
Product Placement
Fai_Ryy
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Lint Roller? I Barely Know Her

No title available
The Bright Sessions
The Bowery Presents
Game of Thrones Daily
taylor price

ellievsbear
occasionally subtle

roma★
Cosimo Galluzzi

No title available

bliss lane
Phantogram Three
Claire Keane
I'd rather be in outer space 🛸
The Stonewall Inn
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
seen from Mexico
seen from Vietnam

seen from Indonesia

seen from United States
seen from Brazil

seen from Türkiye
seen from Venezuela

seen from Canada
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Brazil
seen from T1
seen from Belgium

seen from United States

seen from China
seen from Russia

seen from Russia
seen from United States

seen from Iraq

seen from Germany
@adindannisa
“Ibu pasca melahirkan tidak punya kewajiban melayani tamu.
Bayi ku punya privasi, aku punya privasi, aku dan suami ku harus waras”
***
Dari awal hamil sudah pegang mindset: Aku ga percaya hormone. Aku marah kalau dibuat marah, aku sedih kalau dibuat sedih.
Factor stress terbesar itu datangnya dari orang sekitar. Realistis.
Mulai pegang kalimat ini: Masa kehamilan, proses bersalin sampai momen pasca melahirkan nanti ini semua milik aku dan suami ku, kami layak dihargai.
Daripada sedikit-sedikit menyalahkan orang sementara kamu selalu disebut sensitive atau emosi mu dikaitkan dengan istilah bawaaan bayi, ayo buat boundaries & plan. Calon Ayah ibu harus team up, ya. Aku ga bilang kalau cara ku 100% benar jadi ambil yang menurut kalian baiknya saja.
1. Masa kehamilan:
a. Menentukan tempat tinggal
b. Tempat melahirkan (RS / bidan)
c. Proses bersalin (mengusahakan normal / SC terencana)
d. Ibu tetap bekerja / tidak.
2. Proses persalinan:
Menentukan orang sekitar yang akan menemani selama proses persalinan.
Calon Ayah Ibu pasti sudah banyak diskusi mulai dari kapan waktu yg tepat untkuk ke RS hingga kasus-kasus terburuk yang mungkin saja terjadi. Sampaikan kepada mereka yang mau mendengarkan dan membantu memberi masukkan (tanpa paksaan). Pilihlah orang-orang yang menurut kalian tepat, yang available, yang menghargai privasi kalian untuk menemani di proses persalinan nanti. Tujuannya, supaya proses lahiran berjalan minim stress agar tidak ada tekanan untuk Calon Ayah Ibu dari pihak mana pun.
3. Pasca melahirkan:
a. Menentukan waktu yang tepat untuk megabari kelahiran si kecil
b. Menentukan jadwal kunjungan
c. Metode mengurus si kecil (pakai bedong atau tidak, pakai botol atau gelas, dan lain-lain)
d. Tempat tinggal pasca melahirkan: mau sendiri atau mau sama orang tua tapi tetap ya jangan sampai merepotkan orang-orang. Kenali kapasitas diri sendiri dan orang lain. Pilih yang terbaik.
e. Membatasi pengunjung itu hak Ibu & bayinya, loh. Even bukan karena COVID 19. Harusnya pasca lahiran si Ibu bisa focus, tetap tenang dan bersantai selagi sempat, bukan melayani & meladeni semua orang dengan pertanyaan atau pernyataan banyak orang. Kalau mau bikin batasan semisal hanya keluarga dekat & teman-teman akrab, menurut ku sah-sah aja. Pasca lahiran pasti sering kelelahan, mood ga enak, usaha buat ASI, mungkin sudah terkena baby blues, ditambah sikap pengunjung yang ga semuanya bikin suasana hati enak, lanjut ke depression post partum, yang repot ya Ibu & Ayah saja. Semua pemicunya, bukan hanya sekedar hormone. Sementara, yang bertamu enggak akan berpikir sejauh sana.
Bayi juga punya privasi, loh. Kita ga tau apa dia suka dikunjungi atau tidak, secara bayi belum bisa bicara: Kami, Ayah Ibunya, kami yang pegang consent atas hak anak kami.
Untuk calon Ayah Ibu, tegaskan lagi, ya. Ambil sikap. Harus waras semua.
Untuk orang sekeliling Ibu hamil & bayinya, hargai hak & aturan mereka sudah cukup, kok. Terlebih lagi, sedang wabah COVID 19 seperti ini, ga usah dikunjungi dulu ya.
Terkait kesehatan badan & jiwa orang lain, jangan main-main.
joining the painting contest created by 2 madison last year. mine was picked as most favorite one 😆
Berhentilah Mengajari Anak Budaya Meminta-meminta
Kebiasaan anak suka meminta-meminta semacam ini kadang dikendarai oleh lingkungan internal si anak sendiri, bukan kemauan si anak.
Padahal awalnya si anak mungkin gak akan pernah paham kalau ketika ia berulang tahun, maka ia diberi hadiah; sampai akhirnya lingkungan internalnya sendiri yang mengenalkan ajaran tersebut. Sementara anak berpikir bahwa sikap orang tuanya itu adalah hal yang benar.
Kebayang enggak, si anak akan dapat label apa dari orang-orang sekitar? Sementara image si anak buatan keluarganya sendiri? Jahat kan? Ketika si anak mulai masuk usia lebih besar, ia bisa memilih: berhenti / menolak karena si anak sadar dan mulai merasa malu. Jika tidak,ya jadi habit.
Dan tentu saja, label suka meminta-minta ini akan terus melekat pada si anak sekali pun ia sudah berhenti atau ketika ia beranjak dewasa. Dan selalu akan ada beban moral yang ditanggung.
Orang tua harus sadar akan kemampuan diri mereka sendiri, kalau memang belum mampu, ya ajarkan anak untuk paham dan sabar. That’s your job.Kalau memang berniat memberi, berusahalah, jangan melempar keinginan si anak ke orang lain. Dan apa yang anak butuhkan sebenarnya hanyalah perhatian, bentuk apresiasi terhadap anak dengan pelukan dan kata-kata baik itu jauh lebih berkesan daripada wujud secara materil. Seriously, this will be what your kids will remember about you all their life: the way you treat them.
Once you commit to get married plus have children, you are responsible to your married-life problems. Don’t ask others to help and to be always understanding.
Don’t drag your kids to your bad mental.
For some children, home is their most comforting place to turn to.
Their entire family members are their best friends, the greatest supporters. Where the children grow with love.
But not for some others.
These some others, they live by fighting, screaming, cursing, manipulating and blaming family members. Very unhealthy.
These some other children often feel unlucky. Not normal. Insecure. Confused. Fear of tomorrows. And keep asking God why they were made to the world.
Please, don’t get married if you are not ready. Fix yourself first before you take responsible of other people.
Don’t make others broken.
I made this to honor one of illustrator that I learned watercolor from, https://www.instagram.com/deliccia/
A tribal costume for Papua
A battle of Sura (Shark) and Baya (crocs), both combined as Surabaya, a capital city of East Java, Indonesia.