Tidak ada lagi rasa sakit yang kau rasakan pada Minggu pagi itu, 14 Desember 2025. Namun hal itu menimbulkan rasa baru bagi kami. Rasa yang tidak ingin kami rasakan.
Rasa kehilangan!
Rasa yang memang menjadi episode wajib bagi setiap alur cerita manusia yang di awali dengan sebuah pertemuan.
Rasa Rindu!
Rasa yang tumbuh jikalau sudah ditanamkan cinta dan kasih pada setiap kisah.
Dan, rasa sedih, yang menjadi bagian alami ketika harapan tidak sesuai kenyataan, di mana kami ingin engkau pulih, tangguh dan kuat seperti sedia kala, namun Tuhan bertindak lebih bijaksana! Tidak apa! Semua rasa itu akan kami bungkus rapat, tebal dan rapi dalam kalimat doa, "semoga perjalanan engkau dipermudah mencapai tempat yang megah di sisi Sang Pencipta".
Dari ku, terima kasih sudah menjabat tangan pada awal perkenalan, senyum dan sapa pada setiap kedatangan, canda dan tawa pada setiap perbincangan, kalimat setuju yang engkau tegaskan pada aku yang sudah siap untuk anak perempuan engkau satu - satunya. Hingga akhirnya engkau ikhlaskan kami untuk bahagia, diawali dengan nama Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
Sebagai penutup kami persembahkan hak dasar untuk jiwa dan raga engkau di dunia, semoga selamat di akhirat. Salam dan sampai jumpa !
Inna lillahi Wa inna ilaihi raji'un.
Iskandar Syarif Bin Syarif
(08 Oktober 1961 - 14 Desember 2025)













