La tua percezione di me è un riflesso di te.
Your perception of me is a reflection of you.
Kita sering memanggil takdir dengan nama yang salah: kebetulan. Carl Jung pernah mengatakan bahwa segala sesuatu yang tidak ingin kita ketahui tentang diri kita sendiri selalu berakhir datang kepada kita dari luar dan mengambil bentuk takdir. Pantas saja beberapa pertemuan terasa seperti kebetulan yang terlalu tepat, seolah-olah orang-orang bertamu untuk menunjukkan siapa diri kita yang sesungguhnya.
Pepatah lama mengatakan, "dibutuhkan seseorang untuk mengenal seseorang", dan seringkali alasan suatu hal dapat memicu kita adalah karena perilaku orang tersebut mencerminkan hal yang paling ingin kita ubah atau yang belum kita sadari tentang diri kita sendiri.
Memproyeksikan diri kepada orang lain artinya menilai mereka menggunakan ukuran yang sama yang kita gunakan untuk menilai diri kita sendiri. Dengan kata lain, kita menempatkan bagian-bagian dari diri kita, baik yang disadari maupun tidak, ke dalam cara kita memahami orang lain.
Kita cenderung memahami dan menilai orang lain berdasarkan peta realitas yang ada di dalam kepala kita sendiri, bukan berdasarkan peta realitas yang sebenarnya ada di dalam kepala mereka. Itu mengapa, memahami orang lain dengan jernih sering kali menuntut kita untuk lebih dulu memahami diri sendiri. Itulah mengapa, dalam relasi dengan orang lain, sangat penting untuk menyadari "penggaris" kita sendiri.
What you admire in others, you have within yourself. To see something in another person, you have to first know what it is. To know what it is, you must have experienced it before. To have experienced it before, then the first time had to be within yourself, even if it was for just a moment. If you have no knowledge of something, then you cannot have the words or emotions to describe it.
Rasanya menyenangkan untuk memproses hal-hal tentang kehidupanku saat ini dengan perspektifmu sebagai tempat berbagi cerita. Masing-masing dari kita memiliki hal-hal yang kita hargai di belakang hidup kita, terutama bagian yang sulit dan personal. Kita pernah menawarkan orang lain untuk ikut menghargainya, namun orang-orang tidak paham betapa berharganya proses itu untuk membentuk kita yang sekarang.
Setelah berkali-kali merasa pandangan orang hanya berhenti di permukaan, kita berhenti menjelaskan. Kita sudah terlalu jauh berdamai dengan diri sendiri untuk kembali direduksi oleh tafsir yang dangkal. Meskipun jauh di dalam, kita masih ingin dilihat, beberapa makna hanya aman di genggaman kita sendiri dan terlalu berharga untuk disederhanakan oleh simpulan yang tergesa-gesa.
Kemudian kita membawa diri kita ke satu sama lain, lalu kita jadi tahu bahwa makna itu tak harus kita genggam sendirian. Ada tangan lain yang sama amannya, yang memboboti makna itu dengan penghargaan yang indah. Sesuatu yang sudah lama kita ingin orang lihat tanpa harus kehilangan diri dalam penjelasan.
Memandang hidupku lewat matamu itu seperti diberi tahu bahwa aku sudah melakukan hal yang benar. Seperti diakui bahwa sebagai manusia, aku sudah berusaha dengan sebaik mungkin. Setiap manusia ingin percaya bahwa pilihan mereka, luka mereka, dan cara mereka bertahan tidak sia-sia. Sehingga kata "benar" itu menjelma izin untuk bernapas, untuk percaya bahwa perjalanan kita punya makna dan layak dihormati, seblunder apapun itu.
Rasanya hangat sekali bisa merasa begitu dilihat, seolah segala upaya menulis selama ini terbayar. Setelah waktu yang lama aku merasa orang lain tak sepenuhnya mengerti kenapa tulisanku begitu penting buatku, akhirnya ada satu orang yang menangkap maksudku dengan tepat. Akhirnya ada seseorang yang benar-benar mengerti caraku melihat dunia.
Diri kita telah lama dikenali dan dipelajari oleh yang setiap hari berdiam di dalamnya. Konon, saat dua jiwa yang telah menempuh perjalanan panjang introspeksi bertemu, percakapan di antara mereka menjadi sesuatu yang istimewa. Perjumpaan itu menjadi sebuah pemandangan luhur, di mana tak seorang pun melihat yang lain, kecuali dalam transparansi.
Kau cermin yang baik. Mata yang indah. Dalam setiap penglihatanmu, jiwaku ditemukan, layaknya senandika ganda merayakan enigma kehadiran diri yang otentik.
"Lihat, betapa indahnya kau menyala!" katamu padaku.
Padahal yang kau lihat adalah percik cahayamu sendiri. Ungkapan itu begitu berdaya rasa. Darinya aku menangkap dua hal. Pertama, kehangatan setelah menerima pujian. Kedua, kesadaran bahwa pujian itu berasal dari kemampuan si pemberi pujian untuk melihat kebaikan. Aku yakin, kualitas-kualitas itu ada di dalam dirimu, berusaha untuk keluar, dan itulah mengapa kau bisa melihatnya dengan begitu jelas pada orang lain.
Aku sebenarnya hanya kanvas putih membisu, tempat warna-warna pribadimu beradu. Aku jadi penasaran, apakah memang begitu caramu merayakan potongan jiwamu yang kau temukan kembali melalui interaksi denganku?
Atau sebenarnya ini cuma sesederhana, "kita adalah cermin yang baik" saja?
Kalau begitu, terima kasih. Kita telah menjadi cermin yang baik untuk satu sama lain.
Tak masalah jika kita tidak lagi berada di papan yang sama untuk saling bercermin. Aku berdoa untuk berkah saat kita masing-masing melanjutkan ke perjalanan berikutnya. Mudah-mudahan cermin-cermin lain yang kita temui tidak kalah baiknya dengan yang sudah-sudah.
There is a moment within movement. Akhirnya setiap momennya berharga dan aku punya banyak hal untuk dipetik. Ini tahunnya, and I'm grateful.
— Giza, dalam Zeitnot.












