“Ih.. bodoh nian sih.. masak kyak itu be dak ngerti.”
“Kok nanya terus ini anak.”
“Caper sama dosen nih..”
Ucap beberapa teman kepadaku pada saat kuliah dulu. Memang semasa masih di bangku mahasiswa aku seringkali bertanya. Entah itu selepas guru menjelaskan di dalam kelas atau juga saat di luar kelas. Aku  seringkali bertanya, kenapa? Karena aku perhatikan di beberapa kelas yang aku ikuti, ketika pengajar melontarkan kesempatan peserta didik untuk bertanya seringkali berujung sunyi. Tidak ada yang bertanya.  Bisa jadi karena sudah sangat paham, malu untuk bertanya, atau karena tidak paham materinya sama sekali. Hehe.
Aku sedih ketika rasa penasaranku diremehkan, tapi lama kelamaan aku tidak peduli. Mereka tidak akan membagikan jawabannya saat ujian kan? Lebih baik menuntaskan ketidakpahaman di ruang kelas, daripada kebingungan menggoreskan jawaban di lembar ujian. Walaupun niat belajar bukan sekadar menjawab ujian, tetapi ujian menjadi tolok ukur pemahaman akan sebuah materi pembelajaran.
Rasa penasaran kerapkali hadir dibenakku dalam belajar sesuatu. Lagipula umat manusia bisa mencapai kemajuan teknologi zaman sekarang dikarenakan rasa penasaran. Rasa penasaran membuka banyak jalan untuk menjelajah ilmu pengetahuan lebih dalam lagi. Dulu manusia penasaran, gimana ya burung bisa terbang melahirkan penemuan pesawat terbang. Rasa ingin tahu manusia terhadap luar angkasa melahirkan teknologi roket. Rasa gemas terhadap kemacetan di Jakarta melahirkan Gojek,dll.. Rasa penasaran itu penting. Salah satu menjawab rasa penasaran itu adalah dengan bertanya.
Satu momen yang paling aku inget saat aku bertanya kepada dosen tentang suatu hal. Kalo gak salah membahas tentang “Apakah hewan yang sudah mengalami habituasi bisa tidak terhabituasi lagi?” Bapak berkaca mata itu pun menjawab “ya benar, karena bla bla…” Ternyata apa yang aku tanyakan itu keluar di soal ujian akhir. Sama persis. Yes.. Ucapku dalam hati. Soal-soal lain pun bisa terjawab. Tentunya saat nilai keluar aku dapet E, sebab saat ujian ke selengkat kaki bapaknya.. Hehe gak dong.. Aku dapet huruf yang sama kayak orang bergolongan darah yang terdapat aglutinogen A dan plasma darahnya mengandung aglutinin β.
Aku yakin bertanya itu penting dalam belajar. Sekarang pertanyaanku terjawab. Pagi ini aku mendapat pelajaran dari Ustadz Ahmad Idris. Guruku di Pesantren Mahasiswa Badar. Kami belajar tentang keutamaan tentag menuntut ilmu. Beliau menjelaskan bahwa bertanya itu penting dalam proses pembelajaran. Bertanya itu berguna untuk mengkonfirmasikan apakah yang kita pahami itu sudah benar.
Bertanya itu separuh ilmu. Kucinya ilmu adalah bertanya. Malu itu memang sebagian dari iman. Namun, malu dalam menuntut ilmu itu tercela. Kalau tidak paham suatu ilmu, maka bertanyalah. Jangan sampai kita tidak paham agama dikarenakan kita tidak berani bertanya kepada guru.
Orang yang bertanya berpeluang menjadi perantara untuk mendapat pahala. Setidaknya ketika seorang itu bertanya, ada 4 orang yang mendapat pahala. Pertama, orang yang bertanya. Kedua adalah orang yang menjawab (guru). Ketiga orang yang mendengar. Terakhir adalah orang yang simpati kepada penuntut ilmu itu.
Pemahaman ilmu itu penting dalam beramal. Suatu ketika di zaman Rasulullah SAW ada seorang sahabat yang ikut perang. Setelah berjihad dalam perang Uhud para sahabat berkumpul dan membincangkan pertempuran yang telah lewat itu. Peristiwa yang baru mereka alami itu masih menjadi terbayang-bayang di benak mereka. Mereka sangat kagum dengan salah seorang sahabat yang bertempur seperti seekor harimau yang lapar yang ingin terus memangsa musuh. Nama sahabat tersebut adalah Quzman. Tidak kurang dari delapan orang musyrik yang mati di tangannya.
Para sahabat menduga sahabat yang satu ini pasti akan masuk ke dalam surga. Syahid sudah pasti direngkuh. Namun, Rasulullah berkata,”Sesungguhnya orang itu termasuk dari penduduk neraka.”  Ia mati bunuh diri. Bukan karena mati syahid. Quzman mati bunuh diri karena sudah tidak tahan dengan luka dan rasa sakit selepas dari peperangan. Ini bisa terjadi lantaran ketiadaan ilmu dan keihklasan dalam beramal. Ia tidak percaya jikalau orang yang mati syahid bisa masuk surga tanpa hisab. Kepercayaan ini tentu tumbuh dari ilmu.
Well.. This is the end of the post. Ilmu itu amat penting bagi umat manusia. Belajarlah sebanyak mungkin. Bertanyalah dengan ahlinya bila tidak paham. Dan jadilah gelas kosong yang siap untuk diisi. Â