Fenomena hijrah VS nikah muda.
Oke, kali ini sy akan menuangkan isi pikiran yang membuncah, dan sepertinya akan menjadi tulisan yang panjang. Saya memberitahukan bahwa saya menulis ini bukan untuk orang yang awam. Tapi terkhusus kepada mereka yang sudah berkomitmen dengan hijrah mereka.
Apa dibenak kalian jika mendengar kata hijrah?
Jilbab syar'i? Bercadar? Celana cingkrang? berjenggot? Atau nikah muda??hmmmm
Hijrah. Arti sebenarnya hijrah adalah pindah. Namun di abad ke 21, kata ini menggambarkan seseorang yang perilakunya berubah dari yang belum baik menjadi baik, atau yang baik menjadi lebih baik.
Yang dulunya belum berjilbab sekarang menggunakan jilbab.
Atau yang sudah berjilbab sekarang lebih disesuaikan berdasarkan syariat.
Yang dulunya celananya dibawah mata kaki sekarang diatas mata kaki.
Atau dulunya jarang sholat di mesjid sekarang sholat wajibnya sudah di mesjid.
Tapi, bukan ini yang ingin saya bahas.
Sebelum saya membahas lebih detail, menurut kalian nikah itu apa? Nikah itu gimana? Jodoh itu apa? Apakah setelah nikah selalu bahagia ?atau malah sebaliknya?
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah subhanallah wa ta'ala yang memiliki rasa kecenderungan terhadap lawan jenis. Hal ini berdasarkan QS. Ar-Rum(30): 21 yang artinya:
“dan diantara tanda-tanda kebesaranNya ialah Dia yang menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia menjadikan diantara kamu kasih dan sayang. Sungguh demikian itu benar-benar kebesaran Allah bagi kaum yang berfikir”
Nah,dari ayat ini kita memang sudah fitrahnya menyukai lawan jenis. Dalam Islam, kita punya cara tersendiri, namun tetap menjaga Izzah dan iffah apalagi sebagai seorang wanita. Karena Islam memuliakan wanita.
Dengan cara apa? Yaitu menikah. Dengan cara ini lebih mulia daripada pacaran yang ujung-ujungnya MBA( merried by accident).
Dengan cara ini mengurangi dosa zina mata, tangan, kaki dst. Malah menjadi pahala jika diniatkan untuk ibadah.
jika kita telaah kisah-kisah para sahabat atau orang-orang terdahulu mereka nikah bukan hanya sekedar menikah yang ingin mempunyai keturunan.
Mereka menikah bukan hanya pernikahan yang dibumbui syariat Islam.
Mereka menikah untuk meneruskan tombak peradaban Islam.
Mereka menikah untuk memperluas kawasan kejayaan Islam.
Mereka menikah dengan tujuan mengenalkan tauhid kepada seluruh manusia.
Lalu, bagaimana dengan kita sekarang?
Cek. Apakah benar kita hanya menikah untuk sekedar menjauhi zina? Lalu kenapa kita tidak puasa untuk menahan syahwat?
Apakah benar kita hanya menikah dengan tujuan menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah? Lalu apa bedanya kita dengan orang awam? Bukankah kita yang sudah komitmen dengan hijrah kita?yang ‘katanya’ sudah paham ilmu agama.
Atau jangan-jangan kita menikah hanya karena baper nonton video-video di YouTube atau Instagram yang isinya tentang suami istri yang mengumbar kemesraan secara islami?
Jagan mengkambinghitamkan hijrah untuk nikah mudah. Saya secara pribadi tak melarang nikah muda, justru mendukung nikah muda.
Namun, yang jadi permasalahannya adalah bagaimana kalian ingin menikah tapi tauhid kalian belum benar?Ibadah kalian belum benar?Yang sesuai Al-Qur'an dan As-sunah. Membedakan Sunnah dan Bid'ah belum tahu? Baca Alquran masih seperti anak SD yang baru belajar membaca, belum bisa membedakan antara sin dan syin mana ha mana Kho?
Lalu, rumah tangga seperti apa yang ingin kalian bangun?
Bagaimana nanti mengajarkan kepada anak-anak tauhid yang benar? Qiroah benar? Ibadah yang benar?
Alangkah baiknya, sebelum menikah harus siap ilmu agamanya. Agar kelak bisa membangun sebuah lingkungan yang islami.
Isi buku-buku kajian kita dengan materi-materi tentang tauhid, akhlak, adab-adab, kisah-kisah dll yang masih banyak perlu dibahas sebelum membahas lebih jauh tentang pernikahan.
Untuk perkara Jodoh. Yakinlah sebelum kita dilahirkan, 50 ribu tahun takdir kita sudah tertulis di Lauh Mahfuz untuk hal jodoh, rezeki, ataupun kematian.
Jika Allah menakdirkan kita bertemu jodoh diumur 26 tahun dan sekarang kita baru berusia 20 tahun,
lantas 6 tahun kita gunakan waktu hanya untuk baper memikirkan perkara jodoh?
Harusnya waktu 6 tahun bisa digunakan untuk menghafal Al-Qur'an atau hadist atau memperbanyak ilmu agama atau apa saja yang bisa menambah keimanan kita. Agar ketika bertemu jodoh diwaktu yang tepat, kita sudah bisa menyiapkan keluarga yang islami. Keluarga yang betul-betul paham agama tak sekedar ikut-ikut tren.
Nah. Jika kalian sudah merasa mantap untuk kejenjang pernikahan, jangan lupa berdoa kepada sang pemilik Hati. Agar niat pernikahan jauh lebih bermakna dari keluarga yang biasa-biasa saja.
Keluarga yang mampu meneruskan kejayaan Islam.