Indonesian Scholars International Convention 2016 1-2 October 2016, Birmingham, United Kingdom Delegation from Faculty of Economics and Business, University of Indonesia *a.k.a My Short Story escaping to the timeless United Kingdom :))
The Conference! Sedikit mau sharing tentang pengalaman untuk presentasi paper ilmiah di ISIC 2016, Birmingham, United Kingdom. Untuk tulisan tentang kegiatan sebelum dan selama kunjungan ke UK ini akan ditulis di post selanjutnya… ini khusus untuk membahas tentang konferensi ini sendiri :) Dimulai dengan pertanyaan paling umum: untuk apa mengikuti konferensi internasional? Salah satu output yang diharapkan dari akademisi (fyi jika statusmu pelajar/mahasiswa itu kamu sudah termasuk akademisi kok walaupun mungkin passionmu bukan di bidang akademis) adalah dapat melakukan penelitian dan mempresentasikan gagasan tersebut-- semakin luas audiencenya, semakin baik. Mengapa konferensi internasional bisa lebih didukung biasanya karena kesempatan networking dan tantangannya lebih besar. Indonesian Scholars International Convention (ISIC) diselenggarakan selama dua hari (1-2 Oktober 2016) di Bramall Building, Kampus Edgbaston University of Birmingham. Acara dibagi menjadi dua bagian, pada hari pertama dilakukan acara inti yakni presentasi paper akademik dari seluruh peserta yang mendapatkan undangan dari pihak penyelenggara. Kemudian pada hari kedua diadakan acara diskusi tentang Papua. Hari pertama konferensi dimulai sekitar jam 08.00 waktu setempat yang dibuka dengan menyangikan lagu Indonesia Raya yang dilanjutkan pertunjukkan Tari Saman. Kemudian acara perkenalan dari perwakilan University of Birmingham (UoB). Dijelaskan juga bahwa University of Birmingham merupakan kampus yang memiliki hubungan cukup dekat dengan Indonesia. Cukup banyak mahasiswa dari berbagai jenjang yang saat ini aktif berkuliah di UoB. Termasuk beberapa orang yang menjabat di pemerintahan seperti Menteri Sekretariat Negara, Prof. Pratikno dan Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Juda Agung. UoB juga memiliki beberapa kerjasama dengan pemerintah Indonesia terkait dengan masalah perubahan iklim. Sesi selanjutnya adalah sambutan dari Duta Besar Indonesia untuk United Kindom dan Irlandia Bapak Rizal Sukma sekaligus sacara resmi membuka acara konferensi hari tersebut. Bapak Rizal Sukma dalam sambutan singkatnya mengajak seluruh pihak yang berasal dari Indonesia untuk tidak melupakan tanah air dan meminta setelah menimba ilmu jauh ke Inggris, diminta untuk pulang membangun negara. Acara kemudian dilanjutkan dengan plenary session dengan 4 pembicara sekaligus yakni Dr. Rizal Sukma (Duta Besar Indonesia untuk United Kingdom dan Irlandia), Dr. Fiona Nunan (Director International Development Departement, University of Birmingham), Dr. Fitria Irmi Triswati (Analis Bank Indonesia Kantor Perwakilan London), dan Edwin Syahruzad (Director PT Sarana Multi Infrastruktur) dengan tema utama tentang Sustainable Development Goals yang dipandu oleh moderator Prof. E. Aminudin Aziz (Atase Pendidikan Indonesia untuk United Kingdom dan Irlandia). Setiap nara sumber memberikan penekanan terkait dunia yang sudah tidak sama lagi dengan masa lalu. Perubahan iklim menjadi ancaman yang nyata bagi setiap bangsa. Hal yang menarik diungkapkan oleh Edwin Syahruzad terkait dengan pembangunan infrastruktur di Indonesia yang seringkali menghilangkan daerah resapan, termasuk pembangunan daerah pemukiman yang tidak diatur dengan tata ruang. PT SMI selaku perusahaan yang memang memiliki fokus melakukan pembangunan infrastruktur sudah mulai terus melakukan evaluasi proyek dengan mempertimbangkan lingkungan. Lebih susah mengatur tata ruang yang sudah padat infrastruktur ketimbang memperbaiki ketika masih sedikit. Acara tersebut ditutup dengan sesi tanya jawab dengan para peserta konferensi. Dengan beragamnya latar belakang peserta konferensi maka pertanyaan terkait dengan sustainable development goals pun semakin beragam juga. Selain pertanyaan yang memang berkaitan dengan ekonomi dan politik yang terkait dengan usaha masing-masing pemerintah untuk menyukseskan SDG, terdapat juga pertanyaan yang mempertanyaan tentang peranan wanita dalam program SDG yang bisa mengakomodasi tren gender equality juga. Setelah istirahat makan siang, acara dilanjutkan dengan paralel season presentasi paper terpilih. Presentasi dilakukan di dua ruangan yakni 1) WG.5, Aston Webb Building dan 2) G.33, Aston Webb Building. Kami mendapatkan waktu presentasi sesi pertama di ruang WG.5, Aston Webb Building beserta 3 presenter lain. Dari sesi pertama tersebut kami mendapatkan kesempatan presentasi pertama dengan alokasi waktu 10 menit presentasi dan 10 menit waktu tanya jawab dengan panelis. Moderator dari presentasi kami adalah Ibu Miranti Kartika Dewi, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia yang sedang melakukan tugas belajar ke University of Birmingham dan panelis kami Dr. Nunung Nurul Hidayah (lecturer in Aston University). Kami mempresentasikan paper tentang sustainable economic development dari perspektif Islam dengan judul “Empirical Study on Ibnu Khaldun Dynamic Model: Its Relevancy with Modern Economic Development”. Masukan paper kami banyak kepada detail paper yang mengasumsikan pembaca sudah paham dengan teori dari perspektif Islamnya. Untungnya panelis kami memiliki latar belakang yang paham tentang Islamic Economics sehingga beliau bisa memahami tentang topik yang kami presentasikan. Tentang paper kami, kami melakukan pengujian terhadap teori pembangunan ekonomi yang digagas oleh Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun berpendapat bahwa pembangunan ekonomi tidak bisa ditentukan oleh satu faktor saja, melainkan oleh beberapa faktor yang bergerak secara dinamis saling mempengaruhi. Teorinya tersebut diberi nama oleh ekonom Islam kontemporer sebagai dynamic model. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembangunan ekonomi tersebut antara lain Government (G), Shariah/Law (S), People (N), Wealth (W), Development (g), and Justice (j). Semua faktor tersebut dapat menjadi pemicu faktor lain yang menentukan naik turunnya sebuah negara. Kami melakukan pengujian beberapa faktor tersebut dengan diproksikan kepada variabel yang sesuai dengan Structural Equation Model (SEM). Kemudian hasilnya kami bandingkan antara negara Islam dengan negara OECD. Hasilnya teori tersebut masih sangat relevan dengan pembangunan ekonomi kontemporer baik di negara Islam maupun OECD. Setelah sesi kami presentasi, masih ada 2 sesi lagi dengan total sekitar 9 paper yang dipresentasikan di ruangan tersebut. Presenter yang presentasi dengan kami saat itu cukup beragam latar belakangnya, ada yang sama dengan kami masih di tingkat sarjana, namun ada juga yang sedang studi master maupun doktoral. Secara keseluruhan panelis memberikan komentar bahwa semua presenter memiliki potensi yang bagus untuk terus menulis. Beliau memberikan saran kepada semua presenter untuk terus mencoba menulis dan mengumpulkan paper di konferensi lain untuk mengasah kemampuan diri sekaligus membawa membantu pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi Indonesia. Selesai sesi presentasi, acara dilanjutkan dengan Gala Culture pada malam hari di Bramall Hall. Acara Gala Culture menampilkan berbagai kesenian baik tari maupun musik tradisional Indonesia, seperti Tari Saman, Tari Piring, Reog Ponorogo, dsb. Acara tersebut digelar sebagai bentuk apresiasi kesenian Indonesia agar tetap bisa lestari ditengah modernisasi. Hari Kedua acara diisi dengan Diskusi Papua. Acara dibuka jam 09.00 waktu setempat dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kemudian dilanjutkan dengan launching sebuah kelompok studi yang memiliki fokus terhadap Papua dengan nama “Lingkar Studi Papua”. Kemudian diadakan sesi panel dengan 3 pembicara antara lain Willem Wandik (Bupati Kabupaten Puncak, Papua), Bambang Purwoko (Anggota Working Group on Papua-Gadjah Mada University), dan Willem Burung (Peneliti dari St Catherine’s College, University of Oxford). Acara tersebut dimoderatori olehErza Killian dari Perhimpunan Pelajar Indonesia United Kindom. Sesi tersebut banyak membahas terkait status papua di Indonesia. Termasuk banyak ketidakadilan yang tercipta di Papua dalam berbagai bidang. Ketidakadilan tersebut yang memberikan motivasi bagi sebagian penduduk untuk melepaskan diri dari NKRI. Kemudian acara ditutup dengan closing speech tentang harapan-harapan terhadap papua. PELAJARAN EKSPLISIT YANG KAMI DAPAT Komentar dari panelis: Coba untuk mengelaborasi lebih dalam mengapa dynamic model paling pas menggunakan metode SEM (Strucutral Equation Modeling)? Model dan konsep merupakan suatu hal yang berbeda. Model hanya sebuah alat untuk menganalisa sebuah konsep. Sehingga menganggap model sebagai sebuah konsep merpuakan suatu miskonsepsi. Untuk menurunkan konsep tersebut menjadi sebuah model diperlukan kehati-hatian supaya tidak merubah substansi dari konsep yang diteliti. Abstrak yang baik adalah jika dapat langsung memberikan pemahaman terhadap paper secara keseluruhan. Jangan lupa menuliskan research question secara lugas! Karena itu merupakan salah satu hal yg paling penting. Inti dari paper tidak hanya pada pemodelan matematisnya, namun justru prioritaskan untuk menjelaskan apa yang hendak dibicarakan dalam paper, sehingga pembaca dapat memahami alur pemikiran dalam membaca tulisan kita.