my life in 2021
I'd rather be in outer space 🛸
Jules of Nature
Three Goblin Art

⁂

Kiana Khansmith

No title available

Product Placement

izzy's playlists!

No title available

Discoholic 🪩
cherry valley forever
Lint Roller? I Barely Know Her

Janaina Medeiros
noise dept.

★

Andulka
Peter Solarz

pixel skylines
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Xuebing Du
seen from Canada
seen from United States
seen from Argentina
seen from Argentina

seen from India
seen from India

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Saudi Arabia
seen from Kazakhstan
seen from United States

seen from Türkiye
@adeliarizky
my life in 2021
soul
sebagai manusia dengan berbagai keinginan, rasanya memang sulit untuk mencapai kata puas. Saat yang satu sudah tercapai ada lagi hasrat baru untuk menggapai yang lain. Sampai pada akhirnya lupa sama yang sudah digenggam, lupa bersyukur dan lupa menikmati apa yang sedang dijalani.
kalau duduk suka bertanya, apa yang sebenarnya kamu cari?
Sebelum Genap.
“Ujung dari langkah yang kita buat untuk mencari adalah penerimaan.” - Iidmhd
… karena akan selalu ada yang lebih baik tetapi yang menerima apa adanya kamu; tidak selalu ada.
Menilik postingan instastory Masgun kemarin seputar “Apa sih yang kamu ingin tanyakan kepada calon pada saat proses pranikah yang mungkin sungkan ditanyakan tetapi penting?“ dan seperti biasa respon dari ask me tersebut memberikan banyak sekali pencerahan.
Berikut beberapa hal-hal yang perlu ditanyakan menurut followers Masgun beserta tanggapannya:
Visi hidup dan rencana setelah menikah? (Make sure. Jangan sampai tidak ditanyakan)
Apa yang dilakukan jikalau marah? Pernah sampai mengekspresikan dengan kekerasan fisik? (Sifat temperamental, mudah marah, dsb perlu divalidasi di lingkungan dan pertemanan dia selama ini. Bagaimana dia jika ada masalah, dsb. Teman-teman terdekat di lingkarannya yang paling melihatnya. Potensi KDRT-nya besar jika kamu tidak bisa mengenali dan mencari data valid soal ini)
Bersediakah setelah menikah tinggal dekat dan atau bersama orang tua saya? (Ini cukup sensitif, tidak mudah bagi seorang menantu untuk beradaptasi tinggal serumah dengan mertua. Jika calonmu mengatakan bersedia, menjadi wajib bagimu untuk membantu dan membuatnya nyaman di rumah orang tuamu. Jika tidak bersedia, tidak perlu memaksa. Cari yang lain)
Orang tua berbeda ormas, bagaimana? (Termasuk berbeda soal lainnya, contoh: beda organisasi keislaman, beda budaya, beda cara pandang soal sesuatu. Ada keluarga-keluarga yang menganggap hal-hal seperti itu sebagai syarat mutlak. Ada juga keluarga yang terbuka terhadap perbedaan seperti itu. Jika tidak bisa diterima oleh keluargamu. Tidak perlu memaksakan. Menikah urusannya panjang, kalian tidak hanya hidup berdua)
Sex life. Banyak sekali kasus tiba-tiba suami didiagnosis HIV positif kemudian yang terkena imbas adalah keluarga. (Ini bisa jadi pertanyaan tabu tetapi penting. Ada yang menjadikannya hal penting, contoh: keperawanan atau keperjakaan, ada juga yang tidak. Jadi, jika sex life ini penting bagimu. Tanyakan. Lebih berat menanggung risikonya daripada beratnya bertanya)
Saya ingin bekerja walaupun sudah menikah. Bagaimana? Boleh? (Ini menjadi case di kalangan perempuan, ingin bekerja setelah menikah. Jika itu penting bagimu, tanyakan. Tidak sevisi. Cukup sampai di sini. Cari yang lain. Karena itu juga akan melihat soal mindset. Perkara nanti kamu ketika menikah akhirnya memilih menjadi ibu rumah tangga, itu juga keputusan sadarmu. Bukan karena disuruh dan terpaksa)
Uang yang kamu dapatkan dari mana saja? Uangnya mengalir ke mana saja? (Ini penting sekali, serupiah pun jangan sampai lolos. Karena ini untuk menjaga harta yang ada dalam keluarga itu benar-benar halal dan berkah. Sekaligus untuk menghitung zakatnya. Jika sudah sampai haul/nisabnya)
Jika saya ternyata tidak kunjung memberikan keturunan, apakah akan menikah lagi atau akan bersabar? (Ini juga pertanyaan sejenis, contoh: laki-laki atau perempuan tidak subur karena kondisi atau sakit tertentu sehingga tidak memungkinkan memiliki anak dalam pernikahan. Hal seperti ini, harusnya tidak hanya ditanyakan kepada pasangan tetapi bagaimana pendapat kedua orang tuanya. Karena bisa jadi ybs tidak mempermasalahkan tetapi tidak dengan orang tuanya)
Pernah HS (having sex) atau tidak? (Hal-hal seperti ini, mungkin ada yang terbuka dan ada yang tidak. Karena bisa jadi jika batal proses pra pernikahannya, kamu jadi tahu rahasianya. Jadi, sepakati sejak awal bahwa di proses pranikah akan terbuka. Karena bagimu ini penting, jika dia tidak bersedia. Ya sudah lebih baik berhenti sebelum lebih jauh sampai kamu mengetahui rahasianya, kecuali dia memang bersedia secara pribadi ingin mengatakannya di awal bahkan sebelum proses lebih dalam. Karena dia memiliki pandangan bahwa itu adalah pintu masuknya. Kita belajar bahwa aib yang Allah tutupi jangan sampai dibuka kembali jika ybs sudah bertobat. Jika kamu merasa perkara HS ini penting, make sure bahwa dia memiliki pandangan yang sama bahwa hal tersebut penting untuk diketahui sebelum menikah. Nanti berlanjut ke persoalan kesehatan reproduksi)
Gaji Pasangan. Ingin sekali menanyakan tetapi bingung memulainya. (Tinggal tanya, gajimu berapa dan bagaimana mengalokasikannya selama ini? Lalu rencana ke depan dengan pendapatan tersebut setelah berumah tangga. Jangan pertaruhkan hal-hal yang besar untuk perkara-perkara ketakutan-ketakutan yang kecil. Pernikahan itu hal yang sangat besar, bertanya dalam proses itu hal yang masih sangat kecil risikonya dibanding dengan menjalani pernikahan itu sendiri)
Apakah keluargamu memiliki utang? Apa saja janji-janjimu terhadap orang tuamu? (Insightfull, apa saja janji-janjimu kepada orang tua? Jawabannya akan sangat penting buat jadi pertanyaan ke diri sendiri, apakah saya bersedia membantu mewujudkan janji-janji tersebut atau tidak?)
Jika saya memiliki prinsip menghindari utang riba tetapi kamu justru kerja di bagian pencari nasabah, lalu bagaimana? (Ini prinsip-prinsip bermuamalah. Ini juga bisa direfleksikan ke hal-hal serupa yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dalam menjalankan agama. Jika bagimu penting dan tidak ada toleransi. Seharusnya tidak ada ruang untuknya. Jika masih ada ruang, berarti itu dorongan hawa nafsu)
Kesehatan. Minta tes kesehatan sebelum nikah terutama tes HIV. (Medcheck. Jika kamu meminta dia medcheck, kamu juga harus. Jika ini penting bagimu, lakukanlah. Hal ini lebih banyak manfaatnya untuk kehidupan pernikahan ke depan. Jika kemudian hasilnya diketahui ada penyakit bawaan di diri calon. Kamu harus siap untuk mengambil keputusan. Jangan menikah karena kasihan, sungkan dan takut omongan orang)
Utang atau tanggungan keluarga saya masih ada. Kamu siap menerima atau tidak? (Saya menekankan kepada teman-teman jika tahu kondisi keluarga soal utang, dsb lebih baik dikomunikasikan. Sebab, utang itu diwariskan. Ekstremnya, jika orang tua tiba-tiba meninggal dan masih ada utang maka anak-anaknya lah yang harus melunasi utangnya. Apalagi jika kondisimu saat ini masih bekerja dan berjuang melunasi utang orang tua)
Pola asuh anak. Apakah nanti akan terlibat dalam pengasuhan atau fokus bekerja? Seperti apa pola asuhnya? (Pandangan soal pola pengasuhan ini juga penting. Jangan sampai ‘kecele’. Cek tidak hanya ke dia tetapi juga keluarganya. Jangan sampai kamu pro-vaks dan baru tahu setelah menikah jika pasanganmu itu anti-vaks. Bisa perang dingin di dalam keluarga. Dan pola-pola pengasuhan lainnya)
Nanti kerjanya bagaimana? Apa masih berbeda kota juga? Karena saya juga berat melepas karir saya sekarang. (Jika pada masa perkenalan sudah tahu career path-nya berbeda dan teguh terhadap keinginan masing-masing. Memang lebih baik tidak usah dilanjutkan. Karena itu adalah misi, caramu menjalankan visi besar yang mungkin kamu sendiri tidak bisa menjelaskannya dengan baik. Apalagi jika pekerjaan tersebut memiliki urgensi besar untuk tetap kamu miliki seperti karena kamu harus membantu keluarga, dsb)
Siap dengan Mama saya yang selalu mengukur segalanya dari uang? (Kita mungkin bisa menerimanya, tetapi tidak bisa menerima orang tuanya atau juga sebaliknya. Dia bisa menerima kita dan orang tua kita tetapi kita sendiri tidak yakin apakah nanti hubungan antar keluarga (orang tua x orang tua) bisa baik. Jika ini penting untuk ditanyakan, tanyakan. Jika ini penting untuk dikatakan, katakan. Karena bisa jadi rumah tangga itu oleng bukan karena kitanya tidak siap menikah dsb tetapi karena intervensi orang-orang terdekat kita sendiri)
Izin poligami karena kerja di luar kota. Saya jawab silakan tetapi bukan dengan saya. (Saya tidak kontra dengan poligami, karena itu ada dalam agama yang saya imani. Yang jelas S&K-nya berlaku. Jika kamu merasa tidak bisa memenuhi S&K-nya tersebut, tidak usah diambil)
Kenapa kamu mudah sekali berutang (uang) demi mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan? (Watak atau kebiasaan bisa ditanyakan. Apalagi jika hal tersebut adalah sesuatu yang tidak se-value dengan diri sendiri. Jika masih tetap tidak menemukan jalan tengah, berbeda pandangan yang artinya sama juga dengan berbeda value. Pernikahanmu jauh lebih berharga daripada orang tersebut)
Jika saya ada masalah dengan Ibunya bagaimana cara dia mendamaikan kami? (Insightfull, bagaimana cara calon mengatasi masalah-masalah yang akan timbul antara kita dengan orang tuanya?)
“Pernikahan itu hal yang sangat besar, bertanya dalam proses itu hal yang masih sangat kecil risikonya dibanding dengan menjalani pernikahan itu sendiri.”
… karena lebih baik gagal dalam proses ketimbang gagal setelah menjalani pernikahan.
“Membangun visi dan misi keluarga itu berangkat dari memilih pasangan hidup.” - Istri Masgun
Lebih utama jadilah sebaik-baiknya dirimu; sebelum mencari atau ditemukan.
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)
Libatkan Allah Subhanahu Wata’ala selalu di dalam prosesnya. Lalu niatkan menikah karena ibadah.
“Jika dulu niatnya menikah karena terlanjur suka, suruhan orang tua, faktor umur, ekonomi, keadaan dan situasi, semua ini harus diubah niatnya. Diubah niatnya memang karena ibadah. Ingin mengerjakan karena perintah Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya. Dan betul-betul jika diniatkan ibadah, semua kejenuhan, perasaan-perasaan yang terbebani karena adanya karakter pasangan, beban-beban kewajiban seperti nafkah bagi laki-laki, melayani ekstra dari perempuan ke suaminya, ini akan jadi ringan.” - Ust. Khalid Basalamah.
Sehingga pernikahanmu senantiasa dilimpahkan keberkahan dan menjadi keluarga sehidup sesurga. Aamiin.
Sebab, pernikahan bukan lembaga rehabilitasi.
Berbenahlah sebelum menikah. Berbenahlah bukan agar diterima atau sebab ingin menikah tetapi berbenahlah karena kesadaranmu sendiri dengan memohon pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala.
Jangan berharap orang lain akan berubah setelah menikah; hal tersebut tergantung kemauan yang ada dalam dirinya. Keputusan yang secara sadar dibuat oleh dirinya sendiri.
Jika kamu pun menyadari bahwa mengubah dirimu sendiri harus melewati proses yang tidak mudah dan sebentar maka menjadi mustahil memastikan kamu bisa mengubah orang lain.
Telaah karakter, cara berpikir, dsb karena di situlah ‘rumah’mu seumur hidup; nantinya. Bukan hanya ‘rumah’mu namun juga ‘rumah’ bagi anak-anakmu; kelak.
“Jangan sampai kamu menikah dengan orang yang kamu tidak ingin hidup dengan sudut pandang dan cara berpikir yang kamu tidak mau.” - Masgun
Tidak ada yang sempurna memang, tetapi putuskan dengan penuh kesadaran dan sekiranya kamu rida menjalaninya.
Jadi, pastikan semuanya sudah ‘clear’ sejak awal; sebelum genap :)
WAH, MANTAB, Terima kasih udah bikin resume dari IGS saya :)
👋
since the last post, baru muncul lagi.
memang Allah swt maha membolak balikkan hati manusia. Akhirnya.....
When the sky is dyed orange and red by the sunset, my heart blooms into a flower of gratitude and contentment. #favoritetime
Edisi mudik lebaran tahun lalu. Semoga tahun ini bisa tetep kumpul lebaran lengkap dalam keadaan sehat dan baik.
Spread positivity
“You’ll be fine. You’re 25. Feeling [unsure] and lost is part of your path. Don’t avoid it. See what those feelings are showing you and use it. Take a breath. You’ll be okay. Even if you don’t feel okay all the time.”
— Louis C.K.
“So we’ll just let things take their course, and never be sorry.”
— F. Scott Fitzgerald
Climate Action: Dos and Don'ts
Do: Recognise climate change as the emergency that it is. Talk about and be aware of it.
Don't: Say we're all going to die, that the world is going to end soon, or treat it as a lost cause. That's both untrue and demotivating.
Do: Try making some changes in your own life for the environment, i.e. take fewer flights, eat less meat, take part in tree planting, etc. You'll be doing your part, and you're a good role model for others too.
Don't: Blame yourself for climate change, or over-obsess about what you're doing. It's the oil companies, not you personally.
Do: Research climate change if you're interested. Have a look at reliable, scientific sources.
Don't: Make climate change your whole life, or stress yourself out over it. Take some time away from news and information if it starts affecting your ability to live your daily life.
“Lovers are patient and know that the moon needs time to become full.”
— Rumi (via goodreadss)
Ada orang yang sedang menunggu orang yang juga sedang menunggunya.
Ada orang yang saling menunggu hanya karena diantara mereka takut untuk memulai. Aku pernah menemukan yang seperti ini diantara banyak perjalanan yang sedang aku jalani. Dan aku tidak melakukan apa-apa, hanya menyaksikan keduanya menahan diri. Enggan memulai, yang satu merasa tidak pantas karena dia perempuan, yang satunya merasa tidak pantas karena belum mapan. Rumit.
©kurniawangunadi
(via kurniawangunadi)
Setelah sekian lama, ternyata urusan saling tunggu ini tak kunjung selesai. Sampai-sampai waktu berlalu, keduanya dipisahkan oleh kekhawitiran yang ternyata hanya ada dalam pikirannya sendiri. Ketakutan yang dibuat-buat seolah itu akan menjadi kenyataan jika ia memulai lebih dulu.
(via kurniawangunadi)
“If people could see me the way I see myself - if they could live in my memories - would anyone love me?”
— John Green, An Abundance of Katherines (via amortizing)
We will never able to control the way people thinking. The only thing we can control is our self.
When people do something unpredictable to us, it might make us turn to blue, happy, upset, sick, but it doesn't matter as long as we able to control our emotion and response.
People will always unpredictable,people will always change just like season it's happen naturally to us as a human. That's why we need to learn dealing with our feeling to make us more comfortable and understand the situation