Escape routes . . . . #light #photoshoot #room #window #escape #iphone

❣ Chile in a Photography ❣
𓃗
Keni

gracie abrams

Game Changer & Make Some Noise
Monterey Bay Aquarium
The Bowery Presents
hello vonnie

if i look back, i am lost
Sade Olutola
cherry valley forever
Cookie Run:Kingdom Official!
official daine visual archive
tumblr dot com

oozey mess

@theartofmadeline

Jar Jar Binks Fan Club
Phantogram Three
Game of Thrones Daily
noise dept.

seen from United Kingdom

seen from India

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Russia
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from South Africa

seen from Canada
seen from United States

seen from United States

seen from Sweden

seen from India
seen from Mexico
seen from Argentina
seen from Vietnam
seen from Côte d’Ivoire

seen from United States
@afaldana-blog
Escape routes . . . . #light #photoshoot #room #window #escape #iphone
(Not a) quick sketch to end the day! Had an experiment with different type of drawing than previous two, yet the result is pretty awesome. Please welcome Greysia Polii and Apriyani Rahayu— currently Indonesia’s no.1 women’s double pair in badminton. Achieved that position in their first year playing as a pair!💪🏼💪🏼💪🏼 . . . . #Indonesia #sport #olahraga #badminton #bulutangkis #greys #greysiapolii #greysians #apriyani #apriyanirahayu #greysapri #digitalart #art #sketch #drawing #digitaldrawing
Indonesian Presidential Palace in Bogor along with its guardians . . . . #Indonesia #Bogor #President #presidentialpalace #kebunrayabogor #istanabogor #deer #nature #park #sonya6000 #sony
Aku diterima kerja di kantor impian!
Begitu kiranya para mahasiswa yang baru lulus saling bertukar kabar di salah satu grup kampus. Masih hangat teman-teman saling sahut memberi selamat, tips trik, sebar vacancy, dan turut memberi kabar baik, bahkan juga kabar tidak begitu baik (Ah, gw tidak dipanggil wawancara perusahaan A!).
Bekerja di kantor incaran sewaktu kuliah entah karena kesukaan dengan bidang yang digeluti atau karena gaji yang aduhai, tidak menjamin apakah seseorang akan bertahan lama bekerja di tempat tersebut. Sering kita dengar teman-teman yang dahulunya ‘berbagi pesan bahagia’ itu sudah tidak lagi bekerja di tempat idamannya dulu. Barang belum 3 bulan mungkin sudah banyak yang memilih keluar dan mencari tempat kerja baru— atau yang lebih ekstrim, mencari mimpi-mimpi baru. Ada apa?
Ramah Lingkungan
Saya sangat setuju dengan pendapat, “lingkungan mempengaruhi tabiat diri seseorang”. Cukup begitu. Tidak perlu ditambah embel-embel “sangat” pada kata mempengaruhi, karena sejatinya pengaruh lingkungan tidaklah mutlak.
Setidaknya, ada tiga cara manusia dalam menyikapi nilai di dalam sebuah lingkungan; menerima, menolak, atau bernegosiasi. Secara sadar atau tidak kita akan memihak satu di antara ketiga sikap tersebut.
Five days of privilege . . [1] . Me among 122 other participants of pre-departure program of Indonesian Education Scholarship in the vice president palace. 37 of us come from affirmation program, more were known made their first visit to the capital. These 122 people are not only those who had made great contributions, but also those who has the biggest dream and the biggest willingness to help the homeland. Am Inspired by every story they had . . [2] . Believe me, contribution is not limited. Me among our medical team as I help them to design their medical check up program's poster. Am amazed on how humble our all 17 doctors on the team are . . [3] . Lingga. We may not that ambi team who do their best in every games, but yes we sound our opinion lauder than others when we met the speakers, and roar when it comes to performance and questionnaire 😂 . . Thank you for many lessons I had during these days, to our special Pak Kamil and PK's crew to be able to invite special speakers to the event: Vice President Jusuf Kalla, Minister of Religious Affair Lukman Hakim, LPDP Director Luky Alfirman, Junior National Football Coach Indra Sjafri, Prof. Ali Ghufron, Prof. Djamaludin Ancok, Hamied Wijaya, and LPDP internals . . Thank for the privilege. Sue O! ❤️ #lpdp #pk #persiapankeberangkatan #pk109 #109 #oleobolelebo (at Gedung II, Istana Wakil Presiden RI)
Kadang kita terlalu fokus menghabiskan energi untuk mencari dan mengejar hal-hal baru, tapi lupa merawat hal-hal kecil milik kita yang tanpa disadari berharga
afaldana
Cerpen : Lelah
Aku lelah dalam berjuang, di usia yang berbilang masih muda ini. Seketika aku ingat bagaimana orang tuaku dulu berjuang. Melangkahkan kaki dari rumah ke tempat kerjanya, belum berkendara seperti saat ini. Seketika aku merasa malu.
Cita-citaku terlalu tinggi, sampai-sampai mereka berdua tidak paham dengan apa yang aku citakan. Namun, mereka dengan tulus hati mendoakan; semoga apa yang aku cita-citakan itu tercapai.
Sementara aku sendiri ragu apakah bisa mencapainya atau tidak. Di tengah-tengah jalan yang penuh liku ini. Jalanan yang padat, setiap hari aku harus menantang air dingin di pagi hari, melawan kantuk, menerjang kemacetan, duduk berjam-jam dan sesekali pergi ke lapangan untuk survey, kemudian pulang selepas isya dalam keadaan lelah.
Semua ini membuatku rindu pada rumah. Pada setiap butir nasi hangat yang ibu ambilkan dari ricecooker. Pada sayur tadi siang yang dihangatkan kembali. Aku rindu pada setiap kemudahan yang aku dapatkan ketika aku di rumah. Meski berbilang usiaku sudah 25-an, aku tetaplah anak-anak di mata mereka.
Aku lelah di perjalanan ini. Perjalanan yang membuatku risau, apakah ini jalan yang benar atau bukan. Apakah aku akan menjalani jalan ini hingga akhir hayatku? Mencari rezeki di sana? Dan juga jalan yang akan aku ceritakan dengan bangga ke anak-anakku nantinya.
Aku lelah dan lagi-lagi aku malu kepada ayah. Setiap pagi, sewaktu aku masih tinggal dengan mereka. Ayahlah yang selalu mencuci baju sekeluarga, sementara ibu memasak di dapur. Aku hanya perlu bersiap diri. Dan ayah, ia harus berburu dengan waktu agar bisa berangkat tepat waktu.
Aku lelah dan lagi-lagi aku malu kepada ibu. Aku tahu, betapa bangganya beliau ketika bercerita kepada kerabat dan tetangga tentang anaknya yang berhasil masuk universitas, kemudian lulus dengan predikat cumlaude, tak lama setelah itu diterima bekerja.
Aku malu bila aku hendak mengeluh lelah. Aku tahu, mereka tidak perlu tahu kerisauanku. Sebayaku menyebutnya Quarter Life Crisis. Mereka hanya perlu mendengar kabar baik, agar hatinya tentram dan doanya tidak dipenuhi kekhawatiran, dan sesungguhnya itulah kesimpulannya. Aku tidak ingin mereka khawatir. Yogyakarta, 24 Agustus 2017 | ©kurniawangunadi
Sederhana dalam Mimpi
Ketika pelajar Jepang dibuat takjub dengan cita-cita besar pelajar Indonesia, saya dibuat takjub dan seketika merasa kecil ketika tahu kesederhanaan cita-cita siswa-siswi Jepang pada masa itu.
Saya jadi ingat pengalaman tujuh tahun lalu ketika mendapat kesempatan menjadi salah satu peserta program pertukaran pelajar ke Jepang lewat program Jenesys. Saya bersama sekitar seratusan siswa lain ditempatkan ke dalam beberapa kelompok sesuai daerah tujuan. Saya kebagian kelompok Hyogo- Maiko, dengan basis kegiatan di kota Kobe.
Salah satu kegiatan yang berkesan adalah ketika kami, siswa-siswi Indonesia diberi kesempatan untuk berbagi cita-cita bersama siswa-siswi dari salah satu sekolah negeri di Jepang. Kami ditempatkan dalam sebuah ruang kelas besar, lalu saling tanya jawab dengan pihak sekolah (menggunakan Bahasa Inggris, dan yes, mereka takjub dengan kemampuan Bahasa Inggris orang Indonesia). Di akhir pertemuan, kami saling bertukar cita-cita.
ada orang-orang baik yang ngebuat kita mengingat dia setiap kali ada kebaikan di sekitar kita
sering banget rasanya pas lihat orang murojaah hafalan di manarul terus tiba-tiba ingat temen yang biasanya murojaah hafalan ngadep tiang. Terus lama-lama senderan dan akhirnya tiduran 😂
pas ngelihat orang donor darah tiba-tiba keinget temen yang komitmen jaga kesehatan dan olahraga biar bisa donor darah rutin.
pas ada mukena kotor di musholla tiba-tiba keinget temen yang langsung ambil mukena tadi buat di laundry.
kadang memang amal-amal baik itu butuh ditampakkan. Buat ngasih contoh dan seolah-olah sambil berbisik
“ntar kalo gue ga ada, lo lanjutin kerjaan gue ya. Biar gue tetep dapet pahala jariyah”
mungkin suatu saat, cara kita menyalurkan rindu bukanlah sekedar lewat doa. Tapi juga dengan mengcopy paste kebaikan-kebaikan orang yang kita rindukan. Agar dia tetap mendapat pahala jariyah atas kebaikan-kebaikan yang dia ajarkan ke kita
(via deamahfudz)
Semua orang bisa bilang, "kau adalah sahabatku, kau adalah orang yang paling aku rindukan, kau adalah cintaku, kau adalah orang yang paling aku sayangi dan perdulikan". Semua orang bisa bilang, tapi tidak semua bisa memberi rasa seperti yang mereka bilang
At the end it is not how you label your relationship with other that matters, it is how you made them feel that define your relationship.
Right time
How amusing our society nowadays. A bunch of people showed up in a coffee shop, sat in the same table and talked like friend before a moment later stunt in silent then turn into stranger alienated by smartphone in hands.
In a point, this who-love-to-tease-other will say such rubbish like “what are you doing by yourself man?”, or “You look pathetic sitting here alone”, or “go find yourself a date!”, or “go find your friends around”, and bla bla, you name it.
As for me, it is never being a matter to sit by myself, enjoying my drink and readings. I feed my brain and learn how to write whilst observing people around. Being alone help me to be more productive and help me to contemplate. Free.
Surrounding by friend is a privilege and a great escape too! We do hobbies, exchange stories, and dig for laugh. Socialize teach us to be empathy and open to various perspective. It somehow grows us.
BUT— as I said earlier, some people are just using their ‘activities’ in wrong timing. Either having a para social life in social media in a group of a crowded gangs, or busy to communicate in a distance and taking other business in ‘me time’.
Some people are busy collecting and sharing as much memories as they can whilst other are enjoying it in every second. How is yours?
Supposed to post these photos weeks ago. Here is a proud father, Tantowi Ahmad and his son, Danish were about to enter champion's podium of Indonesia Open Super Series Premier in Jakarta. The Olympic champion finally shared his throne with his baby in home soil. A moment to remember for both ❤️
24
Memasuki usia 24, mama yang sebelumnya anteng-anteng aja anaknya masih sendiri mulai nanya, “Bang ternyata kamu sudah 24 ya, kapan?”. Mungkin bukan cuma gw yang ditanyain begini. Mungkin kalian juga udah ditanyain begini sama orang tua, sanak, keluarga, teman-teman, jauh sebelum usia menginjak 24.
Bagi gw mencari pasangan di usia ini sangat krusial. Mencari pasangan di usia 20-an bukan sekedar ajang mencari pacar, teman curhat, kesenangan sesaat, lalu bubar ketika sayang-sayangnya, lalu patah hati. Mencari pasangan di usia ini bagi gw adalah tentang mencari teman hidup. Itu tidak bisa segampang ketemu-jadi-senang-putus-galau-berantakan, lalu alurnya muter gitu-gitu aja sampai putus nyambung punya mantan banyak amat lalu tanpa sadar kita menghabiskan waktu untuk mikirin hal sepele dan lupa untuk tumbuh.
Fase “mencari teman hidup” di usia 20-an gw artikan sebagai fase menyiapkan diri. Menyiapkan pikiran, emosi, waktu, dan bahkan uang. Fase ini tidak hanya terbatas pada kemampuan stalking, curi pandang ke sosok yang menarik perhatian, lalu PDKT, jadian. Tidak. Fase ini tidak sesempit usaha pendekatan semata atau mau senangnya aja. Fase ini dapat ditempuh dengan berusaha menjadi pintar, menjadi mandiri, menjadi dewasa, menjadi bertanggung jawab, menjadi berkomitmen. Setidakya ada usaha untuk menjadi pribadi yang baik dan tangguh dunia-akhirat.
Ini penting. Banyak orang yang hanya memfokuskan diri pada konsep “cinta itu saling melengkapi kekurangan masing-masing“— yang menurut gw kurang make sense. Karena ketika itu terjadi, maka kita akan menghabiskan waktu bersama pasangan hanya untuk menutupi kekurangan masing-masing. In the name of "sayang" tidak jujur lalu menjadi pribadi orang lain, ngorbanin ini itu untuk pasangan lalu lupa belajar, lupa tumbuh, lupa saling menguatkan, lupa kita punya goal besar yang harus diterjang bareng-bareng.
Padahal menurut gw yang diperlukan itu adalah dua sejoli yang sama-sama kuat dan sama-sama ingin tumbuh. Karena membangun hubungan di usia segini adalah tentang membangun rumah masa depan. Dan membangun rumah yang kokoh perlu orang-orang yang kuat dan siap. Ga mungkin kan yang satu nyangkul terus bangun pondasi sementara yang satunya neduh takut kena matahari. Eh pas rumahnya udah jadi doi bilang ga suka terus ninggalin. Sakit.
Ini bukan untuk si cowok aja. Untuk si cewek juga. Keduanya harus punya sense membangun diri. Belajar memantaskan dan berdiri di kaki sendiri. Karena, ketika kita sudah menjadi pribadi yang baik dan selesai dengan urusan remeh temeh pribadi, kita tidak perlu canggung dan berpura-pura menjadi sosok yang “paling” di matanya doi. Kita cukup menjadi kita apa adanya.
Capek ga sih harus pura-pura terus? Kasian ga sih mencintai sosok yang ternyata cuma proyeksi semu? Nah! Berhentilah nelangsa galau meratapi hidup karena belum punya jodoh. Mulailah menyiapkan diri. Percayalah yang baik akan dipertemukan dengan yang baik pula. Man shabara zhafira.
Salam sayang untuk semuaa :)
Cerita di Bawah Langit Timur: Pulau Morotai
1 Juni lalu saya (dengan tidak sengaja) mendapatkan kado ulang tahun tak terduga: Mengunjungi Indonesia bagian timur. Yeay!
Kunjungan ini sebenarnya bukan jalan-jalan, melainkan lawatan kerja. Karena itu jadwal saya pun tidak bisa bebas seenaknya, harus disesuaikan dengan jadwal pertemuan dengan pemerintah setempat. Alhasil, jalan-jalan hanya bisa dilaksanakan di sela-sela kegiatan.
Pada kesempatan ini saya berkunjung ke Kabupaten Pulau Morotai. Morotai ini salah satu pulau terluar di utara Indonesia. Morotai dapat ditempuh dalam waktu 40 menit dengan pesawat dari Ternate.
Dalam perjalanan Ternate-Morotai, saya, dan dua rekan kantor lainnya memilih duduk terpisah dengan masing-masing kursi di samping jendela. Alasannya: Pemandangan kepulauan Halmahera dari udara indah banget! Pulau-pulau seperti tempurung dengan gunung hijau di atasnya. Pulau-pulau dengan pantai dan laut yang bening. Danau dengan hutan yang lebat. Dan yang bikin saya jatuh hati adalah langitnya yang terang dengan kerumunan awan yang apik. Sedap!
Untuk keindahan alam, mungkin teman-teman bisa googling dan melihat bagusnya pulau-pulau yang ada di Morotai. Dari pulau Dodola dengan ‘jembatan’ pasirnya, pulau kolorai dengan perkampungannya, atau melihat lumba-lumba dari salah satu pulaunya.
Tapi kali ini saya ingin berbagi beberapa catatan menarik tentang kehidupan masyarakat Morotai. Catatan-catatan ini saya dapatkan dari hasil lihat-lihat dan tanya-tanya dengan pegawai pemerintah dan/atau penduduk setempat.
Foto: 1. Halmahera dari udara 2. Langit senja Morotai
Worst World and the Perception of Human Being
Is it the world that getting worst or our information about the world just get better?
The world we are living know looks suffered. Natural disaster, viruses outbreak literally and digitally, wars, terrorism, radicalism, racism, and corruption. As an Indonesian, daily local news would portrait corruption by elites and criminalization from micro level of society.
Sometimes, reading my social media timeline would bring your heart break and an overwhelmed. Recently I read how elementary school students acted by mimicked inappropriate scene from Indonesian drama series, and story of a teenager who was condemned by her social media friends due to her critical writing on facebook. We haven’t talk about other countless events happening in other part of the world, yet as: Rohingya, North Korean nuclear missile test, President’s trump policy, heat in middle east and the list goes on.
Is this world, the earth we are living in really is getting worst? Or it just us that more well informed than previous generation?
It would take tons of pages to compare and analyze event per event of what is happening and what was. But we may take a look on how the communication technology as the source of human information input nowadays has been developed, especially technology in mass media.
What would we know if internet abstain from the world? Would it possible to witness how earth looks from space? Would it possible for us to watch our European League match from home? Or it is even possible for us to pirated international journal for our thesis? Could we talk face by face with people in the other continent? Are there going to be ‘viral news’ spread from no one in our social media timeline? For some cases, of course, we can watch news on TV or listen them in the radio. But for some cases… are they?
Internet has given us freedom to produce, choose, and consume information. Literally every information. Full freedom is with us unquestionably. In the internet, it is all just about making decision. What are we going to share, what news are we going to read, and so on. It means, our own responsibility to being clever or being a dumb in ‘public’.
TV and radio are different. They work in their own frequency, and they share different kind of data. TV managed to transmit richer content—visual and audio whilst Radio is limited to audio only. Both of them, just like the Internet, are enabling people to have information from other part of the world, but the information that is going to be consumed by the audience are limited depend on the journalist work. We wouldn’t know about ISIS if the journalist do not write a word about them.
Similar condition goes to newspaper, magazine, or other written based media. Therefore, we couldn’t receive information real time. We have to wait every morning, or even every week, or months to obtain new information. Also, the access to written media works only available for those who can read. Made the inequality of information distribution.
So, if we look back in time when these media technology were not available compared with the rise of socialism, Hitler reign, and world war, are we still going to say that, the world we are living now are far worst than before? I do not know. Further research and study are needed to come to those conclusion, but indeed now we relies, even only a bit, on how big information impact our perception to the world.
Even if this country was designed to broke hope of its people every single second, we would, and always come back stronger . . What have happened supposed to be an alert for us, youth, to learn harder, to work harder, to ensure the hope of our children and grandchildren remain in kindness . . We would not lose our love . . 18/3. Wisma Inkarla, Cibodas. #A6000