Tidak ada pilihan selain menjadi kuat.

Kaledo Art

Origami Around

No title available
Today's Document
Stranger Things
will byers stan first human second
Cosimo Galluzzi

roma★
No title available
Alisa U Zemlji Chuda

shark vs the universe
DEAR READER
Lint Roller? I Barely Know Her
Misplaced Lens Cap

PR's Tumblrdome
taylor price
styofa doing anything

Discoholic 🪩

izzy's playlists!
Acquired Stardust

seen from Australia

seen from Spain
seen from Japan
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Australia
seen from France
seen from T1

seen from United States

seen from Germany

seen from United States

seen from Canada

seen from Malaysia
seen from Canada

seen from Australia
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Spain
@tulisanadia
Tidak ada pilihan selain menjadi kuat.
Life update di awal tahun 2025
Mampir ke tumblr karena aku baru buka laptop lagi HAHAHAHA. Kalau gak ada kelas atau hal urgent, selama setahun kemarin aku gak buka laptop. Selain karena laptop-ku sudah rewel (telah membersamaiku 10 tahun lebih), juga karena aktivitas sehari-hari yang tidak membutuhkan laptop alias aku banyak menghabiskan waktuku bersama anak dan suami. Ada hp dan tablet juga sih jadinya yang cukup dari itu aja device nya.
Setahun ke belakang ternyata aku benar-benar berubah dalam banyak hal, tentuuuu banyak belajar juga. Aku rasa memang hamil-melahirkan-menyusui-mengurus anak itu life changing sekaliiiiii. Tapi aku bahagia dan bersyukur banget tentunya.
The days are long, but the years are short. Itu yang aku benar-benar rasakan semenjak menjadi seorang Ibu. Gimana tidak, tiap hari aku berdoa supaya bisa menjalani hari dengan baik, paling gak sabar menunggu suami pulang kerja, dan ternyata itu cepat loh kalau di lihat ke belakang. Tapi pas dijalani nunggu suami pulang kok ya lama HAHAHA.
Meskipun begituuuuuuuu aku senang sekali membersamai anak aku di rumah. Begini ya rasanya gak ada deadline, tapi deadline nya sama Allah langsung xixi. Aku merasa ketika ada anak itu aku malah dilatih untuk beradaptasi secara cepat dan tiap hari belajar terus. Pertumbuhan dan perkembangan anak itu butuh stimulasi, kalau terlewat maka akan jadi PR ke depannya. Alhamdulillah Allah memudahkan aku dan suami selama proses ini. Beneran deh, jadi Ibu itu kudu pintar. Atau ya dipaksa agar menjadi pintar.
Anywaysss, rutinitas yang banyak orang lihat seperti nganggur ini sebenarnya justru aku rasa gak nganggur sama sekali guys :') 24 jam Ibu kudu on karena perkara menyusui jalan terus mau itu tengah malam atau pagi buta sekalipun. Tapiiiii, alhamdulillah support systemku terkhusus suami selalu siaga sehingga aku masih bisa istirahat, masih bisa menikmati kehidupanku di dunia ini. Aku jadi bisa lebih memaknai peran seorang Ibu dan juga istri. Tentunya banyak sekali yang masih harus kupelajari, learning is a never ending process.
Semangat berproses dan bertumbuh terus ya Ibuuuuuuu. Semoga Allah jaga selalu.
Kebaikan itu: mendahulukan taat lalu nafsu mengikutinya seakan-akan keduanya bukan hal yang berbeda 🍂
Abu Darda' radhiyallahu 'anhu berkata, “Jika seseorang tiba pada waktu paginya, hawa nafsu dan amalannya akan berkumpul; apabila amalannya mengikuti hawa nafsunya, harinya adalah hari yang buruk. Akan tetapi, jika hawa nafsunya mengikuti amalan (baiknya), harinya adalah hari yang baik.”
(Shifatush Shafwah, hlm. 177)
Mulailah dari yang paling bisa kita mulai, sesedikit apapun. Kalau memang benar-benar mau berubah.
Sama halnya dengan alasan-alasan kita untuk tidak memulai. Begitupun mestinya sebaliknya, kita juga harus pandai-pandai mencari alasan untuk segera memulainya, sesedikit apapun.
33 Tahun dan mengapa belum menikah di usia ini?
Ini tentu bukan bercerita tentangku, tapi tentang pengamatan. Sebagai penulis, beberapa kali melakukan proses interview, ngobrol, bertukar pikiran, dan sebagainya. Dulu, pandangan seperti ini tidak banyak kutemukan karena dulu usiaku masih 24 tahun saat memulai karir. Sekarang, tahun ini telah beranjak 33 tahun, sebentar lagi anak pertama masuk SD. Dan beberapa kali juga, melalui istri, ditanya apa ada temanku yang bisa dikenalkan ke teman-temannya istri. Yang tahun ini, menjelang kepala tiga. Dari proses-proses yang risetku selama menulis dan apa yang terjadi, datanya tidak sesederhana itu. Kita berada di lingkungan yang baik, tidak serta merta membuat kita langsung ketemu pasangan hidup yang sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Dipadu padankan dengan obrolan bersama psikiater beberapa waktu terakhir. Ada beberapa pendapat subjektif yang bisa kuhadirkan dari seluruh kumpulan riset itu, nanti kalau kamu ada lainnya, boleh ditambahkan : 1. Kehidupan yang semakin materialistik, ukuran terhadap materi dan kesiapan materi menjadi parameter yang sangat menentukan dalam pernikahan. Dan ukuran ini membesar, seperti kepemilikan rumah, kendaraan, atau gaji dalam nominal tertentu, serta tuntutan hidup materialistik (apa-apa diukur dengan uang) ini berpengaruh pada pola pikir dan kesiapan orang untuk menikah. Memang, mempersiapkan finansial untuk menikah itu penting, tapi ketika semua keputusan berpusat pada uang - mendominasi pikiran. Itulah awal mula dari kondisi tersebut. Apakah kamu setakut itu pada masalah rezeki? Kondisi yang sangat mungkin berbeda dengan waktu orang tua kita dulu. 2. Kondisi mental dan emosional yang belum pulih. Percaya atau enggak, orang lain bisa merasakan apakah kita ini cukup stabil atau se-eror itu. Apalagi jika keeroran kita tervalidasi melalui asesmen. Kita perlu untuk mengakui dan menyadari kalau memang kita perlu meluangkan waktu untuk mengobati diri sendiri. Kalau pun butuh waktu beberapa tahun, ya itu bagian dari konsekuensi. Karena masuk ke dalam pernikahan memang memerlukan kondisi mental emosional yang cukup kuat. "Badai"nya sesuatu, dinamikanya sangat beragam, dan tantangan yang akan dihadapi sangat berbeda dengan saat kita masih single. Kita akan berkompromi dengan banyak sekali orang. Apalagi jika nanti kita memiliki anak. Mereka perlu orang tua yang sehat jiwa dan pikirannya. Agar jangan sampai, kalau saat kita memiliki trauma, ternyata tanpa sengaja menjadi penghambat bagi anak-anak kita. 3. Romantisasi keadaan. Belum menikah di usia tersebut sebenarnya itu bukan masalah, tidak ada panduan bahwa menikah itu harus usia 25-30. Tidak ada dosanya juga belum menikah di umur 30 lebih. Tapi, membiarkan diri meromantisasi keadaan sehingga dari sana kita merasa mendapatkan dukungan, validasi, pembenaran pendapat, dan apapun yang sebenarnya digunakan untuk menutupi kekhawatiran diri karena belum menikah. Alih-alih berusaha untuk membangun persepsi diri yang benar, pandangan hidup yang lebih luas, dengan demikian kita bisa memiliki value kita sendiri yang kuat, yang tidak goyah saat kita sendirian dikamar yang sepi, atau saat di tengah kumpulan keluarga.
4. Tidak siap dengan masalah. Kalau kata buku yang kubaca, menikah itu seperti memilih masalah yang akan kita jalani seumur hidup, jadi pilihlah masalah yang kamu mau menjalaninya. Tontonan berupa film, drama, dan romanitasi yang berseliweran di media sosial secara tak sengaja membangun kesadaran kita bahwa menikah itu pasti akan sebahagia itu. Ini juga berkaitan pada poin satu tadi salah satunya. Tidak siap dengan beragam masalah, harus beradaptasi dengan beragam kondisi, kompromi dengan pasangan, belum lagi hal-hal lainnya. Tidak setiap pernikahan itu selalu dimulai dengan sudah memiliki rumah, kadang harus ngontrak. Tidak dimulai dengan langsung ada mobil, harus kerja bertahun-tahun dulu. Belum lagi nanti kalau harus memilih sekolah anak yang disesuaikan sama budget keluarga. Belum lagi, bersosialisasi dengan masyarakat. Singgungan yang banyak itu akan menciptakan dinamika, salah satu dinamikanya adalah masalah-masalah tersebut. Belum lagi dinamika soal tinggal di mana, siapa yang akan ngejar karir duluan, dan berbagai pembagian peran dan tugas dalam keluarga. Apakah kamu siap menghadapi dan berkompromi dengan beragam masalah itu? Sesuatu yang memang sudah sepaket dengan pilihanmu untuk berkeluarga.
Apakah kamu bisa membayangkan? Empat dulu, ada banyak temuan lainnya dari hasil diskusiku selama ini. Pendapat di atas sangat subjektif, benar-salahnya tidak mutlak. Tapi semoga bisa menjadi pelajaran penting. Pelajaran yang membuat kita bisa memiliki perspektif yang lebih luas dalam mengamati sesuatu. Ada tambahan? (c)kurniawangunadi
Aku hanya berharap Allah menyapu semua yang ada dibenakku, meleburnya menjadi kebaikan yang bisa aku terima.
Medan Juang
Akhir-akhir sering dihadapkan oleh orang-orang yang cerita bagaimana senseinya (dosbing) sangat strict bahkan cenderung 'menyebalkan'. Di Jepang sangat terkenal kalau ada sensei yang sering menyulitkan kita dalam berproses atau bahkan untuk lulus. Ada juga sensei yang tidak terima alasan apapun yang berhubungan tentang keluarga, misalnya anak.
Setiap sehabis mendengarkan cerita yang beragam, aku sering kali merenung dan memikirkan apa maksud Allah sampai aku harus menerima informasi tersebut.
Alhamdulillah selama aku kuliah S1 dan S2 ini aku tidak pernah dihadapi dengan sensei pembimbing yang sulit, bahkan cenderung dibebaskan. Marahpun gak pernah, selalu baik dan ramah. Memang salah satu tantangan sensei S2 ini adalah sensei pembimbing aku harus paternity leave dikarenakan istrinya melahirkan dan terkena kanker. Jadilah aku dan beberapa teman harus ganti sensei pembimibing tesis. Alhamdulillah digantikan dengan sosok sensei yang sama baiknya, sensei pertama itu tipikal orang yang extrovert dan ceria, kali ini lebih introvert dan bijaksana.
Tentunya aku menceritakan kondisi kehamilanku saat ini, belum lagi ditambah fakta bahwa HPL aku cuma jeda 4 hari sebelum sidang tesis. Namun alhamdulillah, tidak ada tuntutan apapun untukku. Aku hanya diminta untuk memikirkan kondisi kesehatanku, sidang nanti seperti apa tidak perlu dikhawatirkan. Alhamdulillah..... Alhamdulillah...
Aku tersadarkan bahwa aku harus tetap bersyukur dengan segala kondisi yang ada. Aku dengan medan juangku. Alhamdulillah perjalanan tesis ini meski penuh cerita tapi Allah tetap mudahkan dan semoga selalu dilancarkan. Aku yakin juga orang-orang yang bercerita padaku tentang kondisinya adalah mereka yang kuat menghadapi medan juang mereka. Karena sejatinya setiap masing-masing dari kita memiliki medan juangnya tersendiri, tidak bisa apple to apple. Allah itu Maha Baik, pasti selalu ada kebaikan di setiap amanah, di setiap perjuangan ini.
Semangat!
N: *nunjukin video tiktok tentang terima kasih sudah mau sabar sama cewek yang rumit*
Dz: Kamu gak rumit *sambil geleng-geleng*
Pada akhirnya kita diterima oleh sosok yang menganggap kerumitan di kepala dan tingkah ini tidak rumit. Tidak ada yang rumit bagi mereka yang menerima, memahami, dan menghargai.
Itsumo arigatou.
I remember during the process of our marriage when I was unsure whether you were the one or not, my friend asked me, "Would you stay with him if this world is only you and him? Would you stay with him if this world is unsafe and unpleasant? Would you face everything with him?" If yes, then go for it.
Then, without any hesitation, my heart said yes. I was actually never unsure, but my mind kept trying to have other reasons.
I don’t know how I should pronounce you. If I call you mine, I know exactly that you are His. If I call you husband, it’s just your status after getting married to me. While I know that you are more than that.
May Allah protect our marriage as garments for one another until His Jannah.
هُنَّ لِبَاسٌۭ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌۭ لَّهُنَّ "Your spouses are a garment for you as you are for them." (Quran. 2:187)
Ada sileweran video “IRT tanpa penghasilan bukan berarti tidak ada kontribusi finansial.” Sekarang banyak juga ternyata yang bilang IRT full gak ada penghasilan, gak ada valuenya.
Aku lahir dan besar oleh Ibu yang tidak bekerja, tapi Ibu pernah punya brand sendiri dari mulai tas kulit dan fashion (dress + hijab), di awal menikah Ibu pernah bekerja juga. Tapi memang sudah tidak lagi, lebih banyak porsinya jadi IRT full. Lantas jika seperti itu apakah tidak ada kontribusi finansial?
Wow! MaasyaAllah justru Ayah aku bisa seperti sekarang karena Allah dan peran Ibu yang luaaaaaarrr biasaaaaaaa…. Ibu adalah contoh istri yang cerdas, sholehah, dan penuh kasih sayang. Pengorbanannya sungguh besar. Ibu punya pilihan untuk flexing, tapi Ibu bukan orang yang seperti itu. Ibu adalah orang ter-tawadhu yang pernah aku kenal. She inspired me a lot.
Lantas apakah kalau tidak berpenghasilan berarti tidak produktif? Wkwkwkwk, jam terjang Ibu panjang banget. Bahkan di usianya yang 50an ini masih mengantar adik sekolah. Pilihan jasa antar-jemput ada, tapi Ibu tidak mau. Karena Ibu ingin menjaga anaknya, salah satunya karena setiap antar-jemput anaknya menjadi salah satu cara ia melatih anaknya untuk menambah hafalan dan murajaah Al Quran selama di perjalanan.
Ibu adalah orang yang paling tahu prioritas dirinya sendiri. Value Ibu tidak berkurang. Meski aku sendiri punya rencana untuk tetap berpenghasilan ketika punya anak nanti, tapi aku sangat menghargai dan memahami Ibu yang tidak berpenghasilan. Mereka tetap punya value. Merkea tetap luar biasa. Mereka berperan penting dalam kehidupan. Love you Ibu!
Kamu pernah gak sih iri sama waktu-waktu suami pas sebelum ada diri kamu?
Walaupun sudah berteman belasan tahun dan hanya sebatas teman, rasanya iri aja sama waktu-waktu suami saat belum menikah dengan aku. Bagaimana hari-harinya, apa saja yang dilakukan, menikmati kehadirannya.
Sehingga seringkali aku meminta kepadanya untuk menceritakan hari-hari di mana tidak ada aku di hidupnya.
Mengetahui sosok dirinya dan kisah dalam hidupnya yang sebelumnya tidak aku ketahui. Itu semua membuat aku senang.
july 15
Teruntuk suamiku tercinta.
Tiap hari ingin menulis rasa syukur akan cinta yang terus membuncah dan tumbuh, tapi berujung urung menuliskannya karena terlalu sulit untuk ditulis atau bahkan dijelaskan. Harus memulai dari mana? Dan harus berakhir seperti apa? Sementara rasa itu sendiri tidak memiliki jeda dan tidak mereda.
Kok yo bisa hal itu menurutku rumit sekali sampai rasanya sesak berkelanjutan. Kemudian ketika diceritakan kepada suami, dia menjawabnya begitu mudah dicerna dan bisa aku terima.
Lalu sesak itu hilang.
Padahal itu bukan urusan dia juga. Mungkin itu kali ya, orang yang berada di luar zona yang kita persoalkan terkadang bisa lebih bijak dan lebih waras melihat persoalan tersebut.
Sekarang menjalaninya jadi lebih ringan. Lalaaaaalililiiiiiiii~ Tengkyuuu suamiiiiyy!
Tidak menyerah dalam belajar adalah salah satu caraku berkhidmat dalam hidup yang Allah berikan. Lebih sering hal itu pula yang menjaga kesadaranku bahwa aku adalah hamba dari Yang Maha sebelum segala peran yang harus dijalankan di muka bumi ini, sebelum menjadi seorang anak, seorang istri, dan orang tua. Apabila aku kehilangan hal itu, aku takut tenggelam pada pikiran pikiran dangkal yang disebabkan karena kebodohan seorang manusia bila tak memiliki ilmu.
Rezeki itu bukan perkara banyak atau sedikit, karena yang lebih penting adalah merasa cukup. Terkadang sedikit namun cukup itu lebih baik daripada banyak namun selalu merasa kurang.
Sesungguhnya rezeki Allah itu luas.
@hellofira | 19/11/22