Hidup dalam Penebusan
Ketika semua orang punya impian, punya target hidup yang ingin dicapai lebih dan labih lagi, saya justru berkubang dalam alam penebusan. Rasanya "harga" dari keputusan salah yang saya buat di masa lalu tidak akan terbayar oleh seluruh kerja keras di sisa umur ini. Sampai kapan trauma dan penyesalan ini berakhir? 50 tahun lagi dan saya akan tetap ingat kegagalan saya sambil menimang cucu? Kesalahan dan kebodohan saya di masa lalu telah menyeret saya menuju perasaan rendah diri yang paling rendah dan kecil hati yang paling kecil. Jika ini titik terendah dalam hidup, maka inilah rendahnya rendah. Minusnya minus. Telah melakukan kesalahan yang sangat fatal tidak jua membuat saya berani berterus terang, pada orangtua sekalipun. Saya pun ingin membalik lembaran, ingin mengubah keadaan. Tapi siapkah saya pada segala konsekuensi yang memikirkannya saja sudah membuat saya hampir gila? Apakah ini terlalu berat bagi saya? Apakah saya tak mungkin memikulnya seorang diri? Saya tahu saya butuh bantuan profesional, tapi saya tak punya biaya sekadar untuk konsultasi dengan profesional. Saya pun ingin meluapkan segala permasalahan pada seseorang tanpa mendapat penghakiman. Iya, judging dan respon lawan bicara, itulah yang paling saya takutkan, hingga sampai pada level menghindari sebagian orang. Walau saya sangat merindukan mereka.
Malang, 21 - 2 - 23













