Seperti awan yang ikhlas menjadi hitam demi pelangi sesudahnya,
Seperti lilin yang rela habis dan terbakar demi menerangi gelapnya,
Seperti itu kata sayang dibahasakan,
Tidak berlebihan, sesekali hanya tersirat.
Kita bukan lagi dua ciptaan Tuhan yang sedang berpacu dengan waktu untuk tumbuh menua, kita juga bukan lagi sepasang makhluk yang di awal indahnya jatuh cinta.
Kita pernah melewati perihnya luka yang tergores belati sendiri, pernah juga menghadapi tebing tinggi yang bila kita tidak meredam emosi, kita akan sama-sama terjatuh lalu mati.
Mencintai kamu itu seperti memandangi senja di sore hari pada sebuah tepi sawah yang damai,
Indahmu banyak dinikmati orang. Aku hanya salah satu pengagum karya seni buatan maha pencipta.
Hanya bedanya, kamu sering menampakkan jingga hanya untukku, walau dalam pekatnya dini hari.
Mendoakan kamu itu setulus pekerja malam yang menyempatkan meminta untuk fajar segera datang, setulus dinding penjara yang mendengar pertaubatan,
Sejujur pinta yang terucap di samping orang yang meregang nyawanya, berpacu dengan detik, berkejaran dengan detaknya.
Saya memilih untuk mencintai kamu dengan seperti itu,
membahasakan dengan tetes-tetes embun yang tidak terlihat, tetapi itu yang membuat pagi lebih berarti.
Saya bukan lagi seorang anak kecil yang merajuk meminta gulali,
Saya perempuan yang mengamankan kamu sebelum kata amin di setiap sujud akhir,
Saya membahasakan kamu seperti itu,
Seperti Sapardi dan hujannya di bulan Juni,
tapi hanya yang mencintaimu dengan sangat yang selalu mendoakan keselamatanmu.