I'll never stop believing, that I’ll see you again. I’ll miss you till then.
Saudade, Dad.
Sade Olutola

JBB: An Artblog!
Game of Thrones Daily

if i look back, i am lost

Janaina Medeiros
No title available

oozey mess
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
macklin celebrini has autism
Not today Justin
Cosimo Galluzzi

Discoholic 🪩
todays bird

tannertan36
styofa doing anything
we're not kids anymore.
Claire Keane
Sweet Seals For You, Always
d e v o n
NASA
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from France

seen from Germany
seen from Lithuania

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Canada
seen from Tunisia

seen from Sweden
seen from India
seen from United States
@aacsi-blog1
I'll never stop believing, that I’ll see you again. I’ll miss you till then.
Saudade, Dad.
New year break anthem. Thank god my soon-to-be-2-years-young nephew liked these kind of songs better than nursery rhymes so my baby-sitting days were bearable, aside from the lovely diapers. Couldn’t imagine another marathon of baby shark doo doo doo doo doo baby shark doo doo doo doo doo baby shark, had that before it became a craze.
Oh and his dance moves, I missed him.
Ikan beku
Ikan dory ini dibeli di tahun lalu, berbulan-bulan sudah dia membeku di kompartemen pembeku itu. Hari ini akhirnya dia diangkat dari penyimpanan, dibalur bumbu, lalu digoreng. Rasanya sudah tidak ada lagi.
Alessia Cara - Stone (Live) Toronto
Oh steady me, be my source of gravity While my world's unravelling
Jadi Sombong
Saya rasa saya terlalu banyak menilai atau mengecap orang lain sebagai orang yang sombong, padahal saat itu karenanya saya sendiri sudah menjadi orang yang sombong.
Laporan Cuaca
Bandung hujan deras Saya sudah selesai berkemas
Malam minggu pekan lalu di sekitar jam ini, Ibu meminta aku untuk menyalakan radio. Tumben, beliau belum bisa tidur walau sudah bolak balik di kasur. Sejurus kemudian aku memutar-mutar kenop radio analog diikuti dengan jarum penunjuk frekuensinya yang ikut naik turun. Sudah diputar kemana-mana tak kunjung juga ada suara siaran yang terdengar selain kemerosok, aku mulai ringam.
Dengan bangga aku mengenalkan Spotify di mana segala lagu orkes melayu sampai dangdut pantura juga ada kubilang, padahal ngarang saja. Benar saja, lagu pertama yang Ibu request saat itu, Anna Mathovani - Pertemuan, berikut seluruh lagu Anna Mathovani tidak ada di direktori Spotify. Untungnya aku belum pendek akal untuk mencari alternatif. Aku langsung suka dengan pilihan-pilihan lagu Ibu dari zaman remajanya itu. Malam itu kami larut dalam sesi bedah lirik musik irama lenso di orde lama.
Sabari tersenyum lagi. Hidup ini memang dipenuhi orang-orang yang kita inginkan, tetapi tak menginginkan kita, dan sebaliknya, dan Sabari tetap tersenyum.
Andrea Hirata dalam Ayah
Tentang 2017; Bagian Pertama
Tulisan ini bisa dibilang sangat terlambat mengingat sekarang sudah hari ke sebelas menjelang kedua belas di tahun 2018. Tetapi pepatah kolot berkata lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, toh? (sungguh ini hanya pembenaran saya yang malas menulis).
Bagi saya, 2017 adalah tahun yang sangat berkesan, penuh kejutan. Beragam kepingan kejadian yang tak pernah saya kira atau bayangkan terjadi dari awal tahun penuh hingga ke penghujungnya. Dari yang pahit sepahit kehidupan sampai manis semanis saya (yang berarti agak-agak asam sedikit).
Di awal tahun, saya belajar bahwa lama-lama memendam kekecewaan kepada sahabat sendiri itu tidak baik, baiknya dibicarakan baik-baik secara langsung. Mungkin memang saya dan dia sudah punya jalan masing-masing, tapi tetap ada rasa kehilangan karena diam-diaman. Teman-teman di sekitar terus bertanya-tanya tentang kabarnya dan saya hanya bisa jawab tidak tahu dengan kelu, jelas karena dahulu kemana ada dia ada saya dan berlaku sebaliknya. Di pertengahan tahun saya baru mulai berdamai dengan diri sendiri dan saya rasa dia pun sama, kami saling memaafkan. Kembali seperti sedia kala atau tidak, belum tahu juga.
Semester empat saya jalani dengan serius dan mati-matian menyesuaikan diri dengan jadwal praktikum puluhan modul yang tidak menentu dan mata kuliah - mata kuliah yang tidak begitu saya sukai. Sempat terpikir mengapa gini amat untuk menggapai mimpi tapi kalau mau gampang ya ke laut aje. Tapi serius, rasanya pingin gulung-gulung di pasir Pantai Sari Ringgung dan digigit keong saja waktu itu. Pertama dalam kehidupan kampus saya menangis karena tugas kelompok (yang kemudian saya sadari bahwa pelajaran dari tugas berkelompok adalah untuk berkompromi dan berkomunikasi dengan baik).
Malam-malam penuh debar karena bergelas-gelas kopi dan ratusan menit lagu yang berputar dari indie folk ke hip hop 90an ke RnB 2000an ke indie lagi sampai ke suara binaural yang malah bikin mau muntah, sambil menyusur berbaris-baris jawaban latihan soal mencari mana yang salah karena hasilnya terus berbeda dengan kunci jawaban. Belum lagi rangkaian-rangkaian itu yang belum ada seperempatnya kupahami tiba-tiba sudah mau ujian saja, jadilah cheatsheet sebagai penyelamat kekosongan otak saya ini. Yah pokoknya begitulah!
Terkhusus satu mata kuliah yang matematika itu, nilai ujian saya tidak kunjung membaik walau sudah setengah mampus percaya diri membabat soal-soal latihan. Akhirnya saya pasrah dan berdoa sama Tuhan dikasih ngulang saja kalau memang saya belum layak lulus. Dan doa saya dikabulkan, welahdalah.
Lalu menjelang akhir semester, di tengah hiruk pikuk ujian akhir datanglah kabar yang tak pernah saya tunggu. Saya sempat iseng isi sana sini segala link pendaftaran magang dan sejenisnya, satu akhirnya menjawab. Saya bahkan hampir lupa pernah mendaftar, tepatnya program internship di ruangguru.com. Mereka menerima saya, bahagia banget waktu itu. Ibu berkata lain, dua bulan hidup sendirian di Jakarta untuk magang yang akan hanya bikin saya capek saja adalah khayalan yang tidak masuk akal (kata beliau). Berontak, tentu! Saya kan si anak bungsu yang keras kepala (kata kakak saya). Tapi sepertinya kehidupan rantau sudah membentuk pikiran saya untuk jadi lebih rasional dan lekas sadar akan kebenaran kata-kata ibu dan kakak saya. Apalah artinya magang yang hanya sedikit memuaskan ego dibandingkan hangat dan nyatanya kasih sayang rumah (melayu sekali bahasa ini, tapi yasudahlah begitu adanya).
Di tahun ini saya juga akhirnya berani untuk coba-coba hal baru, main analog aja sih sebenarnya. Gara-gara artikel di majalah Bobo, dari kecil saya kepingin punya kamera Lomo, si Holga 135BC itu aduh cantiknya. Dulu ibu bilang mana ada lagi orang jual film, maka urunglah niat. Bertahun-tahun kemudian akhirnya saya tahu bahwa masih ada yang menjual film dan mencuci cetak (khususnya di Bandung)! Ternyata dia belum mati. #filmisnotdead kalau kata tagar yang sedang marak di Instagram. Setelah tanya sana-sini dan berminggu-minggu berburu kamera di berbagai toko kamera di Instagram, memilih sesuai selera, kebutuhan, kantong, dan peruntungan (oh perjuangannya, terkadang baru sepuluh menit di-posting sudah terjual. Gila!). Hati saya jatuh kepada kamera point and shoot Olympus Trip 35 keluaran tahun 1960an, kompak dan cantik. Tidak perlu baterai, tidak banyak pengaturan, lightmeter dari selenium, amboi. Gak tanggung-tanggung saya langsung beli tiga roll agfa vista 200.
Cerita pengalaman bermain kamera analog rasanya lebih baik di lain waktu, bisa panjang lebar soalnya. Tapi cerita saya dan Si Cantik ini tidak sampai seumur jagung. Kurang dari dua bulan, hari itu saya sengaja membawanya di tas untuk mencari dan mengambil foto ke-36, foto terakhir di roll pertama saya yang saya harapkan untuk menangkap sesuatu yang istimewa. Sayang sejuta kali sayang, foto itu tidak pernah ada. Begitu pula dengan 35 foto sebelumnya yang belum sempat dicuci, bersama dengan Si Cantik yang raib dicolong dari ransel saya suatu ketika di Pasar Jumat. Sedihnya sampai pikiran saya kosong dan terduduk bengong di dekat semak-semak depan gerbang kampus, sambil gigit-gigit cilor dingin dan es cincau cair. Waktu itu teman saya Randi tiba-tiba lewat dan saya yang sedang nelangsa langsung menyembur dengan kisah sedih. Saya juga langsung nelpon Ibu yang bahkan gak tahu menahu saya pernah beli kamera (harusnya memang minta restu dulu). Lalu Rofiatunnajah, yang langsung mengasihani kesialan saya nomor sekian ini.
Untungnya nasihat Ibu selalu hadir lewat telepon-telepon di pagi, malam, bahkan kapanpun saat emosiku tidak stabil dan main telepon saja tanpa lihat-lihat jam. Kalimat-kalimatnya tidak selalu manis tapi menenangkan. Olehnya, saya selalu disuruh kembali ke Tuhan (bukan, bukan begitu, berdoa maksudnya). Kejadian-kejadian ini semuanya tentu tidak ada yang kebetulan, saya pikir. Mungkin saya memang harus diberi pelajaran untuk belajar berbesar hati, sabar, syukur, dan ikhlas. Ujian yang saya hadapi ini toh tidak ada seper-sepernya dari banyak orang lain, masih cetek lah yaampun gusti.
Saya rasa di pertengahan tahun 2017 saya mulai menjadi orang yang berbeda dari saya di awal tahun 2017.
Made a promise to myself to fill this space everyday yet I almost missed the first day of it (consider it almost. shady me). Was going to write a long post but nah. Instead, here's a song that I have replayed and replayed and replayed these days. Cursing turned out to be empowering.
Suicide Forest in Japan
“I think the way we live in society these days has become more complicated. Face-to-face communication used to be vital, but now we can live our lives being online all day. However, the truth of the matter is we still need to see each other’s faces, read their expressions, hear their voices, so we can fully understand their emotions. To coexist.”
2018
Entering 2018 with full on anxiety.
Yah yah yah
“Selamat Hari Ayah, Yah.”
bisikku lewat Tuhan sore ini.
BURGER KING | Bullying Jr.
This is just a defenceless Whopper Jr.
mereka yang menganggap masa lalu sebagai bencana akan tinggal di masa depan sebagai pengungsi.
(via aanmansyur)
karena yang lebih diuji dari enam-ujian-dalam-sepekan-ditambah-bumbu-demam adalah ketahanan dan kekuatan hati.
(via https://open.spotify.com/track/7qgjglHKPJF1l9iID7l3UM)