“Perbaikilah hubunganmu dengan Allah. Maka kau akan tercukupi dari segala sesuatu.”
Syaikh Shalih Ushaimi Hafizhahullaah
noise dept.
tumblr dot com

blake kathryn
will byers stan first human second

gracie abrams

bliss lane
Lint Roller? I Barely Know Her

roma★
🪼

JVL

ellievsbear
TVSTRANGERTHINGS
RMH

shark vs the universe
Stranger Things
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
I'd rather be in outer space 🛸
ojovivo
No title available
Sade Olutola
seen from United States

seen from Austria

seen from South Africa
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from Vietnam

seen from Switzerland

seen from Switzerland

seen from United States

seen from Russia

seen from United States
seen from Switzerland

seen from United States
seen from Australia

seen from France

seen from Türkiye

seen from T1
seen from Switzerland
@catatanmudri
“Perbaikilah hubunganmu dengan Allah. Maka kau akan tercukupi dari segala sesuatu.”
Syaikh Shalih Ushaimi Hafizhahullaah
“..Hati yang bersih tidak menikmati jatuhnya orang lain, karena ia tahu dirinya pun masih membutuhkan rahmat Allah..”
Jangan letakkan seseorang terlalu tinggi di dalam hatimu. Sebab ketika ia jatuh dari bayangan yang kau buat sendiri, yang hancur bukan dirinya, tetapi harapanmu.
Manusia cukup dicintai, bukan disembah oleh ekspektasi.
Bersabarlah. Tidak ada hamba yang Allah uji sendirian; selalu ada rahmat yang berjalan diam-diam bersamanya.
Dunia memang tidak pernah menjanjikan kenyang.
Ia hanya mahir menyajikan sesuatu yang tampak cukup untuk membuat kita terus mengejarnya. Hari ini mengejar nama, esok mengejar pujian, lusa mengejar rasa aman. Begitu seterusnya.
Anehnya, setiap selesai menggenggam satu hal, hati kembali mengulurkan tangan kepada hal yang lain.
Barangkali bukan karena nikmatnya kurang.
Melainkan karena hati diciptakan untuk mencintai Yang Mahakekal, sementara yang terus kita suapkan kepadanya hanyalah yang fana.
Mungkin itulah sebabnya, semakin dunia dipenuhi, belum tentu dada ikut penuh.
Aku tidak takut miskin.
Aku hanya takut
ketika dunia datang terlalu banyak,
lalu Allah
tak lagi kurindukan.
Ibu selalu menyuruhku makan.
Tidak pernah menyuruhku sukses.
Kini aku mengerti, ada orang-orang
yang mencintaimu lebih dulu daripada prestasimu.
Jika keadaan baik, kita bersyukur kepada Allah. Jika keadaan sulit, mengapa mengingat Allah justru dianggap masalah?
Tidak semua yang perlu di-unfollow adalah manusia.
Kadang yang perlu di-unfollow adalah versi diri yang terus merasa kurang karena terlalu sering melihat kehidupan orang lain.
Suatu malam aku pernah duduk cukup lama di parkiran minimarket setelah pulang kerja. Mesin motor sudah mati, langit juga sepi, tapi kepala rasanya masih ribut sendiri. Di sebelahku ada seorang bapak driver ojek online yang tiba-tiba berkata ke temannya,
“Kalau hati udah gak tenang, coba cek lagi dosa sendiri. Kadang masalahnya bukan rezeki kurang, tapi syukur dan taubatnya yang kurang.”
Aku diam, tapi kalimat itu seperti ikut duduk di sampingku sampai malam selesai. Sebab memang ada masa ketika hidup terasa berat bukan karena Allah meninggalkan kita, melainkan karena kita terlalu lama berjalan tanpa benar-benar melibatkan-Nya.
dan dunia
seperti biasa,
tetap menawarkan dirinya
dengan sangat cantik:
angka rekening,
pujian manusia,
serta kesibukan yang membuat seseorang lupa
bahwa ruhnya sedang kehausan
maka puasa itu menyapa
bukan untuk melemahkan tubuh,
tetapi untuk membangunkan sesuatu
yang terlalu lama tertidur di dalam dada
sesuatu yang dulu sering menangis saat sujud,
lalu perlahan mengeras
karena terlalu sering bersentuhan dengan dunia
barangkali itulah mengapa
di padang arafah orang-orang memakai pakaian serupa kematian..
agar manusia ingat,
bahwa yang paling mahal dari hidup
bukanlah umur yang panjang,
melainkan hati yang berhasil pulang sebelum dipanggil pulang
Kalau dipikir-pikir, ada banyak fase hidup yang sebenarnya tidak mungkin kita lewati sendirian.
Pernah sesak. Pernah kehilangan arah. Pernah capek jadi kuat terus. Tapi entah bagaimana,
Allah selalu menyisakan satu alasan
untuk bertahan sampai besok.
Orang-Orang yang Menghafal Doa Keluar Rumah tetapi Lupa Cara Pulang
“… dan tidaklah mereka berjalan di bumi, lalu mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami.”
QS. Al-Hajj: 46
Di kota ini
orang-orang berangkat kerja sambil memutar murattal
namun klakson mereka tetap terdengar
seperti sumpah serapah yang kehilangan wudu.
Seorang lelaki membaca doa safar
di atas motor kredit lima tahun,
lalu menerobos lampu merah
demi tiba lebih cepat
di hidup yang bahkan tidak benar-benar ia sukai.
Betapa aneh kepala manusia.
Mereka hafal tata cara haji,
namun lupa bagaimana meminta maaf
kepada ibunya sendiri.
Mereka tahu persis
berapa putaran thawaf mengelilingi Ka’bah,
tetapi tak pernah sadar
bahwa hidupnya sendiri
sedang thawaf mengelilingi gengsi.
Di minimarket dekat musala itu
seorang kasir perempuan menyelipkan istigfar
di sela bunyi barcode dan mesin EDC,
sementara matanya sembap
oleh cicilan dan ayah yang masuk ICU.
Dan dunia tetap berjalan seperti biasa.
Pomo-promo tumbuh lebih cepat daripada pohon,
orang-orang berebut diskon
seakan umur bisa ditukar poin belanja,
sementara kematian lewat pelan-pelan
menjadi tukang parkir, pengantar galon,
atau lelaki tua yang batuknya tak kunjung tuntas.
Lalu azan magrib terdengar.
Sebagian buru-buru mematikan musik.
Sebagian lagi tetap menatap layar ponsel
seolah hidayah bisa ditunda.
Namun di sudut musala kecil itu,
ada seorang bocah yang sujud terlalu lama
dengan baju sekolah penuh debu jalanan.
Dan mendadak seluruh kota terasa begitu kecil.
Sebab mungkin benar,
yang paling sulit dari kehidupan bukan
mencari Allah,
melainkan berhenti sebentar
agar hati kita sempat mendengar-Nya.
MUNAJAT ORANG-ORANG YANG KEHILANGAN KIBLAT
. . . dan tidaklah mereka berjalan di bumi, lalu mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami.
Ia ingin sekali percaya
bahwa hidup tak seluruhnya dibangun
dari semen, target, dan alarm ponsel.
Sebab setiap pagi
ia melihat manusia keluar rumah
seperti ayat yang dipaksa tamat
sebelum sempat dipahami.
Di dalam Commuter Line,
kepala-kepala saling bersandar
dengan mata setengah padam.
Ada yang baru selesai tahajud
namun gagal menahan marah di kantor.
Ada yang tak pernah menyentuh sajadah
tetapi diam-diam memberi makan kucing liar
sepulang kerja.
Betapa ganjil jalan menuju Sang Khaliq:
kadang ia tumbuh
dari luka yang tak selesai-selesai.
Seorang lelaki tua
menjual tasbih di halaman masjid istiqlal
dengan batuk yang bunyinya
seperti lemari kayu dibuka.
Tak ada yang tahu
bahwa dahulu ia bandar judi
yang hafal bunyi pecahan botol
lebih baik daripada iqamah.
Kini jemarinya
yang dulu sibuk menghitung kartu
pelan-pelan belajar menghitung istighfar.
Dan hidup,
entah sejak kapan,
selalu pandai mempermainkan manusia
dengan cara paling sunyi.
Ia pernah melihat
anak muda bertato ayat kursi di lengannya
menangis saat azan magrib,
sementara seorang hafiz
sibuk memaki pelayan parkir
karena motornya tergores.
Maka ia mulai mengerti
barangkali hidayah bukan cahaya besar
yang turun menggelegar dari langit,
ia lebih mirip aroma tanah
sesudah hujan pertama;
datang pelan-pelan
ke kepala yang lelah menjadi duniawi.
Dan manusia,
sesaleh atau seburuk apa pun hidupnya,
diam-diam hanyalah musafir
yang sedang mencari arah pulang
di tengah bumi
yang terlalu ramai disebut sementara.
Ibu saya menyapu rumah
seperti sedang merapikan nasib:
perlahan,
telaten,
meski debu selalu kembali lagi
Dan hidup memang sering begitu,
capeknya berulang,
sayangnya juga
Jika ingin hatimu tidak mudah patah, kurangi menggantungkan bahagia pada manusia yang fana.
Karena sebaik-baiknya sandaran, tetap Allah semata.
:)
Hati seringkali tidak meminta banyak. Yang membuat rumit justru ego dan standar yang terus dibentuk oleh apa yang dilihat setiap hari. Padahal banyak ketenangan hilang bukan karena kurangnya nikmat, tapi karena terlalu banyak membandingkan.