Mendapati keadaan seperti ini, melewati jalan cerita rumit, sesuatu yang tidak bisa aku kendalikan. Semua bagian takdir yang telah ditetapkan-Nya.
Tapi, Tuhan berbaik hati. Ia menempatkan keresahan dalam hatiku. Seakan-akan memperingatiku bahwa apa yang aku lakukan telah keluar dari jalur.
Perasaan ini, mungkin juga bagian dari takdirnya.
Tapi bukankah perasaan seorang manusia bisa berubah? Bukankah Dia yang Maha membolak-balikan hati?
Aku sadar, kmrin aku mementingkan perasaanku di atas segalanya. Dan itu salah.
Dan aku terus bertanya mengapa Tuhan tidak mengabulkan doa ku?
Mana mungkin aku membangun kebahagiaan di atas luka orang lain?
Bukankah orang lain itu adalah makhluk Tuhan yang juga disayangi-Nya.
Aku mungkin tidak bisa menghapus luka orang itu.
Tapi aku bisa dengan tidak menambahkan luka padanya.
Dan, bersama dengan dia yang aku cintai bukanlah sebuah keharusan mutlak yang perlu aku capai. Tidak. Tidak sama sekali.
Aku bisa memilih untuk pergi. Aku masih bisa memilih untuk tidak bersama. Aku bisa merelakan semuanya. Dan itu aku lakukan hanya untuk-Nya. Aku percaya bahwa jika aku bisa melepaskan yang aku cintai, aku melepaskan semua kemelekatan dalam diriku, Dia bisa menghadiahhkan cinta-Nya padaku.

















