Berhubung kami sempat diskusi ingin tanam menanam sedikit sayur buat kita konsumsi. Dan rencana masih mau nabung buat beli set komposter. Ya intinya sebelum bercocok tanam, kami kepikiran untuk mengolah limbah sampah dulu.
Cari deh akun-akun yang menilik tentang hal tersebut. Ternyata ada satu akun yang udah lamaaa difollow yang juga giat membahas berkebun ala rumahan. Namanya mbak @sitapujianto. Cuman dulu sempat sekilas pernah tau orangnya mau hiatus sementara, karena sedang fokus untuk penyembuhan. Sakit apa? Nah waktu itu belum tau ya dan nggak ngecek juga.
Terus sekarang lihat postingan terakhir itu Maret 2023. Klik sorotan tentang sakitnya, ternyata sakit kanker. Di situ utamanya dia banyak membahas soal biaya penyembuhan kankernya. Memberi pencerahan banget lah pasti. Hanya saja sehabis baca sorotan tersebut, nggak ada info sama sekali kalau mbak Sita ini sudah sembuh apa nggak. Ngecek kolom komennya juga nggak bisa, padahal kelihatan jumlah like dan komen di postingan terakhirnya itu. Postingan lainnya pun sama, minim info.
Hingga akhirnya baca komentar di link video youtube di info akunnya. Dan ternyata mbak Sita sudah meninggal, ya 2 tahun lalu itu. :(
Aku panggil mbak Sita bukan karena kenal yaa. Apalah diri ini cuman follower random aja yang merasa mbak Sita sebagai sosok yang sangat mengedukasi soal berkebun. Tapi sungguh mendoakan sekaliii karena amal jariyahnya melalui postingannya yang menginspirasi. Al Fatihah. 🤲
Oh iya, terkait postingan sorotannya itu. Ada 3 hal penting yang bisa aku pahami.
Pertama Limfoma atau Kanker Kelenjar Getah Bening. Katanya ini kanker no 6 paling mematikan di Indonesia. Cuman banyak dari kita yang kurang menyadarinya. Qadarullah Limfoma yang diderita mbak Sita ini yang non hodgins. Tiba-tiba stadium 4 pula :(
Mbak Sita juga sudah berusaha menjalani pola makan yang sehat selama 12 tahun ini. Terutama food combining. Tapi mbak Sita menekankan bahwa yang dialami bukan melulu pencetusnya dari pola makan. Faktor utamanya adalah imunitas tubuh, itu dia.
Lanjut yang ke 2, mbak Sita juga sempat ikut kelas untuk penderita/penyintas kanker. Fokus pembahasannya adalah tentang orang yang menang mengalahkan kanker dan sebaliknya, karakter orang yang rentan terkena kanker. Penjelasannya ada di video youtube di bawah ini yaaa.
Dan terakhir, terkait pembiayaan penyembuhannya. Awalnya ada asuransi swasta dari suaminya yang mengcover, tapi mungkin karena penyakit kanker membutuhkan biaya yang tidak murah, jadi asuransi tersebut mau nggak mau terserap habis. Bahkan sampai menggerus uang pribadi juga. Berupaya mengurus bpjs yang agak telat walaupun sedikit membantu.
Punya aset yang tidak liquid. Sehingga ketika butuh dana mendesak, sulit terjual cepat. Investasi juga tidak hanya menaruh di beberapa instrumen, tapi mungkin memecah supaya imbang atas nama suami dan istri ketika salah satunya sedang dalam kondisi sulit. Cash is king, itu juga nyata adanya. Dana darurat memang jadi fondasi yang tidak bisa disepelekan.
Asuransi swasta pun sungguh jadi proteksi, terutama bagi penderita penyakit kronis. Apalagi di saat kita tau bagaimana layanan dan fasilitas BPJS yang disediakan pemerintah kita seperti apa.
MRI, kemo dan lainnya harus antri. Padahal penderita sakit kronis harus segera ditangani dan diobati dengan cepat.
Postingan ini bukan untuk menambah overthinking, tapi mungkin jadi salah satu bentuk ikhtiar kesiapsiagaan kita jika mengalami situasi yang sulit. Yang menulis juga sama, baru tau dan merasa ini penting. Perlu adanya ikhtiar yang harus direalisasikan. Hidup sehat, pola makan teratur, olahraga, istirahat yang cukup, pengelolaan stres, pendekatan dengan Tuhan, bahkan juga soal kepemilikan asuransi.
Yang paling dekat dekat mungkin general check up dulu, ya. Kemarin sempat ada program CKG. Tapi setelah tanya teman, hanya hal-hal dasar saja bukan sampai pemeriksaan menyeluruh. Yaaa kaliii mau cek lengkap, antrinya akan seberapa lama. Sosialiasi program yang harapannya menarik orang walau layanan terbatas. Sungguh, sesuatu yang basic saja kita harus berjuang sendiri. Mandiri banget. Jadi memang perlu nabung untuk medical check up yang lebih lengkap dan akurat, walau berbayar pun tidak apa-apa.
Kutipan yang menarik dari mbak Sita di awal sorotannya: Bahwa ketika dalam kondisi susah, apapun nggak ada rumus 1+1=2. Selalu ada hal di luar dugaan dan nggak mesti sesuai sama pikiran orang-orang. Tapi percayalah, setiap keluarga pasti sudah dengan keputusan terbaiknya.
Al Fatihah untuk Mbak Sita Pujianto 🙏