Jalan hidup setiap orang itu berbeda dan melewatinya penuh tantangan. Cara mengatasi masalah juga pasti beragam, ada orang yang selalu berpikir positif dan konsisten pada visi besarnya. Ada juga sebagian orang juga awalnya punya impian besar namun harus "berubah" oleh faktor eksternal diluar dirinya. Salah satunya lingkungan dan masa lalu.
Perubahan impian seseorang bisa berkonotasi baik dan juga bisa menjadi lebih buruk. Seorang Jack Ma, CEO Alibaba perusahaan e-comerce pernah di tolak beberapa kali saat melamar kerja. Atau mungkin seorang anak kurang percaya diri mengutarakan impian besarnya hanya karena pernah di tertawakan oleh teman sepermainan.
Faktor kenapa sebagian dari kita masih "jalan di tempat" dalam mengaktualisasikan mimpi-mimpi yang sudah terencana, mungkin saja kita masih terikat dengan masa lalu. Malah ada yang menghadapi jalan buntu. Kenapa kita harus keluar dari bayang-bayang suram itu?. Masa lalu itu seperti lampu spion pada motor, untuk melaju ke depan seseorang hanya akan sesekali menoleh ke belakang. Celakahlah orang yang selalu menoleh kebelakang.
Dalam buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring, saya mengutip sebuah konsep menarik yang harus diterapkan. Jadi dalam hidup ini ada dua kondisi, kondisi internal, dalam diri kita yang sifatnya tidak bisa di ubah, oleh kita atau orang lain. Contoh cita dan impian, kondisi fisik, kebahagiaan. Ada juga kondisi eksternal, diluar diri kita, kondisi ini sudah pasti untuk kita bisa mengubahnya. Misalnya seperti penilaian orang-orang, sugesti buruk disematkan bisa di ubah ke hal-hal yang positif. Cobaan yang datang bisa dengan menghadapi atau mungkin lari darinya. Apalagi tantangan, bisa di tranformasikan menjadi peluang untuk batu loncat ke depan. Dua kondisi ini adalah dua hal berbeda dan saling terpisah.
Pada kenyataannya, kebanyakan dari kita masih mencampuradukan dua kondisi itu. Contoh sederhananya, kita menjadi tidak bersemangat hanya karena perkataan kurang menyenangkan yang ucapkan teman. Parahnya, kita malah balik menyalahkan diri atas ucapan itu. Sebaliknya, kita akan sangat senang berjam-jam karena di puji-puji teman sekelas. Orang seperti ini sulit bergerak maju kedepan, karena akan selalu bereaksi dan bergantung pada sesuatu diluar dirinya. Wajarlah berteman sengsara dan hidupnya stagnan.
Sebaliknya, ada individu yang bisa memisahkan kondisi internal dan kondisi diluar dirinya. Lapang menerima kondisi dirinya sendiri, sibuk mengoreksi kesalahan dan memaksimalkan kelebihan tanpa harus selalu terpengaruh oleh lingkungan disekitarnya. Berbahagialah mereka.
Dari buku itu juga, saya mengikutip perkataan seorang Kaisar Romawi yang sangat berpengaruh, Marcus Aurelius. Ia pernah berkata, " Jika kamu bersusah hati karena hal-hal eksternal, kesusahan itu datangnya bukanlah dari hal tersebut, tapi dari opinimu mengenai hal itu. Dan kamu memiliki kemampuan mengubah opini itu, kapan saja".
Buku yang sangat menarik untuk dibaca.