"Yang lebih penting dari membangun ekspektasi adalah kesiapan untuk menerima dan bersikap ketika eskpektasi tidak berpihak sebagaimana realita."
Dalam hidup, fungsi ekspektasi adalah sebagai energi dan kompas terhadap tujuan yang seseorang ingin raih. Perannya adalah memandu seseorang untuk dapat mencapai satu tujuan yang diinginkan, melalui jalan yang telah ditetapkan.
Ketika seseorang telah membangun ekspektasi terhadap hal yang diperjuangkan, artinya dia harus siap menanggung segala konsekuensi (usaha dan pengorbanan) yang harus dilalui. Tidak boleh tidak.
Akan tetapi, memang pada akhirnya, keberhasilan tidak cukup berbicara mengenai ekspektasi dan usaha semata, masih banyak variabel yang juga memiliki peran dalam menunjang sebuah keberhasilan.
Manusia tentu memiliki batas dari segi kontrol akan variabel-variabel itu. Sebab, kehidupan memang masih menyimpan segudang misteri, ada banyak variabel hidup yang tidak mampu kita ukur dan petakan.
Akhirnya, ekspektasi yang tadinya merupakan sumber kobaran api semangat, mendorong diri kita sampai ke titik terdekat menuju akhir yang didambakan, seketika padam mendapati air bernama, realita.
Di saat itulah terkadang kita mulai ragu untuk, 'pentingkah manusia berekspektasi?'
Ketika realitas yang bahkan sampai menghentikan langkahmu itu menghadangmu, cobalah untuk tetap tenang dan lihatlah ke belakang.
Lihatlah sudah sejauh itu ternyata kaki mungilmu itu melangkah, apa saja yang telah ia lalui, sehingga membentukmu menjadi pribadi yang lebih kuat dan tahan banting ini.
Kecewa dan sedih adalah sebuah pilihan, sebagaimana bangga dan bahagia adalah juga pilihan. Bangga akan proses yang telah kamu lalui, rintangan dan ujian yang berhasil satu persatu kamu lewati.
Ini hanya soal penerimaan dan bagaimana harus bersikap. Akan tetapi, disitulah peran mereka begitu berharga dalam menengahi ekspektasi dan realita yang tak terkendali.
Ruang Ekspektasi, 25 Juli 2022. 11.30 WIB.