Aku mencintainya, karna suara indahnya tatkala menyebut nama-Mu.
Perbincanganku pada Tuhan malam ini

blake kathryn

祝日 / Permanent Vacation

#extradirty

ellievsbear

Origami Around

Product Placement
Show & Tell

Discoholic 🪩
styofa doing anything
noise dept.

izzy's playlists!
Today's Document

JBB: An Artblog!
YOU ARE THE REASON

⁂
taylor price
sheepfilms
Claire Keane
Not today Justin

if i look back, i am lost
seen from United States

seen from United States
seen from Italy
seen from Ukraine
seen from Indonesia

seen from United Kingdom
seen from Norway

seen from Türkiye

seen from Russia

seen from Malaysia
seen from Japan
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from China

seen from Germany
seen from United States
seen from Venezuela
seen from United States
seen from United States
@yulianapea
Aku mencintainya, karna suara indahnya tatkala menyebut nama-Mu.
Perbincanganku pada Tuhan malam ini
Buku yang menurutku sedikit banyak bisa dijadikan sebagai hiburan tatkala patah hati. Sebenarnya bukan kumpulan tips untuk move on secara kilat yang disajikan, atau kata-kata sejuk penyembuh luka. Melainkan buku ini menempatkan diri sebagai "teman" yang setia duduk bersama menemani tangismu. Isinya berupa kumpulan frasa sumpah serapah dan kutipan puisi patah hati. Mungkin orang-orang tertentu akan menilai buku ini sebagai buku yang terlalu "menye-menye", karna terlalu banyak diksi hiperbolis yang disajikan sang penulis. Tapi bagiku justru setiap katanya memiliki daya magis yang perlahan mampu mengikis rasa sesak di hati. Menyadari bahwa patah hati adalah rasa yang manusiawi. Tidak perlu memburu-buru diri untuk sembuh. Berlahan namun pasti, waktu yang akan menunjukkan kuasanya sendiri.
Buku ini sangat unik karna menyajikan diksi-diksi luar biasa khas Wira Nagara. Selain itu tulisan ini disajikan dalam cawan analogi ilmiah. Begitu ajaibnya Wira meramu istilah kimia menjadi tulisan romantika.
Ah intinya, dengan membaca buku ini aku seakan mendengarkan Wira Nagara sedang berbicara lantang kepadaku,
“Mencintai terlalu dalam bukanlah suatu kenistaan. Pun ditinggalkan bukanlah suatu hal yang harus disesalkan. Aku juga pernah terluka luarbiasa, namun aku percaya ikhlas akan datang di waktu yang sudah semestinya.”
Ibaratnya saat ini aku sedang mengantri untuk membeli eskrim coklat favoritku. Outlet eskrim itu masih buka, dengan seorang penjaga yang masih terlihat sibuk di dalamnya. Dari awal kedatanganku aku sudah memesan apa yang aku inginkan. Si penjual hanya mengucapkan, “tolong tunggu sebentar, akan aku siapkan.” Namun sudah sangat lama aku menunggu disini dan belum ada tanda-tanda aku akan dilayani.
Sempat terbersit dalam hati untuk menanyakan tentang pesananku tadi, namun ku urungkan. Bukankah tidak sopan mengganggu orang yang sedang bekerja? Hingga tepat di depan mataku, penjual eskrim tadi menutup outlet dagangannya, Memasang tulisan HABIS pada pintu yang barusaja ditutupnya. Aku hanya bisa terperanga. Kenapa tiba-tiba? Bukankah tadi aku disuruh nya untuk menunggu sebentar? Aku sudah mau menunggu dengan tenang. Tidak memburu-buru. Dan, tidak sebentar. Tapi kenapa aku tidak mendapatkan eskrim coklat yang telah kupesan? Kalau tahu memang sudah tidak ada eskrim yang tersisa untukku, kenapa tidak dikatakan saja sejak awal. Kenapa aku dibiarkan menunggu terlalu lama?
Padahal banyak penjual minuman manis lain yang terus menawarkan dagangannya kepadaku, tapi aku menolak. “Aku hanya ingin eskrim coklat.”
“apakah mungkin, eskrim coklat tidak akan mencair seiiring penantianku setahun terakhir?”
“kenapa kamu selalu mampir ke kafe samping kantor sepulang kerja? Kenapa tidak langsung pulang saja?”
“ya itu aku sedang pulang”
“tapi itu bukan rumahmu.”
“karna ketika pulang ke rumah, aku hanya akan bekerja lebih keras. Tidak ada tempat untuk beristirahat disana.”
Sekencang apapun aku berusaha untuk berlari, rasanya terlampau sukar untuk bisa menyamai langkahmu. Sekeras apapun aku mencoba mencari pijakan untuk berdiri, mustahil bisa berdiri sejajar denganmu. Semakin mengenal, semakin tampak mengagumkan. Dan sebaliknya aku terlihat semakin payah. Maka, jika kau temukan aku semakin menghilang dari sekelilingmu, itu bukan karena ada yang salah dari dirimu. Hanya saja aku yang merasa tidak pantas untuk berada disana.
Jangan memutuskan untuk memulai membaca buku baru sebelum engkau menamatkan buku cerita lamamu, sayang.
Saya manusia rendah. Terbiasa hidup sejajar tanah. Tapi ya jangan terlalu lama diinjak Tuan. Saya juga bisa kesakitan.
Lantas mengapa kamu datang menemui dokter jika sakitmu tak ingin diobati, mas?
Make a Book Wish
1. Pulang & Laut Bercerita by Leila S. Chudori
2. Cantik itu Luka by Eka Kurniawan
3. The Things You Can See Only When You Slow Down - Haemin Sunim
4. Lebih Senyap dari Bisikan by Andina
5. Tetralogi Muhammad by Tasaro GK
6. Garis Waktu & 11.11 by Fiersa Besari
7. Disforia Inersia by Wira Nagara
8. Senandung Talijiwo by Sujiwo Tejo
Aku tidak minta apa-apa ke Bapak dan Ibuk, kecuali dua hal, panjang umur dan sehat selalu.
Semoga aku selalu dilindungi dari bergantung, dari hati yang terlampau mengharap, dari rasa takut akan kehilangan, dari kehancuran yang disebabkan kepercayaan, dan dari ekspektasi yang menjulang, kepada makhluk bernama manusia
Aku pernah menggenggam sesuatu sangat erat. Kupikir dengan begitu aku tak akan pernah kehilangannya. Ternyata aku salah besar. Pasir semakin digenggam akan semakin habis tak bersisa. Untuk itulah, kini aku melakukan segala sesuatu sewajarnya saja, semampu yang aku bisa. Segala sesuatu jika memang ditakdirkan untukku maka akan tetap menghampiriku, sejauh dan sesulit apapun itu. Sedangkan segala sesuatu yang tidak ditakdirkan untukku, sekuat apapun aku berupaya menggenggamnya, dan sepayah apa aku mempertahankannya, maka akan tetap memiliki jalan untuk meninggkalkanku juga. Aku percaya, segala sesuatu yang telah Allah gariskan untukku, adalah sebenar-benarnya takdir terbaik. Dan aku ikhlas menerimanya.
Bagaimana keadaanmu sekarang, wahai tulang rusuk yang harus menyangga seluruh badan? Beban yang kamu pikul semakin membuatmu bertambah bengkok ya? Sabar, beberapa tulang rusuk memang diciptakan lebih kuat daripada yang lainnya. Semoga milikmu adalah salah satunya. Tentu aku yakin segala upayamu tak akan pernah menemui kesia-siaan. Mungkin rasanya terlalu payah, dan udara terlalu engap bahkan hanya untuk bernafas sebentar. Lelah sekali ya, seperti sedang memikul sesuatu yang entah wujudnya apa. Seperti telah berlari ratusan mill tapi tak kunjung menemukan titik tujuan. Rasanya haus sekali, ingin minum satu teguk saja tapi belum ada sumur yang dijumpai.
Sabar belum waktunya. Coba tengok lagi jejak-jejak kakimu yang kau tinggalkan dibelakang punggungmu. Bukankah sudah sangat jauh perjalanan yang telah engkau tempuh. Hei, itu adalah pencapaian yang luar biasa. Dan jika kamu kemarin telah berhasil melaluinya, tentu kedepannya kamu pasti juga akan bisa melaluinya. Percayalah, ada bunga yang tumbuh pada setiap jejak kaki yang kau tinggalkan.
Terimakasih ya kamu sudah hidup dan menghidupi. Biarkan saja kamu tak punya segalanya tatkala di dunia. Anggap saja, kamu sekarang tengah menyusun pondasi untuk istanamu di surga.
Surat Terbuka Untuk Jodohku
Assalamu'alaikum, jodohku.
Apa kabar mas? Sudah sampai mana perjalananmu untuk menuju ku? Pasti lelah ya? Pasti jalannya menanjak dan berkelok-kelok. Maaf ya, kamu harus berjibaku melewati apapun yang menghalangi demi menemukanku. Hati-hati ya, jangan buru-buru. Aku masih menunggumu semampuku.
Mas, aku menulis surat ini tatkala aku belum tahu sama sekali siapa namamu, dimana rumahmu, dan apa makanan kesukaanmu. Siapapun kamu, terimakasih karna kelak telah mau memilihku untuk menjadi satu-satunya di hidupmu. Terimakasih karna telah yakin bahwa akulah yang terbaik dari sepersekian juta manusia di semestamu.
Aku sebenarnya sangat takut mas. Karna aku punya banyak sekali kekurangan. Aku selalu bertanya-tanya, apa mungkin ada yang mau denganku? Kurangku banyak sekali mas, parasku tidak cantik, hidungku pesek, senyumku tidak manis, mataku minus, aku punya banyak stretch marks. Dan lagi, apa kamu mau menerima sifatku, yang kadang masih seperti anak kecil ini. Aku ini cilikan ati mas, itu yang membatku jadi mudah sakit hati, mudah menangis. Oiya aku bukan anak orang berada mas. Tabunganku tidak banyak. Gajiku habis hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan aku masih harus menanggung ke dua orang tua ku. Karirku pun tidak secemerlang mbak mbak di luar sana. Apa Kamu yakin mau menerima semua kurangku?
Mas, meskipun kelak aku pasti akan menerima seapa-adanya dirimu, tapi aku tetap memiliki harapan yang besar terhadapmu. Aku berharap, kamu adalah seorang laki-laki yang cintanya pada Rabb-nya melebihi apapun di dunia ini. Aku harap kamu adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan sangat memegang segala ucapannya. Aku harap, hanya aku, satu satunya wanita yang kau kasihi dan cintai hingga habis nyawamu. Tentu selain ibu dan saudaramu, maksudku. Aku harap, kamu adalah laki-laki yang mampu membahasakan apapun yang ada di pikiranmu, yang kamu rasakan, yang kamu inginkan, atau apapun yang kamu benci, dengan bahasa lugas namun tak menyakiti hati.
Mas, jika kelak aku telah mantap memilihmu sebagai pendamping hidupku, itu artinya aku telah mempasrahkan segala-galanya kepadamu. Aku akan bergantung, berbakti, dan bersandar sepenuhnya kepadamu. Bukan berarti aku tidak bisa mandiri. Aku bisa melakukan apapun, dan jika tidak bisa maka aku akan berusaha untuk belajar. Tapi yang aku maksudkan bergantung kepadamu adalah karna kamu adalah imamku, kamu adalah pemimpin di bahtera ini. Maka dari itu, tuntun aku dan didik aku dengan cara yang baik. Tulang rusuk yang bengkok hanya akan lurus jika diluruskan dengan kesabaran yang luar biasa, bukan dengan cara yang kasar. Karna itu hanya akan mematahkannya.
Mas, aku hanya ingin menjadi wanita yang bebas masuk surga dari pintu mana saja. Kau tentu tahu, sesuai Sunnah Rosul SAW yang harus wanita lakukan untuk meraih surga adalah dengan Sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatan, dan patuh terhadap suami. Bantu aku untuk mewujudkan point terakhir mas. Jadilah suami terbaik, semampumu, agar aku bisa memaksimalkan diri berbakti kepadamu.
Aku ingin pernikahanku denganmu menjadi satu-satunya pernikahan di hidupku dan hidupmu. Aku ingin pernikahan kita kelak benar-benar menjadi penyempurna separuh agama kita. Pernikahan yang dirahmati alam semesta. Pernikahan yang abadi hingga Surga Allah SWT. Tak apa bila selama ini aku harus jatuh dan sakit karena selalu bertemu dengan orang yang salah. Tapi aku selalu berdoa, kelak bertemu denganmu adalah obat dari segala rasa sakitku. Aku ingin bahagia selamanya, bersamamu.
Mas, aku akan sabar menanti waktu. Aku percaya, kelak akan dipertemukan denganmu pada waktu yang sangat sangat baik. Waktu dimana aku dan kamu telah sangat siap, untuk melangkah bersama, untuk beribadah bersama, dan untuk bahu membahu membangun rumah abadi di surga Allah SWT.
Dari aku Yang menanti kedatanganmu
Welinge Bapak
Nduk aku rino wengi kepikiran tentang iki terus. Aku kepikiran, suk nek koe gowo wong lanang muleh, terus ngerti keadaane awak dewe gur koyo ngene, opoyo bakal dee nompo kahanane awak dewe opo enek e? Iyo nek bocah lanang e seneng tenan karo awakmu, mesti dee bakal nompo, tapi wong tuone piye? Opoyo gelem ndue besan wong ra nduwe?
Nduk tak weling ya, gedhekno atimu. Misal sok koe gowo wong lanang neng omah dan ternyata dee mundur, wes ikhlasno. Berarti dee dudu jodomu. Gusti Allah seng paling ngerti seng terbaik dinggo awakmu. Rasah kecewa. Jik akeh wong lanang neng donya iki, seng bakal nompo koe opo enek e yo mesti enek. Sabare diakehi, atine digedheni. Ojo nangis nek ditinggal wong lanang mung mergo bondho. Tak doake koe entuk jodo wong lanang seng sholeh, seng gemati ro awakmu ya nduk.
Pokok e welingku, koe ojo cilikan ati. Nek golek wong lanang seng bener-bener sayang karo koe dan gelem nompo awakmu opo enek e. Rasah gagas wong kui sugih opo ora, ganteng opo ora. Rasah. Awakdewe wong ra ndue, engko nek milih seng koyo ngono, malah awakdewe seng diluwehne. Wong lanang kui terhormat goro-goro kerja keras lan kasetyan e. Apapun pekerjaane asalkan wonge bertanggung jawab dan beriman, mesti tetep bakal isoh nyanggemi kabeh kebutuhanmu nduk. Rasah milik baguse, seng penting atine tulus lan ikhlas nompo sak kabehane uripmu. Miliho wong seng bener-bener tepat, ben koe isoh ikhlas ngabekti marang dee, dan dee isoh ngajeni koe.
Nduk tak gedhekne atimu ya. Ojo cilik atimu. Ojo nangis eneh nek enek wong lanang seng ninggal awakmu goro-goro ngerti kahanane wong tuo mu koyo ngene. Ojo nangis eneh, koyo ndek mbien kae.
Lelah sekali rasanya, harus memulai dari awal, lagi dan lagi. Menjelaskan semuanya. Menceritakan apa yang aku suka dan apa yang tidak aku suka. Menjelaskan bahasaku, warnaku, diamku, takutku. Menyesuaikan lagi dengan jiwa yang baru. Menebak-nebak lagi, meraba-raba lagi. Menyusun lagi kepingan puzzle baru agar kembali utuh, agar bisa dilihat bagaimana wujudnya.
Dan ketika aku memutuskan untuk mau mencoba lagi, ada rasa takut yang mengiringi. Berjuta tanda tanya berjubal di kepala. Apakah benar ini orangnya? Bagaimana kalau aku ditinggal lagi seperti tempo hari? Bagaimana kalau aku jadi sakit lagi? Bagaimana kalau ternyata akhirnya akan sama saja?
Toko Baju
Malam kemarin, selepas sholat isha dan hujan yang sudah mulai mereda, aku berbincang dengan ibuk di depan tv, seperti biasa. Aku sedikit lupa awalnya kita membahas apa, namun intinya telah mampu membawaku untuk bertanya satu hal kepada Ibuk.
“Kenapa aku selalu ditinggal ya buk? Padahal kupikir, yang kemarin ini sudah paket lengkap sekali. Agama bagus, gemati sama keluarga, tinggi besar, rumahnya dekat, dan pekerjaannya lumayan. Kupikir kemarin dia benar-benar jodohku. Dia datang tiba-tiba dan seperti menandakan keseriusan. Aku salah apa ya buk, kok dia bisa sampai berubah pikiran dan meninggalkanku? Fisikku buruk ya? Atau mungkin sifatku yang tidak baik?” Aku berkata dengan setengah kesadaran, setengahnya lagi sedang entah di alam mana.
Aku mendengar Ibuk sedikit menarik nafas sebelum menimpali pertanyaanku, kalau orang jawa menyebutnya ngunjal ambegan.
“Gini, anggap saja kamu sedang berada di toko baju. Kamu menemukan baju yang bagus banget, pokoknya sesuai dengan selera kamu. Modelnya lah, warnanya, motifnya, dll. Tapi setelah kamu coba, ternyata baju itu kekecilan dan tidak bisa dikancingkan. Nah, kamu akan memaksa beli baju itu dengan resiko sampai rumah tidak bisa kamu pakai, atau kamu letakkan baju itu, kemudian kamu mencari lagi baju lain yang akan muat di badanmu dan sesuai dengan selera hatimu?”
Dan ucapan ibuk itu telah mampu mengembalikan kesadaranku sepenuhnya.