terima kasih untuk sampah-sampah yang aku buat di masa dulu. sekarang aku udah mulai lupa. mengais-ngaisnya lagi bisa bikin aku inget, oh iya, aku pernah menjadi manusia seperti itu.
AnasAbdin
Today's Document
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

★
Game of Thrones Daily

Love Begins

Janaina Medeiros
No title available
Sweet Seals For You, Always

PR's Tumblrdome

❣ Chile in a Photography ❣

No title available

izzy's playlists!
almost home
I'd rather be in outer space 🛸

oozey mess

Product Placement
NASA

#extradirty
Alisa U Zemlji Chuda

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Sri Lanka
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Poland

seen from United States

seen from United States

seen from Luxembourg
seen from Romania

seen from Luxembourg
@ulinuha
terima kasih untuk sampah-sampah yang aku buat di masa dulu. sekarang aku udah mulai lupa. mengais-ngaisnya lagi bisa bikin aku inget, oh iya, aku pernah menjadi manusia seperti itu.
now and then
Sekarang, setiap kali kaki melangkah di sekitaran kampus, rasanya semakin aneh saja. Wajah-wajah yang semakin asing, derap yang semakin mengasingkan. Rasanya suara-suara di sekitar sepakat meneriakkan ‘sudah tua lin, sudah ngapain aja’.
Setiap tempat dan sudut-sudut di dalam kampus, mengingatkan kembali potongan-potongan yang dulu pernah dilalui, dan tau, nggak mungkin terulang lagi. Mulai dari sudut depan kampus sebelah timur, sampai kolam tengah kampus. Dan kemudian sadar, waktu untuk berkarya di kampus ini semakin terbatas.
Ada tempat yang disinggahi kemudian ditinggalkan, ada orang yang datang kemudian pergi atau tertinggalkan. Lalu satu satu perlahan waktu membuat perbedaan-perbedaan lagi.
Gedung mektan tempat menghabiskan tahun pertama, sekarang yang sudah dipugar menjadi fungsi lain. Gedung SR tempat tahun pertama di desain interior sekarang yang sudah beralih fungsi menjadi ruang-ruang kelas TPB tahun ini. Tempat-tempat yang menjejakkan memori setiap harinya kemudian menjadi tak lagi sama. Digantikan oleh sebuah gedung tujuh lantai yang menjulang di bagian utara kampus, dengan aktivitas lift naik-turun yang membuat antrian panjang di lantai satu.
Tempat yang berganti. Status dan peran yang terus berubah. Perasaan yang juga mulai berganti.
Ada rindu akan masa-masa itu. Ada kenangan dari potongan-potongan tempat itu. Dan menyadari begitu banyak waktu telah merubah apa yang di luar dan apa yang di dalam.
Ketika aku ingin kembali ke suatu masa itu, dan mengulang hal yang ingin diperbaiki. Menjalani hari-hari seperti yang seharusnya dijalani. Menulis kembali mimpi-mimpi yang seharusnya tetap ada, tidak pudar oleh jejak waktu.
Bukannya telah selesai, hanya, jika diberi kesempatan lagi, begitu banyak yang ingin dirubah. Seperti pikiran-pikiran yang akhir-akhir ini selalu berkecamuk. Yang terus menantang hati, untuk menjadi berani pada diri sendiri. Untuk menjadi kuat pada diri sendiri. Untuk terus tegar di jalan yang benar.
Bahwa pada suatu masa itu, aku tau telah menjalani yang terbaik, kemudian meski hal itu tak berlangsung lama …
Bandung, 10 10 2016
di sudut meja yang tak ikut berubah
Sebuah Pertemuan
yang akhirnya memaknai tentang perjalanan panjang selama ini. yang menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang terlalu banyak menghabiskan bagaian dari otak, bahkan hati.
pada akhirnya, kata maaf pun mungkin tak pernah bisa terucap. tentang kesempatan-kesempatan yang selama ini ternyata berujung sia.
dan aku memilih untuk tetap disini. di tempat yang sama. langkah yang sama.
suatu hari mungkin kita akan duduk bersama di sebuah meja bundar, menghisap secangkir kopi, dan tawa tentang perjalanan selama itu.
selamat menunggu jawaban
pada suatu masa ketika aku, kamu, bertanya. tanya tanya tanya tentang pertanyaan yang tak bisa dijawab. apalagi dengan duduk diam. seperti ketika melepas balon ke langit tinggi, memahami bahwa angin akan membawanya terbang ke atas, tanpa pernah tau, kapankah ia kembali ke bumi lagi.
karena aku dan kamu terbentuk atas pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. selamat menjawab.
atau menunggu jawaban
Kelayakan
Ada banyak dunia yang ingin aku masuki. Semua menggelitik dan merangsang rasa penasaranku.
Tapi selalu saja begitu, bahwa menuntaskan apa yang dimulai tak pernah mudah.
Bara 10
suatu waktu itu mungkin kamu sudah memahami. tentang bagaimana suatu waktu di masa depan itu akan meninggalkan segores perasaan dingin setiap menatap mata teduhmu. segores itu akan bercerita tentang masa-masa ketika dunia terlihat begitu naif. bukan tentang aku hitam dan kamu putih. tapi nyatanya, sebenarnya kita hanyalah abu-abu, yang terlalu sombong untuk memberi warna.
di suatu masa itu mungkin akan tetap sama. ketika segala skenario pertanyaan di kepala tak pernah mendapat jawabannya. menyisakan seorang gadis kecil yang terus duduk di tempat yang sama. bukan tak ingin beranjak, tapi hatinya tak pernah bisa.
mungkin apalah manusia yang hanya bisa melukis imajinasi harapan. dunia terus bergerak, detik-detiknya menghantam realita. gadis kecil itu tetap disitu. entah apa yang ditunggunya, terlalu kecil baginya untuk memahami, bahwa hidup tak melulu tentang penantian.
waktu akan melesat mengajakmu pergi. pada sebuah dimensi waktu dimana akhirnya kau menyadari, mungkin pada awalnya, semua memang tak pernah menjadi realita
Keep reading
Bandung suatu sore. Adalah episode ketika matahari untuk terakhir kalinya berusaha menampakkan diri di ujung hari itu.
Ada klakson yang hilir berganti menyalak. Mereka sedang berebutan. Mencari jalan pulang tempat menuntaskan rindu.
Bandung episode sore hari. Hati yang lelah itu berlabuh. Senyum di ujung bibir itu adalah rumah. Kamu.
Ada lelah-lelah yang sepertinya terus mengejar. Lalu Bandung di sore hari menjadi pengingat. Ada kamu yang menjadi tempat pulang
french vibes only. with the taste of colonial era.
the view from the apartment. such a busy city, hustle bustle.
food here. pho and spring rolls. your have-to-eat when visit saigon.
it's been a while, since the last time i struggling my self out the comfort zone. wake up and put myself altogether. this gonna be not easy.
tik tok tik tok
kalau kesempatan itu ada, aku selalu ingin pergi dari rentang waktu sekarang. kalau kesempatan itu ada, waktu yg dulu terlewati, semoga bisa kembali lagi. tik tok tik tok, setiap hari terasa tidak menuju kemana-mana. terus saja aku berlari menutup mata. takut melihat realitas. kepalaku sakit. tapi di dadaku lebih sakit lagi. setiap terpikirkan, aku tau cuma keputusasaan yg membuatku tetap melangkah meski tidak kemana-mana. aku putus asa. karena aku tau, langkahku tidak akan bisa membawaku kemana-mana lagi. apakah manusia itu bisa terlahir kembali? Bandung, 21 September 2018
Yang Terlewatkan
Semua yang telah terlewati, tidak dan jangan pernah ada yang menjadi sesal. Ada dan selalu ada hal-hal yang memang tidak bisa kita raih setinggi apapun kita berusaha melompat untuk menggapainya. Ada hal-hal yang tidak berjalan bersisian dengan harapan-harapan. Ada yang datang, ada yang pergi. Ada perasaan-perasaan yang memang tidak bisa selesai.
Biarlah semua itu mengalir seperti udara, menempati semua ruang yang mungkin untuk diisi. Dan kita bisa bernafas dengannya, menjalani hidup dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan secara harmonis. Menerimanya, mengakuinya, dan bersedia memeluknya.
Semua yang sudah terlewati tidak untuk diandai-andaikan. Tidak untuk dibayang-bayangkan. Biarkan itu menjadi bagian dalam hidup kita yang bisa menjadi pembelajaran berharga untuk siapapun yang mendengarkannya, mengetahuinya, melihatnya, bahkan yang turut serta menjadi saksi-saksi. Biarlah ia tetap seperti itu, seperti apa adanya.
Semua yang sudah terjadi, tidak perlu dikubur. Sebab itu bukanlah sebuah kematian, kenangan itu tidak bisa mati. Ia akan tetap hidup, semakin berusaha kita ingin membunuhnya, ia akan tetap hidup, justru semakin hidup.
Hari ini, memang rasanya tidak menyenangkan. Dan mungkin, entah sampai kapan. Tapi, sungguh ada satu hal yang harus diketahui. Bahwa kalau kita belum juga bisa memetik hikmah darinya, selama itu pula kita akan sulit menerima segala hal yang telah terlewati.
Yogyakarta, 1 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi
Bandung suatu sore. Adalah episode ketika matahari untuk terakhir kalinya berusaha menampakkan diri di ujung hari itu.
Ada klakson yang hilir berganti menyalak. Mereka sedang berebutan. Mencari jalan pulang tempat menuntaskan rindu.
Bandung episode sore hari. Hati yang lelah itu berlabuh. Senyum di ujung bibir itu adalah rumah. Kamu.
Ada lelah-lelah yang sepertinya terus mengejar. Lalu Bandung di sore hari menjadi pengingat. Ada kamu yang menjadi tempat pulang
'Cause they say home is where your heart is set in stone Is where you go when you're alone Is where you go to rest your bones It's not just where you lay your head It's not just where you make your bed As long as we're together, does it matter where we go? Home home home home
Gabrielle Aplin - Home
Cinta itu perjalanan yang jauh, ia tak berhenti begitu saja hanya karena kau sudah berulang kali mengucapkannya atau bahkan mengingkarinya.
(via jalansaja)