Wajar saja, jika orang tua memiliki pengalaman lebih banyak karena orang tua terlahir lebih dulu dibandingkan anak.
Begitu juga, orang tua memiliki kekuasaan lebih tinggi karena tugas orang tua yang lebih berat dibandingkan anak.
Orang tua menganggap anak banyak tidak tahu tentang kehidupan karena jam terbang anak yang masih minim sehingga anak lebih sering melakukan kesalahan dibandingkan orang tua. Walaupun demikian, bukan berarti orang tua tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya dan belum tentu juga orang tua lebih paham tentang makna kehidupan dibandingkan anak.
Mengingat pada hakikat, anak yang dilahirkan kemudian tumbuh, biasanya berada di atas fitrah yang masih murni, mereka masih tegak lurus terhadap hal yang benar dan salah. Mereka akan menunjukkan sikap tidak nyaman dengan memberikan reaksi dalam bentuk protes jika orang tua melakukan kesalahan.
Teringat suatu cerita dimana ada seorang anak protes dan menangis saat berkendara dengan orang tuanya, karena mereka masuk gapura melewati jalur keluar bukan jalur masuk sebenarnya sehingga mereka melawan arus sebagaimana mereka tidak mengikuti papan petunjuk jalan.
Orang tuanya menganggap reaksi anak berlebihan terhadap hal sepele menurut orang tuanya. Orang tuanya merasa anak tidak lebih mengerti dari mereka. Alasan orang tuanya mengapa masuk gapura melewati jalur keluar adalah cara terbaik yang aman dan tercepat menuju rumah saat itu. Bagaimanapun akhirnya, anak pun hanya bisa berpasrah karena orang tua tidak mengerti apa yang Ia khawatirkan.
Seiring bertumbuhnya anak, hal sepele itu terbiasa dilakukan dan dicontohkan orang tuanya, pemikiran anak akan berubah dari yang menganggap hal sepele tadi itu sebuah kesalahan menjadi menganggap hal sepele itu sebuah kewajaran jika anak tidak memiliki pondasi ilmu.
Mari, Kita merefleksikan hadits di bawah ini:
"Tidaklah setiap anak kecuali dia dilahirkan di atas fitrah, maka bapak ibunyalah yang menjadikan dia Yahudi, atau menjadikan dia Nasrani, atau menjadikan dia Majusi."
(HR. Bukhari no. 1358 dan Muslim no. 2658).
Sejatinya, manusia, baik yang muda maupun yang tua, diciptakan di atas fitrah. Namun, seiring waktu, fitrah yang murni bisa terkontaminasi dengan berbagai pengaruh eksternal. Hal ini menunjukkan bahwa sikap dan perilaku orang tua tidak selalu benar. Orang tua perlu senantiasa menjaga fitrahnya dengan senantiasa bertauhid kepada Allah Azza Wa Jalla. Dengan harapan, orang tua menjadi lebih bijak dalam menyikapi keadaan dan tanggapan anak.
Memang, pengalaman, tanggung jawab dan hal lainnya yang serupa pada orang tua memang berada di tingkat lebih tinggi dibandingkan anak. Tapi ada satu hal yang luput disadari oleh orang tua bahwa
Hidayah tidak mengenal usia, melainkan hidayah hadir sebagaimana kepada siapa yang Allah kehendaki.
Status orang tua dan anak di hadapan Allah itu sama, yaitu seorang hamba. Hal yang membedakan antara orang tua dan anak, hanya perannya saja yang berbeda di dunia. Orang tua tidak perlu malu untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan di depan anak. Begitulah fitrahnya sebagai seorang hamba, jika melakukan kesalahan, maka mengakui kesalahan, meminta maaf dan memperbaiki diri.
Hal itu menunjukkan bahwa manusia itu memang tempat salah dan lupa, tetapi bukan untuk dijadikan pembenaran, melainkan untuk dijadikan perbaikan diri. Anak lebih senang meneladani bagaimana orang tuanya bersikap dan hal itu menjadi panduan anak-anak dalam berperilaku. Akhirnya Kita tahu bahwa teladan orang tua menjadi faktor yang memiliki pengaruh besar pada kehidupan anak kelak.
Cikampek, 27 Januari 2026