Semula evaluasi diri akhirnya malah self blaming.
he wasn't even looking at me and he found me
EXPECTATIONS
Cosimo Galluzzi
Show & Tell
cherry valley forever

Andulka

Discoholic 🪩

izzy's playlists!
Today's Document
RMH
Sade Olutola
Claire Keane
Sweet Seals For You, Always
𓃗
Cosmic Funnies
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
🩵 avery cochrane 🩵
No title available

Janaina Medeiros
$LAYYYTER
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Canada
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Netherlands
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Russia

seen from United States
seen from United States
@tulisanjemari
Semula evaluasi diri akhirnya malah self blaming.
Semuanya memang salah aku, bukan salah keadaan. Kapan aku ga cerobohnya?
I stop dreaming because everything that I want doesnt deserve to be mine.
Dari sekian banyak anugerah entah itu talenta, rupa yang cantik, atau otak cemerlang. Aku ingin banget punya otak cemerlang. Nyatanya tidak ketiganya. Entah udah berapa banyak psikotest dan test-test lain yang sudah aku lalui, dan tidak pernah membuahkan hasil dari memperlajarinya bermalam-malam, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Aku layaknya dimana?
Aku kapan, ya? Kok orang lain terus.
Thats so sad, i keep seeking for attention from stranger instead of my real friends.
Time Capsule
Di ulang tahunku yang ke-17 beberapa tahun lalu, aku iseng membuat time-capsule. Isinya surat-surat yang aku tulis ditahun itu untuk aku di masa depan, lebih tepatnya akan aku buka saat aku menginjak usia 25 tahun nanti. Jarak waktunya memang cuma 8 tahun yang seharunya belasan tahun. Aku pilih usia 25 tahun karena ku rasa diusia itu aku sudah lulus menempuh pendidikan formal, usia 25 akan jadi penengah adolescene, dan yang terakhir alsannya adalah aku tidak tahu jika aku harus membukanya 15 tahun lagi apakah aku masih hidup atau tidak? Jadi 8 tahun adalah pilihaku.
Isi kotaknya hanya ada surat-surat random seperti apa yang aku pikirkan di bulan itu, surat nasihat untuk aku di masa depan, surat pertanyaan, surat tentang aku dan teman2ku dan perintilan kecil yang membekas di hati.
Aku sempat cheating membuka 1 surat 2 tahun lalu haha, tapi ternyata aku sudah lupa isinya. Aku punya 2 time capsule. Yang pertama, time-capsule yang aku tulis saat berulang tahun ke-17. Kedua, time capsule yang aku buat dengan toples agar aku bisa isi secara berkala setiap tahun. Di time capsule ke-2 aku sudah kenulis 3 surat dari tahun 2018-2020 dan akan aku terus isi selanjutnya.
Walaupun terlihat ga penting atau biasa saja, aku punya alasan khusus membuatnya.
Aku ingin menyamangati diriku yang berusia 25 tahun nanti, setelah itu jika Tuhan menghendakiku untuk berkeluarga dan mempunyai anak nanti, aku ingin sekali memberikan capsule2 time ini pada anakku sebagai hadiah ulang tahun saat ia belanjak dewasa nanti. Mereka harus tahu, apa yang Shalma rasakan semasa remaja akan relate dengan mereka nanti.
Alasan terakhir, bila memang usiaku tidak panjang. Aku harap orang-orang rumah menemukan kotakku ini dan membaca surat yang aku tulis berdasarkan perasaanku kala itu, seberapa jauh aku sudah berjuang karena kegagalan, agar mereka tahu akupun tengah berpolemik dengan diriku sendiri.
Aku harap alasan di paragraf sebelum yang di atas dapat aku lakukan. Sejauh ini, hanya itu yang membekas dari tahun ke tahun bagiku yang hanya memiliki circle pertemanan kecil karena aku tidak banyak explore friendship, jikapun bisa aku mau sekali! Seperti merayakan hal kecil ketika aku berhasil, pergi karaoke, hang out malam bersama, vidio call hingga pagi hari.
November 2020
Ukuran Bahagia
Aku sering sekali merasa cukup tapi kadang kala merasa tidak senang atau ada yang kurang, lalu muncul perasaan tidak bahagia sembari membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.
Sesekali aku memerhatikan orang lain entah dari kesehariannya atau postingan mereka di sosmed. Misalnya A, yang ku tahu dia berasal dari middle upper dan sedang mengambil dipendidikan dokter, orangnya cantik dan rendah hati, kalau kata orang-orang 'aku ingin hidup kayak dia'. Namun, suatu hari aku lihat ia sedang mengonsumsi obat penenang. Memang bodoh kalau aku bertanya, dia kenapa ya? Padahal dia memenuhi standar sosial karena kehidupannya, kenapa tidak bahagia juga?
Lalu nona B, dia pintar dan pandai olahraga, kabarnya dia telah lulus dari kampus ternama negeri ini, nona B sudah bekerja dan berprofesi sebagai yang-katanya-menantu-idaman karena gajinya fantastis. Lalu kemudian aku memerhatikan dia yang tengah dalam keadaan treatment karena trauma masa lalu. Apakah sesulit itu memaafkan masa lalu? Hidupnya sudah enak dibandingkan aku.
Aku bodoh.
Masih saja mengukur diri dengan orang lain.
Standar sosial disini sudah salah, tapi ada benarnya. Yang katanya kalau kamu good looking setidaknya sebagian beban berkurang, aku mengerti. Bahkan aku saja tidak berani untuk apply appricant kalau requirenya harus itu.
Suatu hari aku sedang memgunjungi temanku, seperti biasa kami membicarakan kehidupan, sudah lama kami tidak berjumpa, kata mereka ada banyak perkembangan dsri yang mereka lihat tentang aku dibandingkan dulu.
"Ma, aku ingin kaya kamu."
"??? Kok tiba-tiba," tanyaku bingung.
Bisa ditarik kesimpulan, ketika aku ingin menjadi orang lain. Ada orang lain yang ingin menjadi aku. Memang antara mudah dan sulit untuk mencari kebahagian kita sendiri, padahal sangat dekat dan jelas.
Oktober, 2020.
Semakin Tahu
Waktu kecil rasanya aku enggan menonton berita atau bahkan isu kepemerintahan karena dirasa tidak sampai ke nalarku. Seiring berjalannya waktu, seiring banyaknya fenomena yang ku lihat, hingga teori-teori yang aku pelajari karena tuntukan nilai. Aku mulai tertarik mengikuti berita-berita terkini, seperti--aku harus tahu apa yang terjadi di negara ini. Namun, semakin aku tahu dalamnya semakin aku tahu bahwa birokrasi itu lebih misterius dibandingkan apa yang dijelaskan pada buku sejarah ketika aku sekolah dulu.
Oh Allah,
When my lips no longer know what to ask for in prayer, please hear my heart.
Sometimes, it just can't be described in words..
wahai Shalma di masa depan, ketahuilah kamu sayang Mystic Messenger.
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭🧐
Diari Eksim 1
Rasanya eksim itu im in the depths of despair. Selama ini, rasanya cuma hal ini yang selalu bikin aku malu atau minder. Sejak kecil kata mamah, aku keturunan darah manis; yang katanya kalau luka nanti bekasnya lama hilang, walaupun sebenarnya istilah medisnya bukan itu. Aku inget banget waktu TK aku sadar kakinya banyak bekas luka dan minder sejak itu, tapi karena aku disekolahkan di sekolah umum jadi seragamnya pendek dan tidak bisa menutupinya. Sesekali kaos kakinya aku naikan sampai lutut tapi ga semua kaos kaki yang ku punya ukurannya panjang apa lagi untuk ukuran anak TK sangat jarang ditemukan saat itu.
Yang masih teringat dibenakku saat itu, ART di rumahku mengomentari kondisi kakiku yang sebenarnya B aja (re: walaupun bekasnya dikit). "Ih kakinya banyak murnya." Mur. Iya bahasa inggrisnya NUT yang buat sambungi perkakas itu loh. Ya sedih banget pokoknya sampe aku inget perkataan dia saat TK sampai sekarang, yeee bangsat siapa yang mau punya penyakit kaya gini komen aja bisanya:))
Syukurnya kemudian aku masuk sekolah terpadu yang bajunya panjang-panjang. Aku belum rutin pakai hijab saat itu tapi celanaku selalu panjang dan memakai kaos kaki untuk menutupi bekas alergi di daerah mata kaki, sampe sekarang pun masih:) Temanku memuji waktu itu, "tuh liat dia mah main juga pake kaos kaki nutup aurat" ya aku senyum aja niat aku bukan nutup aurat waktu itu, tapi cuma malu aja kakinya banyak bekas luka:)
I've been embracing my flaws since then,
I just don't know how to react on people who suddenly know my real condition. Their expressions haunt me sometimes, did they look disgust? What did they think?
Kenapa ga ke dokter aja? Kok ga di cek rutin? Kok ga pantang diri sama allergennya?
Ya kalau banyak wang mah aku udah sembuh dari kapan hari:) Engga deng. Ga bisa sembuh. Hanya bisa di minimalisir dan dihindari karena secara teknis ini penyakit turunan.
Sampai akhirnya yang paling parah muncul, saat aku duduk di bangku SMA awal. Dulu alergiku cuma sebatas muncul di kaki tangan aja, tapi suatu hari alergi yang lebih parah muncul di lipatan siku, ga bisa aku tahan itchy nya, warnanya pun merah seperti kebakar, dan berbekas lebar kaya kena knalpot. Stres banget karena itchy nya ga tertahankan, susah tidur, susah gerak, panas dikit langsung kambuh. Sedih banget. Ada satu hal yang baru aku sadari baru-baru ini. Produksi keringatku seperti beda dari orang lain?? Misalnya aku jalan ga jauh pun langsung keringetan dan panas karena badanku bergerak. Ingin banget ke kampus jalan kaki karena cuma 1km dari kosan, tapi sampai kampus adanya kepanasan dan jadinya nemicu eksim, bukannya segar setelah jalan pagi. Itu sebabnya ke kampus aja aku naik motor padahal cuma 1km u_u.
Waktu pertama kali ke dokter kulit praktek itu saat punya eksim ini, obatnya lumayan mahal padahal itu baru 1x kontrol, ga kuat biayanya kalau harus cek rutin. Saat ke faskes 1 kurang mengenakan, sudah 2x aku tidak di kasih rujukan ke rumah sakit untuk menemui dokter kulit. Aku nyerah. I'll embrace these shits, i said. Dengan modal baca pengalaman orang lain aku coba produk lokal sampai coba beli di ebay. I know all these things would not help me tapi harapannya bisa berkurang at least.
Kadang ga nyaman juga kalau lagi wudhu si tempat umum, terus mereka ngeliat siku yang aku basuh. How will people love me? I don't even love my body yet I ambrace my flaws with my heart.
Oktober, 2020.
Agustus 8
Sebenarnya ini sudah September, tapi entah kenapa daripada terlambat lebih baik sekarang saja.
Selamat ulang tahun, Shalma!
Ga menyangka tahun ini aku 21 tahun! Belakangan ini aku lost sanity dan malas-malasan sama Tuhan, aku sadar betul dengan apa yang aku lakukan. Bahkan sempet nanya temen, gimana caranya ruqyah diri sendiri seperti ada yang salah denganku belakangan ini. Mulai ga bener kalau nyambungin suatu hal dengan logika padahal itu maha kuasa Tuhan yang harusnya aku tak perlu penjelasan. Ingin kembali lagi, tapi lagi-lagi aku merasa tersesat.
Dari tahun ke tahun, 8 Agustus selalu sederhana, yang ngucapin itu-itu aja orangnya ga lebih dari 5--belum keluargaku. Rasanya aku ingin dispecialin 1x aja karena belum pernah. Berlebihan banget mau aku. Akan tetapi, aku bersyukur banget masih diingat sama orang yang itu-itu aja.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini aku rayain sama diri aku sendiri, beli junkfood sambil nulis surat untuk aku di-4 tahun yang akan mendatang bila Tuhan berkehendak. 4 tahun lalu aku membuat time capsule tepatnya 2016, setiap tahun atau per bulan aku nulis surat yang random banget isinya yang kemudian aku simpan di time capsule. Kotaknya ga pernah aku buka selain untuk menyimpan surat baru, di depannya ada tulisan "buka kotak ini di ulang tahun ke-25" walaupun lebay, tapi rasanya orang yang cuma bisa bikin semangat ya hanya aku sendiri. "Semangat ya shalma semangat dan bahagia selalu,"ujarku.
Tiap malam aku selalu menyesal karena aku masuk kuliah di umur 20 ga kaya orang pada umumnya di usia 18. Rasanya duniaku mundur, semua rencaku mundur, mulai dari situ aku menyerah, tidak akan lagi bermimpi--hanya berharap semoga hari-hariku diberi berkah. Sedih. Sedih banget kalau inget-inget ini.
Nyatanya, aku belum dewasa secara mental.
Bandung, September 2020 01.19AM
Mesti ketemu orang, ga kuat sama diri sendiri yang gampang ketrigger overthinking. Introvert nya sebatas ngumpulin energi untuk saat tertentu aja, ga sampe harus berbulan-bulan gini. Kadang kepikiran, aku udah cukup, cukup banget disegala hal, tapi ga bahagia. Kesepian banget.
I lost faith nowadays. Im so angry to myself. I don't know how to bring this sanity back im so hopeless for these 3 months while hiding it in secret. Please me, don't let it down.
I stop dreaming because everything that I want doesnt deserve to be mine.
Keep dealing
Just checked my writings in 2013-2016, 13 years old shalma was dealing with so many moments. When she was crushing on someone for the first time, when she was finding the strong bond of friendship, when she was focused on drawing as well. In 2015, I could remember that my dream was to be an architect, try to like math when my brain is unable to do dat. Time by time the problem that I have to deal with is getting harder. Finding my true-self, who am I? What will I do in the future? What's my passion? Where should I go then? I never expect I could be in this circumstance.
That awkward phase between 17-20 when I need to move and make friends, feel guilty for outgrowing my past experiences, and realize some of my friendships were a small bonds or based off convenience. Hanging out haha hihi like nothing happen in our life. Keep scrolling in 2017-early 2020, its so hard to find my own branding, my writings is more talking about personal issues. Like quarter life crisis, i need more support while everyone also feel the same way. My toxic brain just thinking like how to be profit? Money doesnt buy hapiness, stfu every problem I have can be solved with dat thing. I'm so sick of struggling so hard on financial issue. These things affect my life, "you look so thin time by time," relatives said. Because I lost my appetite and save my bucks just in case I need it in the future, I don't want to be a burden for my parents. The moment when my dad bankrupt in 2011 is made a big scars in my heart till 'that thing' happened back then. Im so clueless..
My bro will go to Japan in June this year for work, according to this outbreak it will affect his departure plan. He need to work at this age, but the fate says another. I don't want to lose faith, hope everything will be okay soon. I feel better whenever I have wrote everything down here. What should I do for now... dear shalma in the future if you read this again, please let your self rest and stop overthinking like what you do nowadays. It will all be worth it.
Sincerely,
yourself in March
Bandung, Maret 2020