I miss you, in the quiet moments when the world slows down and all that's left is the space you used to fill.
we're not kids anymore.
No title available
Peter Solarz
RMH

⁂
Xuebing Du
will byers stan first human second

Kiana Khansmith
cherry valley forever

Kaledo Art
One Nice Bug Per Day
todays bird
almost home
Cosimo Galluzzi

titsay
ojovivo

Product Placement

izzy's playlists!

No title available
sheepfilms
seen from United States
seen from United States
seen from Qatar
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Brunei

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Czechia

seen from Brunei
seen from Philippines
seen from Italy

seen from United States
seen from Kosovo
seen from Brazil
seen from Kosovo
@yourpersonal911
I miss you, in the quiet moments when the world slows down and all that's left is the space you used to fill.
Dear, A.
Be happy. Please be happy sayang.
Aku memulai rutinitasku seperti biasanya, bertemu orang yang itu-itu saja. Satpam apartment, tukang pipa yang biasa kupanggil untuk membersihkan grease trap, supir, tukang laundry langganan, terkadang bertemu Jazziel, anak kecil hebat yang bolak balik bertemu saat treatment di rumah sakit.
Kebiasaan itu perlahan berubah, Jazziel sudah berpulang dan aku kehilangan teman bermain CTR saat menunggu antrian, satpam apartment yang lama diganti dengan vendor baru yang ternyata lebih ramah dan lebih banyak membantu, aku sudah jarang membersihkan grease trap karena apartmentku jarang dikunjungi, supirku sedang cuti tahunan, ia pulang kampung dan katanya lebih nyaman di rumah ibunya, sudah lama tidak bertemu tukang laundry langganan karena aku mulai suka mencuci pakaian sendiri.
Banyak hal yang berubah, termasuk tahun lalu yang berjalan dengan baik namun datang memberi banyak pelajaran. Nilainya A hingga F, yang artinya semua hal baik dan buruk datang beriringan. Beberapa hal layak untuk diingat, beberapa lagi terlupakan begitu saja, ada juga yang seharusnya dilupakan tapi malah memilih untuk menjadi memori kelam, ada yang sangat ingin disimpan namun hilang begitu saja, juga ada yang sangat diharapkan namun sirna perlahan-lahan.
Ini sudah 2026, tahun genap yang baru berjalan 8 hari, hal yang masih sama dari sebelum-sebelumnya adalah aku masih kesulitan untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya aku rasakan, aku lebih suka mendengarkan, aku lebih suka direpotkan daripada merepotkan, aku lebih suka melakukan semuanya sendiri, aku lebih merasa bermakna jika aku diminta melakukan sesuatu, dan aku masih suka menulis. Kuharap tahun ini penuh dengan banyak kebahagiaan.
Hallo Bu.
It has been years since the exact day you left, and somehow the date still knows how to find me. It falls cruelly between things that were meant to be warm. After Mother’s Day. One day before my birthday. One day before Christmas Eve. As if the universe needed to remind me how empty celebrations can feel without you.
Bu, i try to remember you every single day. But time is doing what it always does. It steals quietly. The warmth of your embrace is fading. Your scent no longer comes to me when i close my eyes. Even the softness of your hands is slipping away, and I hate myself a little for letting that happen. I am terrified of the day i realize i can no longer remember you with my body, only with words.
The pain of losing you is a wound I refuse to let heal. I keep reopening it, tracing its edges, memorizing the ache. I learn how it hurts in different ways, in different seasons. I hold on to it because it is the last proof that you were real, that you loved me, that i was once someone’s child who was protected. If this wound disappears, i am afraid you will disappear with it.
There are nights when i survive only because this pain exists. Because hurting means you mattered. Because longing means i was loved deeply, once. Without this grief, i do not know who i would be, or how i would keep going.
I imagine the place where you are now. I hope it is full of flowers, endlessly blooming, untouched by loss. When i finally come to you, i will bring tulips. Your favorite. And maybe then, for the first time, it will hurt a little less.
With love that never learned how to let go,
-your son.
Waktu itu ibu tidak sengaja menyenggol gelas kopi yang baru saja di letakkan di atas meja kerja bapak, membasahi beberapa kertas laporan kerja yang disiapkan seminggu lamanya. Ibu panik dan bergegas mengibas kertas dan berupaya untuk mengeringkannya, gelagapan sambil minta maaf terus-terusan. Bapak berdiri dari kursinya, menghampiri ibu tidak kalah paniknya dan bertanya apakah ibu tidak apa-apa? Apakah tangannya luka terkena air panas dan mengelus-elus punggung ibu sambil bilang "Tenang bu, nanti kan bisa di print lagi berkasnya, yang penting ibu tidak apa-apa" bapak ke dapur mengambil lap, lalu membereskan mejanya. Ibu masih terus meminta maaf, sambil masih berusaha mengeringkan kertas. Bapak elus lagi punggung ibu "Bu, tidak apa-apa. Masih bisa diperbaiki kok. Ibu jangan merasa bersalah dan khawatir ya?" Ibu merasa bersalah dan meminta maaf lagi. Bapak lagi-lagi menenangkan ibu.
Waktu itu bapak pulang kehujanan, hampir tengah malam dan pakaiannya basah semua, termasuk tas nya. Masuk dalam keadaan kecewa, menekuk wajahnya dan enggan bercerita. Ibu menyiapkan air hangat untuk mandi dan segelas kopi, duduk dengan tenang sambil menunggu bapak selesai beberes dan siap untuk bercerita. Bapak penuh amarah, kecewa tiada tara, pekerjaan yang ia garap ternyata belum sempurna. Ibu mendekat, menenangkan bapak sambil mengelus punggung tangannya ibu bilang "Pak, tidak apa-apa masih bisa diperbaiki kan? Jangan khawatir ya pak, yang tenang, nanti dicoba lagi pelan-pelan" Bapak masih menggebu, ia masih kecewa. Ibu sekali lagi menenangkan bapak "Nanti coba lagi ya pak, masih bisa diperbaiki kok. Tidak apa-apa, ibu yakin bapak pasti bisa"
Bersama-sama, saling menguatkan seperti ibu dan bapak. Aku akan sangat senang jika nanti kita ada di posisi itu, dan bisa bersikap seperti itu, bersama-sama meyakinkan bahwa semua bisa dilalui, asal bersama.
I’m still wondering why heaven needed you more than I did, Bu.
Saya selalu ingin merayakan kamu.
Entah itu dengan cara paling meriah dengan hingar bingar atau dengan cara paling sederhana sunyi dan senyap.
Agar kamu tahu bahwa, kamu masih akan jadi kesukaanku.
Entah hari ini, esok, dan masa yang akan datang, saya harap kamu dikelilingi orang yang sayang kepadamu meskipun sudah tidak lengkap dan sempurna tapi kamu adalah sumber dari sebuah kata "bahagia" yang muncul dari tubuh mungil dan senyum simpul dengan pipi merah jambu itu.
Entah hari ini, esok dan masa yang akan datang, saya masih berharap sakit enggan menghampirimu, duka boleh singgah namun tidak akan menguburmu lagi seperti dahulu.
Entah hari ini, esok dan masa yang akan datang, saya akan terus melihatmu dari sini, sisi terluar yang tidak bisa dijangkau siapa-siapa selain bayangan diri sendiri yang ikut membeku.
I have been diagnosed with a battle i did not choose, yet i carry more gratitude than fear. This journey is already halfway through, and i know the next miles will be harder. But i am surrounded by love, and that changes everything. To those who walk with me, who stay close through each day and week, who help me keep track of my steps and hold me steady when i falter, thank you. Your kindness makes this fight lighter, your presence turns the unknown into something I can face. I am deeply grateful, and i love you more than i will ever be able to put into words.
NIKI once sang, “What if i make you pancakes, but you choose to skip breakfast?” And somehow, that feels like us.
I tried to love you in the way i knew how. Through effort, through quiet gestures that i thought spoke loudly. I offered something that, in my mind, proved i cared, that i was trying. But it wasn’t what you were reaching for. It wasn’t what you needed. And in that gap, we missed each other completely.
It’s a kind of irony, isn’t it? That even in something as tender as love, we couldn’t meet in the same place. We ended up loving in opposite directions. Giving and needing never quite aligned.
So we had to go. One choosing to leave, the other left behind. Not because there was no love but because love alone wasn’t enough to hold us in the same chapter.
Dear Ibu,
I love you and i miss you so much.
To the next man who will love her
She was a quiet child who learned early how to carry things alone. Not because she wanted to, but because no one taught her how to place her sorrow down without apology. Strength was expected of her before she ever knew what softness could mean.
So if you find her slow to ask for comfort, don’t take it as distance. It is muscle memory. It is a reflex born from years of being the girl who holds everything in until it bruises.
Do not meet her silence with questions too sharp. Meet it with steadiness. With space. With a kind of listening that doesn’t insist on fixing. She won’t unfold through force. She’ll loosen in safety.
She is not a puzzle to be solved nor a flame to be captured. She is a wilderness that remembers. Sit with her through her shifting weather. Offer your warmth without condition. And if you are patient enough, you will begin to understand the riddle of her seasons and the quiet bravery of someone who has spent a lifetime pretending not to shatter.
I don’t ask you to understand everything she’s been through. I only ask that you don’t add to it. That whatever weight she carries when she finds you, she won’t have to carry alone anymore.
Dear, A
Turns out being on the "A" team is my favorite thing. Who knew love could feel like laughing over the smallest things, turning random nights into stories we’ll keep forever? With you, even getting lost feels like an adventure, because somehow we always end up right where we’re supposed to be together.
Being with you feels easy in the best way. Like walking into a room that already feels like home. Like finding a song that sounds like it was always meant for you. You make me want to show the world that love doesn’t need to be loud to be real.
You make me believe in steady things. In choosing, every day, even when the world feels unsure. And if being "A" team means carrying pieces of each other without asking for anything back, then I think we’ve been doing it right all along.
Dear, My dearest A
I’m glad it found its way to us. I’m glad it’s you
Untuk Mami
Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa aku akan memiliki mami dihidupku, Tuhan memang selalu penuh dengan teka-teki. Yang dulunya tidak mengenal satu sama lain, sekarang berakhir rela melakukan apapun untuk satu sama lain. CaraNya sungguhlah unik.
Mami sudah serba bisa, memasak? Jago. Tidak ada lagi dapur berantakan. Tidak ada lagi ayam golden brown tapi dalamnya belum matang. Tidak ada lagi masakan sederhana, di atas meja sudah lengkap hidangan 4 sehat 5 sempurna. Menyetir mobil? Bisa, lengkap dengan parkir paralelnya. Memilih buah? Tidak udah diragukan. Kelemahan mami hanya 1, tidak bisa menawar barang, lemah.
Sejauh ini mami bilang kalau mami bahagia, meski aku seringkali pergi kesana kemari tapi ia cukup sabar untuk menungguku pulang walaupun ketika kami bertemu mami hanya akan sibuk mengabsen ceritaku dari A sampai Z, sampai dia lupa bahwa dia juga butuh cerita, butuh untuk didengar. Sekali lagi mami berhasil menjadi orang tua, yang telinganya selalu mendengar, dan bahunya siap ia jadikan sandaran.
Mami, mamas banyak kurangnya. Banyak gengsi dan bikin malunya. Banyak hal yang mamas lakukan terkadang tidak sengaja menyakiti hati mami. Mamas seringkali lebih mementingkan diri sendiri, mamas keras kepala dan suka membuat khawatir, walaupun demikian mamas akan terus berusaha untuk menjadi anak kebanggan mami. Sehat dan bahagia selalu ya mi. Doaku selalu untuk mami, dalam nama Allah, semoga Allah berkati mami selalu.
Xavier Part, Sekian..
Xavier sudah besar, lebih banyak menghafal nama negara dan benderanya, lebih suka menghafal daripada hitung-hitungan, sudah lebih pintar dan menguasai bahasa Inggris dasar dan bahasa Mandarin. Rajin sekolah minggu tapi kemarin masih ikut-ikutan puasa ramadhan, 5 hari tidak bolong, ikut bangun sahur dan ikut Solat taraweh.
Xavier berhasil naik ke kelas 3 SD, ranking 1 dari 28 orang, membanggakan. Tapi bukan karena berhasil ada di posisi pertama, melainkan karena berhasil mempertahankan posisinya sejak di hari pertama.
Xavier masih suka nyeleneh, apalagi jika ditanya cita-cita. Dari yang ingin jadi odong-odong, mesin pengeruk tanah, hingga sekarang ingin jadi engineer, lebih spesifik lagi ingin jadi Arsitek. Entah sudah berapa kali dia bilang ingin membangun rumah di dalam tanah, ingin membuat rumah mengapung dan banyak hal lainnya. Xavier masih suka menyusun puzzle dan merakit lego, lebih tertarik membangun sesuatu dan membuatnya dari awal ketimbang harus memainkan yang sudah jadi, sudah tidak perlu diragukan fix dia anak bapak.
Ada satu hal yang membuatku khawatir, Xavier si anak kecil itu ternyata tidak bisa membela dirinya sendiri. Ia lebih memilih menerima jika mainannya direbut, lebih memilih diam saat makanannya diambil paksa, atau memilih tidak protes saat bangkunya ditempati anak lain, hal yang aku belum tau pasti adalah apakah ini sesuatu yang baik untuk belajar "nrimo ing pandum" sejak dini, atau Xavier memang terlampau takut dengan teman sebayanya?
Banyak hal yang aku takutkan, banyak juga yang perlu dikhawatirkan, beriringan bertumbuh bersama Xavier membuatku sekali lagi belajar bahwa untuk menjadi manusia memang harus banyak belajar dan banyak menerima.
I will choose you over and over again.
It's been...... a while
I’ve lost count
But it still hurts.
Funny, how some feelings never learn to fade