Vance Joy · Song · 2021
That missing piece is found.

⁂

No title available
Keni
Cosmic Funnies
trying on a metaphor
TVSTRANGERTHINGS
almost home

Kiana Khansmith

❣ Chile in a Photography ❣

Discoholic 🪩
No title available
wallacepolsom

祝日 / Permanent Vacation
Mike Driver

#extradirty
One Nice Bug Per Day

Origami Around
h
Not today Justin
Stranger Things
seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from Taiwan
seen from United States
seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from Germany

seen from France
seen from United States
seen from United States

seen from Japan
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@adityaaryandi
Vance Joy · Song · 2021
That missing piece is found.
Ternyata mendengarkan suara hati ada perlunya juga, jadi rasanya lebih balance. Menyelesaikan permasalahan orang lain ternyata memang melegakan, tapi lebih melegakan lagi ketika “lilin menyala tapi tidak habis sendiri”. Self care is not egoistic. *with terms ya tapi
Buy Now!iTunes: http://smarturl.it/TheWorldiTunes#PhillipPhillips #Home #Vevo #Pop #OfficialMusicVideoMusic video by Phillip Phillips performing Home.
Home
You have your own sins and past, but you also have your own good deed and future. It makes you, you. And I'm no different. This is what we called living.
From a friend’s Ted Talk
Iya, sepanjang hidup kita mencari-cari tanda. Inikah? Inilah? Tak kutahu sekarang. Meski tau jalan nanti kan berbatu, sudah ya. Masa depanku cerah. Aku pamit. Berangkat dahulu.
We are always looking for curious students who feel motivated to gain hands-on research experience on fungal biology-related topics. Email [email protected] if you are interested in working with us.
Bismillah.
A reason to smile, a reason for happiness, sometimes comes unexpectedly. Out of nowhere. Yet, it is still beautifully bend and slip through your fingers. Hence, grab the now, seize the moments while you can. Do it carefully then the results will definitely be mesmerizing.
If its has to go separate ways, then, so be it.
Well, thats.. life.
As hard as rock, as still as steel.
They said: Fortis fortuna adiuvat.
~Inspired from John Wick
Ketinggalan banget sama series ini. Haha
Let’s see how the theories work,
Hail bella ciao!
#series #lacasadelapapel
Publish or perish.
Ada orang, yang dengan berbagai privilledge: punya orangtua yang mampu, bisa sekolah ke tempat yang bagus, akhirnya bisa kerja di tempat yang bagus pula. Bisa beli mobil, bisa makan dengan proper, beli rumah proper utk keluarganya, anak istri pun dapat asuransi kesehatan bahkan pendidikan, gaji lebih dari cukup. Bahkan di usia muda, sudah bisa punya rumah sendiri.
Ada juga orang yang, seperti pagi ini kulihat saat lari pagi, tua, sendiri, merakit layang-layang untuk dijual, di sampingnya ada kopi dalam gelas aqua plastik. Aku berpikir. Berapa penghasilannya sehari? Punya anak istrikah? Gimana kalo anak istri sakit? Setidaknya apakah bisa bayar BPJS?
Entahlah postingan ini untuk apa. Aku hanya resah saja. Di satu sisi, aku tak puas jika muaranya hanya pada ikhlas sabar tawakkal dan percaya bahwa Allah penjamin rizki. Sebuah mekanisme pertahanan diri untuk menerima kenyataan padahal problem tetap ada: ketimpangan, kemiskinan, kesehatan.
Tapi di sisi lain, entah apa yang bisa kuperbuat jugak? Huft. Jika kejadian sekilas tadi kuceritakan pada Luthfi, pasti akan berakhir dengan argumennya tentang "negara harus hadir". Dia masih punya idealisme yang kuat tentang berkontribusi membangun masyarakat: bikin LSM, pemberdayaan ke desa-desa, bahkan membuatku percaya bahwa suatu saat nanti kami bisa mendirikan sekolah sendiri. Tapi energiku tak sebesar energinya. Haha.
Ya sudah Nad, jadi pengingat saja untuk dirimu sendiri bahwa di setiap hartamu ada hak orang lain.. pengingat agar dirimu tidak tamak, ingin ini itu yang ekstra-ekstra, cukupkan dirimu.
Iya gitu kira-kira.
Pengingat #2
Tulisan : Pekerjaan Kita
Pekerjaan itu sejatinya tidak diukur pada seberapa besar angka yang dihasilkan, tapi pada manfaat, nilai, dan keberkahan apa yang bisa didapat dan timbul dari pekerjaan itu. Sesuatu yang mungkin tidak menarik untuk kita bahas. Andai semua orang mengejar gaji ratusan juta per bulan, kita mungkin akan kehilangan guru-guru di sekolah. Kita kehilangan pengajar di pelosok-pelosok daerah. Kita kehilangan tenaga-tenaga medis yang bekerja untuk kesehatan orang lain tapi mengabaikan kesehatan dirinya sendiri.
Kita juga akan kehilangan orang-orang yang mewakafkan dirinya pada jalan dakwah, yang mengajarkan nilai-nilai agama di kampung-kampung. Juga kepada anak-anak kita di tengah ambisi para orang tua yang ingin anak-anaknya menjadi penghafal diusia belia.
Pekerjaan itu, andai kita benar-benar memahami apa yang timbul darinya. Ukuran kita tidak lagi uang, saat kita bekerja bukan karena butuh uangnya. Tapi kita tahu, kita bekerja karena kita ingin menjadi bermanfaat.
Semoga nanti kita semua sampai ditahap itu. Saat kita bekerja bukan karena tuntutan kebutuhan hidup, bukan karena tekanan sosial dan keluarga, bukan karena kita ingin memiliki harta sebanyak-banyaknya. Tapi karena kita tahu, ada pahala yang besar dari pekerjaan yang akan kita tekuni sejak hari ini sampai tua nanti. ©kurniawangunadi | 6 Februari 2020
Pengingat #1
Dari Kompetitor, Menjadi Teman Seperjuangan
Dulu saya berpikir memiliki jiwa kompetisi tinggi adalah cara efektif tuk bertumbuh. . Dari mulai nilai ulangan, ranking di kelas, hingga sesederhana kecepatan belajar di jalan dijadikan kompetisi. Akhirnya saya mulai menyadari, hal itu gak bawa lebih banyak manfaat, justru lebih banyak dampak negatifnya buat diri kita. . Terlebih jika semua segi kehidupan dijadikan arena kompetisi. Punya kekayaan berapa, punya rumah sebesar apa, kendaraan semewah apa, gaji berapa besar, sudah nikah belum, punya berapa anak, dan makin banyak deretan panjang arena-arena kompetisi lainnya. . Dalam kompetisi dengan orang lain, tanpa kita sadari akan ada yang didaulat jadi pemenang dan ada yang kalah. Sang pemenang akan merasa superior. Yang dikalahkan jadi lebih inferior. . Kita jadi sangat sulit untuk bisa berbahagia dengan tulus atas keberhasilan orang lain. Karena seolah jika ada pencapaian yang didapat seseorang, berarti merekalah yang menyabet title pemenang, dan kitalah yang kalah. Tanpa disadari ada penyakit hati yang muncul: perasaan dikalahkan, lalu berujung dengki. . Dampak lainnya kita jadi sulit mensyukuri karunia Allah. Karena kita sangat sering membandingkan apa yang kita miliki dan capai dengan apa yang dimiliki dan dicapai orang lain. Sulit sekali merasakan kejernihan hati dalam situasi seperti itu. . Didukung oleh sosial media saat ini dimana kita lebih mudah menunjukkan pencapaian2 ke publik. Tiap scroll timeline akhirnya malah jadi makin banyak penyakit hati yang muncul. . Mungkin kita perlu mengubah cara pandang menjalani keseharian bersama orang2 di sekitar kita. Dari orientasi tiap hari adalah arena kompetisi dengan orang lain, menjadi tiap hari adalah arena kita menjadi lebih baik dari versi diri kita sebelumnya. . Ganti sudut pandang dari orang lain adalah kompetitor, jadi kawan perjuangan. Pencapaian mereka tidak sama sekali berhubungan dengan kita menjadi yang kalah. Bantu orang lain mencapai keberhasilan tidak sama dengan menggali jurang tuk menenggelamkan kita. . Surga Allah sangat luas. Bukan karena satu orang bisa masuk satu pintu surga, lalu akhirnya pintu tersebut tertutup untuk yang lain. Pintu surga selalu terbuka untuk siapapun yang Allah ridhai. Seberapa banyakpun mereka.
Teruntuk jalan panjang perjuangan, mari mengingat.