Tentang Waktu yang Tidak Pasti
Kamu Bagaimana? Kapan waktu terbaik untuk menulis?
Bagaimana dengan diriku? Kapan waktu terbaik untuk menulis? Ada beberapa waktu. Tetapi seringkali aku tidak menggunakan waktu sebagai batasan kapan aku menulis. Aku menulis kapan saja. Entah siang, pagi, tengah malam, ketika dalam romantisnya senja maupun terbit matahari, ketika dalam buaian sendu rintik hujan, maupun saat dalam alunan debur ombak lautan dan saat sunyinya waktu subuh. Waktu tidak terlalu mempengaruhi kapan aku akan mencurahkan isi hati maupun pikiran dalam bentuk tulisan. Karena yang lebih mengendalikan itu semua adalah suasana dalam hati. Suasana dalam hati yang tidak berjalan normal seperti biasanya akan mengemudikan diriku kapan waktu terbaik untuk menulis.
Tetapi ketika ada pertanyaan tentang kapan waktu terbaik untuk menulis jujur saja membuat gertakan kecil dalam otakku. Aku mulai mengingat. Memutar kaset ke waktu yang telah dilewati ketika aku menulis sudah lama. Tetapi tidak pernah menganggapnya serius. Seserius memahami diriku kapan waktu produktif untuk menulis. Aku yakin setiap orang pasti punya waktunya sendiri-sendiri. Begitu juga aku. Apakah di saat subuh datang, ketika malam menghampiri, ketika sinar matahari mulai menyapa, atau malah saat ketika matahari sedang terik-teriknya. Kapan waktuku? Aku mulai memikirkannya dan tetap belum kutemukan jawabnnya. Setiap penulis yang produktif pasti punya waktunya. Lalu bagaimana aku bisa mendiskripsikan kapan waktu terbaik untuk menulis jika aku tak pernah mempunyai batasan akan waktu? Batasan waktu untuk menulis aku tidak biasa.
Mendapat pertanyaan ini memberikan dua kebingungan untukku. Kebingungan pertama bahwa apakah aku akan menyediakan waktu-waktu khusus untuk menulis dan tetap mempertahankannya atau tetap menginguti alur lama yaitu sesuai dengan suasana hati saja? Kebingungan kedua bahwa aku ingin mengetahui kapan waktu produktifku dalam menulis tapi kapan? Tunas-tunas kebingungan ini akan menjelma menjadi pohon semangat baru untuk diriku yang kurang disiplin. Menumbuhkan buah-buah penasaran yang harus kutemukan jawabannya. Maka aku harus memupuknya dengan belajar, mendisiplinkan diri, lagi, dan lagi.
Cc.: @nabilaghaida @langit-teduh @azzayu @azzuraaa










