Surat Tanpa Nama
Teruntuk nama yang telah tertera, siapapun kamu, aku tidak akan pernah kecewa. Karna aku tahu, pilihan Tuhan selalu tepat. Dan Tuhan pasti menghadirkanmu karna sebab.
Teruntuk nama yang rahasia, tak usah risau dengan pertemuan kita. Datanglah dengan apa adanya. Karna bersamaku, kau tak perlu merubah dirimu. Bersamaku, kau bebas mengekspresikan perasaanmu.
Saat ini mungkin kita tidak sama-sama menyadari, bisa jadi kamu adalah orang yang pernah aku temui? Atau bisa jadi kamu sedang berada disekitarku? Atau bahkan kita saling tidak tahu menahu?
Tetapi, yang aku percaya, bahwa doa kita akan saling terpaut, ramai menghiasi langit. Sajadah yang tergelar di malam hari cukup menjadi saksi. Bahwa, kisah ini istimewa. Abadi selamanya.
Kelak, hari yang dinanti akan tiba. Saat kau datang dengan gagah, menyiapkan tangan untuk abi genggam. Menjabat dan berikrar dihadapan Tuhan. Janjimu disaksikan oleh ribuan malaikat, ucapanmu membuat langit bergetar. Menggegerkan para penduduknya.
Maka, mulai detik itu, aku pilih kehidupanmu untuk menjadi perjalanan ku selanjutnya. Aku pilih dirimu untuk menjadi rumahku. Aku cari jalan menuju surga lewat ridhomu. Dan sejauh apapun nanti aku melangkah, kamulah tempat singgahnya.
Saat ini, aku tidak menuntut apapun, karna Tuhan lebih tahu kapan waktu kita untuk bertemu.
Kepada nahkoda kehidupan, aku titipkan pesan ini lewat hembusan angin sepertiga malam. Sampai berjumpa. Pada hari bahagia yang semua orang ikut berdoa.
















