Aktualisasi Diri atau Amanah yang Terabaikan?
Siang ini, lagi ngobrol soal kerjaan sama salah satu bapak di kantor.
Beliau bilang, “Ini saya kerjakan besok ya mbak, akhir-akhir ini saya lagi banyak kerjaan di rumah. Alhamdulillah dapat pesanan 30 pasang sepatu dari Maumere. Saya kerjakan bareng sama A dan B. Lumayan mbak, buat bayar sekolah anak-anak.”
Saya ikut senang mendengarnya.
“Alhamdulillah laris, Pak. Ngerjainnya malam? Memang ada oven di rumah buat manasin sepatunya?”
“Enggak mbak. Saya keluarin pas pagi, siang istirahat saya pulang buat masukkin. Sisanya ya Sabtu Minggu, kan ngantor mbak. Udah pernah coba malam enggak dipanasin, kualitasnya jauh.”
“Enggak pakai mesin di kantor saja, Pak? Dibawa sedikit-sedikit pas berangkat gitu?”
“Enggak mbak, sungkan saya. Kerjaan di kantor kan juga banyak.”
“Oh iya ya Pak. Kalau memang banyak mungkin izin pakai juga enggak apa-apa Pak, toh sebenarnya buat IKM yang mau pakai boleh saja.”
Saya diam sebentar.
Di sisi lain, ada pegawai lain yang justru lebih sering terlihat di luar kantor daripada di dalam. Entah izin atau tanpa izin, urusan pribadinya kerap didahulukan. Alasannya mulia menurut versinya sendiri: ini adalah bentuk aktualisasi diri, dan ada banyak perut yang bergantung pada usahanya. Nama usahanya pun mungkin sudah dikenal banyak orang.
Keduanya sama-sama punya usaha. Sama-sama mencari rezeki. Sama-sama memiliki tanggung jawab di luar pekerjaan utama. Namun ada sesuatu yang terasa berbeda.
Yang satu menjaga batas. Ia mengerjakan usahanya di sela waktu pribadi, pulang saat istirahat, mengorbankan Sabtu dan Minggu, bahkan merasa sungkan menggunakan fasilitas yang sebenarnya boleh dipakai. Ia tidak menjadikan statusnya sebagai pegawai sebagai alasan untuk mengurangi amanah yang sedang ia emban.
Yang satu lagi mungkin memiliki niat yang baik. Tetapi niat baik tidak selalu membenarkan cara yang kurang tepat. Sebab amanah tidak hanya diuji saat kita kekurangan, tetapi juga ketika kita memiliki kesempatan untuk mengambil lebih banyak daripada yang menjadi hak kita.
Dari dua kisah sederhana ini, saya belajar bahwa ukuran profesionalisme bukanlah seberapa besar usaha sampingan kita, seberapa terkenal nama bisnis kita, atau seberapa mulia alasan yang kita miliki. Tetapi seberapa jujur kita dalam menempatkan hak pada tempatnya.
Karena mencari nafkah adalah ibadah. Membesarkan usaha juga ibadah. Membuka lapangan pekerjaan pun ibadah. Namun menjalankan amanah pekerjaan yang menjadi tanggungan kita juga ibadah.
Jangan sampai satu ibadah membuat kita lalai terhadap ibadah yang lain.
Dan terkadang, integritas tidak terlihat dari pidato besar atau pencapaian yang gemilang. Ia justru tampak dari kalimat sederhana seorang bapak yang berkata,
“Enggak mbak, sungkan saya. Kerjaan di kantor kan juga banyak.”
Kalimat yang mungkin terdengar biasa, tetapi di dalamnya ada rasa takut mengambil yang bukan haknya, ada rasa hormat pada amanah yang dipikulnya, dan ada kesadaran bahwa rezeki yang berkah tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak yang kita dapatkan, tetapi juga dari bagaimana kita mendapatkannya.
Bukan semua orang yang sibuk mengejar rezeki kehilangan amanah. Dan bukan semua orang yang berbicara tentang mimpi dan aktualisasi diri sedang menunaikan amanah dengan baik.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya akan ditanya tentang apa yang berhasil ia bangun, tetapi juga tentang apa yang pernah dipercayakan kepadanya, lalu bagaimana ia menjaganya.
Sidoarjo, 24 Juni 2026









