Halo, Tumblr! Lama tidak bersua di sini ya :)
Banyak mungkin yang mengenal Abi disini—meskipun hanya sebatas pesan-pesan yang beliau sampaikan lalu saya bagikan melalui tulisan. Terlepas dari itu, saya rasa tetap perlu mengabarkan disini juga bahwa, Abi akhirnya Allah 'jemput' Ahad lalu—setelah lebih kurang 3 tahun berjuang melawan penyakit yang beliau alami. Sebuah perjalanan panjang dan nggak mudah, baik untu Abi maupun kami yang ditinggalkan.
Sedih betul rasanya kehilangan figur Ayah yang lembut, pintar, jenaka, tulus, dan peduli ke siapapun. Tidak heran banyak yang begitu kehilangan. Tamu dari berbagai daerah, lapis golongan, dan yang belasan bahkan puluhan tahun tidak bertemu, menyempatkan untuk hadir, hanya untuk mengantarkan di saat-saat terakhirnya.
Setiap orang yang bertamu, pasti memiliki kesan yang begitu membekas dalam perjalanan menuju baik hidup mereka. Satu per satu saya menyimak bagaimana mereka mengenal sosok Abi kami—ustadz yang seru diajak diskusi apapun, bijak dalam menyikapi keadaan, bersemangat dalam kebaikan, tidak segan minta maaf duluan, dsb. Tentu berderai air mata ini mendengarnya.
Saya, atau kami menjadi saksi betul betapa Abi kami adalah orang yang bahkan mementingkan orang lain di atas dirinya. Bahkan beberapa menit sebelum sakaratul maut, Abi entah ada energi dari mana berjalan keluar kamar, duduk di dekat perpustakaan, lalu bertanya:
"Sekarang jam berapa?" tanya Abi dengan suara lirih sembari menunjuk jam dinding.
"Jam 10 bi." jawab Umi yang terus setia mendampingi.
"Sekarang jam berapa?" Abi kembali bertanya.
Begitu sampai 3 kali. Kemudian Abi kembali ke tempat tidurnya. Sehari setelahnya Umi baru tersadar bahwa itu adalah kebiasaan Abi tiap kali menunggu jam untuk mengisi di tempat selanjutnya. Umi bilang, Abi orangnya selalu ontime—jangan sampai jamaahnya menunggu, justru sebaliknya beliau yang menunggu agar tidak terlambat untuk mengisi di tempat selanjutnya.
Betapa tidak menangis saya mendengar cerita itu, bahkan disaat-saat terakhirnya masih ia sempatkan untuk memikirkan orang-orang yang begitu ia cintai. Saya tahu betul Abi rindu sekali bisa berdakwah kembali. Barangkali dakwah sudah melebur dalam dirinya—bayangkan saja dulu sebelum sakit lebih kurang 5 tempat setiap hari beliau berkhidmat untuk membina umat. Iya setiap hari. Sayapun juga bingung bagaimana bagi waktunya.
Kepergiannya begitu indah. Tenang dan insyaallah Abi mampu mengucapkan lafadz Lā ilāha illallāh kata Umi yang terus membimbingnya saat itu. Wajahnya terlihat bersih, dan segar, seperti tidak sakit padahal di malamnya wajahnya pucat dan Abi mengeluh luar biasa. Seolah kerinduannya akan berjumpa dengan Rabb-nya sudah tidak tertahan rasa sakit lagi.
Sedih sekali sebetulnya, namun melihatnya kesakitan juga saya tidak mampu lagi. Puluhan tahun saya mengenalnya dari kesaksian orang lain, baru ketika beliau sakit kami membongkar 'barier kecanggungan' di antara Ayah dan Anak lelakinya, dan mulai bercerita banyak hal secara empat mata.
Pesan-pesan hidup yang beliau titipkan, kisah-kisah yang selalu membakar semangat tiap kali futur, solusi dengan pendekatan sirahnya, dsb.—suatu saat akan saya bagikan satu persatu disini, semoga menjadi amal jariyah baginya. Setelah semua energi ini kembali.
Bagi saya beliau adalah Ayah yang penuh perencanaan dan manajemen diri yang baik. Baik itu untuk dirinya, maupun ke anak-anaknya. Abi selalu punya treatment berbeda kepada tiap-tiap diri kami. Selalu membimbing, hampir tidak pernah menuntut, namun begitu bijak menyikapi ketika kami berjumpa dengan kegagalan atau kesalahan.
Selamat jalan Abi, kami bersaksi bahwa Abi adalah Ayah yang baik, bertanggung jawab hingga akhir amanah Abi, semoga Allah berikan tempat terbaik disisi-Nya.
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.