Mengapa aku harus menulis?
Menulis adalah seni. Menulis adalah kreasi. Menulis adalah kegiatan memadankan pikiran dengan kata-kata. Menulis tidak butuh kemampuan hebat, ilmu, dan pengalaman yang banyak. Hanya perlu tekad, niat, dan istiqomah yang kuat untuk menulis.
Apa tujuan menulis? Menulis bertujuan diantaranya untuk mendeskripsikan fenomena, menceritakan kronologi cerita, memaparkan dan menjelaskan masalah dan penyelesaiannya, menganalisis kasus, dan menggambarkan objek dalam serangkaian proses panjang yang tak instan. Dalam proses menulis, si penulis diibaratkan sedang berada di sebuah arena permainan kata-kata, berperang melawan monster imajinasi dan pikiran. Ia berdiri sendiri tanpa membawa modal apapun kecuali kemampuan dan perbendaharaan kosa kata. Jika ia tampak berdiri gagah, itu artinya bekal yang ia miliki berlimpah dan siap untuk berperang. Sedangkan jika ia terlihat ragu, ia membawa bekal minim sehingga ketar-ketir melawan sang lawan.
Menulis adalah tantangan bagi setiap orang karena memang dianggap tak gampang. Tidak semua orang mampu melakukan. Satu diantara alasannya karena terbuai dengan banyak kegiatan di keseharian sehingga lupa bahwa nantinya akan ada waktu dimana moment masa lalu menjadi rekam kenangan yang perlu diulas dan diceritakan. Dan salah satu cara bagaimana ia dulu di kala itu adalah dengan membaca tulisan-tulisan yang pernah dibuat. Itu artinya, seseorang tersebut dituntut untuk menulis. Apa jadinya jika tak ada tulisan sebagai karyanya? Bagaimana anak cucu nanti ingin tahu cerita di masa lalu? Kemampuan mengingat tak setajam jika bermodalkan ingatan. Sehingga, jawabannya sekali lagi dengan menulis.
Oleh sebab itu, aku bulatkan tekad untuk produktif menulis. Menulis dengan niat agar suatu ketika hasil dari tulisanku dapat menginspirasi teman-teman lain yang membaca artikelku untuk terus bertumbuh. Bertumbuh menjadi tunas dari bibit-bibit unggul yang kemudian nantinya berkembang sehat, kuat, dan kokoh. Selain itu, alasan lain mengapa aku menulis adalah sebagai rekam jejak kehidupanku, cerita keseharianku, kegundahan hatiku yang suatu saat dapat dibaca oleh anak turunanku. Sehingga mereka nantinya paham bagaimana kondisi keadaan dulu.
*Day2 November, 21 2017 -One Day One Article-
@nabilaghaida













