ALEXANDRA J. WUISAN: INVOKASI, BARA, DAN KESADARAN SUPERPOSISI
Saya mengenal Alexandra J. Wuisan pertama-tama bukan sebagai sosok, melainkan sebagai bahasa.
Bukan dari arsip rapi sejarah musik Bandung. Bukan pula dari cerita orang-orang lama yang menyebut namanya dengan nada nostalgik. Saya mengenalnya lewat lirik: kata-kata yang terasa datang dari ruang batin yang berlapis, tidak mudah ditebak, dan tidak bisa dikunci dalam satu warna.
Awalnya dari Cherry Bombshell.
Saya mendengar “Bacar”, lalu merasa ada sesuatu yang berbeda. Lagu itu tidak menawarkan lirik yang mudah, manis, atau lurus. Ia ganjil, mengambang, seperti serpihan mimpi yang bergerak di antara distorsi, melankolia, dan keanehan yang tidak segera bisa dijelaskan. Ada dunia yang seperti sengaja tidak ingin dibuat nyaman.
Belakangan saya tahu, dalam Cherry Bombshell E.P., Alexandra, yang tertulis sebagai Alex, bukan hanya menjadi vokalis. Ia juga terlibat dalam pembentukan bahasa awal band itu. Di sana, suaranya tidak berdiri sebagai ornamen, tetapi menjadi bagian dari atmosfer Cherry Bombshell yang pada era 90-an ikut membawa warna dream pop dan noise pop ke ruang alternatif Indonesia.
Namun penting juga untuk tidak membaca posisinya secara berlebihan atau keliru. Alexandra bukan satu-satunya perempuan pada masa itu yang menulis, membentuk gaya, atau menciptakan bahasa kreatifnya sendiri. Sejarah musik alternatif Indonesia punya banyak nama perempuan penting yang hadir sebagai penulis, vokalis, pembentuk karakter band, dan pencipta gaya.
Justru karena itu, Alexandra perlu dibaca secara lebih spesifik: bukan sebagai pengecualian tunggal, melainkan sebagai salah satu figur dengan lintasan artistik yang terus berubah, bergerak, dan melintasi banyak ruang.
Di Cherry Bombshell, ia hadir dalam fase awal sebuah band yang membawa warna yang pada saat itu belum terlalu umum. Tetapi yang membuatnya menarik untuk dibahas bukan hanya keterlibatannya di sana. Yang menarik adalah bagaimana dari titik itu ia kemudian bergerak ke wilayah yang sangat berbeda: dari Cherry Bombshell ke Sieve, dari hubungan kreatif dengan Themilo, Getah, Seringai, Near Crush, hingga Gergasi Api.
Dengan kata lain, Cherry Bombshell adalah pintu masuk, bukan satu-satunya alasan. Dari sana kita bisa melihat awal dari satu perjalanan yang lebih panjang: perjalanan seorang penulis lirik dan vokalis yang tidak berhenti pada satu warna, tetapi terus berubah, menyerap banyak pengalaman, lalu mengembalikannya dalam bentuk suara, bahasa, dan atmosfer yang berbeda-beda.
Namun ada bagian lain yang membuat kisah itu tidak berhenti sebagai cerita band semata. Cabutnya Alexandra dari Cherry Bombshell terasa berat, bukan karena drama internal band, melainkan karena hidup sedang menariknya ke arah yang berbeda.
Ketika saya bertanya tentang momen itu, Alexandra menjelaskan bahwa yang ia rasakan saat itu lebih dekat pada kesedihan. Pada masa itu, hidup seperti menuntutnya mengambil jalan yang lebih “masuk akal” menurut ukuran keluarga dan kenyataan sehari-hari. Musik, yang sebenarnya paling dekat dengan dirinya, harus ia simpan lebih dulu. Ia kemudian berangkat bekerja ke Hong Kong, membawa perasaan yang tidak sederhana: antara mengikuti arah hidup yang diminta keadaan dan meninggalkan sesuatu yang diam-diam paling mengenali dirinya.
Di titik itu, Alexandra sedang berada dalam situasi yang tidak sederhana. Bukan hanya karena meninggalkan band, tetapi karena belum sepenuhnya tahu apa yang sebenarnya ia inginkan dalam hidup, padahal jawabannya sudah sangat jelas: bermusik.
Ada yang getir dalam pengakuan itu. Bermusik sudah memanggilnya, tetapi ia belum sepenuhnya bisa mempertahankannya. Maka cabutnya Alexandra dari Cherry Bombshell bukan sekadar peristiwa keluar-masuk band. Ia seperti berjalan menjauh dari sesuatu yang justru paling mengenali dirinya.
Mungkin sejak awal Alexandra tidak pernah benar-benar meninggalkan musik. Ia hanya sempat dipisahkan darinya oleh hidup.
Dari Cherry Bombshell, jejak Alexandra kemudian bergerak ke wilayah yang lebih personal lewat Sieve.
Di Sieve, terutama dalam lagu-lagu seperti “Biara”, “Mars”, dan “Furies Atonement”, Alexandra memperlihatkan keberanian menulis yang keras, simbolik, dan tidak selalu mudah dipetakan. Tetapi keberanian itu tidak perlu dibaca secara sempit. Berbicara dengan jujur, punya streak pemberontakan, atau menjadi perempuan yang berani menyuarakan tegangan batin dan kesedihan tidak otomatis membuat seseorang menjadi jahat atau satu dimensi.
Karya Alexandra tidak bergerak dalam logika sederhana: gelap dilawan terang, marah diganti damai, pengalaman berat diganti sembuh. Ia lebih dekat pada prinsip Yin dan Yang. Shadow dan light bukan dua kutub yang saling menghapus, melainkan dua sisi yang saling membentuk. Manusia tidak pernah sesederhana satu warna.
Ketika saya bertanya langsung tentang lirik-lirik Sieve, jawabannya membuka lapisan baru.
Ia menyebut masa itu sebagai teenage angst era. Ada anger, pent-up anger, dan suppressed grief yang belum sempat diproses dengan baik. Namun Sieve fase awal, menurutnya, bukan sekadar ruang pengalaman berat. Ia lebih mengarah pada pemberontakan terhadap sistem sosial yang stereotyping, juga pada awal-awal pencerahan spiritual yang belum sepenuhnya termanifestasi dalam perilaku keseharian. Masih ideologi. Masih fase muda. Masih ada pemberontakan yang belum sepenuhnya bijak.
Sieve, dengan kata lain, adalah ruang ketika Alexandra sedang melawan cara dunia memberi label. Melawan stereotip. Melawan cara perempuan dibaca, dinilai, dan dibatasi.
Lalu ada “Mars”.
Dari luar, “Mars” mudah dibaca sebagai lagu yang keras: ada perang, pedang, peluru, cakaran, tubuh, makian, dan frasa “betina bangsat” yang terdengar sangat berani untuk ukuran penulis lirik perempuan pada masa itu. Tetapi Alexandra memberi konteks penting: “Mars” bukan hanya ekspresi keras. Ia punya pesan empowering: jangan menjatuhkan sesama perempuan, terutama dalam lingkar sisterhood. Ada pesan tentang loyalty dan sincerity di sana.
Ia juga menyebut “Mars” sebagai peringatan yang membawa petaka. Semacam alarm dari fase muda yang penuh pemberontakan, ketika ia melihat pola pengkhianatan, retaknya sisterhood, dan absennya ketulusan dalam relasi yang seharusnya saling menopang.
Frasa “betina bangsat, kulahap lezat” juga tidak bisa dibaca hanya sebagai makian kasar. Alexandra menjelaskannya sebagai reckoning: keinginan untuk “melahap” pengkhianat karena ia pantas menerima akibatnya. Di sana, ekspresi keras bukan sekadar ledakan destruktif. Ia adalah penuntutan terhadap loyalty dan sincerity yang dikhianati. Ia adalah konsekuensi yang datang setelah sesuatu dilanggar.
Sementara “Furies Atonement”, menurut Alexandra, adalah retribution. Pembalasan. Konsekuensi. Balasan moral setelah peringatan diabaikan.
Dengan begitu, dalam lirik-lirik Sieve, kita tidak sedang melihat ekspresi yang kosong. Ada struktur batin dan etis di dalamnya. Ada peringatan, pelanggaran, akibat, dan naluri untuk mengatakan bahwa sesuatu yang rusak harus dikenali.
Lalu ada “Biara”.
Jika “Mars” adalah peringatan yang membawa petaka, maka “Biara” berada di wilayah lain. Alexandra sendiri menyebut “Biara” lebih romantic, yearning, symbolic, and spiritual. Lagu itu bukan sanctuary dalam arti tempat suci yang sepenuhnya nyaman. Bagi Alexandra, “Biara” lebih seperti tempat di dalam dirinya: ruang singgah, ruangberlindung, bahkan semacam escapism ketika ia merindukan terlalu banyak hal sekaligus.
Di sana ia bisa merasa aman. Di sana ia bisa mengumpulkan kembali kekuatan. Di sana ia bisa menghadapi rasa takut secara langsung, dengan strategi atau wisdom. Yang menarik, ia menyebut posisi batin dalam “Biara” sebagai kemampuan melihat peristiwa sebagai saksi, bukan sebagai partisipan, bukan sebagai korban.
Dalam “Biara”, kata sahaja menjadi penting. Bukan “raja” dalam pengertian figur yang rentan pada hinaan dan pujian, tetapi keadaan yang apa adanya. Sesuatu yang hadir tanpa harus terus-menerus dinilai. Karena itu, “Biara” bisa dibaca sebagai bibit awal dari “Aletheia”: penyingkapan, penerimaan, dan keberadaan yang tidak lagi sibuk dihakimi.
Lalu ada “Sianida” dari Themilo.
Bagi saya, lagu ini memiliki tempat yang sangat pribadi. Dari lirik ciptaan Alexandra inilah buku saya, Rayuan Sianida , menemukan inspirasinya. Bukan dalam arti menyalin cerita, bukan pula mengambil bentuknya secara langsung, tetapi menyerap atmosfernya: cinta sebagai sesuatu yang indah sekaligus berbahaya, rayuan sebagai pintu menuju pengalaman batin yang rumit, dan hasrat sebagai racun yang datang dengan wajah memikat.
Namun “Sianida” juga tidak bisa dibaca hanya sebagai racun atau bahaya. Di dalamnya ada sisi romantik dan passionate. Ada keindahan yang bekerja bersama ancaman. Ada rasa yang memikat sebelum ia menjadi fatal. Justru di situlah kekuatannya: ia tidak menulis cinta sebagai sesuatu yang satu warna. Cinta bisa menjadi pesona, bisa menjadi bahaya, bisa menjadi sesuatu yang menggugah tubuh, sekaligus membuat manusia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Dari lagu itu, saya belajar bahwa bahasa bisa bekerja dengan sangat halus. Bahwa sesuatu yang indah tidak selalu menyelamatkan. Bahwa manusia sering kali tidak berubah oleh sesuatu yang kasar dan terang-terangan, tetapi oleh sesuatu yang lembut, wangi, memikat, dan perlahan-lahan masuk ke dalam tubuh.
Di situlah Rayuan Sianida lahir.
Tetapi bagian ini perlu saya tempatkan dengan jujur: Rayuan Sianida lahir dari pertemuan saya dengan salah satu atmosfer lagu Alexandra, bukan dari pemahaman lengkap terhadap seluruh peta kreatifnya. Saat buku itu lahir, saya belum benar-benar masuk ke karya-karya barunya, belum mendengar Gergasi Api sedalam seharusnya, dan belum memahami proses awareness, sensory experience, daily secret ritual, atau lapisan spiritual yang kemudian ia jelaskan dalam percakapan kami.
Rayuan Sianida adalah respons saya sebagai pendengar dan penulis terhadap satu pintu kecil dari dunia Alexandra. Bukan kesimpulan tentang keseluruhan dirinya.Justru setelah buku itu lahir, percakapan dengan Alexandra membuka pintu-pintu lain yang membuat saya sadar bahwa “Sianida” hanyalah salah satu ruang dari rumah kreatif yang jauh lebih luas.
Di situlah saya belajar hal penting sebagai penulis: kalau ingin menulis karya seseorang, tidak cukup hanya menyalin penjelasan sang seniman lalu merapikannya menjadi esai. Penjelasan itu penting sebagai kompas. Tetapi tulisan tetap harus lahir dari pengalaman mendengar, melihat, membaca, dan merasakan sendiri. Kalau tidak, yang muncul bukan pembacaan, melainkan transkripsi yang tampak indah.
Kesadaran itu membuat saya harus menempatkan bagian tentang karya-karya terbaru Alexandra secara lebih hati-hati. Saya tidak ingin berpura-pura sudah memahami semua. Saya sedang masuk, mendengar ulang, membaca ulang, dan membiarkan karya-karya itu bekerja lebih pelan di dalam diri saya.
Namun dari pintu yang mulai terbuka itu, satu hal terasa jelas: Alexandra tidak berhenti di Cherry Bombshell, Sieve, atau Themilo.
Ada Gergasi Api, proyek yang dibentuk Alexandra bersama Ekyno dari Full of Hate dan Plum pada 2020. Di sini, Alexandra masuk ke ruang bunyi yang berbeda: eksperimental, sinematik, dan tidak tunduk pada pola lagu yang mudah ditebak.
Gergasi Api memperlihatkan sisi Alexandra yang lebih lantang, eksploratif, dan cair. Energinya bergerak sebagai semangat pemberontakan terhadap sistem yang usang dan merusak, sekaligus dorongan untuk terus berkarya dengan bentuk yang lebih bebas. Di sini, bara hadir sebagai tenaga perubahan: sesuatu yang mendorong suara, tubuh, dan komposisi bergerak melewati batas-batas lama.
Dalam “Altered State”, Gergasi Api memperlihatkan keberanian bentuknya dengan jelas. Lagu ini bergerak dari energi raw hardcore ala 90-an yang kasar, padat, dan sangat fisikal, sesuatu yang bisa dibaca dari latar Ekyno di Full of Hate. Cara Alexandra bernyanyi pun ikut berubah mengikuti tubuh lagu: dari growl dan tekanan vokal yang raw, lalu tiba-tiba masuk ke cara bernyanyi yang lebih lentur, melodik, dan klasik dengan nuansa 80’s retro, sebelum kembali lagi ke energi yang lebih keras di bagian akhir. Perpindahan inilah yang membuat Gergasi Api terasa tidak linear: ia bergerak dari satu energi ke energi lain, dari satu karakter vokal ke karakter vokal lain, tanpa tunduk pada satu pola genre.
Di luar itu, lintasan kreatif Alexandra juga bersentuhan dengan banyak ruang: Themilo, Getah, Seringai, Near Crush, Gergasi Api, dan proyek bersama Taufik Azhari. Ini memperlihatkan bahwa ia bukan hanya bergerak dari satu band ke band lain, tetapi dari satu kemungkinan bahasa ke kemungkinan bahasa berikutnya.
Dari titik ini, peta Alexandra mulai terlihat lebih luas.
Karya seperti “May Day”, “Light of the Earth”, dan terutama “Beltane” memperlihatkan sisi lain Alexandra yang tidak bisa diringkas hanya sebagai “alam” atau “mitologi”. Di sana, alam bukan latar. Ia menjadi tubuh lain yang ikut berbicara. Musim bukan hiasan puitis, tetapi cara untuk membaca siklus: datang dan pergi, menunggu dan menerima, hasrat dan penyerahan.
Dalam “Beltane”, bahasa Alexandra bergerak seperti prosesi kecil. Ada sesuatu yang dipanggil, tetapi tidak diperintah. Ada keinginan yang menjangkau, tetapi juga kesediaan untuk menerima. Tegangan antara reaching dan yielding itulah yang membuat puisinya hidup: penciptaan terjadi bukan karena semuanya dipaksa menjadi bentuk, melainkan karena penulis memberi ruang agar sesuatu datang, tumbuh, dan menemukan jalannya sendiri.
Di sini, sacred ritual tidak perlu dibaca sebagai sesuatu yang jauh dari keseharian. Ia justru bisa ditemukan dalam hal-hal paling dekat, selama manusia sadar terhadap apa yang sedang ia alami dan lakukan. Bernapas, melihat bunga, mencium aromanya, merasakan angin yang bergerak di kulit, mendengar lagu, atau mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh; semua bisa menjadi sacred ritual ketika dilakukan dengan awareness. Yang sakral tidak selalu datang sebagai peristiwa besar. Kadang ia hadir sesederhana napas yang disadari, tubuh yang hadir penuh, atau pancaindra yang benar-benar terbuka pada dunia.
Karena itu, sisi terang dalam karya Alexandra bukan terang yang polos atau dekoratif. Ia tetap punya liar, tubuh, dan daya kuno. Imaji seperti hutan, tanduk rusa, bunga, aroma, kulit, dan pertemuan sakral tidak hadir sebagai ornamen fantasi, tetapi sebagai cara untuk membuat bara dan renjana terasa hampir fisik.
Ada sensualitas di sana, tetapi bukan sensualitas yang berhenti pada pleasure. Ia lebih seperti getaran antara tubuh dan mitos: sesuatu yang disentuh oleh bahasa, namun tetap menyisakan misteri.
Dalam pembacaan seperti ini, yang magis tidak berdiri berlawanan dengan yang konkret. Yang misterius tidak otomatis buruk. Yang sakral tidak harus jauh dari keseharian. Semuanya bisa hadir bersamaan ketika manusia melihat, menyentuh, mendengar, mencium, mengecap, berpikir, merasa, dan menyadari dengan lebih utuh.
Ini penting karena magic, dalam kerangka Alexandra, bukan sekadar efek misterius atau hiasan atmosferik. Ia bisa dibaca sebagai lapisan pengalaman yang belum selalu bisa dijelaskan sepenuhnya oleh bahasa rasional hari ini, tetapi bisa dirasakan melalui tubuh, pancaindra, energi, dan kesadaran. Dalam sejarah manusia, banyak hal yang dahulu tampak seperti magic kemudian bisa dijelaskan sebagai science atau technology. Tetapi penjelasan itu tidak membuat rasa takjubnya hilang. Ia hanya membuka bahasa lain untuk memahami hal yang sama.
Di titik ini, Alexandra tidak hanya menulis beauty. Ia menulis keindahan sebagai medan pertemuan: antara intuisi dan keterampilan, antara tubuh dan simbol, antara hasrat dan kesadaran, antara yang terlihat dan yang belum selesai dijelaskan. Puisinya tidak sekadar menggambarkan ritual; ia seperti sedang melakukan tindakan invokatif. Tidak semua bagian dijinakkan. Beberapa dibiarkan tetap liar, bercabang seperti antlers yang tumbuh bersama kematangan, tetap murni sebagai bagian dari alam, dan bergerak di dalam cahaya.
Karya-karya barunya membuka lapisan lain.
Ketika saya bertanya apakah karya seperti “Yearnings”, “Light of the Earth”, dan “Overgrown Noises” adalah bentuk pemulihan dari dunia yang dulu sering muncul di lirik-liriknya, Alexandra memberi jawaban yang menurut saya menjadi kunci besar:
“Sekarang tentunya mulai refined dan pendekatannya lebih dewasa. Walau api dan tajamnya masih kuat.”
Kalimat itu seperti membuka seluruh peta.
Alexandra tidak meninggalkan bara. Ia membuatnya lebih matang.
Jika dulu bara itu muncul sebagai teenage angst, pent-up anger, suppressed grief, pemberontakan terhadap stereotip, peringatan akan petaka, dan retribution, maka sekarang ia hadir dalam bentuk yang lebih refined: lebih dewasa, lebih sadar tekstur, lebih luas secara spiritual, sensorik, dan filosofis. Tetapi di sisi lain, ia juga bisa hadir sebagai cahaya alam, romansa, seasonal beauty, dan spell poetry yang indah.
Tentang “Overgrown Noises”, Alexandra menjelaskan bahwa karya itu bergerak di wilayah yang sangat detail: sensory, spiritual, magical, energetic, transcendental, sekaligus filosofis.
Tetapi istilah-istilah itu tidak cukup hanya dijejerkan. Yang menarik justru cara mereka saling berbenturan. Ada yang sangat tubuh, tetapi tidak selalu terlihat. Ada yang terasa seperti sentuhan, tetapi yang disentuh bukan kulit, melainkan ingatan. Ada yang terdengar seperti mantra, tetapi bekerja seperti ruang: pelan-pelan membuka cara kita merasakan sesuatu.
Dalam banyak puisinya, pengalaman sensorik tidak berhenti pada pancaindra. Ia sering berubah menjadi sesuatu yang lebih ganjil: tubuh yang seperti mengingat, rasa yang seperti punya bentuk, dan kesadaran yang seolah bisa disentuh. Di situlah puisinya bekerja, bukan hanya sebagai rangkaian citra, tetapi sebagai ruang tempat yang abstrak menjadi hampir fisik.
Dalam salah satu unggahannya pada 6 Februari 2021, Alexandra pernah menulis tentang masa ketika dunia diselimuti wabah. Banyak orang kehilangan orang-orang tercinta. Kehilangan-kehilangan itu memicu grief yang sangat dalam: perasaan yang tidak mudah selesai ketika seseorang yang kita cintai pergi.
Tetapi ia tidak berhenti di sana.
Ia memutuskan untuk menghadapi grief itu agar bisa sembuh. Ia mengunjungi lubang terdalam kesedihannya, masuk ke semacam spiritual initiation, mengalami kematian sebagian ego, kematian diri lama, lalu merasa seperti dilahirkan kembali.
Namun bagian terpenting dari proses itu adalah realization: kesadaran bahwa di dalam jiwa orang-orang yang telah berpulang terdapat api yang sama, dan api itu menyala di dalam dirinya. Api itu justru membentuk koneksi dari rasa kehilangan tersebut. Ia menjadi daya hidup, tenaga untuk mengubah fear menjadi love, serta dorongan untuk melakukan hal yang ia cintai: membuat musik indah.
Dari sanalah karya lahir: dari koneksi, dari kesadaran, dari energi yang diteruskan menjadi cinta, musik, dan penciptaan.
Namun tujuan itu tidak berhenti pada dirinya sendiri. Bagi Alexandra, raising awareness dimulai dari hal-hal yang terlihat kecil. Dari bunyi yang tiba-tiba menyentuh. Dari aroma yang membuka ingatan. Dari air yang diminum dengan sadar. Dari bunga yang dilihat bukan sebagai objek, tetapi sebagai makhluk hidup yang tumbuh, bergerak, dan bertahan. Dari makanan yang sampai ke meja melalui rantai panjang tanah, hewan, tumbuhan, manusia, kerja, jasa, dan kesempatan.
Inilah yang bisa dibaca sebagai daily secret ritual: bukan sesuatu yang terpisah dari hidup, tetapi cara untuk menemukan yang sakral di dalam keseharian. Dari sana muncul awareness. Dari awareness muncul niat. Dari niat lahir aksi. Dari aksi yang sadar, gratitude tidak lagi hanya menjadi kata, tetapi cara berada.
Kesadaran itu tidak berhenti pada satu orang. Ia bisa menjadi ripple effect. Sesuatu yang tampak kecil, seperti satu pengalaman musikal, satu lirik, satu rasa yang menyentuh, bisa bergerak lebih jauh dari yang terlihat. Karya, dalam pandangan Alexandra, bukan hanya cara mengekspresikan diri, tetapi cara menerjemahkan kebenaran dan pengalaman indah yang ia alami agar pendengar juga bisa tersentuh, terbuka, dan mengalami semacam awakening.
Ini bukan sekadar caption. Bagi Alexandra, itu adalah tujuan berkarya. Ia menyebutnya sebagai tolak ukur lirik, musik, dan puisi yang sekarang ia buat.
Dari situ, karya tidak lagi hanya menjadi ekspresi personal. Karya menjadi proses transformasi. Pengalaman diberi bentuk agar tidak tertinggal sebagai sakit di dalam diri. Energi yang tertahan dilepaskan. Duka tidak disangkal, tetapi diolah. Keindahan juga tidak berhenti sebagai hiasan; ia menjadi jalan masuk menuju kesadaran. Kematian tidak hanya dibaca sebagai akhir, tetapi sebagai bagian dari siklus jiwa.
Alexandra juga menjelaskan proses kreatifnya dalam tiga tahap: memahami pengalaman batin, memberi bentuk pada pengalaman itu agar tidak tertinggal sebagai sakit di dalam diri, lalu melepaskan energi yang tertahan.
Bagi saya, ini salah satu inti perjalanan artistiknya.
Dulu ia mungkin belum sepenuhnya sadar terhadap proses itu. Ia menulis dari teenage angst, pent-up anger, suppressed grief. Tapi sekarang ia mengatakan bahwa ia fully aware of it. Ada kesadaran baru, jarak baru, dan kedewasaan baru.
Bahkan ketika membicarakan “Aletheia”, single terbaru Sieve, Alexandra membawa proses ini ke wilayah yang lebih filosofis. “Aletheia” berbicara tentang pengalaman hidup ketika ilusi dibiarkan runtuh tanpa resistensi. Yang tersisa bukanlah yang baik atau buruk, melainkan suatu keadaan yang sepenuhnya hidup, hadir, nyata, dan tak terbantahkan.
Dalam “Aletheia”, tidak ada ini melawan itu. Yang ada adalah apa adanya: no judgement, no assumptions. Dari sana, pola mulai terlihat. Dan ketika pola itu selaras, seseorang tidak lagi sekadar mengikuti arus; ia bisa mengalir bersama arus, bahkan menjadi arus itu sendiri.
Kesadaran semacam itu tentu tidak muncul tiba-tiba. Di balik cara Alexandra membaca grief, energy, awareness, dan shadow-light, ada proses belajar panjang yang mencakup spiritual practice, psikologi, self-awareness, healing, dan filsafat. Ia menyebut proses itu berlangsung dalam workshop berkelanjutan bersama seorang guru dan mentor yang berperan penting dalam pembentukan cara pandangnya. Karena itu, spiritualitas dalam karya-karya Alexandra tidak hadir sebagai ornamen, melainkan sebagai disiplin batin yang dipelajari, dilatih, dan dijalani.
Dari percakapan singkat saya dengannya, saya semakin memahami bahwa sumber penulisannya tidak pernah datang dari satu pintu. Kadang ia berangkat dari pengalaman hidup yang sangat konkret, kadang dari bacaan, simbol, latihan batin, atau sensasi tubuh yang sulit dijelaskan. Dunia luar dan dunia dalam seperti saling menyeberang di sana. Yang personal bisa berubah menjadi filosofis; yang abstrak bisa terasa hampir fisik.
Jawaban itu seperti kunci.
Tiba-tiba lirik-liriknya terasa lebih bisa dipahami, meskipun bukan dalam arti menjadi sederhana. Alexandra memang tidak menulis dari peristiwa yang lurus. Ia menulis dari sensasi, pengalaman tubuh, kilatan kesadaran, dan sesuatu yang terasa tetapi sulit diterjemahkan.
Karena itu, lirik-liriknya sering tidak berjalan seperti cerita. Ia lebih sering memberi suasana, citra, dan pengalaman dalam bentuk simbol. Memberi rasa yang seperti kabut: tidak bisa dipegang, tetapi bisa memenuhi ruangan.
Hal lain yang juga menarik adalah selera dengarnya hari ini. Dari luar, mungkin orang mudah menangkap Alexandra lewat potongan kecil tentang K-pop atau pop culture. Tapi ketika saya bertanya, ia justru mengoreksi penyederhanaan itu. Ia mendengarkanbanyak sekali jenis musik: post-punk baru, doom, sludge, post-metal, metalgaze, slowcore, post-rock, hardcore punk, rap, pop, dance, experimental, industrial, K-pop, dan berbagai bentuk musik yang kini sudah saling membaur.
K-pop, katanya, hanya salah satu genre. Ia bahkan menyebut ketertarikannya pada K-pop awalnya bukan dari musik, melainkan dari variety show, interaksi yang kocak, karakter personel, dan bias. Musiknya datang belakangan. Tetapi bahkan ketika membicarakan K-pop, cara dengarnya tetap musikal: ia bisa menemukan inspirasi dari pattern alur musik, dinamika rhythm, dan melodi.
Ini membuat saya semakin yakin bahwa Alexandra tidak bisa dikunci dalam satu estetika. Ia adalah pendengar lintas dunia, penulis lintas simbol, seseorang yang bergerak dari satu kemungkinan bunyi ke kemungkinan bunyi lain.
Manusia selalu lebih luas daripada arsip karyanya sendiri.
Apalagi Alexandra hari ini tidak sedang hidup sebagai catatan kaki dari skena 90-an. Ia masih menulis. Ia masih aktif bersama Sieve dan Gergasi Api, sedang menyiapkan album baru, dan memiliki proyek solo yang berkelanjutan bersama Taufik Azhari. Ia masih membuat lagu. Masih menulis lirik. Masih mengolah pengalaman menjadi bentuk. Masih bergerak.
Alexandra bukan nostalgia.
Ia bukan sekadar “pernah”.
Ia masih “sedang”.
Sedang menulis.
Sedang mendengar.
Sedang membentuk.
Sedang merawat perubahan.
Sedang menemukan bentuk-bentuk baru dari suaranya.
Sedang membiarkan karya-karyanya bergerak di antara invokasi, bara, dan kesadaran.
Pada akhirnya, yang saya kagumi dari Alexandra J. Wuisan bukan hanya satu lagu. Bukan hanya “Bacar”. Bukan hanya “Sianida”. Bukan hanya keberanian “Mars”. Bukan hanya “Biara”. Bukan hanya Gergasi Api. Yang saya kagumi adalah konsistensi kepekaannya: caranya menangkap sesuatu yang tidak kasatmata, lalu menjadikannya bahasa.
Ia membuat saya percaya bahwa lirik bisa menjadi ruang: tempat pengalaman paling personal berubah menjadi suara, simbol, dan kemungkinan baru. Kadang ia datang sebagai peringatan. Kadang sebagai rayuan. Kadang sebagai bara. Kadang sebagai sesuatu yang jauh lebih halus: sebuah pintu kecil menuju kesadaran.
Maka percakapan ini tidak mengubah asal-usul Rayuan Sianida , tetapi mengubah cara saya membaca kembali sumber getarnya. Dulu saya masuk melalui rayuan, bahaya, danambiguitas cinta dalam “Sianida”. Sekarang saya mulai melihat bahwa di balik satu pintu itu ada rumah yang lebih luas: tubuh, invokasi, bara, sensory experience, daily secret ritual, magic, dan kesadaran yang tidak berdiri di satu kutub saja.
Saya tidak sedang berusaha menjelaskan Alexandra sepenuhnya. Mungkin memang tidak semua dunianya harus dipahami. Saya hanya sedang mencatat bagaimana sebagian karyanya pernah membuka pintu dalam cara saya menulis, dan bagaimana percakapan ini membuat saya sadar bahwa pintu itu tidak boleh berhenti pada kekaguman. Ia harus dilanjutkan dengan mendengar lebih dalam.
Bagi saya, Alexandra J. Wuisan adalah nama seperti itu.
Bukan sekadar vokalis.
Bukan sekadar penulis lirik.
Bukan sekadar bagian dari arsip skena Bandung.
Ia adalah seseorang yang membuat saya percaya bahwa bahasa paling menggugah sering kali datang dengan cara paling halus. Bahasa bisa lahir dari tempat yang jujur, sunyi, romantik, penuh cahaya, penuh bara, atau dari pengalaman kecil yang tampaknya nyaris tidak terlihat.
Tetapi pada akhirnya, karya Alexandra tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia tidak menulis hanya untuk menyelamatkan atau memahami dirinya. Ada tujuan hidup yang lebih luas di sana: membuat sesuatu, bahkan dalam bentuk yang sangat halus, kecil, dan mungkin tidak terlihat, yang tetap bisa memberi pengaruh pada dunia agar menjadi sedikit lebih baik.
Melalui lagu, lirik, puisi, suara, simbol, dan pengalaman sensorik yang ia bangun, Alexandra seperti sedang membagikan sesuatu dengan harapan sederhana namun dalam: agar karya itu dapat membangunkan core awareness dalam diri orang lain. Mungkin dampaknya terlihat kecil. Mungkin ia bergerak diam-diam. Tapi dari hal kecil yang menyentuh hati, kesadaran bisa terbuka, kepedulian bisa tumbuh, dan sesuatu bisa bergerak lebih jauh dari yang kita kira.
Yang ia nyalakan bukan hanya bara dalam dirinya, tetapi kemungkinan kecil agar sesuatu dalam diri orang lain ikut terbangun: pelan, halus, mungkin tak terlihat, tetapi tetap bergerak sebagai ripple effect.
D. W. Priyadi









