Kalau saja aku bisa hidup di dunia fiksi yang ku buat sedemikian rupa indahnya, aku lebih memilih terjun ke dalam karakter itu ketimbang harus menjadi diriku yang sebenarnya.
Chapter 5 : The Day We Meet
Aku mengambil salah satu buku dari penulis favoritku, lalu ia pun menghampiri. "Fiction?" tanyanya.
Aku menoleh. "Iya, fiction."
Thunder mengambil salah satu buku yang ada di sana, lalu membaca sepenggal tulisan di bagian punggung buku itu.
Ia pun menoleh. "Romance, ya?"
Aku mengangguk sembari memeluk tiga buku novel yang akan ku beli. Membaca buku adalah hal favoritku ketika sedang mandi di bathtub. Dan tiga buku ini akan menjadi teman baikku selama beberapa minggu ke depan nanti.
"Iya, romance. Ehm... tapi cowok jarang ada yang baca romance, kan, ya," kataku dengan sebuah tawa.
Thunder tersenyum. "Hmm… belum pernah baca romance sih," katanya.
Aku tertawa. "It's nice," kataku, "aku suka ceritanya."
Ia mengangguk, lalu meletakkan balik buku itu ke tempat semula. "Kenapa suka fiksi?"
Senyumku terus memudar. Pertanyaan itu adalah pertanyaan paling termudah yang mungkin pernah orang tanyakan padaku. Aku cukup percaya diri untuk mengungkapkan unek-unekku ini—meskipun di hadapan seorang Thunder—seorang lelaki asing yang belum ku kenal sama sekali.
“Karena fiksi itu lebih baik ketimbang dunia nyata," jawabku dengan sebuah tawa, tanpa pikir panjang lagi. "Karakternya pun aku yakin jauh lebih baik daripada manusia nyata."
Aku melanjutkan, “Ada sensasi tersendiri ketika aku baca suatu karya fiksi. Salah satunya adalah aku kayak berada di dalam dunia itu. Bahkan jadi karakter utama dalam cerita fiksi itu. Dan jujur, aku lebih suka mendalami karakter di sebuah suatu cerita. Daripada mendalami karakter diriku sendiri.” Suaraku mengecil di kalimat akhir.
Ia mengangkat kedua alisnya. "Wow."
‘Wow’ adalah respon pertama yang keluar dari mulutnya.
Aku tertawa lalu membalik badanku, ingin segera menuju kasir. "Iya," kataku. "Reality itu sometimes enggak sesuai dengan apa yang kita mau."
Aku meletakkan tiga bukuku di atas meja kasir. "Pathetic," bisikku kali ini.
Thunder terlihat tercengang ketika mendengar kalimatku. Tapi ku sadar bahwa ia juga mengangguk minim dengan senyum yang terbentang luas.
"Thank you," ucapku pada pegawai kasir.
Aku melihat ia yang menghinggapkan salah satu tangannya di salah satu kocek. Sementara satu tangannya lagi, masih senantiasa menenteng belanjaannya yang ia bawa hari ini.
"I agree with you," ucapnya secara tiba-tiba.
Ia menolehku lalu tersenyum. "Reality is pathetic," katanya. "So pathetic, Sky."
Aku tertawa dan menyetujuinya. "So so pathetic!"