Lanjutan. 02 ••• Fasilitas Belajar (FasBel) Utk jadi fasilitas belajar (FasBel) ini, rada melawan naluriah orangtua. Butuh energi besar, butuh konsisten. Jadi FasBel ini berat, karena kadang ya harus menekan segala rasa yg merupakan naluri orangtua. Jadi FasBel, sulit di awal. Tp makin anak gedhe, makin mudah rasanya. Makin anak berproses menjadi mandiri, bisa mengambil keputusannya sendiri dengan pertimbangan resiko, semakin orangtua bisa melepas anaknya. Menjadi FasBel utk anak, ortu harus siap liat anaknya bersusah payah. Menjadi Fasbel utk anak, ortu harus siap liat anaknya merasakan perasaan gak enak (dengan output si anak nangis, kesal, dll dsb), untuk melatih anaknya belajar kecewa Ortu harus siap gak ikut campur ketika anak-anaknya bertengkar (selama masih adil dan aman), untuk melatih anak merasakan sengketa. Nah soal belajar jadi dewasa, tujuan awal belajar ini adalah jadi TERBIASA. Bukan jadi BISA. Jadi untuk jd FasBel anak agar dewasa, ortu perlu KONSISTEN. Konsisten ini bukan tega. Kalau tega, berarti membiarkan anak celaka. Tantangan BELAJAR, adalah situasinya pasti gak enak. Karena situasinya gak enak, maka anak jadi gak nyaman. Kalau gak nyaman, maka anak akan memaknai sebagai GAK USAH DILAKUKAN aja. Kenapa kok gitu? Ya karena orientasi berpikir anak-anak adalah ENAK VS GAK ENAK. Sedangkan orang dewasa orientasinya adlh PERLU VS GAK PERLU. Ketika anak gak nyaman dlm proses belajar dewasa, bersiaplah disebelin sama anak. Ketika anak melakukan kesalahan, biarkan saja dia merasakan akibatnya, asal masih aman (tidak membuat celaka). Salah itu adalah HAK. Salah akibatnya GAK ENAK. Kalau gak enak maka GAK DIULANGI. Jadi KONSISTEN ini, artinya orangtua memberi kesempatan anak menanggung konsekuensi atas pilihan tindakannya. Juga konsisten memberikan kesempatan anak utk merasakan kecewa. Anak butuh belajar kecewa utk bisa mengekspresikan emosi dengan aman dan nyaman. Kriteria aman: - tidak merusak - tidak merugikan/melukai diri sendiri - tidak merugikan/melukai orang lain Anak belajar merasakan kecewa, bukan berarti anak nantinya bakal kebal dari rasa kecewa. Karena selama jadi manusia, pasti bakal ada kejadian yg bikin kecewa di hidupnya. Kalau ortu melarang anak untuk merasa kecewa, maka sama artinya ortu melarang anak menjadi manusia yg seutuhnya (yg punya emosi dan jiwa, gak cuma fisik semata). Kalau sejak dari anak-anak sudah dilarang jadi manusia yg seutuhnya, gimana bisa jadi manusia dewasa? Manusia dewasa yg bisa mengelola akal dan rasa? ~~~ bersambung.. – Read on Path.