Sepucuk Surat Dari Pekerja Di Batas Negeri
Nb: Sebelum kamu baca surat panjangku ini, perlu kamu ketahui bahwa aku menulis surat ini sambil mendengarkan musik-musik dalam album Sunny Mornings dari Peder B. Helland. Mungkin kamu juga harus mendengarkan musik-musik tersebut ketika membaca surat ini. Siapa tahu dengan seperti itu kamu akan merasakan bagaimana perasaanku di sini ketika sedang menuliskan surat ini.
--------------------------
Dik, akan aku ceritakan bagaimana tempat aku berada sekarang. Seperti yang kamu tahu sebelumnya, aku sekarang berada jauh di batas negeri. Hanya dengan berjalan kaki beberapa jam ke arah utara dari tempatku sekarang, maka aku dapat menginjakkan kaki di negeri tetangga kita.
Perlu kamu ketahui bahwa untuk beberapa waktu ke depan aku akan menetap di sebuah Camp Perkebunan Sawit. Camp ini berada di tengah-tengah puluhan ribu hektar tanaman sawit.
Ketika aku bangun pagi, yang bisa aku dengar adalah suara orang-orang yang sedang bersiap untuk kerja di perkebunan. Mereka berangkat pagi-pagi buta dari rumah mereka masing-masing untuk berkumpul di lapangan Camp yang sekarang aku tempati ini. Selanjutnya mereka akan dimobilisasi ke lokasi pekerjaan mereka masing-masing. Kerja dimulai pukul 7 tapi mobilisasi sudah dimulai sejak pukul setengah 6an. Sebab lokasi yang dituju bisa cukup jauh dari camp. Dan jalan yang dilalui tidaklah mulus.
Suara mobil-mobil berat khas perkebunan sudah terdengar sebelum matahari terbit. Kau bisa bayangkan kan ketika aku dan rekanku baru selesai menjalankan kewajiban pagi hari, bahkan diantara temanku masih ada yang khusyu’ dengan mimpinya, tapi mereka –para pekerja– ini sudah siap untuk bekerja. Mereka sudah berangkat dari rumah sebelum subuh.
Mereka memang pekerja keras, Dik. Mereka juga disiplin. Dan tentunya mereka juga loyal. Ya, seperti yang kamu tahu bahwa pekerja seperti mereka akan loyal terhadap orang yang memberi mereka pekerjaan. Oh atau mungkin juga mereka berusaha loyal karena merasa butuh. Ya seperti pengalaman kerjaku beberapa waktu lalu.
Udara pagi di sini sangat segar, sebab di sekelilingnya hanya ada tumbuhan. Tapi tetap, aku lebih menyukai pagi di Bandung. Pagi hari Bandung selalu menyajikan kesegaran dan wangi yang khas. Dan aku selalu suka.
Menjelang siang hari, di waktu dimana aku sudah harus berangkat kerja, udara di sini terasa sangat panas. Setidaknya untuk aku yang selalu tinggal di daerah dingin seperti Bandung. Dengan cuaca yang panas tersebut, selanjutnya aku tahu alasan kenapa kebanyakan lelaki di sini jarang memakai baju dalam keseharinnya.
Aku pergi kerja ke hutan-hutan pedalaman di daerah ini. Tugas utamaku adalah melakukan survey kepemilikan lahan di hutan. Untuk mencapai tempatku, aku pergi menggunakan ojeg lokal. Atau lebih tepatnya warga yang dadakan menjadi ojeg. Perjalanan yang ditempuh melewati jalan tanah merah yang mana dia tidak bisa dilewati ketika hujan. Aku juga melewati jalan kecil menembus hutan yang di atasnya dipasang satu atau dua bilah papan agar jalan tidak licin. Tapi aku tidak meragukan bagaimana orang-orang di sini mengendarai motor melewati medan yang sulit. Mereka sangat cekatan mengguunakan sepeda motornya.
Ketika aku keluar dari camp sawit menuju utara, aku dapat menyaksikan bukit memanjang, yang dalam imajinasiku dia terlihat seperti bentuk seorang laki-laki yang sedang berbaring. Dibalik bukit tersebut, katanya, sudah masuk kawasan negeri tetangga kita, Malaysia. Bayangkan, Dik, bagaimana aku berkelana jauh menjelajahi negeri ini.
Di waktu aku bekerja, aku harus masuk ke hutan-hutan lebat di sini. Hanya berdua orang saja. Atau bahkan terkadang mau tidak mau harus sendiri. Sebelumnya aku sempat takut membayangkan hal ini. Bahkan pertama kali aku menginjakan kaki di hutan yang lebat, aku merasa merinding. Suasananya terasa jauh berbeda dengan di luar. Bau dan suara yang ada terasa sangat berbeda. Aku mencium bau dari pohon, buah dan sesuatu yang tidak aku ketahui. Aku juga mendengar suara-suara asing dari hewan-hewan di sana. Ada satu suara burung yang terdengar berat dan terdengar cukup mistis bagiku. Aku sempat bertanya burung apa itu, tapi mohon maaf, Dik, aku lupa namanya. Ingatanku memang payah akhir-akhir ini.
Selama di dalam hutan aku banyak diam. Karena tidak bisa dipungkiri aku merasa takut berada di dalam hutan seperti itu. Manusia memang selalu merasa ketakutan terhadap sesuatu yang tidak bisa mereka kuasai atau tidak mereka ketahui secara pasti. Ini sudah menjadi naluri manusia. Termasuk aku yang merasa ketakutan masuk ke hutan lebat di sini karena aku tidak tahu secara pasti hewan buas apa yang ada di sana.
Dari dalam hutan aku dapat melihat langit cerah serta awan putih lewat celah-celah kecil dedauan lebat. Tapi sedikit saja cahaya matahari yang dapat menembus permukaan tanah di dalam hutan, bahkan di beberapa tempat tidak ada sama sekali cahaya matahari yang tembus. Di dalam hutan terasa gelap. Kondisi tanahnya lembab. Dia punya iklim mikronya sendiri yang sangat jauh berbeda dengan keadaan di luar. Andai saja aku tidak takut, maka aku akan menikmati momen keheningan tersebut.
Menjelang sore aku akan ke luar hutan. Kembali ke pemukiman terdekat untuk istirahat sejenak. Di sini aku banyak interaksi dengan penduduk sekitar.
Oiya, sedikit kuceritakan tentang penduduk di sini. Mereka adalah manusia pemilik tubuh-tubuh yang tegas. Tatapan mereka tajam. Kulit mereka menunjukan bagaimana mereka berinteraksi dengan terik matahari tropis setiap harinya. Dengan melihat sekilas, kamu akan menilai bahwa mereka adalah orang-orang yang kuat dan mungkin tidak takut apapun. Kamu akan terpesona bagaimana mereka berjalan sendirian di rimbunnya hutan tropis di sini.
Setelah cukup istirahat, aku kembali ke camp di sore hari. Di hari pertamaku ini, aku masih berada di jalan ketika waktu maghrib telah masuk. Ada yang indah di perjalanan pulang di hari pertamaku. Melihat ke arah barat, jingga kemerahan merajai langit. Matahari sudah tidak terlihat tapi dia meninggalkan semburat jingga mistis. Swastamita, kataku dalam hati. Di seberangnya, atau di sebelah timur, aku dapat menyaksikan bulan yang hampir bulat sempurna baru saja naik dari horison. Aku tahu besok adalah purnama.
Warna di timur sangat kontras dengan di barat. Keduanya menciptakan gradasi sempurna, dari jingga menuju biru tua. Aku benar-benar menikmati momen langka ini. Sebab di tempatku tinggal di kelilingi oleh perbukitan dan gunung. Sehingga aku tidak bisa menyaksikan momen matahari terbenam dan bulan terbit secara bersamaan.
Di malam harinya, aku mencoba keluar ke arah belakang mess. Di hadapanku terhampar luas perkebunan sawit yang menghitam diterkam gelap. Ada beberapa kunang-kunang yang dapat aku saksikan dalam kepekatan malam di sini. Melihat ke atas aku dapat menyaksikan langit gelap berbintang. Bintang-bintang terlihat jauh lebih banyak dari yang biasanya aku lihat. Bima Sakti membentang jelas, menambah keanggunan perjamuan langit malam. Ya Tuhan, nikmat Kamu mana lagi yang aku dustakan.
--------------------------
Begitulah bagaimana aku melewati hari pertamaku kerja di sini, Dik. Pekerjaan yang cukup melelahkan, tapi aku menikmati setiap momen baru yang kulalui. See you, Dik. Semoga kamu baik-baik selalu.