku harus menghimpun Al-Quran".
Tapi perihal ini bukan sekedar meminta persetujuan Zaid, melainkan perintah seorang khalifah yang tak bisa ditolak.
Zaid seorang yang hapal Al-Qur'an, tidak ada yang meragukannya. Namun, dalam upaya pengumpulan Al-Qur'an, ia tak menunjukkan seberapa hebat dirinya. Maka didatangilah para sahabat penghapal yang juga dapat dipercaya serta pengumpulan ayat-ayat yang tersebar dalam lembaran pelepah kurma, batu, kulit, dan lainnya.
Pengumpulan Al-Qur'an adalah perihal penyatuan dan pencocokan antara hafalan sahabat dengan lembaran ayat yang tertulis. Setelahnya, Zaid menuliskan kembali ayat-ayat yang terpisah itu sesuai urutan surat.
Bukan perkara mudah, karena ini adalah kitab suci, pedoman bagi umat manusia. Tidak boleh ada kesalahan sedikitpun. Sungguh pertanggungjawaban yang amat berat.
Maka, ialah seorang muda yang energik, berpikiran cerdas, memiliki pengalaman menuliskan wahyu di sisi Rasulullah, dan tidak ada seorangpun yang meragukan keshalihan Zaid bin Tsabit menjadi alasan Khalifah Abu Bakar memerintahkannya menghimpun Al-Quran.
Zaid bin Tsabit kemudian berhasil menyusun kumpulan ayat Al-Quran menjadi satu mushaf yang hari ini berada disetiap rumah-rumah muslim di dunia.
Zaid bin Tsabit merupakan guru. Pun sejak usia muda, ia juga menjadi bagian dari dewan syuro, penasehat khalifah.
-----------------------------------------------------
Hari ini kita merindukan sosok pemuda seperti Zaid. Menjadikannya sebagai cermin, kemudian berkaca, memandang diri sendiri, lalu merenungi sudah seberapa besar jasa kita bagi agama ini?!
Begitu besar umat muslim berhutang pada Zaid bin Tsabit. Melalui perantaranya, bacaan Al-Quran mampu menggema di penjuru belahan dunia. Lembar-lembar Al-Quran mampu dibaca dan dipelajari dengan lebih mudah. Maka alangkah malu menjadikan Al-Qur'an berdebu di sudut rumah kita.
Zaid bin Tsabit menyadarkan kita bahwa seorang muslim harus memiliki kecerdasan yang bukan hanya digunakan untuk pencapaian dan pemuas diri, melainkan untuk kepentingan umat. Itulah sebenar prestasi.
Lalu menjadi orang tua seperti ibunda Zaid bin Tsabit. Mengarahkan dan mensupport anaknya untuk berkontribusi membela agama Allah. Menjadikan anaknya bercita-cita bahwa menolong agama Allah-lah yang utama.
Illahi Rabbi,,
Sebagaimana tercucur segala rahmat dari-Mu kepada Zaid bin Tsabit atas setiap bacaan Al-Quran yang terlantun. Maka karuniakan pula kepada kami kecintaan untuk selalu mempelajari dan mengajarkan Al-Quran.
Penuhilah pula seluruh hidup kami, hati kami, dengan cahaya Al-Quran. Allahummarhamna bil Qur'an.. Aamiiin















