Traveler’s Guide to Japan (Low Budget!) – Part 5: Tokyo-Hakone
12 Januari 2018
Kami segera menaiki Nohi bus yang akan membawa kami ke Shinjuku. Busnya tampak kosong. Hari itu hanya ada beberapa seat yang terisi, tidak lebih dari 10 orang. Dari Takayama bus melaju ke arah timur melewati pegunungan Terashiyama, Kasumizawa, dan Hakusan di perbatasan Gifu dan Nagano prefecture. Jalannya meliuk-liuk dan naik turun. Saya berusaha memejamkan mata untuk tidur agar tidak mabuk selama di perjalanan. Setelah tertidur selama kurang lebih 2 jam, tiba-tiba saya terbangun. The view outside was breathtakingly beautiful I was in awe.
Gunung yang tampak di sebelah kiri saya diselimuti salju. Beberapa pepohonan di atasnya masih tampak berwarna kehijauan, sedangkan sisanya gundul, hanya menyisakan ranting. Di bawah tampak sebuah danau besar berwarna biru yang mengular di kaki gunung. Ternyata danau itu adalah sebuah dam bernama Inekoki Dam yang terletak di Matsumoto.
Keluar dari wilayah pegunungan, bus berhenti sejenak di sebuah rest area. Saya memutuskan untuk turun untuk merilekskan kaki dan membeli minum. Rest area di Jepang selalu disertai dengan sebuah swalayan berukuran lumayan besar serta toilet yang memiliki banyak bilik. Umumnya mereka menjual berbagai macam makanan dan souvenir khas dari wilayah tersebut. Karena masih di sekitar wilayah Hida, rest area yang kami singgahi menjual Hida Beef yang juga terkenal karena dagingnya yang tender seperti halnya wagyu dan Kobe beef.
Saya memutuskan untuk membeli sebotol susu. Entah asalnya dari sapi Hida atau bukan. Yang jelas tertulis di botolnya kalau ini 100% cow milk, artinya tidak ada tambahan lain termasuk gula. Susunya dikemas dalam botol kaca bening siap minum seharga 200 yen. Surprisingly, ini adalah susu sapi paling segar dan enak yang pernah saya rasakan. Konsistensinya agak sedikit lebih kental daripada susu kemasan di Indonesia dan rasanya gurih-manis walaupun tidak diberi tambahan gula.
Setelah kurang lebih 5,5 jam perjalanan, kami tiba di kota megapolitan terbesar di Jepang, Tokyo. Saya sendiri bukan penggemar suasana perkotaan karena lebih menyukai suasana yang lebih tenang dan dikelilingi alam seperti kota-kota yang saya kunjungi sebelumnya. Tapi tentu saja saya tidak bisa melewatkan Tokyo dalam itinerary saya.
Kami sampai di Tokyo sekitar pukul setengah 3 sore. Kami turun di stasiun terbesar di pusat kota Tokyo yaitu di Shinjuku Station. Begitu turun, kami segera menuju tourist/information center untuk menanyakan lokasi loker serta membeli 72 hours-Tokyo Metro Pass seharga 1500 yen. Saya patungan loker dengan Alvi karena ternyata lokernya cukup besar sehingga hanya membayar 200 yen saja. Di information center tersebut kalian bisa mendapatkan beberapa brosur mengenai kota Tokyo, termasuk salah satunya yang paling bermanfaat adalah Tokyo Map for Muslims. Di sana tertera lokasi-lokasi halal food serta prayer room di area Tokyo. Menurut saya Jepang sudah sangat berbenah dalam hal mengakomodasi turis muslim sehingga kalian tidak usah khawatir untuk mencari makanan halal ataupun tempat sholat karena jumlahnya cukup banyak untuk ukuran negara yang sebagian besar penduduknya non-muslim.
Setelah menitipkan tas di loker, kami segera mencari tempat untuk makan. Pilihan kami jatuh pada Yoshiya, sebuah restaurant yang memiliki sertifikat halal yang terletak di Shinjuku Metro Food Street di Shinjuku Station West Exit. Saya memesan menu paling murah disana yaitu Karaage seharga 980 yen. Yang saya suka dari menu ini adalah ada banyak sayuran di dalamnya karena seingat saya, saya belum makan sayur sama sekali dari kemarin. Terongnya enaak. Dari Yoshiya kami mampir sholat di sebuah pusat perbelanjaan bernama Takashimaya.
Kelar sholat, kami keluar menuju Shibuya. Sebelumnya kami mampir terlebih dahulu ke Odakyu Station untuk membeli Hakone 2 days pass seharga 5140 yen. Mba yang melayani menjelaskan secara terperinci urutan moda transportasi yang harus kami ambil selama di Hakone. Ribet buk..karena ternyata ada banyak sekali pilihan transportasi yang bisa digunakan secara bebas menggunakan pass ini. “Don’t worry, our people will help you there! You’ll be fine,” kata si mba diiringi senyuman cantik. Saya simpan baik-baik peta serta booklet berisi jadwal kereta dan bus ke dalam tas.
Setelah menaiki kereta selama beberapa menit, kami sampai di Shibuya. Sebelum ke Shibuya crossing yang terkenal itu, kami mampir ke gerai Lush untuk mengantar Alvi dan Jatu berbelanja masker. Sebenarnya ada yang ingin saya beli tapi produknya harus disimpan dalam wadah berpendingin sehingga tidak memungkinkan untuk dibawa balik ke Surabaya.
Dari Lush, kami segera menuju ke Shibuya crossing untuk melihat patung Hachiko. I actually expected more crowds than what I saw that night. Memang rame tapi saya berharap yang lebih epic lagi hahaha. Gedung-gedung tinggi dan lampu neon berwarna-warni membuat kawasan itu terlihat sangat menyala di malam hari.
Di Shibuya crossing saya sempat menunggu di pinggir jalan terlebih dahulu untuk melihat ke-hectic-kan orang-orang yang menyeberangi jalan malam itu. Setelah puas menyaksikan, saya baru mencoba untuk menyeberang sambil mengambil gambar.
Dari Shibuya crossing, kami menuju ke Shibuya Tower Records. Buat penggemar musik mungkin tempat ini berasa seperti surga. Ada beberapa lantai yang tiap-tiap lantainya menjual cd dengan genre yang berbeda. Kalau saya penggemar k-pop mungkin akan kalap karena di sana banyak cd original boyband/girlband terkenal Korea seperti BTS, Big Bang, EXO, dsb. Setelah puas melihat-lihat cd kami pun mampir ke Disney Store dan Kinokuniya. Semuanya cuma mampir karena saya tidak berniat untuk membeli apa-apa.
Lelah berputar-putar, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Shinjuku station, mengambil carrier, lalu bergegas menuju airbnb kami yang lokasinya sangat jauh di pinggir kota. Malam itu, Tokyo Metro Pass mulai kami aktifkan.
Untuk mencapai airbnb yang berada di daerah Sumida, kami harus beberapa kali pindah kereta dan berjalan kaki sekitar 600 meter. Cukup memakan waktu, tenaga, dan uang. Kami menyesali pilihan kami kali ini. Host kami bernama Kazuaki-san, orangnya cukup baik dan ramah, kami hanya beberapa kali bertemu dengan dia. Di airbnb yang kami sewa ini sistemnya memang shared-house, kami menempati lantai 2 rumah milik Kazuaki-san dan tidur menggunakan futon. Antara kamar satu dengan yang lain bersekat sebuah pintu geser seperti yang ada di kamar Nobita.
Positifnya, saya bisa merasakan bagaimana rasanya hidup di rumah asli milik penduduk Tokyo. Rumahnya sederhana, ada dapur dan toilet serta kamar mandi. Negatifnya, pemanas ruangan di kamar kami tidak berfungsi dengan baik sehingga saya selalu menggigil setiap malam. Begitu pula dengan kamar mandinya yang lantainya terasa seperti es. Saya cuma mandi 2x selama 4 malam tinggal disana hehehe. Ga kuat sama dinginnya.
13 Januari 2018
Pagi itu kami bergegas ke Tokyo Skytree yang lokasinya tidak jauh dari airbnb kami. Kami membeli tiket seharga 2060 yen untuk bisa menuju ke observatory deck setinggi 450 meter atau hampir setengah kilometer. Elevator yang membawa kami naik ke atas merupakan elevator high speed dengan kecepatan maksimal 600 meter per menit! Kuping saya rasanya langsung budeg karena perubahan tekanan yang mendadak.
Di atas, kita bisa melihat pemandangan kota Tokyo 360 derajat dan sedikit puncak dari Fujisan yang tampak dari kejauhan. Kita bisa melihat Asakusa dan Sumida river dengan jelas dari sini.
Ada lantai berbahan kaca yang memungkinkan kita melihat ke bawah dan bikin agak merinding.
Di lantai agak bawah, saya lupa lantai berapa, ada Detective Conan Plaza yang menjual berbagai macam merchandise Detective Conan. Ada berbagai macam barang lucu dari berbagai anime di sini, tapi saya kecewa karena tidak menemukan merchandise yang saya inginkan yaitu gantungan kunci berbentuk Shinichi Kudo :( untuk mengobati rasa kecewa akhirnya saya foto-foto saja.
Dari Tokyo Skytree, perjalanan kami lanjutkan ke Tsukiji Fish Market, sebuah pasar tradisional yang menjual berbagai jenis hasil laut. Selain ikan-ikanan, kita juga bisa menemukan sayur mayur, buah, serta jajanan yang umumnya berbahan dasar seafood. Ada unagi (belut) bakar, wagyu skewer, kroket tuna, sushi, scallop, sashimi, dan masih banyak lagi. Di sini kami banyak jajan, padahal biasanya kami jarang sekali mengeluarkan uang hanya untuk membeli makanan. Today was an exception. Beberapa kali saya melihat ikan tuna yang sudah ter-fillet, hanya tersisa kepala seukuran kepala orang dewasa serta tulang belulangnya saja. Kalau berminat melihat tuna auction, kalian harus datang subuh-subuh kesini.
Unagi, mixed seafood, dan wagyu skewer.
Scallop ini paling murah di antara toko lain yang menjualnya seharga 1000 yen.
Strawberry yang super manis.
Di Tsukiji Market kami juga mencoba sushi. Sebenarnya saya tidak yakin apakah sushi yang kami beli disana halal atau tidak. Kami sudah berusaha bertanya apakah sushi yang dijual mengandung mirin (rice wine), dan mereka bilang disini tidak ada alkohol dan babi. Well, bismillah saja semoga memang tidak ada mirin yang dicampur di nasinya. Ada 1 jajanan yang tidak saya rekomendasikan, yaitu tamago atau telur goreng. Rasanya err..aneh karena manis. Bayangkan saja telur dadar tapi dicampur gula instead of garam.
Hari sudah sore. Kenyang makan-makan, kami beranjak menuju Asakusa. Sebelumnya saya mampir sevel untuk membeli minum karena haus. Akhirnya saya menemukan milk tea yang menurut saya paling enak dibanding milk tea lain yang saya coba di Jepang, yaitu milk tea keluaran Lipton seharga 130 yen.
*bukan postingan berbayar*
Hari itu Asakusa cukup ramai dan kami lihat banyak orang berpakaian kimono. Agak skeptik apakah kami bisa mendapat foto bagus di sana.
Kami memutuskan untuk menyewa kimono juga di Kimono Wargo Asakusa. Tempat ini recommended karena pilihan kimononya sangat banyak, harganya terjangkau dan ada diskon kalau datang agak sore. Kalian bisa reservasi secara online kalau takut penuh atau kehabisan. Plusnya lagi kita bisa menumpang sholat di sana. Kami menyewa sepotong kimono seharga 2700 yen per orang. Dengan harga itu kita sudah mendapat tas, sendal, hiasan rambut (kalau ingi dihias), dan kaos kaki putih yang boleh dibawa pulang.
Setelah semua siap, kami berjalan menuju Sensoji Temple. Hal paling menarik dari kuil ini adalah lampion merah raksasa yang tergantung di pintu gerbangnya. Ada beberapa turis dan seorang kakek yang meminta untuk berfoto bersama kami. Mungkin kami terlihat unik karena menggunakan kimono sambil berjilbab.
Dari sensoji temple, kami berjalan menyusuri Nakamise Street yang menjual banyak souvenir dan makanan dengan harga terjangkau. Kalau saja saya belum membeli oleh-oleh mungkin saya akan kalap di sini. Karena itu kami berjalan cepat-cepat karena takut nyangkut di toko-toko itu hehe.
Dari Asakusa, kami melanjutkan perjalanan menuju Akihabara untuk makan malam di restoran favorit saya di Tokyo, Coco Ichi Curry! Setahu saya yang halal hanya yang ada di Akihabara. Itupun di Akiba ada 2 cabang Coco Ichi jadi kalian harus memastikan dulu ke penjualnya. Bagi yang pernah mencoba salah satu cabangnya yang ada di Jakarta, pasti tahu selezat apa rasa curry ini. Saya memesan beef curry seharga 1000 yen. Kita bisa memilih level pedas serta banyaknya nasi yang kita mau.
Setelah kenyang dengan porsi jumbonya, kami melanjutkan berjalan-jalan di sekitar Akihabara. Di sepanjang jalan banyak toko alat elektronik serta manga dan action figure store.
Ini adalah surga bagi para otaku. Sebenarnya dari Akiba kami sempat mampir Harajuku untuk mengunjungi Line Store, tapi sayangnya sudah tutup di atas pukul 9 malam sehingga kami memutuskan untuk langsung pulang.
14 Januari 2018
Hari ini kami memutuskan untuk lebih selow. Kami bangun agak siang karena tujuan hari ini hanyalah ke Ghibli museum di Mitaka. Kami mendapatkan tiket masuk pukul 12 siang. Jumlah pengunjung tiap sesi memang dibatasi, tidak serta merta semua orang bisa masuk sehingga untuk pembelian tiketnya harus dilakukan jauh-jauh hari. Tiketnya dijual dengan harga 1000 yen dan bisa dibeli secara online di website resmi museum atau di Lawson.
Lokasi museum ada di pinggiran kota Tokyo. Kami harus menempuh perjalanan dengan kereta selama kurang lebih satu jam dari rumah. Dari stasiun Mitaka, kami masih harus berjalan kaki selama kurang lebih setengah jam untuk mencapai museum ini.
Pengunjung tidak diperkenankan untuk mengambil foto di dalam museum. Untuk ukuran museum seharga 1000 yen, menurut saya ini sangat worth the price. Tiket online yang kita pegang ditukarkan dengan tiket masuk yang berbentuk potongan film. Saya mendapat potongan adegan dari Spirited Away.
Gedung museum ini ada 3 lantai plus rooftop. Di lantai paling bawah kita bisa menjumpai exhibit room dan Saturn theater. Di teater itu kita bisa menonton film Ghibli yang tidak pernah ditayangkan ke publik dan tidak akan dijumpai copy-annya di manapun. Sesungguhnya film yang saya tonton agak “unik” karena menceritakan kisah cinta antar spesies antara seekor laba-laba air jantan dan nyamuk betina.
Di lantai 2 ada ruangan exhibit lain dimana kita bisa melihat koleksi buku-buku dan referensi animator dalam mencipta sebuah karya. Saya melihat buku karya Leonardo da Vinci berjudul The Anatomy of Man di salah satu rak. Ada pula mesin kuno yang menggabungkan gambar-gambar potongan gerakan yang apabila mesinnya dijalankan akan tampak potongan gambar tersebut bergabung menjadi sebuah gerakan.
Di ruangan lain di lantai 2 ada yang menampilkan replica makanan-makanan yang ada di semua film Ghibli yang terbuat dari wax. Replica ini berukuran 1:1 sehingga tampak realistis dan membuat saya lapar. Ada pula dapur lengkap dengan alat dan bumbu masak yang entah diambil dari film Ghibli yang mana karena saya baru menonton beberapa filmnya.
Lantai 3 berisi merchandise store. Saya hanya membeli selembar postcard disana. Kita bisa mencapai rooftop setelah melewati tangga spiral. Di atas ada kebun kecil dengan sebuah robot raksasa dari “Laputa Castle in The Sky”. Kita bebas berfoto di rooftop ini.
Puas menjelajahi isi museum, kami menuju Shinjuku untuk makan ramen halal di Shinjuku Ramen Ouka. Semangkuk ramen yang saya pesan harganya 1400 yen. Ramen ini dilengkapi dengan beberapa macam side dish yaitu grilled chicken, telur rebus, dan baby corn. I loved the grilled chicken and the egg.
Setelah makan kami memutuskan untuk sholat kembali di Takashimaya Shinjuku. Dari sana kami berpisah, Randy memutuskan untuk berjalan-jalan memutari kota Tokyo sedangkan saya, Jatu, dan Alvi mau mencari Tokyo Milk Cheese Factory di mall Lumine Shinjuku, which later on we found out that it’s not halal so i decided not to buy it. Dari Lumine, kami menuju ke Tokyo Skytree lagi karena saya ingin membeli oleh-oleh di Ghibli Merchandise yang ada di sana.
Saran saya, kalau kalian suka dengan Ghibli tapi tidak sempat ke museumnya, jangan lupa untuk mengunjungi merchandise store yang ada di Skytree karena beberapa barangnya ada yang lebih murah daripada store yang ada di museum. Hari itu pukul setengah 10 malam kami sudah kembali ke rumah.
15 Januari 2018
Ini adalah hari terakhir jalan-jalan di Tokyo karena besok malam kami sudah harus berada di Osaka untuk pulang kembali ke Surabaya. Sesungguhnya kami sudah tidak tahan dengan suhu udara winter ini. Saya sempat mimisan dan terkena Raynaud’s. Kami sudah kangen banget sama yang namanya sinar matahari dan lembabnya udara di Surabaya.
Hari ini kami berencana mengunjungi Hakone untuk melihat Fujisan. Ramalan cuaca mengatakan kalo hari ini cerah jadi ekspektasi kami cukup tinggi untuk dapat menikmati Fujisan dari dekat. Sebelumnya kami mengunjungi daerah Yotsuya terlebih dahulu. Di sana ada sebuah tangga yang menjadi inspirasi setting bagi penulis anime yang ngehits di tahun 2017, yaitu Kimi No Na Wa. Tangga ini adalah tempat Mitsuha dan Taki, dua tokoh utama Kimi No Na Wa, bertemu di akhir film.
Image taken from here
Dari Yotsuya, kami berangkat ke Shinjuku Station untuk menaiki Odakyu Line menuju Odawara Station. Semua perjalanan dari Shinjuku Station menuju ke Hakone ditanggung oleh Hakone Pass yang telah kami beli sebelumnya. Dari Odawara Station, kami berpindah kereta menggunakan line yang sama menuju ke Hakone Yumoto Station. Perjalanan ini cukup memakan waktu. Dari sana kami masih harus berpindah kereta menggunakan Hakone Tozan Train menuju Gora. Keretanya agak berbeda dari kereta lokal lainnya karena tracknya hanya satu, jadi kadang harus bergantian dengan kereta lain dari arah sebaliknya. Jalur yang ditempuh menggunakan Hakone Tozan Train berupa pegunungan dengan pepohonan di kanan kiri jalan.
Sesampainya di Gora ternyata ada kabar buruk. Cable car dan ropeway yang seharusnya membawa kami ke Sounzan dan Owakudani untuk melihat Fujisan dari ketinggian ternyata disuspend karena angin kencang :( entah kenapa kami selalu berhadapan dengan angin kencang setiap kali akan menaiki wahana seperti saat kami mengunjungi Universal Studio. Karena batal melihat Fujisan, akhirnya kami hanya berfoto sebentar di Gora, kemudian memutuskan untuk langsung menuju Togendai menggunakan bus untuk menaiki Hakone Sightseeing Cruise yang melintasi Lake Ashi.
Sesampainya di Togendai, kami langsung mengantri untuk menaiki cruise/kapal berbentuk semacam kapal bajak laut. Kapal ini memang dikhususkan untuk wisata di Lake Ashi saja. Lantai 1 dan 2 kapal berisi tempat duduk khusus pengunjung, sedangkan di atasnya ada deck tanpa atap bagi yang ingin melihat keindahan Lake Ashi secara lebih dekat.
Pemandangan di sini sangat indah. Hari ini anginnya memang bertiup cukup kencang sampai-sampai danaunya tambak berombak. Perjalanan menggunakan cruise menuju Motohakone-ko berlangsung kurang lebih 40 menit menyeberangi Lake Ashi. Sampai di Motohakone-ko, kami bisa melihat ujung dari Fujisan. Ujungnya saja hiks.
Kami memutuskan untuk sholat di sebuah taman terbuka di tepi Lake Ashi. Setelah itu kami segera menuju ke halte bus untuk melanjutkan perjalanan menuju Hakone-jinja Shrine. Untuk mencapai kuil ini kami harus berjalan di sepanjang tepi lake Ashi selama 15 menit dari halte.
Hakone-jinja shrine memiliki sebuah torii/gate yang berdiri tegak di tepi lake Ashi. Torii ini masuk ke dalam daftar bucket list saya. Ada perasaan excited dan haru yang agak sulit untuk dijelaskan ketika saya berhasil mengunjungi tempat ini.
Karena sudah hampir gelap, kami meninggalkan Hakone dan kembali menuju Odawara Station menggunakan bus. Dari Odawara, perjalanan kembali dilakukan menggunakan kereta menuju Shinjuku. Keseluruhan trip ke Hakone ini ditanggung oleh Hakone pass yang sesungguhnya berlaku untuk 2 hari. Jadi sebaiknya kalian menginap di salah satu ryokan di Hakone sehingga bisa menikmati sensasi berendam di pemandian air panas/onsen serta bisa mengeksplorasi Hakone lebih dalam, karena sebenarnya masih banyak sekali lokasi wisata disana yang wajib dilihat.
Sesampainya di Shinjuku, kami memutuskan untuk kembali mengunjungi Akihabara untuk makan Coco Ichi Curry karena ini adalah malam terakhir kami di Jepang *mendadak baper*.
Malam itu kami packing karena besok pagi kami harus mengejar bus kembali menuju ke Osaka.
16 Januari 2018
Kami bangun sebelum subuh dan segera bersiap-siap menuju JR Osaki Station. Lokasinya agak jauh dari airbnb sehingga kami sudah berangkat sejak sebelum pukul 6 pagi. Pagi itu saya merasa melankolis karena walaupun sudah kangen dengan rumah dan kedinginan, tidak bisa dipungkiri kalau saya merasa betah berada di sini.
Kami menuju ke terminal Willer bus yang berada di luar JR Osaki Station. Pagi itu cuaca cerah dan belum banyak kendaraan yang melintas.
Kami menaiki bus tepat pukul setengah 8 pagi. Perjalanan menuju ke Osaka memakan waktu 8 jam. Ini adalah pemandangan yang berhasil saya tangkap selama perjalanan Tokyo-Osaka dengan bus. Akhirnya kami bisa melihat Fujisan dari balik kaca bus.
Kami tiba di Osaka tepat pukul setengah 4 sore. Kadang saya heran bagaimana orang Jepang bisa tepat waktu sampai ke hitungan menit. Kami turun di Umeda Sky Building. Dari sana, kami berjalan menuju Osaka Station untuk mengejar kereta ke Namba Station. Dari Namba Station kami kembali menaiki Nankai Airport Express menuju Kansai Airport.
Pesawat kami yang menuju Kuala Lumpur take off jam 10 malam. Ada sedikit drama di dalam pesawat. Penumpang berkulit putih di belakang saya kehilangan passportnya. Kondisinya jadi agak ribut karena dari hasil nguping, saya dengar dari Kuala Lumpur dia mau terbang ke Phuket. Kalau dari logatnya, I assumed that he was an Ukrainian or Russian. Saat mau landing, saya mendongak ke bawah untuk memakai sepatu yang sebelumnya saya lepas. Ndilalah ada passport bersampul merah bertuliskan Rossiyskaya dalam cyrylic. Ternyata passport Rusia yang hilang itu selama ini ada di bawah seat saya. Saya serahkan passport itu ke mas Rusia di seat belakang. Have fun di Phuket yha mas.
Kami mendarat di Kuala Lumpur, transit selama kurang lebih 6 jam, lalu segera transfer flight ke Surabaya. Akhirnya kami pulang.
Bagi saya, Jepang adalah mimpi yang sudah saya pendam sejak 15 tahun lalu. Entah sudah berapa kali saya mencoba untuk mewujudkannya dengan beragam cara. 4 tahun lalu mimpi itu hampir terwujud, tapi ternyata Tuhan baru mengizinkan sekarang. Dalam hati saya yakin dan mengamini bahwa ini bukan pertemuan pertama dan terakhir saya dengan negeri sakura…
またね
(The view below was taken during the bus trip from Tokyo to Osaka on our last day in Japan)









