
tannertan36
No title available
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr

Love Begins
Interview Vampire Daily
🪼
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Cookie Run:Kingdom Official!
Mike Driver
Sweet Seals For You, Always
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
The Stonewall Inn
Doug Jones
Keni
macklin celebrini has autism

oozey mess

PR's Tumblrdome
almost home
Color Me Curious
$LAYYYTER
seen from Poland
seen from Ukraine
seen from United States
seen from Indonesia

seen from United States
seen from France

seen from United States
seen from Netherlands

seen from Portugal

seen from United States
seen from Suriname
seen from Ukraine

seen from United Kingdom
seen from Chile
seen from United States

seen from Netherlands

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Brazil

seen from Germany
@tiny-ni
putaran
ketika dunia terasa kembali berputar. pikiran ikut berputar lebih cepat. dua kali. tiga kali. berkali-kali lipat berputar dengan cepat.
oh, kapan ini semua berakhir?
dengan sengaja seluruh pintu ditutup rapat. agar tak terbuka lagi, setidaknya harus seperti itu. dari dalam, dari dalam ada yang salah. merasa tak apa bila dibuka sedikit. nyatanya oh nyatanya, kembali terulang.
oh, sampai kapan rasa itu hilang?
kesibukan. mungkin kesibukan jawabannya. mari bekerja. mari bermain. mari menjelajah. jangan sisakan kesendirian. nanti menyesal, sangat menyesal. di kesendirian si lama tinggal menemani. kembali.
oh, ayolah. hentikan.
tidak. tidak dan tidak. tidak akan berhenti. tunggu saja, mati rasa.
Matahari & Pejuang
Matahari selalu mengajarkan sesuatu yang sering luput diperhatikan. Setiap pagi ia terbit tanpa pernah memastikan apakah hari itu akan dipenuhi langit cerah atau awan gelap. Setiap sore ia tenggelam tanpa menganggap dirinya kalah karena harus menghilang. Esoknya ia kembali. Lagi. Dan lagi. Bukan karena ia tidak pernah lelah, melainkan karena begitulah seharusnya sebuah perjalanan dijalani.
Menjadi pribadi yang lebih baik juga demikian. Bukan tentang selalu berada di puncak, bukan pula tentang tidak pernah jatuh. Melainkan tentang keberanian untuk kembali memilih arah yang sama setelah hari yang terasa begitu panjang. Sebab ada kalanya seseorang berhasil menahan amarahnya, namun gagal menjaga lisannya. Ada kalanya ia mampu memaafkan orang lain, tetapi belum mampu memaafkan dirinya sendiri. Apakah itu berarti seluruh usahanya sia-sia? Atau justru di situlah letak perjuangannya?
Sering kali kita mengira perubahan harus terlihat besar agar berarti. Padahal matahari pun tidak mengubah langit dalam sekejap. Ia bergerak perlahan, hampir tak terasa, hingga tanpa disadari pagi berganti siang, siang berganti senja. Mungkin hati pun bekerja dengan cara yang sama. Ia tidak menjadi lebih baik dalam satu keputusan, tetapi melalui pilihan-pilihan kecil yang terus diulang, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Yang disebut pejuang bukanlah mereka yang tidak pernah tenggelam. Justru mereka yang setiap kali tenggelam, tetap percaya bahwa esok adalah kesempatan untuk kembali terbit. Sebab pada akhirnya, menjadi lebih baik bukan tentang seberapa cepat ia sampai, melainkan tentang seberapa setia memilih cahaya, meski berkali-kali harus memulai dari ufuk yang sama.
kembali ke tujuan awal
dirimu. dirimu. dirimu.
kembali lagi. ayo kembali. terus kembali.
harus. harus. harus.
perbaiki lagi. ayo perbaiki. terus perbaiki.
ingat. ingat. ingat.
bersinar lagi. ayo bersinar. terus bersinar.
kembali. kembali. kembali.
bertumbuh lagi. ayo bertumbuh. terus bertumbuh.
tujuan. tujuan. tujuan.
niatkan lagi. ayo niatkan. terus niatkan.
awal. awal. awal.
mulai lagi. ayo mulai. terus mulai.
dirimu. harus. ingat. kembali. tujuan. awal.
jangan
jangan kembali, setelah pergi. jangan mencari, setelah melepas. jangan menoleh, setelah melangkah. jangan mengulang, setelah mengakhiri. jangan membuka, setelah menutup.
lalu...
jangan pergi, setelah datang. jangan meragukan, setelah memilih. jangan mengubah, setelah menerima. jangan melepaskan, setelah menggenggam. jangan berhenti, setelah sejauh ini.
kau harus tegas pada pilihan. teruslah berjalan, ikuti petunjuk. hidupmu akan baik-baik saja.
30 yang Penuh Luapan
Mula-mula hanya satu tetes. Lalu menjadi genangan. Lalu berubah menjadi arus yang tak lagi bisa dibendung.
Di dalam rentang yang bahkan tidak terasa panjang, terlalu banyak hal datang silih berganti. Satu mengetuk pelan lalu menetap. Yang lain datang seperti badai lalu meninggalkan porak-poranda. Serta beberapa yang hanya lewat sesaat, namun jejaknya bertahan jauh lebih lama daripada kehadirannya.
Begitu banyak yang tumpah dalam 30.
Tawa yang tak sempat disimpan. Marah yang akhirnya menemukan bentuknya. Rindu yang berkali-kali berpura-pura tidak ada. Takut yang bersembunyi di balik ketenangan. Dan asa yang diam-diam tumbuh lebih tinggi dari yang seharusnya.
Segala rasa melampaui batasnya.
Bahagia terasa terlalu bahagia. Kecewa terasa terlalu kecewa. Sunyi terasa terlalu sunyi. Sedih terasa terlalu sedih. Seluruh emosi hadir bersama-sama, berdesakan dalam rentang 30 yang penuh luapan.
Ular Tangga
Dua orang bermain ular tangga, kesalahan pertama. Kesalahan kedua, mereka mengira ada kata selesai. Awalnya seru. Dadu menggelinding, tangga dipanjat.
Naik, naik, naik. Ah, mudah.
Dadu dilempar. Waduh! Ular!
Turunnya cepat, naiknya lama. Lelah sekali. Setelah belajar dari pengalaman, mereka naik lagi. Lebih tinggi, lebih tinggi.
Satu orang hampir menang. Yang lain ikut senang, akhirnya lingkaran permainan ini akan putus. Katanya sih begitu.
Dadu dilempar. Waduh! Turun lagi.
Satu tertawa, satu kesal. Tapi kemudian bergantian peran demi keseimbangan ekosistem. Katanya sih begitu.
Ah, sekarang targetnya diturunkan saja! Naik satu tangga, jangan turun lagi!
Dadu dilempar. Waduh! Dasar ular!
waktu terbaik
langkah pernah tersesat arah, hati dipenuhi banyak resah, namun Tuhan tak pernah salah, meski jalan terasa susah.
ada doa yang belum sampai, ada ingin yang masih terurai, tapi semua akan selesai, pada waktu yang paling baik.
manusia hanya pandai berharap, sedang Tuhan menyiapkan jawab, hingga akhirnya hati menetap, pada takdir yang paling tepat.
Abu-Abu
Antara hitam dan putih, kamu adalah abu-abu.
Setidaknya, itu yang kamu katakan pada dirimu sendiri. Tapi bahkan tentang itu pun kamu tidak yakin. Mungkin kamu abu-abu. Mungkin kamu hanya terlalu takut memilih.
Kamu percaya bahwa setiap orang menyimpan kegelapan. Kamu melihatnya di wajah-wajah yang tersenyum terlalu lama, di tangan-tangan yang menawarkan bantuan dengan ketulusan yang sulit diukur. Kamu berpikir tidak ada yang benar-benar baik.
Lalu percayamu beralih saat seseorang mengulurkan payung kuning saat hujan. Seseorang mengingat hal kecil tentangmu yang bahkan sudah kamu lupakan. Dan tiba-tiba keyakinanmu retak. Mungkin manusia memang baik. Mungkin kamulah yang terlalu curiga.
Tetapi kecurigaan itu selalu kembali. Kembali duduk di sampingmu. Kembali menunggu di balik cermin. Kembali ke setiap percakapan dan setiap janji.
Bagaimana jika rasa sayang hanyalah bentuk lain dari kebutuhan? Bagaimana jika kebaikan hanyalah cara yang lebih sopan untuk meminta sesuatu? Bagaimana jika keburukan tidak pernah benar-benar pergi, hanya berganti rupa?
Kamu tidak tahu. Itulah masalahnya. Kamu tidak tahu.
Dunia meminta jawaban yang tegas, sementara yang kamu miliki hanya pertanyaan-pertanyaan yang terus bercabang.
Kadang kamu iri pada orang-orang yang dapat menunjuk sesuatu dan berkata ini benar atau ini salah. Mereka tampak begitu tenang. Seolah tidak pernah terbangun di tengah malam karena memikirkan kemungkinan bahwa mereka keliru. Seolah tidak pernah merasa bahwa setiap keputusan adalah pintu yang menutup seribu pintu lain.
Sedangkan kamu hidup di dalam kemungkinan-kemungkinan itu. Di ruang sempit antara percaya dan tidak percaya. Antara datang dan pergi. Antara mencintai seseorang dan bertanya-tanya apakah yang kamu rasakan benar-benar cinta. Antara menjadi orang baik dan menyadari betapa mudahnya menyakiti orang lain.
Mungkin karena itulah kamu menjadi abu-abu.
Bukan hasil percampuran hitam dan putih yang sempurna. Melainkan warna yang muncul ketika batas di antara keduanya mulai kabur. Warna dari jawaban yang tidak selesai. Warna dari keyakinan yang terus bergeser. Warna dari seseorang yang berdiri di depan dua jalan terlalu lama, sampai lupa ke mana sebenarnya ia ingin pergi.
Jadi, apakah keraguan membuatmu lebih dekat pada kebenaran? Atau justru membuatmu tersesat semakin jauh?
Tidak ada yang mampu menjawab. Yang tersisa hanya warna itu.
Abu-abu.
Mengendap pelan di dalam dirimu, seperti kabut yang tidak cukup tebal untuk menutupi jalan, tetapi juga tidak cukup tipis untuk membuat arah terlihat jelas.
Si Pandai Berpura-Pura
Dia tahu semuanya, tetapi pengetahuan kadang hanya benda tajam yang tidak selalu ingin digenggam dengan tangan telanjang. Maka dia menyimpannya di tempat yang tidak diberi nama, di sudut kepala yang pintunya sengaja tidak dikunci, tetapi juga tidak dibuka.
Dia memilih berpura-pura tidak tahu, karena dalam ketidaktahuan yang disusun dengan rapi, dia masih bisa berjalan seperti orang yang utuh. Seperti seseorang yang tidak sedang retak di bagian yang tidak terlihat cermin.
Di dunia ini, ada banyak cara untuk kehilangan. Kehilangan orang, kehilangan arah, kehilangan suara sendiri yang tiba-tiba terdengar seperti milik orang lain. Tapi yang paling sunyi adalah ketika seseorang memilih untuk tetap hadir sambil meniadakan apa yang sebenarnya sudah jelas terlihat.
Dia melakukannya secara berulang. Setiap pagi dia mengenakan wajah yang sama, seperti pakaian yang sudah disetrika dari malam sebelumnya. Dia melangkah ke hari-hari yang berpura-pura tidak mengenalnya, dan dia pun berpura-pura tidak mengenal mereka kembali.
Semacam ada keselamatan dalam berpura-pura. Seperti kamar tanpa jendela, tidak ada yang masuk, tidak ada yang keluar, dan di dalamnya dia bisa mendengar denyut yang dianggap sebagai kehidupan, meskipun mungkin itu hanya gema dari sesuatu yang sudah lama pergi.
Dia tahu semuanya. Tetapi memilih berjalan seolah-olah dia masih percaya pada kemungkinan-kemungkinan kecil yang tidak akan pernah benar-benar memanggil namanya.
kemungkinan yang mustahil untuk terjadi
jika ini memang akhirnya, mungkin sudah waktunya untuk membereskan semuanya. beberapa hal terasa lebih baik jika diselesaikan dengan utuh daripada dibiarkan menggantung bersama waktu. sudah terlalu banyak pertanyaan yang dibiarkan mencari jawabannya sendiri, terlalu banyak asumsi yang tumbuh di ruang yang tak pernah diisi penjelasan, dan terlalu banyak kebingungan yang terus kembali meski berkali-kali berusaha ditinggalkan.
mungkin tidak semua hal harus dipahami. mungkin tidak semua luka membutuhkan alasan. namun rasanya akan lebih menenangkan jika apa yang memang perlu diselesaikan akhirnya diselesaikan. apa pun hasilnya. bahkan jika pada akhirnya tidak ada yang berubah. bahkan jika akhirnya hanya membenarkan apa yang selama ini telah diketahui. setidaknya tidak ada lagi ruang bagi pikiran untuk terus berputar pada kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah benar-benar ada.
lagi pula, jalan yang dipilih sekarang mungkin telah berbeda. mungkin itulah alasan pesan ini tak pernah tersampaikan, melihat bahagia yang tak berani untuk diusik. dan mungkin karenanya, kehidupan akan terus berjalan ke arah yang berbeda pula. dan jika kemungkinan itu terjadi, maka tak apa. sungguh tak apa. itu semua sudah ada dalam beberapa skenario yang telah dibuat. tapi karena itu, rasanya lebih baik meninggalkan semuanya dalam keadaan yang baik pula, bukan dalam bentuk pertanyaan yang terus hidup diam-diam di kepala. agar tidak ada lagi yang perlu diterka. agar tidak ada lagi yang perlu dicari. agar tidak ada lagi kebingungan yang datang tanpa diundang ketika segala sesuatu sebenarnya telah lama berlalu.
apapun hasilnya, maka biarlah diterima dengan tenang. apapun hasilnya, maka biarlah menjadi jawaban yang utuh. terkadang, ketenangan datang dari keberanian untuk menghadapi jawaban apa adanya.
agar setelah ini tidak ada lagi yang perlu diterka-terka. tidak ada lagi kebingungan yang diam-diam mengganggu langkah. tidak ada lagi pertanyaan yang terus mencari ruang untuk menoleh kembali, jika itu terus mengusik.
karena pada akhirnya, yang paling diinginkan adalah melihat hidup berjalan dengan tenang.
terlebih, hidupmu bahagia, tanpa banyak kebingungan.
kumpulan tanya
seharusnya semuanya berhenti pada momen itu.
bukankah memang seperti itu seharusnya? ketika kenyataan telah menunjukkan dirinya, bukankah langkah itu seharusnya berhenti?
lalu kenapa masih terus berputar?
kenapa masih kembali ke tempat yang sama di dalam kepala? kenapa masih mengulang hal yang sama, pertanyaan yang sama, dan kemungkinan-kemungkinan yang sama?
padahal setelah momen itu, apa sebenarnya yang didapat?
ketenangan? tidak. jawaban? rasanya juga tidak.
jika yang ditemukan hanya rasa sakit, lalu kenapa masih terus mencari?
apakah karena masih ada pertanyaan yang belum terjawab? apakah karena masih ada bagian cerita yang hilang? apakah karena ada penjelasan yang seharusnya pernah diberikan namun tidak pernah sampai? atau apakah semua itu hanyalah alasan yang dibuat agar perjalanan ini tetap memiliki tujuan?
memangnya jika semua pertanyaan itu dijawab, apakah semuanya benar-benar akan selesai? jika semua penjelasan itu akhirnya didengar, apakah hati akan benar-benar tenang? jika semua bagian yang hilang akhirnya ditemukan, apakah rasa sakit ini akan berkurang?
atau justru akan melahirkan pertanyaan baru?
lalu jika nanti semua pertanyaan telah habis, apa yang akan dicari setelahnya? dan jika ternyata tidak ada apa-apa di ujung pencarian ini selain luka yang sama, kenapa langkah itu tidak berhenti sejak dulu?
apa karena masih ada harapan yang diam-diam bersembunyi? apa karena ada sesuatu yang belum sanggup diterima? atau karena sebenarnya yang dicari bukan jawaban, melainkan alasan untuk tetap tinggal lebih lama di sekitar kenangan yang sudah seharusnya ditinggalkan?
entahlah.
yang pasti, sudah terlalu banyak putaran yang ditempuh. sudah terlalu banyak malam yang dihabiskan untuk memikirkan hal yang sama. sudah terlalu banyak rasa sakit yang dibawa pulang dari tempat yang sama.
lalu sampai kapan?
sampai semua pertanyaan terjawab? sampai semua yang belum dijelaskan akhirnya tersampaikan? atau sampai akhirnya lelah itu datang, dan memaksa untuk berhenti, meski tanpa membawa jawaban apa pun?
bulan yang lalu
ia hampir membenci bulan yang lalu, bukan karena telah mengubah banyak hal. tapi karena pikirannya sendiri yang berisik, mengisi langit dengan asumsi yang tak pernah diucapkan.
ia sempat ingin memalingkan wajah dari cahaya yang dulu dikirimkan sebagai doa, yang dulu diharapkan jatuh tepat di dalam kehidupan. jadi nyata, jadi hangat, jadi senyuman.
kemudian ia tersadar, bulan itu tidak pernah berhenti menjadi dirinya sendiri.
datang, tepat waktu. di waktu yang tepat.
tanpa bertanya siapa yang sedang menunggu, tanpa peduli siapa yang sedang kecewa.
bulan itu datang membawa bahagia. persis seperti doa yang pernah dipanjatkan diam-diam, lalu ia kembali tersadar, ternyata yang berubah bukanlah langitnya tapi caranya memaknai segala hal.
jadi sebenarnya… untuk apa harus membencinya?
bukankah bulan yang lalu hanya menjalankan hal yang bahkan dulu didoakan dengan sepenuh hati untuk kehidupannya?
Rumah Sakit
Rumah sakit selalu memiliki caranya sendiri untuk membuat waktu berjalan berbeda. Di tempat itu, banyak hal yang sebelumnya terasa jauh mendadak berdiri tepat di hadapan mata.
Hari itu, di suatu malam pada bulan terakhir. Ketakutan datang dari berbagai arah. Dari hal-hal yang terlihat. Dari hal-hal yang terdengar. Dari kemungkinan-kemungkinan yang belum terjadi. Ada rasa takut akan apa yang sedang berlangsung, dan ada rasa takut yang lebih besar terhadap apa yang mungkin datang setelahnya.
Di tengah segala kecemasan itu, ingatan juga tiba-tiba memilih kembali ke masa lalu. Ke waktu ketika tempat yang sama pernah menjadi saksi bagi keberanian yang tak disangka-sangka. Ketika rasa takut pernah muncul, lalu perlahan mereda karena ada alasan untuk tetap kuat. Kenangan itu datang begitu saja.
Kenangan, ternyata, memiliki sisi yang kejam pula. Kenangan yang dahulu pernah menjadi sumber keberanian, malam itu justru berubah menjadi sumber kehilangan. Tersadar akan dihantam kenyataan yang begitu keras. Muncul kesadaran bahwa beberapa hal mungkin hanya akan tinggal sebagai kenangan. Bahwa tidak semua momen yang pernah menguatkan dapat terulang kembali sebagaimana dulu.
Semuanya begitu kacau dan semakin kacaulah ketika bertemu di tempat yang sama, pada malam yang sama, meminta ruang di dalam dada yang sudah terlalu sesak.
Tak ada lagi yang mampu ditahan. Ketakutan, kehilangan, kerinduan, kelelahan, kesakitan dan segala hal yang selama ini berusaha disimpan baik-baik akhirnya bercampur menjadi satu.
Lalu di malam itu, setelah sekian lama, semuanya pecah. Sepecah-pecahnya.
barangkali
barangkali yang paling menyakitkan bukanlah apa yang pergi, melainkan dunia yang ikut runtuh setelahnya. sebuah tempat yang pernah diberi makna begitu dalam, dijaga dalam diam seperti sesuatu yang sakral, kini hanya menjadi pengingat bahwa tidak semua harapan memiliki jalan menuju kenyataan. sebuah tempat yang dahulu disimpan agar memiliki makna yang begitu dalam, akhirnya tetap menjadi saksi bagi kisah yang indah. hanya bukan kisah yang selama ini hidup di dalam kepala.
barangkali sejak awal semuanya hanyalah kumpulan angan yang tumbuh terlalu tinggi. tentang waktu yang dipercaya akan mempertemukan kembali segala yang pernah terpisah, tentang hari-hari yang dibayangkan datang setelah masing-masing selesai bertumbuh, tentang daftar-daftar kecil yang ditulis diam-diam untuk suatu masa yang dianggap pasti akan tiba.
barangkali karena semua itu disimpan sendirian, maka tak ada yang perlu meminta maaf. tak ada yang benar-benar salah. tak ada yang pernah tahu betapa jauh langkah-langkah khayal telah berjalan mendahului kenyataan. tak ada yang pernah diminta menjaga harapan-harapan itu selain diri sendiri yang menciptakannya.
barangkali ada cara-cara yang dipilih dengan keyakinan bahwa waktu akan menjelaskan segalanya. jarak dianggap cukup untuk menyampaikan maksud yang tak terucapkan, diam dipercaya mampu menjaga hal-hal yang tak sanggup dijelaskan. namun ketika terlalu banyak ruang dibiarkan kosong, makna sering kali berubah menjadi dugaan. dan dugaan yang tumbuh terlalu lama kerap melahirkan pengertian yang berbeda dari yang semula ingin disampaikan.
barangkali karena itulah yang semula hanya dimaksudkan sebagai langkah menjauh untuk berproses, perlahan berubah menjadi arah pulang yang berbeda. yang awalnya diyakini akan menjadi jeda, justru menjelma menjadi akhir yang sungguhan. bukan karena kurangnya makna yang pernah ada, melainkan karena jalan yang ditempuh terlalu berliku hingga tujuan akhirnya tak lagi terlihat oleh mata yang menerka.
barangkali luka ini lahir bukan dari kenyataan yang terjadi, melainkan dari kemungkinan-kemungkinan yang tak pernah sempat hidup kembali. dari percakapan yang tak pernah berlangsung kembali, perjalanan yang tak pernah dimulai kembali, dan kenangan yang tak diciptakan kembali. satu per satu harus dilepas.
barangkali itulah yang membuatnya terasa begitu berat. yang dikuburkan bukan hanya harapan, melainkan seluruh masa depan yang pernah dibayangkan dengan begitu rinci oleh dirinya sendiri. dan ketika semuanya harus ditinggalkan di tempat yang sama karna sudah tak ada lagi ruang, tersisa keinginan sederhana untuk tidak lagi merasakan apa pun. pikirnya, mati rasa terdengar lebih ringan daripada terus hidup bersama reruntuhan yang masih enggan ditinggalkan.
bayang-bayang di antara cahaya
ia sering menatap dirinya seperti orang asing.
bukan seperti adiknya, yang seolah lahir dengan cahaya di kedua telapak tangan. yang keberadaannya membawa bangga, yang namanya disebut dengan senyuman. bukan pula seperti kakaknya, yang hari-harinya selalu ditanyakan. yang kelelahannya diperhatikan. yang langkah-langkahnya dianggap penting untuk diketahui.
sedangkan ia berdiri di antara keduanya seperti bayangan samar yang nyaris tak terlihat.
terlalu banyak diam yang disalahartikan sebagai tidak peduli. terlalu banyak jarak yang dianggap sebagai ketidakpedulian. terlalu banyak langkah yang terlambat dijelaskan hingga akhirnya tampak seperti pengabaian.
ia hanya bingung.
bingung harus menjadi siapa agar layak dicintai. bingung harus bersikap seperti apa agar tidak mengecewakan. bingung harus berjalan ke arah mana ketika setiap jalan tampak membawa dirinya semakin jauh dari harapan orang-orang yang dicintainya.
ia sering menyalahkan dirinya sendiri.
karena rumah itu telah memberinya begitu banyak hal, sementara yang bisa ia berikan kembali terasa begitu sedikit.
ia menganggap dirinya adalah kumpulan kecewa yang berjalan. kecewa yang dipelihara oleh ucapan-ucapan yang tidak pernah terucap.
oleh perhatian yang lupa diberikan. oleh pelukan yang tak pernah ia mulai. oleh pesan-pesan yang ia tunda sampai akhirnya tak terkirim sama sekali.
ia tahu dirinya terlihat acuh.
namun tak ada yang tahu bahwa di balik sikap acuh itu ada seseorang yang setiap malam mengadili dirinya sendiri. seseorang yang menghitung satu per satu kekurangan miliknya, yang membandingkan dirinya hingga tak tersisa sedikit pun alasan untuk merasa cukup.
ia bukan tidak ingin membahagiakan mereka.
justru karena terlalu ingin, ia menjadi takut. takut salah. takut kurang. takut seluruh usahanya ternyata masih belum berarti apa-apa.
dari ketakutan itulah lahir diam yang panjang. lahir jarak yang tak sengaja. lahir wajah yang terlihat tak peduli. hingga akhirnya semua orang mengira ia tidak memikirkan apa-apa.
padahal kepalanya tak pernah benar-benar tenang. padahal setiap hari ia membawa rasa bersalah ke mana-mana.
oh sungguh, menjadi dirinya sendiri saja sudah begitu sulit, apalagi menjadi anak yang berhasil membuat kedua orang tuanya bangga.