đŞź
Keni
Monterey Bay Aquarium

Andulka
Cosmic Funnies

Kiana Khansmith
tumblr dot com
i don't do bad sauce passes
Acquired Stardust
Today's Document
taylor price
YOU ARE THE REASON

Discoholic đŞŠ

@theartofmadeline
d e v o n
$LAYYYTER
AnasAbdin
we're not kids anymore.
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
cherry valley forever

seen from TĂźrkiye

seen from Japan
seen from Malta

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Malta

seen from Japan
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Italy
seen from South Africa

seen from Malaysia
seen from Malta

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
@wamela
suram lampu jakarta, menghantarkan kita, menuju ruang yang hanya milik berdua.
aku, kamu, mereka, rasa-rasanya juga, punya resah yang sama. berjibaku dengan angan, tumpang tindih dengan harapan, persetan.
jakarta utara, juni 2022
"kau terdengar putus asa." kai berkomentar. hanna tersenyum pahit. "aku memang putus asa. aku, lelah. lelah bermimpi buruk. lelah menangis. lelah merasa takut. lelah dianggap kotor." dia menunduk. kedua tangannya berpegangan erat pada bibir dermaga, mencengkeram papan kayu tua yang mulai lapuk. "salah. aku memang kotor. aku, barang rusak. pemuda itu mengambil segalanya, setiap hal baik dalam diriku, sampai tidak ada yang tersisa. selain laut, siapa yang mau menerima aku yang begini?" "aku mau," sahut kai. "kau tidak kotor, hanna. kau cantik," kata kai lagi. "salah. kau sempurna. bagiku, kau tidak punya cela." "bagimu. bagiku, saat ini, aku cuma punya cela." "kalau begitu, biar aku jadi lautmu." tangan kai terulur untuk hanna. "aku akan membantumu meluruhkan semua cela itu."
interlude, windry r.
ketika mencintaimu, aku percaya dengan kekal, kupikir kita tak mengenal usai, kukira tak pernah ada kata selesai, tapi aku lupa yang abadi hanya fana.
waktu kaumenyayangiku, rapuhku kaugenggam kuat, tangisku kauredakan selalu, senduku kaupeluk erat, namun aku lupa ada yang namanya renggang.
kita sudah berakhir, aku dan kamu setara dengan âpernahâ, tangisku yang kauredakan kembali deras, senduku yang kaupeluk kembali sendiri, rapuhku yang kaugenggam kembali jatuh.
aku masih anggap kau sayang, tapi sayang hanyalah bayang, bayang yang terkenang, terkenang sebab sudah seperempat taun hilang, hilang menjelma gamang.
sometimes i feel so happy sometimes i feel so sad sometimes i feel so happy but mostly you just make me mad baby, you just make me mad
pale blue eyes, the velvet underground
penyair yang sudah lama mati itu bilang, "ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah, ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza, tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku," sedang aku menghabiskan waktuku melukis luka, kadang aku menghabiskan waktuku memalsukan tawa, tapi sebenarnya aku juga ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.
penyair yang sudah lama mati itu berkata, "(kita) bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu, atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi, ada serdadu-serdadu amerika yang mati kena bom di danang, ada bayi-bayi yang mati lapar di biafra, tapi aku ingin mati di sisimu sayangku, setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya, tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu," sedang aku berandai kita bicara tentang masa-masa muda yang berandal dan lucu, atau tentang bunga edelweis yang belum sempat tumbuh ketika kau gandeng tanganku, ada serdadu-serdadu indonesia yang dikirim percuma ke ujung pulau papua sana, masih ada bayi-bayi yang mati lapar di jawa, tapi aku ingin mati di sisimu sayangku, setelah kita bosan bertengkar dan terus bertanya-tanya, tentang mengapa kita terus-menerus menyakiti yang seperti tak kenal kata cukup.
akhirnya sajak tua itu berakhir persis seperti aku merayu dalam tangis getirku, "mari, sini sayangku, kamu yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku." tapi kamu bergeming dan berkata, "tegaklah ke langit atau awan mendung, kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita takkan pernah kehilangan apa-apa."
02:01 am, tercipta berkat bantuan fragmen puisi gie
aku hanya ingin tidur yang panjang, panjang dan lelap sampai pada akhirnya, semua hina yang melekat padaku seutuhnya sirna;
bloom / gloom
kita sudah tak bernama, kita telah jadi serpihan sajak penyair yang sudah lama mati, aku dan kamu, sudah tak menyimpul kita.
âapakah kau masih membelaiku semesra dahulu?â, sudah enggan âketika kudekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekatâ, jarak yang disengaja tak lagi sanggup mendekap
kita perlahan menyisakan abu, kita hanya jadi memori sendu, aku dan kamu, kadangkala berubah jadi pilu.
âapakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmuâ, kau sudah terdiam dan aku lama tak rebah di dadamu âkita begitu berbeda dalam semua kecuali dalam cinta?â sayangnya, kita begitu serupa dalam semua kecuali dalam cinta
lantas, kusebut apa kau sekarang? "sayang" sudah jadi kata asing yang hanya pantas dikenang. aku pernah jadi manismu, tapi kamu akan jalan terus, membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan, bersama hidup yang begitu biru.
(21:53, dibuat ketika membaca puisi âsebuah tanyaâ karangan gie)
I fell in love with you. I don't know how, I don't know why. I just did.
London: Angel
i let you into my home, i let you under my clothes, now all i hear is your anthem,
â íě¸
sayang, biarlah pening ini kukenang. â 27 april 2026
sayang, aku ingin seperti laut. dalam, tenang dan menunggu. â 29 april 2026, 09:30pm
kumulai mencintaimu justru ketika kau menyerah
â âmelanjutkan hidup adalah cara mati yang terbaik.â
aku pernah baca kalimat itu, entah di mana. ada yang retak dalam diriku. seakan hadirku takkan pernah mungkin jadi obat murungmu. lantas, aku marah. kuingin ubah dunia jadi lebih ramah. untukmu. berlandaskan rasa cintaku. tapi cinta sebesar apa sih yang bisa ubah itu semua? aku bukan nabi. apalagi tuhan. impianku terlalu besar. terlalu muluk-muluk. teori-teori yang pernah kupuja juga sudah lama usang. aku sadar betul. aku ingin lari. tapi kakiku letih. aku ingin berteriak. tapi mulutku sudah lama bungkam. aku hanya bisa menangis. tapi airmataku pun sudah kering. tak ada lagi yang tersisa. kamu? sudahkah kamu selesai memikul pilu?
mungkin gak ya? kalau aku kenal kamu di lain waktu, kita bersama terus tak kenal jemu?
mungkin, kamu bilang âayo sayangâ, ketika aku ingin bertemu.
mungkin, kamu bilang âaku pengen ketemu kamuâ, ketika kamu punya sedikit celah di sela kesibukanmu.
mungkin, kita sedang merancang ruang-ruang tempat nanti kita saling memeluk tubuh yang hanya kenal rindu.
mungkin gak ya, sayang?
tapi, kita sudah tak saling memanggil sayang.
aku sudah lama lelah bahkan aku sudah lama akrab dengan rusak, tapi aku selalu kembali menambal retak, aku lama sekali diam dalam sunyiku menanti engkau memangkas jarak, karena aku ingin nadiku kembali berdetak, meski hanya sejenak, meski kutau itu akan hilang kelak.
sayang, lukaku masih perih, dadaku berulang-kali pedih, ragaku kian hari kian letih, tangisku merayap lirih.
aku, berdiri mematung di ambang pintu, pintu yang selalu engkau tutup sesuka hatimu, celah yang tak akan pernah mampu aku tembus, tembok yang tingginya takkan mampu kusentuh.
engkau, menepis aku sejauh yang engkau mau, seperti aku dan rapuhku memang pantas kau biarkan luruh, kau biarkan aku kembali jadi gemuruh, dalam heningmu, aku kembali runtuh.
we'll make it to the other side like lovers do