Tanpa Judul Dahulu
Mari awali catatan ini dengan mengingat niat dan tujuan mengikuti Kelas Literasi Ibu Profesional a.k.a KLIP 💖
Sebentar.. ambil jeda dulu~
Tidak tidak.. ini bukan jeda.
Ini adalah proses mengingatkan diri untuk memikirkan kembali. Benarkah kau ingin menulisnya di sini, hay, diriku? Di blog ini? Blog yang penuh aib ini? Blog yang sudut-sudutnya malu untuk kulihat ini? Are you su-re?
Blog yang tiada siapapun tahu? Yang bahkan kamu pun lupa apa namanya?
Baiklah.. Iya. Aku tulis di sini dengar kesadaran sendiri. Oke? Sudah. Sip! Yuk lanjut~
..
Saya pernah mengira bahwa saya akan menjadi hebat saat dewasa nanti. Sebuah perkiraan yang nampaknya dialami semua manusia yang pernah melewati masa muda. Ciee.. old~ 🙈
Termasuk, hebat dalam menyusun tulisan. Meski tidak berarti berbicara lebih mudah dari menulis, namun menulis memiliki tantangan yang... nyata tapi tidak terlihat.
Bisa dibayangkan semenggelisahkan apa itu? Nyata. Tak terlihat~
Jika saya tergagap bicara, orang bisa tahu bahwa saya kesulitan. Paling tidak, kesulitan dalam menyampaikan ide yang ingin saya sampaikan. Namun, jika saya gagap menulis—hingga tulisan ini pun tersendat-sendat dibuat, saya bingung, bagaimana cara memberitahu kepada orang lain saya kesulitan.
Butuh sejernih-jernihnya pikiran dalam menulis. Jika pikiran tak jernih, ide akan berhenti. Yah, sekali lagi, seperti tulisan ini.
Otak kepayahan. Otak saya, ngap-ngapan.
Jika bisa bicara, dia pasti menuntut saya bertanggungjawab atas apa yang selama ini saya lakukan padanya.
Kenapa sering membiarkannya diam saja. Kenapa sering membuatnya tak bekerja. Kenapa lebih sering membuatnya berada dalam posisi horizontal dibanding vertikal.
Kenapa juga buku-buku di lemari yang sudah susah payah jungkir balik saya cat—njungkir dalam arti sesungguhnya, sebab saya nggusruk saat ngecat—dengan tangan sendiri, tergeletak begitu saja. Kenapa human? Why?
Lalu, sekarang saya hanya bisa terdiam.
Maafkan diriku, otak. Mengikuti Kelas Literasi ini adalah salah satu cara yang bisa aku upayakan agar kamu bekerja kembali sebagaimana mestinya.
Aku tidak bermaksud memposisikan dirimu sebagai mahasiswa pecinta Sistem Kebut Semalam. Tidak. Tidak pula berniat membuatmu menjadi pekerja yang terjebak dalam sistem kerja paksa. Tidak..
Namun otak, inilah sebaik-baiknya upaya mengasah kembali akal.
Aku berdoa Allah kuatkan dirimu. Aku berdoa Allah mampukan kembali tools terbaik, terlove, terkeren, terajaib, terberani, ternekat–yang bikin manusia bisa bilang ke Allah, aku aja yang pimpin bumi ya Allah—agar kembali menjadi sebaik-baiknya ciptaan yang membedakannya dari ciptaan lainnya. I love you otakku. Ayo baca buku lagi 😘














