Laki-laki yang baik tidak akan membuatmu menunggu sesuatu yang bahkan dirinya sendiri belum bisa memutuskan.
Macam gue nih. Ahs**l.

izzy's playlists!

No title available
Jules of Nature

@theartofmadeline

No title available
Xuebing Du
Sweet Seals For You, Always
No title available

JVL
Game of Thrones Daily

roma★
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Alisa U Zemlji Chuda

Kaledo Art
cherry valley forever
Show & Tell
YOU ARE THE REASON
todays bird
occasionally subtle
sheepfilms

seen from Türkiye

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
@a-pluto
Laki-laki yang baik tidak akan membuatmu menunggu sesuatu yang bahkan dirinya sendiri belum bisa memutuskan.
Macam gue nih. Ahs**l.
Jarak ada katanya untuk membuat rindu.
Nyatanya, jarak ada justru membuat kesal.
Gue Lebih Oke Dibanding Dilan
Di suatu sore, gw baru pulang dari nonton Dilan 1990 bareng sama gebetan. Dia maksa pengen nonton, soalnya suka sekali dengan si Iqbal yang gede-nya emang kece, seketika gw ngerasa gw yg tampil cuek dengan rambut gak pernah disisir dan kemeja kebesaran bak orang tak terurus jatuh kepercayaan dirinya.
Selama nonton gw cuma perhatiin mukanya yg kadang senyum kadang mendadak tidur. Jika ku tanya 'kenapa malah tidur?' Dia menjawab dengan santai.
"Ngantuk, Dilannya bikin pengen tidur terus mimpiin dia."
Oke. Gw salah ngajak dia ke bioskop hari ini. Dan hey Iqbal fans lo nambah satu lagi, jangan bikin dia kecewa, nah loh. Kenapa juga mendadak gw begini. Jadi setelah nonton Dilan 1990, yang gw suka ngomong gini.
"Kamu tahu gak?"
"Apa?"
"Kamu sedikit mirip dengan karakter Dilan."
"Bandelnya? Atau bagian yang di keluarin dari sekolah?"
"Rambutnya. Hahaha" katanya lalu tertawa.
"Beda kali. Gw rambutnya gak sependek itu."
"Tapi selalu berantakan."
"Tapi kamu suka kan?"
Dia diam. Gw kembali jalan disampingnya dengan wajah senang. Kayaknya gak salah ngajak dia nonton hari ini.
"Makan es krim yuk." Ku ajak dia mampir disalah satu toko es krim di mal.
"Emang lagi banyak untung?"
"Alahamdulillah, untung ada kamu."
"Gak nyambung." Katanya senang.
Dia duduk di depanku, memesan es krim vanila favoritnya tanpa toping apapun. Dia tidak pernah suka jika es krimnya dikasih toping maka akan membuat cita rasa es krimnya berubah. Cuma dia yang kayak gini.
"Masih sering konsultasi dokter?" Tanyaku yang dijawab anggukan kepala olehnya.
"Dokter bilang apa?" Tanyaku lagi.
"Milea, kamu cantik. Tapi aku belum mencintaimu, gak tahu ntar sore. Hahahah" jawabnya mengulang ucapan Dilan.
"Aku serius tahu. Malah becanda."
"Jangan terlalu serius. Aku baik kok. Tenang aja,kan ada kamu." Katanya lagi.
"Kalau aku gak ada?"
"Aku pasti rindu."
Kami berdua tertawa. Tidak, ini bukan gw ngejiplak si Dilan. Gw dan perempuan yang gw sukai ini memang suka sekali ngobrol layaknya si Dilan dan Milea itu. Cuma kadang obrolan kami lebih menggelikan lagi. Kau tak akan sanggup menahannya jika mendengarnya. Aku saja yg sering ngebaca ulang chatku kadang ketawa ngakak sendiri.
"Kalau misalnya nih, kamu disuruh pilih andaikata Dilan mau ke kamu, pun aku, kamu pilih siapa?" Tanyaku menatapnya.
"Kamulah. Kamu lebih oke dibanding Dilan."
Aku tertawa, "Kenapa pilih aku?"
"Karena kalau gak ntar aku disuruh pulang jalan kaki."
"Hahaha" kami tertawa bersamaan.
Laki-laki, kalau dia udah beneran sayang sama lo, mau lo sakit apaan juga tetep dia jaga lo baik-baik. Jadi gak usah ngehindar kalau akhirnya gw tahu lo sakit.
Ketika gebetan mendadak bersikap aneh dan gue tahu banget doi gak pernah seaneh ini sepanjang gue dan dia jalan bareng.
Selamat malam manusia-manusia yg berbudi luhur dan baik hatinya (semoga). Gue kembali nulis lagi setelah beberapa hari apa minggu ya (?) Gue gak nulis sama sekali. Disamping kerjaan yang cukup banyak dan kelelahan ngadepin calon gebetan yg moody banget, malam ini gue sempetin buat nulis lagi. Jadi, rombongan nonsense gue malam ini abis bahas perihal orang-orang yang memiliki mental issue. Gue includ-in si doi, soalnya dia juga punya issue itu. Well obrolan rombongan nonsense malam ini seperti ini. Sebenarnya cuma ada 4 orang yg doyan ngobrol nonsense kalau kita-kita pada kumpul, dan selalu gue jadi orang yg bakal paling emosian diakhir obrolan mereka. Nama temen gue sengaja gue samarkan, biar kalian yg ada issue mentality-nya gak ngubek-ngubek sosmed cuma buat nyari mereka. Si Jambul :"Lo pernah mikir gak sih kalau gebetannya Uto akting doang." Si Sableng :"Jangan suudzon bro. Ntar kualat lo. Gak semua yg lo liat itu bener dan nyata. Iya gak To?" Gue cuma ngelirik aja. Sibuk fokus sama jalanan. Ya biar gak nabrak mobil orang lagi sih, jadi gak gue gubris banget omongan mereka. Si Lelet :"Eh tapi lo seriusan suka sama si doi sekalipun ada mental issue gitu?" Si jambul :"Kalau gue sih ya, saran aja sebagai temen lo yang paling care sama lo. Mending lo suruh dia berhenti akting aja. Gimana ceritanya mendadak dia issue anxiety." Si sableng :"Ehh kata lo bukannya issue mentalnya dia parah? Tempo hari lo bilang ada kemungkinan besar dia kena gangguan jiwa beneran. Emang separah itu?" Si lelet :"Udah berapa dokter yg dia datengin emang? Lo suruh dia check lagi deh di dokter yang berbeda, ya kali dokternya salah diagnosis." Si Jambul :"Bukan dokternya yg salah diagnosis, dianya yg hebat akting." Gue :"Lu emang tahu gimana rasanya nyimpen penyakit sendirian karena gak mau buat malu satu keluarga lu? Lu emang pernah ngerasa gimana susahnya nahan emosi lu saat pengen meledak hebat? Lu pernah tahu akibat dari tidak konsumsi obat buat diri lu dan orang sekitar lu? Lu pernah emang diam dirumah selama seminggu hanya karena lu takut orang-orang berfikir aneh tentang lu?" Well yeah sepersekian detik mereka diam gak ada yg bisa ngejawab gue. Iya, karena mereka belum pernah ngerasain apa yg gue tanyain ke dia. Mereka cuma bisa nerka aja, sok tahu dan sok mengjadi hakim hebat. Mereka cuma tahu menyebut tapi gak pernah mencoba buat ngerasain bila diposisi orang lain. Sebrengseknya gue sebagai cowok, gue gak suka kalau ada yang ngatain orang lain segampang itu. Apalagi sampai buat cerita yg gak-gak. Percaya atau tidak, jauh di bawah alam sadar kita, kita juga memiliki mental issue namun tak sebesar yg gebetan gue punya atau orang lain. Ya sudah. Gue cuma mau cerita itu. Calon ibunya anak-anak nelpon.
Gue gak ngerti kenapa orang-orang doyan cari muka di depan orang lain? Padahal mereka punya muka masing-masing tapi kok ya masih doyan cari muka gitu.
Menurut calon gebetan, orang-orang itu sama dengan penjilat. Menjual diri mereka untuk disukai, tanpa mikir mereka sedang mencoba menjadi orang lain. Gue cuma gak paham, apa yang sebenarnya mereka ingin kejar sampai begitu berusahanya tampak sangat hebat di depan orang lain.
Iya sih, gue juga sering carmuk depan calon gebetan, tapi gak sampe ngubah diri sendiri. Gue tetap menjadi diri gue, kalau gue males mandi dan kebetulan doi lagi main ke studio gue well itulah gue. Paling-paling doi gak nempel kayak prangko, wong bau juga mana mau dia nempel.
It’s okay to not perfect in every situation or every single thing that we do. Kita adalah kita apa adanya, tak perlu menjilat untuk disukai atau ngubah diri untuk disukai orang lain. Suatu hari tanpa melakukan itu semua akan ada yang menyukai diri kita apa adanya.
Lihat saja, sepagi ini bubur ayam dari calon gebetan udah mampir di studio gue dengan note kecil “Makan dulu biar punya tenaga potong kayu dan ngecat kerjaan. Jangan lupa mandi juga biar segeran kerja.”
That’s life. Hanya orang-orang yang tahu dan kenal diri kita yang akan tetap tinggal se-bego, se-kurang, se-gak-nyenengin apapun kita.
Ini cerita gue, cerita lo mana? Alaaaah, udah, mandi dulu.
Hidup kadang brengsek. Namun lebih brengsek orang yang meremehkan hidupnya. Lebih brengsek orang yang tak tahu syukur.
Malam minggu again, dan lagi-lagi cuma bergelut sama kerjaan yang numpuk. Kali ini gak gue iyakan ajakan jalan temen, males. Lebih enak duduk di studio sambil beresin kerjaan dan ngobrol sama calon gebetan. Well kali ini gue sempat dibuat shock sama doi, pasalnya mendadak doi kirim wa dengan pertanyaan yang aneh banget, kayak gini "Kamu masih mau deket sama aku kalau tahu aku mendekati abnormal?" Jadi tulisan kali ini isinya obrolan gue ditelepon dan pesan buat orang-orang yang baca. Detik itu juga gue telepon doi, gue tinggalin kerjaan yang minta diselesaikan. "Kamu kenapa?" Gue langaung to the point aja. "Gak apa-apa, cuma mau tahu jawabanmu saja." Suara doi kayak orang yang abis nangis, mendadak langsung pengen samperin terus meluk dia, tapi ingat bapaknya garang lamunan romantis itu buyar. "I will and always Neh. Kamu gak usah raguin itu, sama kayak kamu nemenin aku pas susah-susahnya, minjemin ini itu dan buat yakin aku usahaku bisa sukses, aku juga bakal kayak gitu ke kamu." Omongan gue buat dia tenang. Gue diem, ngasih jeda biar dia bisa tarik napas dan tenang. Gue senang sih denger suara napas dia ditelepon, jadi heningnya kami tak membuat gue bosen. "Aku... kondisiku... uhuk!" "Gak usah dikatakan jika kamu tak mau, you are amazing and will always amazing, Neh. Aku gak peduli apa kata orang atau isi kepalamu, bagi aku kamu perempuan yang terbaik yang Allah kirim." "Lebay kamu!" Katanya sedikit tertawa. "Nah gitu dong ketawa. Mau ku jemput tah? Kita makan malam diluar atau jalan-jalan saja biar kamu seneng?" "Kamu bukannya banyak kerjaan?" Ini yang membuat gue seneng sama doi, dia perempuan yang pengertian. Tak menuntut banyak. "Bisa ku kelarin ntar subuh. Mau gak?" "Gak usah deh. Kamu selesaiin kerjaan saja biar gak begadang. Ingat loh, kesehatan nomer satu, uang nomer sekian." "Bukannya nomer satu kamu? Hahahaha" "Kamu ngegombal mantanmu begini juga?" Katanya ngebuat gue diem. "Hahahaha bisa aja. Jadi udah tenang? Aku udah bisa kembali kerja lagi?" "Iya. Terima kasih ya, ntar kalau mau tidur jangan lupa wa aku." "Hm... ok. Dua jam lagi ku wa." Telepon terputus. Gue tahu hasil pemeriksaannya kemarin, kondisinya memang cukup gak baik, tapi gue tetap pengen dia ada disamping gue. Dia menderita anxiety disorder dengan depresi yang berat. Kata dokter jika tak berobat rutin dia bisa mengalami gangguan jiwa parah. Dan dia menakutkan hal itu, takut jika gue pergi sama seperti laki-laki kurang ajar yang ninggalin dia hanya karena dia berbeda. Buat kalian yg punya seseorang yang juga menderita mental disorder tolong jangan jauhi mereka, jangan tunjukkan belas kasihan juga, bersikaplah seperti biasa, bersikaplah sewajarnya, perlakukan mereka seperti kalian memperlakukan orang lain yang normal. Karena mental diorder adalah kekurangan mereka, dan you know mereka memiliki banyak kelebihan. Gebetan gue juga gitu, walau isi kepalanya suka aneh, dia adalah perempuan dengan moral paling baik. Ok, gue gak bakal bilang kelebihan doi lagi, ntar pada jatuh cinta lo. Yasudah, 15 menit lagi gue kudu wa doi. See you again dalam cerita hidup gue yang tak bagus-bagus amat.
This is the story about my da** sh** day. Well, gua hari ini keluar pagi bener, mandi doong soalnya mau jalan jauh. Jadi ceritanya gue anterin doi ke rumah sakit, rumah sakit yang katanya tidak biasa dikunjungi banyak orang. Kalau doi sebut RS. JIWA, kalau gue sebut Rumah Para Manusia Dari Pluto. Yeah, gue punya banyak fantasi di kepala gue. Dan itu cukup ngebuat doi geleng-geleng kepala. Hari ini gue gak bawa mobil, sengaja biar pas boncengan satu lingkaran penuh memenuhi perut gue yang udah mulai buncit. Sepanjang jalan doi diem, yah gue tahu dia sedang berdebat hebat dengan dirinya sendiri. Sedang riuh-riuhnya dengan isi kepalanya. Sesekali gue ajak bercanda tapi dia cuma hehehe dengan muka datar. Sampai rumah sakit doi udah gemetaran, udah puyeng hendak kemana. Akhirnya doi nelpon dokternya, mereka ngobrol banyak, gue nyimak jalan di belakangnya. "Di suruh ke poli jiwa." Katanya setelah nelpon. "Ya udah yuk." "Kamu tahu emang?" "Kan bisa nanya Neh." Sejujurnya gue orang yang lebih suka ngandelin insting ketimbang nanya, cuma karena doi lebih hobi nanya ya sudah dia nanya sana sini. Gue nurut aja sebagai teman yang baik. Beberapa kali gue merhatiin, doi bener-bener ketakutan. Matanya gak fokus, gemetarnya berusaha dia tahan. Sampai dia nanya ke kumpulan ibu-ibu pegawai dan staff yang doyan gosip gue nyuruh dia berhenti nanya. "Berasa pengen jejelin chocolatos ke lakik di samping ibu tadi. Apa maksudnya ketawa ngeledek gitu?" "Udah biasa mah. Gak usah naik darah." "Ya kali kamu yang udah biasa, aku yang liat bikin emosi jiwa. Jadi pengen makan indomie dengan 10 cabe." "Kok malah kamu yang naik darah sih." Wajahnya masih datar. Namun terlihat jelas dia ketakutan setengah mati. "Habisnya. Mereka kayak ngeledek gitu. Emang dia tahu kamu sakit apa? Asal main judge aja. Mereka pasti mikir kamu sakit jiwa." "Lah emang sakit." Doi jawab datar. "Itu bukan sakit, hanya kekurangan kamu saja." Kami ngobrol banyak hingga doi dapetin ruangan si dokter dan mulai konsultasi. Gue nunggu di luar. Dengan waswas. Dua jam kemudian dia keluar dengan cukup lega. Gue rasa tesnya biasa aja. Dan yeah, emang biasa aja sih. "Mau makan dimana?" Tawar gue. "Mau tidur. Pusing." "Ke studio gue gak apa? Tesmu gimana?" "Disuruh ke prakteknya ntar sore." "Ku temenin ya." "Ok." "Harusnya kamu bilang kalau pusing biar aku minjem mobil mama." "Udah buruan. Ntar mampir beli gorengan ya, laper." Dia tersenyum. Well untuk beberapa orang yang suka ngeliat dengan kasihan ke doi, jangan dikasihani. Dia emang punya mental disorder tapi dia gak suka dikasihani, dia pemberani, dia hebat dengan caranya sendiri. Dia bisa survive sejauh ini itu sudah keajaiban buat gue. Dan asal tahu aja, tak semua pasien yang mengunjungi poli jiwa itu sakit jiwa atau gila. Bisa saja mereka kena insomnia, atau mereka terlalu lelah. Jadi butuh obat. Well gue seneng gebetan gue selalu bisa sebrave ini. Dia selalu menganggap biasa semuanya, tidak menyalahkan tidak pula menilai orang lain. Hanya saja dia tak bisa membagi percayanya pada sembarangan orang. Gue pun sampai detik ini tak pernah dia percaya. Kalau kita mau lebih bijak lagi, sebaiknya berfikir dulu sebelum mengucapkan kalimat. Pikir lagi apakah akan menyinggung orang atau gak. Secara kita semua udah bisa bedaain mana baik mana gak baik. Yasudah itu saja, doi lagi pulas-pulasnya tidur.
Feel Free To Come But Not To Stay
Cerita dimulai pas gue bangun tidur dan baca whatsapp temen gue yang isinya seperti ini “anak-anak mau ngumpul lo bisa jemput si A gak?”.
Well okay, gue sama si A mari kita sebut dia “Anaconda” adalah dua manusia asing dahulu yang memutuskan sama-sama lalu karena si Anaconda udah ketemu sama pujaan hatinya yang baru akhirnya dia lebih milih ular pejantan yang lain.
Sementara gue masi ngumpulin nyawa yang melayang-layang gue bales dong wa temen gue semau jempol gue, “Wuanjir kenapa harus gue yang jemput. Lagian kenapa doi diikutsertakan?”
Tak selang antara keinginan buat nyetor pagi-pagi dan rasa malas beranjak dari tempat tidur akhirnya balesan yang super ka**ret itu datang, temen gue kayaknya pengen dijejelin balsem matanya.
“Biar lo bisa CLBK kembali Cinta Lama Belum Kelar, lo kelarin tuh selama di jalan.”
Okay, gue abaikan pesan sialan itu. Rumah doi cukup jauh dari sarang gue yang mana udah bikin males aja. Mau lihat mukanya males, apalagi sekedar kirim wa “gue di depan rumah lo, buruan. Anak-anak nungguin.”
Akhirnya karena yang mau ngegebet gue menjelaskan dengan konsep agamisnya, gue penuhi kemauan temen ka**ret gue itu.
Sampailah gue di depan rumah si Anaconda. Gue gak sms karena doi udah nunggu depan rumah lengkap dengan stylenya dia yang berhasil bikin gue jatuh cinta mampus dulu.
Gue sempat syok liat doi, sekarang pakaian lebih sopan. Pakai rok pula, udah bayangin aja boncengannya gimana ntar. Jangan sampai ada setengah lingkaran diantara kita.
“Udah lama nunggunya?” Gue basa basi.
“Gak kok.”
“Sorry, lo tahu kan kebiasaan mandi gue.”
“Iya tahu. Kamu gak berubah sama sekali.” Katanya dari kursi belakang.
Sepanjang jalan kita diem-dieman, dia sibuk merhatiin jalan, gue justru curi-curi pandang. Well mungkin bener, masa lalu sehebat apapun lo berusaha lupa pasti ada aja yang keinget.
“Kamu punya pacar sekarang?” Doi mendadak melempar tanya yang membuat gue harus keluarin jurus bodo amat apa kata lo.
“Belum. Lagi males mikirin perempuan.”
“Oh… kamu gak niat pacaran lagi?”
“Gak, gue lagi seneng sendirian. Lo gimana?”
“Aku juga sama.”
Okay, obrolan gak penting ini harus gue alihkan. Gue gak mau ngedenger kode buat balikan lagi. Caranya pergi udah cukup buat gue males buat jatuh cinta lagi.
“Kok tumben lo ikut kumpul sama anak-anak?”
“Lagi pengen aja.”
Gue meng-oh-kan saja. Lalu kembali diam. Kita diem-dieman aja sampe lokasi. Dalam hati gue beneran bakal jejelin balsem ke temen gue pas nyampe.
Begitu nyampe, yaudah mereka senyum-senyum ngeliat gue jalan bareng si Anaconda. Beberapa nge-ciein gak gue gubris, gue lebih milih duduk di pojokan rak buku.
“Cerita apa lo ke doi sampe dia mendadak pengen ikutan?”
“Gue cerita kalau lo udah tajir, udah bisa beli mobil dan bangunin rumah buat nyokap lo. Ehh doi mendadak nyesel. Gak niat balikan lo?”
“Men, lo gak mungkin ngejilat ludah yang lo udah buang.”
“Ya kali dia udah insyaf.”
“FYI bro, kalau dia udah insyaf seharusnya dari dulu dia nyariin gue, pas gue masih pengennya balikan. Lah masa denger gue udah bisa ngehasilin duit yang alhamdulillah doi baru muncul, kemana aje dia?”
“Hahahaha… cooling down men. Camp nanti doi mau ikut, nebeng dimobil lo ya.”
“Boleh aja sih, asal lo bilangin ke dia, kursi depan udah ada yg pesen.”
Gue heran sama orang-orang yang datang dan pergi seenak dengkulnya mereka. Pas kita udah bisa berbenah mereka mendadak datang dengan segala alasan yang menurut mereka bener, kemana aja pas lagi susah-susahnya. Pas lagi butuh dukungan, pas hidup lagi diambang 0, pas superman hampir ngebunuh batman. Kemana aja lo(?)
Lucu kan manusia, pas ada maunya muncul. Pas maunya gak bisa di dapat di orang lain malah nyariin kita.
Feel free to come but not to stay.
Untukmu yang (tak) pernah ku miliki.
Senyummu adalah luka yang membahagiakan. Setiap peluk penyemangat darimu adalah belati tajam yang siap membunuhku kapan saja. Tatapmu adalah anak panah yang siap melenyapkan nyawa.
Kau adalah keindahan yang membuat luka. Sebuah akan yang tak pernah bisa ku miliki. Seperti datangmu yang tiba-tiba pergimu adalah keharusan yang mendadak.
Dan gue gak ngerti gue nulis apaan.
Ku harap gravitasi bumi tak hanya menarik kita agar tetap menapakan kaki di tanah. Aku ingin ia juga mampu menarikmu padaku, agar jarak lagi menjadi alasan kau menjauh.
Dan yang paling pertama ku lihat kala membuka mata adalah Bumi. Ia bersinar sangat terang di kejauhan.
Bumi tampak murung. Ia tidak secerah senyumannya. Ia tidak menyapa matahari pagi. Bumi tampak menyendiri, lagi.
Tell me one reason, why you like me this much(?)
Selamat pagi
Adalah yang paling sering dikatakan Matahari pada Bumi.
Kepada Bumi
Jika kita tidak berjarak, pijakan kakiku ingin selalu ada di belakangmu. Menjagamu dalam setiap langkah. Menemanimu berjalan-jalan menikmati purnama.
Jika kita tidak berjarak, Pijakan kakiku ingin selalu ada di sampingmu. Menggandeng tanganmu sembari tersenyum menikmati angin. Menyamakan langkah kita menuju rumah.
Jika saja jarak tak sejauh sekarang. Aku ingin menikmati hijaumu dan birumu. Aku ingin mengatakan, “You are the great one.”
Jangan menunduk Bumi-ku, wajahmu indah saat tersenyum.